DELAPAN

1775 Words
Di tengah rintik hujan, Rose seolah menyatu bersama derai air mata milik sang malam. Begitu cepatnya cuaca berubah, dari malam berbintang menjadi langit kelam yang mencurahkan tetes air serupa kepedihan. Sama seperti Rose, hancur berkeping-keping. Tak peduli pada rasa sakit yang diakibatkan rintik hujan, Rose terus melangkah pelan; membiarkan bulir-bulir air membasuh perihnya, walau sesungguhnya denyut yang menyesakkan itu masih ada. Rose menatap langit pekat. Air mata milik Rose dan rinai hujan membaur, tiada satu orang pun yang mengira gadis di tengah hujan itu tengah menangis. Sudah berakhir, tak ada yang bisa menyelamatkan Rose. Pada akhirnya Rose harus menerima pinangan sang pangeran musim dingin. Rose berlutut, membenamkan wajah di telapak tangan, kemudian Menangis. Tega nian Dewi Illina, sang dewi cinta, menjauhkan Rose dari Noa. Dan telah kau matikan seluruh harapan. Hingga kini yang tersisa hanyalah sebatang pohon derita. Andai malam bersedia menenggelamkan Rose dalam ketiadaan, melepas segala duka dan derita yang mencekik Rose, dan membiarkan Rose bersatu dengan orangtuanya yang telah berpulang. Oh nelangsa, mereka yang mampu mencintai tapi tak diberi pilihan untuk bersama. “Rose, ayo pulang.” Mendongak, Rose melihat Agatha dan Abel. Abel memegang payung, tak ada lagi raut jenaka di wajah pria itu. “Rose,” katanya. “Ayo pulang.” Rose pun menangis bagai binatang terbuang. “Oh, Rose.” Agatha memeluk Rose, berharap bisa menghentikan segala lara yang mendera gadis kecilnya. “Maafkan aku.” “Kenapa?” raung Rose. “Kenapa harus aku?” Agatha mengelus kepala Rose. “Sayang, maafkan aku.” Abel tak mampu berucap, pria itu hanya berdiri diam di sana, menaungi Rose dan Agatha dari derai hujan. Rose yang ia besarkan akan segera pergi. Menyedihkan, Abel tak memiliki kuasa, lemah. *** “Aku,” kata Baginda Liam. “Menginginkan gadis itu sebagai menantuku.” Di ruang kerja, baik Agatha maupun Pablo hanya mampu menatap pongah sosok pria yang kini berada bersama mereka. “Yang Mulia … ini—” Baginda Liam mengangkat tangan. “Aku berniat tulus. Hanya gadis itulah yang pantas mendampingi putraku.” “Tapi,” kata Agatha. “Ada banyak gadis yang lebih pantas.” “Dan mereka tak seperti gadis yang dipilih Agnis,” tegas Baginda Liam. Diam. Agatha tak mampu berkata. “Agatha,” Raja Alan membujuk. “Percayalah, keponakanmu akan mendapatkan tempat khusus di istana.” Bukan itu yang Agatha inginkan. Rose tak memiliki ketertarikan terhadap benda-benda yang berkilau. Jika Rose sampai dinikahkan dengan pangeran itu maka…. “Agatha, anggap saja ini titahku,” Raja Alan menyela. “Dengan bersatunya keponakanmu dan sang pangeran, maka akan berdampak baik bagi hubungan di antara dua kerajaan.” Jelas sudah, Agatha tak memiliki pilihan. Agatha tak mampu mengenyahkan saat terakhir perbincangannya dengan sang raja. Lalu kini … Agatha duduk bersama Abel, menunggu Rose mengikrarkan sumpah sehidup dan semati. Yang terjadi pun terjadi, Agatha hanya bisa berdoa kepada Luma. Berharap, Rose menemukan kebahagiaan bersama pangerannya. *** “Pengantin wanita terlihat sangat cantik.” Duduk di depan cermin, Rose menatap pantulan dirinya yang baru. Rangkaian bunga menghias rambut Rose yang kini ditata apik bak putri dari negeri dongeng. Tiada cadar yang menutup wajah Rose sebab masyarakat musim hangat percaya bahwa wajah pengantin akan terberkati bila ia langsung bersentuhan dengan cahaya. Gaun putih dengan corak keemasan membalut tubuh Rose. Tampak helaian pita transparan yang menghias bagian belakang gaun Rose. Setiap pelayan yang ada di ruangan menatap takjub, terpesona pada Rose. Rose diam, tak mampu berucap. “Mari,” kata seorang pendeta wanita. Sama seperti yang lain, ia pun mengenakan jubah musim hangat. Bangkit, Rose berjalan mengikuti sang pendeta. Di sepanjang selasar, semua orang menaburkan kelopak mawar putih. Langit