SEMBILAN BELAS

1592 Words

Makhluk itu melenguh, rasa sakit mendera, sementara darah merah tercurah tepat di pusat luka—anak panah menembus lapisan bulu, kulit, dan mengoyak pembuluh darah yang mengalirkan kehidupan. Sepasang netra menatap rerumputan hijau yang kini tercemar darah. Maka saat tiba napas penghabisan, makhluk malang itu tak sempat menghidu semerbak bunga yang tumbuh di dekat tanduknya. Kematian membentangkan sayap—menawarkan peraduan terakhir. Di sini, di tanah milik Luma, sang pemberi harapan. “Itu,” kata Tiago. “Curang.” Ia berdiri tak jauh dari mayat rusa jantan yang kini tergolek dengan mulut berbusa. Menanggapi sindiran Tiago, Sacha hanya mengedikkan bahu. Tidak peduli. “Anak panah ini milikku,” ujar Sacha. Ia menarik lepas anak panah yang tertancap di leher rusa, ujungnya berwarna merah. “A

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD