Tanah musim hangat terasa nyaman bila dibandingkan kerajaan musim dingin; udara terasa tajam menusuk, bahkan butiran salju pun membuat kulit berubah warna menjadi merah. Musim dingin mengajarkan manusia mengenai kemandirian, sementara musim hangat memberikan kasih pada setiap penghuni Lumios. Berbeda, tidak sama, namun tetap bisa berjalan di satu garis kehidupan yang sama. Di Helios, istana musim hangat, Tiago merasakan hawa sejuk yang mengelilinginya. Mengedarkan pandang, Tiago menatap panji berlambang dahlia dan perisai yang kini berkibar di setiap puncak menara Helios. Di samping Tiago, Sacha pun merasakan perubahan suasana. Embun dingin telah berganti dengan hawa hangat, Tiago dan Sacha tak lagi merasakan denyar lembut yang biasa menyelimuti lanskap negeri musim dingin. Tidak buruk, hanya saja mereka berdua membutuhkan waktu untuk membiasakan diri dengan cuaca di negeri musim hangat.
Berderet pelayan menyeruak, menyambut kedatangan keluarga kerajaan musim dingin. Para prajurit membungkuk, tanda hormat kepada keluarga kerajaan musim dingin. Amelia tampak menikmati perlakuan khusus yang didapatnya, sesekali wanita itu melempar senyum kepada beberapa pelayan wanita yang memberikan rangkaian bunga sebagai simbol penyambutan.
Jika Amelia terlihat senang dengan atmosfer kerajaan musim hangat, lain halnya dengan Ana. Sang selir hanya bisa tersenyum miris mendapati betapa tak menyenangkannya sensasi angin hangat yang membelai kulit pucatnya. Wanita itu lebih menyukai hawa dingin yang menenangkan. Andai saja Baginda Liam tak meminta keikutsertaan Ana, mungkin saat ini sang selir tengah menghabiskan waktu di taman istana; menyaksikan rubah putih berkeliaran dan bersembunyi di antara semak-semak.
Laki-laki, cibir Ana dalam hati, ego mereka benar-benar menjengkelkan.
Tak lama kemudian, keluarga besar kerajaan musim hangat menampakkan diri. Raja Alan, pria dengan janggut kelabu, langsung merentangkan kedua tangan dan memeluk Baginda Liam. “Liam,” katanya. “Sungguh suatu kehormatan.”
“Aku hanya ingin menghabiskan beberapa hari di kediaman sahabatku,” ungkap Baginda Liam. Di samping Raja Alan, berdirilah seorang wanita cantik bergaun hijau. Tiara musim semi bertengger di atas gelungan rambut cokelatnya. “Miriam, lama tak bersua.”
Miriam, sang ratu musim hangat membalas, “Lama tak bersua.”
“Kau semakin cantik,” puji Baginda Liam. “Aku tak melihat kehadiran Bella.”
“Bella sibuk mempersiapkan festival Agnis,” balas Raja Alan.
Tiago mengembuskan napas, kesal. Gadis yang ingin dijumpainya entah berada di mana. Tiago berharap, Agnis akan memilih Bella. Semoga sang dewi tak memilih gadis antah-berantah yang tak mengerti etika. Sebagai calon penerus kerajaan musim dingin, memiliki pasangan yang bertanggung jawab mengerjakan setiap tugas kerajaan adalah sebuah keharusan. Bella, putri itu memenuhi setiap kriteria yang Tiago butuhkan. Cantik, jelas tidak usah dipertanyakan. Lemah lembut, itu sudah pasti. Berpendidikan, tidak perlu diragukan. Istemawa? Oh, Tiago sungguh ingin menculik sang putri dan membawanya ke Wintersnow, istana musim dingin.
“Sungguh,” kata Baginda Liam. “Dia merupakan calon pemimpin yang patut dibanggakan.”
Tersenyum, Miriam membalas, “Putriku jauh dari sempurna.”
“Tidak,” sangkal Baginda Liam. “Dia sangat sempurna.”
“Ayolah,” sela Raja Alan. “Tak baik berbincang di sini. Mari, lenyapkan rasa lelah dan anggaplah Helios sebagai rumah kedua kalian.”
Sacha tak memberikan reaksi apa pun. Dia hanya diam dan mengikuti arus yang ada. Sesekali ekor matanya menangkap kesibukan pelayan. Semua orang terlihat bahagia, sangat bahagia. Semua orang … kecuali Sacha.
Tiago yang utama.
Tiago yang harus didahulukan.
Suatu saat Sacha akan mengubah kedudukan antara dirinya dan Tiago.
Suatu saat….
***
“Hei, Rose. Benarkah kau menolak ajakan Ash?”
Satu kata: menjengkelkan.
Perpustakaan, tempat yang seharusnya membebaskan Rose dari berbagai cibiran dan pendapat konyol para gadis berparas cantik. Suaka yang seharusnya menjadi tempat perlindungan bagi kaum terbuang, yakni Rose. Ternyata, sejauh apa pun Rose berusaha memisahkan diri dari kelompok gadis merak (sebutan Rose untuk para gadis yang gemar bersolek), itu semua percuma. Begitu gosip tersebar, tak ada satu pun yang bisa menghentikan keingintahuan para gadis yang kini mengelilingi Rose.
“Benarkah itu?” tanya salah seorang gadis berambut pirang yang kini duduk di samping Rose.
Mengembuskan napas, Rose pun menjawab, “Silakan bertanya langsung pada yang bersangkutan.”
“Tara,” panggil kawannya. “Ini mulai membosankan.”
Tara memutar mata sembari menyahut, “Baiklah, mari kita tinggalkan si putri es.”
Para gadis dengan cepat kehilangan minat. Tak ada gadis yang tahan berlama-lama bersama Rose. Tidak seperti kebanyakan gadis yang gemar membicarakan kekurangan orang lain, Rose lebih memilih menjauh dari keramaian.
Sendirian tidaklah menyedihkan.
Agatha mungkin akan langsung mengoreksi kebiasaan antisosial Rose. “Cobalah hal baru,” kata Agatha. “Kau tak mungkin selamanya menjauh dari mereka.” Lalu, Rose pun akan berkata, “Mereka membenciku.” Siapa yang sanggup berteman dengan Rose selain Noa? Oh tentu saja, pemuda itu masuk ke dalam pengecualian.
Sebenarnya Rose tak mengerti alasan Noa begitu sabar menghadapi keburukan Rose. Noa tampan. Dia bahkan memiliki daftar penggemar yang mungkin Rose simpulkan sebagai golongan pembenci Rose. Baiklah, Rose akan membuat sejumlah daftar perbedaan antara dirinya dan Noa.
Noa senang bergaul, Rose lebih mencintai kesendirian.
Noa ramah, Rose sinis.
Noa segala yang baik dan Rose segala yang buruk.
Jelas, mereka berdua sangat tidak serasi. Catat, tidak serasi.
“Kau tahu,” kata Noa. “Aku akan selalu ada untukmu.”
Tiba-tiba saja Rose merasa sengatan panas yang membakar pipinya. Benarkah yang Noa ucapkan atau itu hanyalah penafsiran Rose?
Senja membasuh gundah.
Aku pun merentangkan tangan menyambut surya.
Merasakan kehangatan yang mencairkan kebekuan di sudut hati.
Membiarkan asa merajut pilu.
Lalu, aku berbisik kepada angin perihal rindu.
Mengerjapkan mata. Rose mulai merasakan delusi. Kenapa bait puisi itu tiba-tiba menyeruak? Seolah Rose berharap hal yang tak semestinya terjadi.
Bagaimana jika ada kemungkinan?
Rose menutup wajah, malu.
“Oh Luma,” katanya. “Aku mulai gila.”
***
Ruang latih tanding dipenuhi suara denting pedang dan teriakan pembangkit semangat. Semua calon kesatria tampak bersemangat menyambut tantangan dari lawan tandingnya. Beberapa melontarkan olok-olokkan, sementara yang lain mencoba membalas celaan dengan memberikan beberapa tanda mata berupa memar dan lebam (pembalasan dendam khas anak lelaki).
Noa mendengus ketika lawannya mengaduh kesakitan akibat pukulan telak Noa.
“Dasar curang!” Justin meraung. “Curang.”
Menyarungkan pedang, Noa membalas, “Aku memukul perutmu menggunakan gagang pedang. Gagang pedang, bukan pedang.”
Bangkit, Justin mengacak rambut. Kesal.
“Noa, aku membencimu.”
“Terima kasih,” jawab Noa sembari membungkukkan badan.
“Aku berdoa semoga Rose menolakmu.”
“Tidak akan terjadi.”
Noa berbalik dan mulai menjauhi arena latihan. Di salah satu sudut, Noa merebahkan diri, lelah.
“Kalau begitu,” kata Justin. Pemuda itu mengikuti Noa menjauhi arena latihan. “Aku berharap seseorang akan merebutnya darimu.”
“Itu juga tidak akan terjadi.”
Bersidekap, Justin mencebik, “Selalu ada kemungkinan. Sial, kenapa harus kau? Maksudku, dari sekian pemuda yang mencoba mendekati Rose, manusia tengil sepertimu berada di dekat Rose. Aku benci mengakui kenyataan ini.”
“Butuh racun?”
Melotot, Justin ingin menghapus senyum percaya diri yang dimiliki Noa. “Bung, bersiaplah menerima hukuman dewa.” Justin menyentuh kening dan berlagak bak pendeta. “Aku melihat kehadiran sesosok pemuda. Dia memiliki segala yang tak kaumiliki. Dia juga tidak sepertimu. Oh, lihat. Aku rasa dia jodoh Rose.”
“Aku akan mencincangmu.”