cerah dan udara beraroma kasturi. Rose menatap pias sosok belakang pendeta wanita. Terbersit keinginan untuk berbalik dan melarikan diri. Namun, itu hanyalah sebatas bayangan. Rose tak memiliki cukup keberanian untuk bertindak yang menyebabkan Agatha dan Abel menanggung aib. Wajah semua orang terlihat bahagia. Kagum, gadis tanpa berkat mereka akhirnya dipinang oleh seorang pangeran. Menggelikan, kata Rose dalam hati. Ia bahkan rela bertukar posisi. Dengan senang hati Rose akan menyerahkan mahkota bunganya pada setiap gadis yang menginginkannya. Jantung Rose berdetak kencang manakala ia melihat Biara Illina. Di sanalah, Rose akan mengucap sumpah setia. Rose merasa mual, tak sanggup menerima kenyataan. Sampai di pintu biara, pendeta wanita mengambil dupa dan mulai melakukan pemberkatan. Setiap hadirin yang duduk pun bangkit, memberi hormat. Tepat di depan altar, Rose melihat sosok pangeran berambut perak dan pendeta agung—menatap Rose. Di deretan bangku terdepan, Rose melihat keberadaan Agatha dan Abel. Tak jauh dari mereka, Pablo serta Estela tersenyum haru menyaksikan pernikahan Rose. Manik hijau Rose memindai ruangan, berharap menemukan Noa. Noa tidak ada di mana pun. Bagai melangkah di pecahan es, Rose merasa seluruh jiwanya akan sirna. Setiap langkah yang mendekatkannya pada sang pangeran, Rose mendapati sebagian dirinya mulai koyak. Oh, tidak, ratap Rose dalam hati, seseorang selamatkan aku. Tiada keajaiban. Doa Rose tak terjawab. Pendeta wanita mengantarkan Rose bersanding di samping sang pangeran. Dalam balutan baju kebesaran bercorak putih dan emas, pangeran itu terlihat begitu rupawan. Manik sebiru esnya menatap Rose. Rasa dingin menjalari tulang belakang Rose, ia merasa tengah ditelanjangi hanya karena dua sorot biru itu menatapnya. Sungguh, berdiri di hadapan makhluk setampan pangeran membuatnya sesak napas. Kesalahan! teriak Rose dalam hati. Rose, lari! Menggigit bibir, Rose berharap pangeran itu sebaik parasnya. “Tiago Aysel,” sang pendeta agung bertanya, “apakah kau bersedia mengucap sumpah setia sehidup mati bersama pasanganmu?” Tiago meraih tangan kanan Rose, mengecup punggung tangannya. “Ya,” katanya. Seulas senyum sesamar hantu menghias sudut bibir Tiago. “Aku bersedia.” Rose, lari! Lari! “Rose Redbird, bersediakah kau menemani pasanganmu hingga maut memisahkan?” Rose, lari! Kembali, suara itu mengingatkan Rose. Bibir Rose terkatup rapat, ia hanya memandang mata biru Tiago; mencoba menemukan jawaban. Hening. Semua orang mulai berbisik, menerka-nerka penyebab kebungkaman Rose. “Rose Redbird,” si pendeta mengulangi. “Bersediakah kau?” Tidak! Tidak! Tidak! “Rose….” “Ti—awww.” Tiago meremas tangan Rose. Gadis itu melihat senyum peringatan yang kini Tiago arahkan kepadanya—sebuah ancaman. “Rose Redbird, bersediakah kau menemani pasanganmu hingga maut memisahkan?” Jemari Tiago terasa panas. Rose tak memiliki pilihan. Mengangguk lemah, Rose menjawab, “Aku bersedia.” Pendeta agung menutup ritual pernikahan dengan doa suci. Kau telah melakukan kesalahan, kata suara hati milik Rose. *** Telah ditetapkan, begitu Rose mengucap sumpah suci di Biara Illina, maka setelahnya Rose akan langsung diboyong menuju kerajaan musim dingin. Di depan kereta, Agatha dan Estela menangis dan berpesan agar Rose menjaga diri. Pablo dan Abel, kedua pria itu hanya tersenyum, berharap gadis yang mereka cintai akan menemukan kebahagiaan. “Di mana Noa?” tanya Rose. Mengulum senyum, Estela berkata, “Ia membutuhkan waktu untuk menyendiri.” “Oh,” kata Rose, paham. Sebelum masuk ke dalam kereta kuda, Rose menatap Estela. “Aku akan merindukannya.” Pintu kereta ditutup, Rose menatap sendu kepada mereka yang menyayangi Rose. Kusir mulai menarik kekang dan menjalankan kereta. Perlahan-lahan, Rose mulai meninggalkan negeri kelahirannya. Jangan menangis. Rose, kau tak boleh menangis. “Kau hendak menolakku.” Terenyak, Rose baru menyadari keberadaan Tiago. Pangeran itu duduk di depan Rose, dan tentu saja, Tiago kembali menampilkan senyum sesamar hantu. “Kau mengancamku.” Sebelah alis Tiago terangkat. “Terbukti ampuh menghentikan tindakan konyolmu.” “Kenapa kau menerima pernikahan ini?” Hening. Tiago menatap Rose, kedua tangannya terlipat. “Kenapa,” tegas Rose, “kau memilihku?” Terkekeh, Tiago pun menjawab, “Pertama, bukan aku yang memilihmu. Jika kau ingin menyalahkan seseorang, salahkan Agnis. Tanyakan pada sang dewi, mengapa burung-burung itu memilihmu. Kedua, sejujurnya aku terpaksa menerima pernikahan ini.” Pias. Rose ingin menampar Tiago. “Apa maksudmu?” “Ini hanyalah persyaratan,” jelas Tiago tanpa dosa. Tak peduli bahwa gadis yang baru dinikahinya itu kini menatap murka. “Pendeta agungku mengharuskanku menikahi gadis musim hangat yang dipilih Agnis.” “Dan kau percaya saja?” “Mengapa tidak?” “Bodoh,” kata Rose, dingin. “Aku peringatkan,” tutur Tiago, nada bicaranya terdengar jahil alih-alih marah karena ejekan Rose. “Suka atau tidak, akulah suamimu. Artinya, kau harus mematuhiku.” “Mematuhimu? Jangan bercanda.” “Kau milikku,” tegas Tiago. “Camkan itu.” Rose hendak menyangkal argumen Tiago ketika ia mendengar suara yang memanggil namanya. Menoleh ke jendela samping, Rose melihat sosok Noa yang tengah menunggang kuda. Pemuda itu berkali-kali memanggil nama Rose. Menoleh, Rose menatap penuh harap pada Tiago. “Tolong,” pintanya. “Aku harus menjumpainya.” Tiago menggeleng, menolak. Merengsek maju, Rose menggenggam tangan Tiago. “Tolong,” katanya memelas. Rose menatap tajam manik mata Tiago. “Kau boleh menyuruhku. Kau boleh menyakitiku. Kau bahkan boleh membunuhku. Silakan, aku tidak peduli. Tapi sebelum itu, izinkan aku menemuinya.” Sedetik yang terasa bagai selamanya, akhirnya Tiago mengetuk sekat yang memisahkan kusir dan penumpang. Kereta terhenti, Rose mengangguk berterima kasih dan langsung membuka pintu kereta. Keluar, Rose bisa melihat kereta yang berisi raja dan ratu telah berlalu, menyisakan beberapa penunggang kuda dan kereta barang. Noa menghentikan laju kudanya. Ia segera meloncat turun dan berlari menghampiri Rose. “Maafkan aku,” kata Noa. “Aku….” Mengabaikan ucapan Noa, Rose langsung menghambur dan memeluk Noa. “Jaga dirimu,” katanya. “Kau tak boleh mengganggu si bocah pesolek.” Refleks, Noa membalas pelukan Rose. “Aku akan sangat merindukanmu.” “Jangan menangis,” larang Rose. “Mungkin kita hanya dizinkan menjadi sepasang sahabat, tak lebih.” “Rose….” Menarik diri, Rose berusaha menampilkan senyum cemerlang. “Ini bukan salahmu,” ujarnya. “Noa, jaga dirimu.” Berbalik, Rose mulai meninggalkan Noa. “Rose, aku pasti akan lulus ujian kesatria.” “Harus,” balas Rose tanpa menoleh ke belakang. Di luar dugaan, Tiago menunggu Rose di luar kereta. “Masuk,” katanya sembari mengulurkan tangan. Ragu, Rose tak ingin menyambut. “Ingat janjimu,” ancam Tiago di sela-sela senyumnya. Rose meraih tangan Tiago, dan pangeran itu pun membawa kembali sang pengantin ke dalam kereta. Kereta kembali melaju, meninggalkan Noa di belakang. Inilah yang Rose pahami; melepaskan dia yang tak diperuntukkan bagimu merupakan tindakan yang benar. Meski tahu, Rose tetap tak mampu mengenyahkan rasa sakit yang mulai berdenyut. Sekeras apa pun usaha Rose merelakan Noa. Ia tak pernah bisa mengusir bayangan Noa dari benaknya. Menunduk, Rose pun menangis. Tiago yang menyaksikan saat terakhir antara sepasang kekasih itu hanya bisa menelan pil pahit. Tak kuasa menyaksikan seorang gadis menangis, Tiago memilih mengalihkan pandang ke langit di luar sana. Aneh, kau menangisi lelaki yang tak akan pernah bisa kaumiliki. Di sini, aku yang memiliki hak atasmu pun kauabaikan. Kau merintih demi dia yang tak ditakdirkan untukmu. Sungguh, kau hanyalah setangkai bunga yang rapuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD