Gelombang kesialan gencar mendera Rose. Gelombang pertama, Ash mengamuk saat Rose menolak ajakannya. Gelombang kedua, para siswi semakin senang bergosip dengan tema “Rose si gadis tanpa berkat yang populer di kalangan pemuda”. Gelombang ketiga, Agatha memaksa Rose (atas nama persahabatan) pergi bersama Noa ke festival. Gelombang keempat, serangan terdahsyat; burung-burung api milik Agnis lebih memilih rakyat jelata ketimbang tuan putri. Ini sungguh menggelikan. Siapa pun pasti menggeleng takjub dengan berkah, atau kutukan, yang Rose dapatkan. Burung-burung yang dipercaya sebagai pembawa kebaikan membungkuk hormat di hadapan si gadis yang tak memiliki berkat apa pun.
Hal terakhir yang membawa Rose dalam masalah.
Berdiri di dalam ruangan megah, seorang pendeta musim hangat mencoba Rose.
Rose melihat lambang matahari tersulam di keliman jubah sang pendeta yang berwarna putih. “Nak,” katanya. “Tahukah kau arti dari semua ini?”
Rose menggeleng. “Tidak tahu.”
Andai Rose mampu menerjemahkan kejadian barusan, maka ia akan memilih bungkam. Apa pun itu, Rose menangkap hal yang tidak baik. Semoga saja hanya bayangan Rose—resah yang kian menebal dan membuat Rose sesak.
“Ini aneh,” ungkap si pendeta. Lelaki itu mulai membuka lembaran kitab yang terpapar di atas meja, seolah jawaban permasalahan ada di dalam kumpulan tulisan. “Tidak biasanya burung-burung api memberi hormat kepada rakyat biasa.” Kata terakhir yang diucapkan pendeta itu menyentil Rose. Tentu saja, Rose hanyalah manusia biasa; tanpa berkat, tanpa kemampuan, dan tak bisa diharapkan membangun bangsa. “Kau beruntung.”
Untuk itukah Rose hadir di sini? Mendengar seorang pendeta memuji Rose?
“Bolehkah aku….”
“Pulang?” potong si pendeta.
Rose mengangguk.
“Nak, maafkan aku. Raja hanya penasaran dengan fenomena burung-burung Agnis. Tak biasanya makhluk-makhluk itu bersikap aneh.”
Terima kasih, ucap Rose dalam hati, jika diizinkan, aku akan dengan senang hati meminta mereka mengerubungi yang lain.
Sadar dengan tatapan memelas Rose, pendeta itu pun berkata, “Baiklah, aku tak melihat hal aneh apa pun. Kau boleh pergi.”
Rose kemudian pamit.
Di luar, Noa, Agatha, dan Pablo terlihat cemas. Ketiga manusia itu langsung menghambur dan membanjiri Rose dengan pertanyaan.
“Sayang, mereka tak memukulmu, bukan?”
“Rose, apa mereka mencuci otakmu?”
“Nak, apa yang terjadi?”
Mengangkat tangan, Rose berkata, “Aku aman dan tolong izinkan aku pulang.”
Agatha berseru, “Rose! Kau ada di ruang pendeta utama selama kurang lebih satu jam. Inikah reaksimu?”
Mengerutkan kening, Rose bingung. Haruskah ia berteriak meminta tolong?
“Aku baik-baik saja.”
“Rose….”
Pablo menepuk bahu Agatha. “Biarkan saja,” katanya. “Rose aman, itulah yang terpenting. Noa, antarkan Rose.”
Patuh, Noa pun mengajak Rose pergi.
Mereka berdua berjalan di selasar, menikmati embusan angin.
Tak pernah menyangka, Rose memiliki kesempatan menjejakkan kaki ke kuil agung. Pohon-pohon plum mulai berbuah, sebagian berwarna merah muda, sementara yang lain masih berwarna hijau gelap—mentah. Noa tidak berkata apa pun, pemuda itu berjalan dalam hening. Sesekali Noa melirik Rose, berharap gadis itu akan mengucapkan sesuatu. Namun tetap saja, bibir semerah mawar itu diam. Pandangan Rose menerawang ke kejauhan, seolah ia tengah menyaksikan gulungan ombak saling berpilin.
Kesal, Noa pun mengawali perbincangan yang mungkin akan dijawab Rose dengan jawaban sekenanya. “Apakah mereka menyakitimu?”
Mengedikkan bahu, Rose menjawab, “Pendeta itu hanya membolak-balik lembaran kitab. Itu saja.” Rose tak menyebutkan bagian Raja Alan yang memaksa Rose menunjukkan bakat yang jelas tak dimilikinya. Juga saat di mana dua pangeran dan Putri Bella yang menatap Rose dengan pandangan aneh, janggal, menghina … entahlah, semua bangsawan di mata Rose terlihat sama congkaknya. Tunggu? Tak salah ingat, salah seorang pangeran melihat Rose dengan tatapan keji. Jenis-jenis tatapan yang menghancurkan. Sekali lihat pun Rose mengerti bahwa pangeran itu kesal. Pada Rose? Apa yang telah Rose lakukan? Ia bahkan tak mengenal pangeran itu.
Menggosok lengan, Rose mendapat firasat buruk.
“Apa kau kedinginan?”
“Noa, kau percaya pada pertanda?”
Berhenti. Mereka berdua saling memandang. “Tidak, aku percaya pada diriku sendiri.”
“Ya,” kata Rose membenarkan. “Itu memang khas dirimu.”
***
“Kau lihat itu?” pekik Agatha. Wanita itu membanting pintu, marah. “Rose tak mengatakan apa pun. Gadis itu benar-benar mengesalkan.”
Agatha mengempaskan diri ke kursi. “Selalu menutup diri. Tak pernah menunjukkan minat selain pada literasi. Astaga, kenapa anak itu hanya meniru hal-hal buruk yang dimiliki ayahnya?”
“Agatha,” ujar Pablo menenangkan. Ia mulai menarik kursi, dan duduk di samping Agatha. “Aku rasa kau tak harus memaksanya.”
Agatha melotot, tidak terima. “Aku hanya ingin mengubah cara pikirnya saja. Aku curiga, beberapa penulis menciptakan propaganda untuk memanipulasi pembacanya.”
“Agatha, kalaupun para penulis yang bertanggung jawab atas sikap Rose, mungkin kau perlu memberinya buku yang mengisahkan mengenai hal yang baik.”
“Aku meragukannya. Kau tahu sendiri, segala hal yang ditulis oleh penyair sebagian besar berisi kebohongan.”
“Dan sebagian mengisahkan kebenaran.”
Diam. Agatha memperhatikan Pablo.
“Memang seperti itu, bukan?” tukas Pablo. “Hitam dan putih. Benar dan salah. Para pembacalah yang akan menilai isi dari tulisan tersebut. Kau bebas menginterpertasikan cerita tersebut sebagai fiktif belaka, atau kau ingin membacanya dengan cara yang berbeda. Aku pikir, Rose pun memiliki pendapatnya sendiri mengenai hal tersebut. Sebagai orangtua, kita memang berkewajiban membesarkan dan memberikan segala hal yang baik pada putra dan putri kita, namun itu tak berarti kita memiliki hak atas keputusan yang akan mereka pilih.”
“Pablo,” kata Agatha. “Apa kau minum ramuan tertentu?”
“Sebenarnya, aku terlalu banyak mengomsumsi kopi.”
Tersenyum, hanya untuk kali ini saja Agatha mempertimbangkan masukan Pablo. Mungkin, Agatha terlalu kolot. Sudah saatnya Agatha membiarkan Rose untuk memilih.
“Nyonya,” panggil seseorang. Pemuda itu berdiri di ambang pintu ruang perpajakan. Kedua matanya menatap Agatha. “Baginda Liam dari kerajaan musim dingin ingin berjumpa dengan Anda.”
***
Malamnya Rose masih merasa resah, seakan hantu kesialan masih menempel dan tak jua menghilang. Ditambah raut Agatha sepulang kerja. Wanita itu tampak murung dan menolak bercakap dengan Rose. Kecurigaan Rose bertambah kuat ketika memergoki Agatha menangis terisak di dapur. Abel menepuk bahu perempuan itu, mencoba menenangkan. Rose menyembunyikan diri di samping pintu, siap mendengarkan perbincangan kedua manusia itu.
“Abel, aku sungguh … mereka….”
“Tenanglah,” kata Abel. “Kita pasti bisa melakukan sesuatu.”
“Tak bisakah kau mengerti?” erang Agatha. “Mereka menginginkan Rose. Mereka ingin mengambil Rose.”
Mereka? Berdebar, Rose tak bisa mengerti arah pembicaraan ini. Siapa yang ingin mengambil Rose? Kenapa?
“Rose akan hidup bersama para aristokrat itu,” lanjut Agatha. “Dia akan menikah dengan Pangeran Tiago, sang putra mahkota musim dingin. Aku sungguh ingin menolak lamaran itu, hanya saja … Raja memintaku menyetujui permintaan mereka. Kau tahu artinya? Jika aku menolak mandat tersebut, maka kita sekeluarga akan dicap sebagai pengkhianat. Oh, Rose yang malang.”
Tak mampu berucap, Agatha menangis, pasrah.
Denyut yang menyakitkan pun datang. Rose bisa merasakannya, tepat di d**a. Ia akan menikah? Tidak. Rose tak ingin menikah. Bayangan tanah yang tertutup salju pun memenuhi benak Rose. Tiada lagi hawa hangat. Rose akan tinggal di dalam kastel dingin.…
Sendirian.
Air mata mengalir. Rose tak mampu menahan bendungan nyeri yang menghantam d**a. Sakit, seolah ribuan jarum es menusuk Rose. Ia menghambur keluar, meninggalkan rumah. Satu-satunya yang ada di kepala Rose hanyalah cara menyelamatkan diri. Ia tak ingin meninggalkan Helios. Ia tak ingin berpisah dari Agatha, Abel, dan juga Noa.
Noa. Tentu saja, ia pasti bisa menolong Rose.
Bertelanjang kaki, Rose berlari di sepanjang jalan. Tak peduli pada tatapan ingin tahu, tak peduli pada rasa sakit akibat menginjak kerikil, dan Rose abai pada rutinitas manusia yang berjalan di sekitarnya. Rose hanya ingin menjumpai Noa. Hanya dialah yang bisa menyelamatkan Rose.
Terengah-engah, Rose sampai di depan pintu kediaman Noa. Gemetar, Rose mengetuk.
Estela membukakan pintu. “Rose,” katanya, terkejut. “Kau….”
“Noa,” sembur Rose. “Di mana Noa?”
Senyum sedih. Estela tampaknya mengetahui hal yang menimpa Rose. Jika ia tahu maka Noa….
“Rose?”
Noa, masih belum berganti pakaian, pemuda itu terkejut melihat kehadiran Rose.
Paham, Estela meninggalkan kedua manusia itu. Dari ekor mata Rose, ia melihat gelengan pilu dari Estela. Dan nyeri itu pun semakin kuat menusuk jantung.
Noa menarik Rose menjauh dari Estela. Mereka berdua mengasingkan diri di taman.
“Rose, kau bertelanjang kaki?” seru Noa. “Aku harus mengambilkanmu sepatu.”
“Tidak,” Rose melarang, kedua tangannya menggenggam jemari Noa. “Katakan padaku, apa kau mengetahuinya?”
Diam. Noa ingin mengatakan sesuatu namun ia mengurungkannya.
Itu sudah cukup mengonfirmasikan kekhawatiran Rose.
Tiada harapan.
“Rose, aku….”
Air mata menetes. Dingin pun kembali memeluk Rose; berat dan menyesakkan.
“Noa,” Rose memohon. “Selamatkan aku.”
Melihat gadis yang dikasihinya menderita, Noa sungguh ingin membawa lari Rose meninggalkan negeri musim hangat. Satu-satunya yang ingin dibahagiakan Noa hanyalah Rose. Hanya dia seorang. Namun, apabila Noa menuruti keinginannya, maka Pablo dan Estela akan membayar perbuatan Noa.
Noa tak ingin menyakiti orangtuanya.
“Noa, ingatkah kau pada janjimu?”
“Rose, aku….” Tak berdaya. Tak memiliki kekuatan. “Sungguh.” Noa meremas jemari Rose, berharap gadis itu akan berhenti menangis.
Tersenyum getir, Rose bisa melihatnya.…
Ketidakberdayaan.
“Noa,” ucap Rose, sesak. “Kau berjanji akan selalu ada di sisiku.”
Menggeleng, Noa berkata, “Aku tak bisa mengorbankan orangtuaku.”
“Begitu pula denganku,” tegas Rose. “Bibi dan Paman pun hanya memilikiku seorang.”
“Maka,” Noa menyimpulkan. “Kau pun mengerti.”
“Kau memintaku menikahi seseorang yang bahkan mungkin tak mencintaiku?”
Noa menyentuh pipi Rose; basah dan Noa menangkap kekecewaan di kedua manik Rose. “Maafkan aku.”
Rose menggigit bibir. Kecewa. “Aku mencintaimu.”
Dua kata itu jika saja diucapkan lebih awal, mungkin rasanya tak akan semenyakitkan ini. “Maafkan aku.”
Tidak. Bukan ini yang ingin Rose dengar. “Noa, jangan … kumohon.”
Menunduk, Noa menatap jemari kaki Rose. Salah satu jarinya terluka, mungkin Rose tak sengaja menginjak kerikil tajam. Luka itu bisa disembuhkan, tapi luka yang Noa ciptakan di hati Rose tak akan pernah menutup.
Noa melepaskan jemari Rose. “Maafkan aku,” katanya. “Rose, aku berharap … Rose, maafkan aku.”
“Kenapa?” rintih Rose. “Kau yang pertama menyemai perasaan itu di hatiku. Kini, kaumatikan tunas cinta yang mulai bertumbuh. Di saat aku membutuhkanmu, kau meninggalkanku.”
“Rose, tidak seperti itu. Kita bukan lagi anak-anak yang bebas. Ada hal yang harus kita jaga dan juga….”
“Dan aku termasuk hal yang harus kaulepaskan,” potong Rose. Noa diam, tak sanggup berucap. “Noa, aku tak akan bahagia bersama pangeran itu. Namun melihatmu … berdiri di depanku dengan sorot sendu, aku tahu, kau pun tak mampu melakukannya.”
Rose mengusap pipi, menghapus derai air mata.
“Noa,” katanya. “Kau adalah yang pertama di hatiku.” Rasa sakit itu kembali berdenyut, tepat di d**a. Rose berjuang melawan nyeri yang kian menghunjam dan mengucapkan salam perpisahan pada Noa. “Selamat tinggal.”
Berbalik, Rose berjalan menjauh, meninggalkan Noa.
Noa menyentuh d**a, sakit.
Noa hanya mampu menatap sosok belakang Rose yang kian memudar. Ia membiarkan separuh hatinya pergi. Cinta tak pernah mudah, bahkan ketika Noa mengalaminya. Realitas tak mengizinkan adanya pengecualian. Kedua orangtuanya terlalu berharga, Noa tak mungkin bersikap egois.
“Rose,” katanya. “Aku cukup mencintaimu dengan cara membiarkanmu bebas.”