Udara yang menusuk kulit, menyebabkan tubuh terasa kaku. Daun-daun mulai menguning, menampakkan warna muram. Sejauh mata memandang, langit tak lagi cerah sebab matahari mulai terhalang kumpulan awan. Sesekali angin bertiup, membawa kabar tentang negeri hangat di seberang sana. Oh, betapa Rose merindukan aroma manis kue cengkih dan semerbak padang lili. Rindu terpaan hangat musim panas yang membelai kulit telanjangnya. Namun semua hanyalah masa lalu. Ia tak boleh ragu. Ia harus kuat. Sesuai kesepakatan, Tiago, Rose, dan Sacha, mereka berencana menghabiskan waktu di hutan dekat istana. Andai diperbolehkan, Rose memilih bergelung; menikmati akhir pekan tanpa pelajaran tata krama. Hari yang menjenuhkan. Rutinitas yang membosankan. Dan segala yang terasa mengaburkan benak Rose. Terkadang,

