EMPAT

1534 Words
Agatha menatap pongah kesibukan pelayan istana yang mempersiapkan festival Agnis. Kain dan pita berwarna merah menghiasi sudut-sudut istana, lalu taman-taman yang dipenuhi aneka bunga musim panas, para menteri pun mulai mengadakan rapat guna membicarakan perihal hiburan yang akan disajikan saat titik akhir musim hangat. Segala aktivitas itu terlihat asing, mengingat sebagian dari menteri senang melempar tugas-tugas kepada pekerja yang ada di bawah mereka, termasuk Agatha dan Pablo yang paling sering terkena dampak pelemparan tugas. Baik Agatha maupun Pablo, mereka berdua tak jarang mengerutkan dahi ketika menatap data-data perpajakan yang tiada habisnya. Agatha ingin mendapat satu kesempatan berlibur bersama Abel dan Rose. Setidaknya, hal itu bisa membuat Agatha merasa lebih baik. Liburan, Agatha sungguh-sungguh akan mewujudkan impiannya itu. Suatu saat. “Sepertinya mereka sibuk mempersiapkan festival Agnis.” Pablo menumpuk laporan perpajakan yang telah direvisi ke rak. Kemeja cokelatnya terlihat lusuh karena terlalu lama mendekam di dalam ruangan. Jelas, mencicil bermacam catatan keuangan bukanlah salah satu pekerjaan yang menyehatkan. “Noa bersemangat menyambut acara tersebut.” “Huh,” dengus Agatha. “Aku hanya tertarik pada jatah liburan yang dijanjikan menteri padaku.” Agatha menggosok telapak tangannya. Bosan. “Ayolah, festival kali ini pasti akan sangat menyenangkan.” “Di sana hanya dipenuhi dengan kaum munafik yang senang mengumbar dusta.” “Dan kita berdua bekerja demi kaum tersebut.” Mengangguk, Agatha mengiakan ucapan Pablo. “Sam berkata kepadaku,” ujar Pablo. Ia tak lagi merapikan catatan perpajakan dan memilih mengempaskan diri ke kursi. “Raja musim dingin akan berkunjung. Agatha, sepertinya ini akan menjadi acara yang tak terlupakan.” “Oh, ayolah. Estela pasti tidak menyukai idemu.” “Justru sebaliknya, Estela meminta Noa merayakan festival bersama Rose. Oh, sepertinya kita akan menjadi besan.” Mengabaikan cengiran Pablo, Agatha mengeluh, “Kadang aku merasa kau perlu mengistirahatkan diri.” “Benar sekali,” sahut Pablo. “Setelah aku menyingkirkan catatan terkutuk itu,” katanya menunjuk tumpukan buku di meja kerja. *** Tiago dan Sacha duduk di dalam kereta. Mereka berdua bersiap meninggalkan istana musim dingin. Hari ini kedua pangeran berencana mengunjungi istana musim hangat, sesuai dengan rencana Baginda Liam. Derap kaki kuda berkeletuk menjejak tanah tak ubahnya bagai suara genderang, satu-satunya musik yang mengisi keheningan di antara kedua pangeran tersebut. Hingga akhirnya Sacha berinisiatif memulai perbincangan. “Kau,” katanya. “Benar-benar akan menikahi gadis mana pun yang dipilih Agnis?” Tersenyum, Tiago pun menjawab, “Tentu.” “Walau itu bukan Putri Bella?” “Sacha,” cemooh Tiago, “aku yakin, Agnis pasti memilih Bella sebagai pendampingku.” “Jika tidak?” “Aku yakin, putri musim semi itulah yang akan menjadi pendampingku.” Rasa percaya diri termasuk salah satu keburukan yang dimiliki Tiago. Miris, Tiago terlahir dengan segala kemewahan; takhta, martabat, pengaruh, cinta dari rakyatnya, dan perhatian dari Baginda Liam. Segala yang baik seolah tercipta untuk Tiago. Pangeran itu tak perlu memaksa seseorang menyanjungnya, semua menteri pasti akan mengelu-elukan kebijakan Tiago. Tiago, segalanya untuk Tiago. Sedangkan Sacha? Dia hanya akan menjadi bayangan. Bayangan yang akan menghilang begitu kehadiran Tiago ada di antara celah hitam yang dihuni Sacha. Selalu seperti itu. Tiago adalah rembulan yang menguasai langit, sementara Sacha hanyalah sekeping pecahan bintang—samar. “Sacha,” Tiago bertanya, “adakah gadis yang ingin kaunikahi?” Segaris senyum samar menghias wajah Sacha. “Aku belum menemukannya.” Terkekeh, Tiago berkata, “Itu karena kau terlalu pemilih.” “Bagaimana kau bisa memilih gadis yang akan kaucintai?” “Kau hanya perlu merasakannya saja.” Mengerutkan kening, Sacha pun mengalihkan pandang. Seekor burung biru hinggap di salah satu dahan, kedua manik hitamnya menatap arak-arakan kerajaan musim dingin. Melalui jendela Sacha bisa melihat beberapa ekor tupai saling berkejaran sembari bercicit. Anehnya, Sacha merasa kosong di tengah semesta yang ramai. Dunia yang berputar di sekitar Sacha tampak hidup. Pangeran itu membutuhkan sesuatu yang bisa menenggelamkan seluruh pikiran hitam yang perlahan-lahan mulai menelan setiap bagian dari diri Sacha. Ia merasa kehilangan arah. Sacha terlahir untuk menjadi yang kedua, sungguh menyakitkan. Di malam-malam dingin, Sacha menenggak minuman berbuih dan berharap kesadarannya lenyap hingga menariknya dari realitas. Hanya saja, saat Sacha membuka kedua mata—ketika dia terbangun dari mimpi—ia pun kembali dihadapkan pada kenyataan yang ingin dihindarinya. Sejauh apa pun angin mengembuskan sehelai daun dari dahan pepohonan apel, pada akhirnya, daun itu akan sampai di sebuah pemberhentian. Entah ia akan berakhir bersama tanah tandus yang tak berpengharapan, atau terserak di permukaan telaga hijau nan damai. Sacha, sang pangeran tanpa mahkota. Dia hanya akan menjadi satu titik yang terlupakan. Selalu, seperti itu. *** Rose berjalan menyusuri selasar institut. Sebisa mungkin ia mengabaikan tatapan ingin tahu yang disorotkan para gadis. Diam dan abaikan sekitar. Rose berusaha menerapkan dua hal tersebut. Tak peduli bagaimana cara sekitar menilai Rose, gadis itu berusaha memasang topeng kepalsuan. Sesekali Rose mendengar selentingan, “Itu Rose.” “Gadis tanpa berkat.” “Rose yang malang.” “Gadis yang membosankan.” Sebisa mungkin Rose mengabaikan guncingan para siswi. Seandainya Rose berteriak dan memaki mereka satu per satu, Rose yakin, ujung-ujungnya dia akan berakhir dengan mata merah dan wajah bengkak. Sekali, ketika Rose berusia delapan tahun, ia mengamuk dan berusaha melawan seorang gadis yang memiliki berkat Ise. Hal terakhir yang Rose ingat adalah basah dan hampir kehilangan nyawa. Tanpa berkat, gadis itu hanya akan menjadi bulan-bulanan. Rose hendak berbelok ketika seorang pemuda berambut pirang menghentikannya. “Rose,” katanya. Rose mengenali pemuda itu dengan nama Ash, calon kesatria. Dia mengenakan seragam berwarna biru tua, pertanda bahwa Ash berada satu tingkat di bawah Noa. “Apakah akhir pekan ini kau ada acara?” Rona merah menyebar di kedua pipi Ash. Beberapa kali pemuda itu menggigit bibir, menunggu jawaban Rose. “Apakah kau sibuk?” tanyanya lagi. Akhir pekan, festival Agnis. Rose tahu bahwa festival dijadikan sebagai ajang menyatakan perasaan; setiap pemuda mengajak gadis yang mereka sukai, lalu pemuda tersebut akan ikut serta dalam unjuk kebolehan. Para peserta saling menampilkan berkat, pemenang yang mendapatkan mahkota bunga iris akan mempersembahkan hadiah tersebut kepada pujaan hatinya. Mengernyit, Rose pun menjawab, “Aku belum memikirkannya.” Tak puas, Ash terus mendesak. “Apa ada seseorang yang mengajakmu?” Resah, Rose memilih mengabaikan Ash. “Rose.” Ash mencengkeram lengan Rose, memaksanya untuk diam di tempat. “Apakah kau sudah diajak?” Menunduk, Rose berusaha mengabaikan tatapan Ash. “Aku harus pergi.” Kesal, Ash pun mempererat cengkeramannya. “Apa kau sudah diajak?” “Sakit,” Rose mengaduh. “Tolong, aku harus pergi.” Inilah yang Rose benci dari laki-laki: pemaksa. Ash tak memedulikan keinginan Rose, pemuda itu kukuh bertanya—tak memberi celah. “Bung,” sela sebuah suara. “Dia sudah berjanji pergi ke festival bersamaku.” Hening. Rose melihat Noa yang kini menepuk pelan bahu Ash. Pandangan Ash terarah pada Noa dan berakhir pada Rose. Menggeram, akhirnya Ash melepaskan cengkeramannya dan meninggalkan Rose bersama Noa. Rose menggosok lengannya, nyeri. “Menyebalkan.” “Itu karena kau tak berkata jujur.” Mendongak, Rose menatap langsung ke manik mata Noa. “Apakah jika aku menolaknya secara langsung, ia akan menerimanya?” “Tidak,” jawab Noa. “Mungkin ia akan langsung menerkammu.” Rasa yang menyesakkan pun datang. Memegang d**a, Rose merasa gamang. Kedua lututnya lemas, lalu daya grafitasi pun menarik Rose. “Kau tidak apa-apa?” tanya Noa. Panik. Noa bisa melihat raut pias di wajah Rose. “Apa dia menyakitimu?” Noa berusaha mencari sesuatu yang membuat Rose merasa tak nyaman. Nihil, ia tiada satu luka pun di tubuh Rose. “Kenapa?” tanya Rose, lirih. “Kenapa mereka seperti itu?” “Apa maksudmu?” Rose menunduk dan membenamkan wajah ke dalam telapak tangan—tak mengizinkan Noa melihat air mata yang mulai berlinang. Ini adalah hari terburuk, rintih Rose dalam hati. Hari yang paling buruk. “Ayolah,” bujuk Noa. “Apa yang bocah itu lakukan padamu.” “Benci.” Noa hanya bisa menatap gadis yang kini tertunduk layu di hadapannya. “Benci,” lanjut Rose. “Mereka kasar. Hanya karena aku tak memiliki berkat apa pun, itu tak berarti mereka bisa memaksakan kehendak mereka padaku.” “Rose….” “Aku hanya menginginkan kesetaraan.” Noa menepuk pelan bahu Rose, berharap bisa meringankan derita Rose. “Noa,” pinta Rose. “Tinggalkan aku.” “Kenapa?” “Aku ingin sendiri.” “Rose,” kata Noa. “Kau tak harus seperti ini. Maksudku … kau tak perlu bersedih. Ada banyak hal yang bisa dilakukan walau kau tak memiliki berkat.” Mendongak, Noa bisa melihat sepasang mata hijau yang kini digenangi air mata. “Noa, kau seorang ignision. Kau mampu mengendalikan api. Kau mampu menciptakan bara yang bisa menghanguskan apa pun. Sementara aku … berhentilah berkata dusta.” “Bahkan api pun berbahaya bila tak digunakan dengan bijak.” “Noa….” Noa menangkup wajah Rose. Tersenyum, Noa pun berkata, “Aku akan selalu ada di sisimu. Tak peduli meskipun dunia membencimu, aku akan setia padamu. Aku akan menjadi pedang yang melenyapkan segala perintangmu. Aku akan menjadi perisai yang melindungimu dari murka dunia. Rose, kau tidak sendirian.” Rose bisa merasakan kehangatan yang menjalar. Kedua manik mata Noa memberikan penghiburan yang tak pernah didapatkan Rose. Untuk pertama kalinya dalam hidup Rose, akhirnya ia bisa tersenyum dan berkata, “Terima kasih.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD