SEPULUH

1290 Words
Bangun tidur dan mendapati di sampingmu terbaring gadis yang baru saja kaukenal, rasanya … asing. Gadis itu tampak damai dalam tidurnya, mengingat kali terakhir Tiago melihat seraut kegundahan saat pengucapan sumpah pernikahan. Tiago paham, gadis itu tak ingin menerima pinangan pihak kerajaan. Tapi hei, Tiago pun sebenarnya ingin menolak perjodohan. Impian Tiago ialah menikahi Putri Bella, gadis yang memiliki segala hal yang Tiago butuhkan; berpendidikan, kecantikan tiada tara, dan perangai halus. Terlanjur, setidaknya Tiago bisa mencoba menyukai pengantinnya. Kembali, Tiago memperhatikan perangai istrinya ketika tidur. Bulu mata yang melengkung sempurna, seolah dilukis oleh Illina khusus untuk memperindah garis mata si gadis. Rambut cokelat yang membingkai wajahnya. Bibir semerah mawar. Sial, andai Tiago berkesempatan mengecap rasa bibir itu. Atau mungkin, Tiago bisa mencobanya? Pelan-pelan, Tiago membungkuk; memastikan si putri tidur tak akan terusik. Tersenyum, Tiago tak pernah menyangka gadis itu tak kalah rupawan dari Putri Bella. Dalam hati Tiago bertanya, berapa banyak pemuda yang jatuh hati karena melihat senyum yang memikat itu? Menunduk, Tiago bisa merasakan embusan napas yang beraroma lili. Tiago mulai mengurangi jarak di antara mereka hingga akhirnya ia mengecup pelan bibir sang pengantin. “Selamat pagi,” bisik Tiago. “Istriku.” *** Begitu Rose membuka mata, ia tak menjumpai keberadaan Tiago di mana pun juga. Sungguh, ia tak bisa menghapus bayangan Tiago. Rose takut, pangeran itu akan melakukan sesuatu yang buruk. Andai diizinkan, Rose ingin mencakar wajah Tiago yang selalu menampilkan senyum menyebalkan. Oh Rose, bersabarlah. Menikahi pemuda yang tak dicintainya. Meninggalkan pendidikan di institut. Terpisah jauh dari Agatha dan Abel. Bersabar mengenakan gaun yang Rose tebak tak akan pernah ia miliki walau Agatha bekerja membanting tulang selama enam bulan. Itu semua tak seberapa pedihnya jika dibandingkan dengan pendidikan istana. Permaisuri Amelia memperkenalkan Rose pada salah seorang pengajar bernama Nyonya Ara. Percayalah, wanita itu termasuk jenis mentor yang dijauhi murid. Rambut tersanggul rapi, kulit pucat, tubuh kurus dengan garis wajah keras. Rose berharap lenyap dan menghindari apa pun yang akan diajarkan wanita itu. Perpustakaan, Rose tak akan pernah sama lagi menilai tempat yang sering menyelamatkan Rose dari cibiran murid musim hangat. Duduk di dalam dan berusaha terlihat menikmati pelajaran adalah dua hal yang berbeda. Rose tak peduli pada nama-nama bangsawan agung yang penyebutan namanya saja membuat lidah Rose keseleo. Demi Agnis yang agung, Rose bahkan tak mengerti hubungan berkat dengan posisi seseorang. Dia hanya bisa melakukan pekerjaan manual; mencuci menggunakan tangan tanpa bantuan semburan air ajaib, menanam bunga yang harus dirawat secara berkala karena Rose tak mampu menumbuhkan benih tersebut dalam waktu dua detik. Nyonya Ara benar-benar pandai mengacak-acak benak seseorang. Rose harus melakukan sesuatu agar bisa menghindari serangan kematian kreativitas. Tak bisakah Nyonya Ara mengajar menggunakan protokol rakyat jelata? Mengesankannya, Nyonya Ara memilih meja yang berada di dekat jendela. Satu keuntungan, saat Rose bosan, ia bisa menatap pepohonan kuning yang tumbuh di sepanjang taman istana. “Tahukah Anda mengapa istana ini dinamai Wintersnow?” Nyonya Ara berdiri di samping Rose, kedua mata elangnya menatap angkuh sosok Rose yang (pura-pura) serius memperhatikan teks kuno. “Karena dingin,” jawab Rose, asal. Ha, coba saja. Aku tak akan sudi mempelajari hal yang tak menyenangkan. “Itu karena klan winter merupakan penguasa tertinggi,” jelas Nyonya Ara. Tiada nada mengejek yang terlontar, dan itu membuat Rose kecewa. “Winter, klan yang mememilki kemampuan memanipulasi cuaca, air, bahkan es. Setidaknya Baginda Liam mampu membekukan sebuah kota hanya dalam satu kedipan, Pangeran Tiago memiliki kuasa atas angin dan es, sementara Pangeran Sacha mahir memanipulasi elemen salju.” Hancur sudah, Rose tak menyangka suaminya memiliki berkat sehebat itu. Jika Rose berlaku lancang, maka Tiago tak segan mengubah Rose menjadi manusia salju. Hebat, keluh Rose dalam hati. “Anda sungguh beruntung.” Mendongak, Rose mencoba memahami ucapan Nyonya Ara. “Apa maksud Anda?” “Aku mendengarnya,” tutur Nyonya Ara. “Burung-burung milik sang dewi memilihmu. Ada sebuah kepercayaan bahwa Luma menciptakan burung-burung tersebut sebagai tanda mata bagi Agnis atas kesediaannya memberikan terang pertama saat penciptaan.” Diam. Rose tidak berani menyangkal. “Mungkin,” katanya. “Luma terlalu baik.” “Luma tak pernah salah menilai kebaikan seseorang,” ujar Nyonya Ara. “Ia tahu kau istimewa. Dan aku yakin, Luma pasti memiliki rencana tertentu.” “Aku—” “Ternyata kau ada di sini,” potong seseorang. Menoleh, Rose hampir saja melompat saat mendapati Tiago mendatanginya. Sial, Tiago merupakan manusia terakhir yang ingin ditemui Rose. Menunduk, Tiago memberi hormat kepada Nyonya Ara. “Bolehkah aku membawa istriku?” Tersenyum, Nyonya Ara berkata, “Silakan.” Pasrah, Rose bangkit dan mengikuti Tiago. Kali ini Rose merasa belajar sejarah kaum musim dingin tidaklah terlalu buruk jika dibandingkan bersanding bersama Tiago. Sepanjang jalan, Tiago tak mengucapkan apa pun. Ia melangkah menyesuaikan ritme jalan Rose. “Kenapa kau membawaku ke sini?” Rose bertanya. Tiago mengajak Rose keluar. Kini mereka berdua berada di sebuah taman. Tanah ditutup dedaunan berwarna kuning dan cokelat. Di sekeliling mereka, pepohonan dengan bunga kuning dan oranye tengah mekar. Membungkuk, Tiago menawarkan sebelah tangan. “Kau bisa menari?” Mengerutkan dahi, Rose menggeleng. “Tidak bisa.” “Wah,” ujar Tiago. “Sayang sekali.” “Apa pentingnya?” “Pesta penyambutan. Dansa. Anggur.” Pahamlah Rose. “Tak bolehkah aku duduk, menjauh dari segala gemerlap, dan melihat kalian melakukan ocehan bangsawan?” Sebelah alis Tiago terangkat. “Kau akan membiarkan suamimu menari dengan gadis lain?” Rose ingin menampar Tiago. “Aku tak suka menari.” “Percayalah padaku.” Hening. Rose seolah tersihir saat menatap manik mata biru yang memukau itu. “Kalau kau tak bisa berdansa,” usul Tiago. “Kau hanya perlu meletakkan kakimu di atas kakiku.” Rose melakukan hal yang diinstruksikan Tiago. “Genggam tanganku,” kata Tiago. “Dan jangan pernah kaulepaskan.” Rose merasakan desir hangat mengalir di bawah kulitnya. Ia menempelkan pipi di d**a Tiago. Memejamkan mata, Rose membiarkan Tiago membimbing setiap langkah. Suara degup jantung milik Tiago terasa begitu menenangkan. Semilir angin meniupkan beberapa helai kelopak bunga. Rose merasakan hangatnya tangan Tiago ketika merengkuhnya. Walau tak mengerti sensasi aneh yang datang, Rose membiarkan dirinya terseret pusaran kebersamaan. Tiago tertawa saat Rose mendongak menatap Tiago. “Bagaimana pelajaranmu?” tanya Tiago. Rasa panas menyengat kedua pipi Rose, ia tak sanggup menatap wajah Tiago. Menunduk, Rose mencoba menatap hamparan dedaunan musim dingin. “Aku bosan.” “Tentu,” Tiago menyetujui. “Karena itu aku menyelamatkanmu.” “Aku tak mengerti.” Berhenti. Tiada dansa. “Kau terlalu banyak berpikir.” “Jujur saja,” desak Rose. Ia mulai merenggangkan genggaman tangannya, meskipun Tiago memilih untuk menggengam jemari Rose. “Aku tak mencintaimu.” Untuk beberapa detik yang rasanya seperti selamanya, mereka berdua terdiam. Hingga Tiago berdeham dan berkata, “Kau tahu, cinta hanyalah perwujudan dari pikiranmu. Kau pikir cintamu adalah si bocah api, bukan aku.” “Itu fakta.” Sungguh, Tiago ingin membunuh bocah api itu. “Cinta bisa berubah. Hari ini kau menolakku, esok kau membutuhkanmu.” “Ya, aku membutuhkanmu agar segera melepaskanku,” Rose menyangkal. Tiago kehilangan selera. “Sayang,” tutur Tiago dengan suara selembut sutra. “Aku berencana mengikatmu bersamaku hingga maut memisahkan.” Pucat. Rose berteriak, “Lepaskan aku!” *** “Lihatlah pasangan aneh itu,” cibir Selir Ana. “Memuakkan.” Sacha dan Selir Ana, mereka berdua tak sengaja melihat Rose dan Tiago yang tengah berdansa. “Biarkan saja,” ujar Sacha. “Lebih baik kita segera pergi.” Mengangguk, Selir Ana menuruti saran putranya. Getir, gadis itu hanya akan menjadi boneka; dimainkan tangan-tangan tak kasatmata, patuh pada perintah penguasa, tak memiliki pikiran dan kendali atas kehendak, dan hidup dalam sangkar emas. Sangat menyedihkan. Sacha melihatnya, keengganan sang pengantin wanita. Gadis itu jelas-jelas terlahir sebagai sosok yang merdeka. Entah sampai kapan ia sanggup bertahan di kerajaan. Mengembuskan napas, Sacha tidak peduli.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD