SEBELAS

1797 Words
Aula dansa, lantainya dari batu pualam yang telah mengalami penempaan alam hingga tampak menyilaukan. Pilar-pilar kini dihiasi kain-kain merah dan ungu. Beberapa kali Rose menghela napas, terpikat keindahan tata ruang; kubah dengan lampu kristal yang memberikan penerangan, bunga-bunga segar yang ditata secara apik, hidangan mewah di sepanjang meja jamuan, lilin-lilin yang menebarkan aroma harum, musik manis yang memenuhi ruang dengar, dan tentu saja para hadirin yang mengenakan pakaian mewah. Berada di antara mereka—kaum musim dingin—membuat Rose merasa tersesat. Ia tak terbiasa mengenakan gaun yang dibuat dari kain kualitas wahid. Kalung permata yang melingkar di leher pun terasa bagai kekang—berat dan menyesakkan. Namun itu tak lebih buruk daripada tiara mungil yang kini bertengger di kepala Rose. Tiara yang melambangkan segala kehendak bebas bukanlah milik Rose, ia tak lagi memiliki pilihan. Segalanya telah sirna ketika Rose memutuskan menerima pinangan Tiago. Tiago, pangeran itu tampak memesona dalam balutan baju kebesaran kerajaan. Senyum tak pernah lekang tiap kali Tiago berucap. Duduk di samping Tiago, Rose menyadari bahwa para gadis mulai melemparkan tatapan setajam belati. Huh, ucap Rose bersungut-sungut, kenapa kalian memandangku seperti itu? Tak jauh dari tempat Rose, Baginda Liam dan kedua istrinya pun tengah menikmati jamuan. Permaisuri Amelia mengenakan gaun berwarna kuning yang terlihat serasi dengan rambut pirang sang permaisuri. Selir Ana pun tampak mengesankan dalam gaun biru tuanya. Bila Permaisuri Amelia tampak bagaikan matahari musim dingin, maka Selir Ana terlihat seperti rembulan; anggun dan memikat. Rose tercenung mendapati kecantikan kedua wanita tersebut. Mendengus, Rose mulai mengkhawatirkan masa depannya. Bagaimana bila Tiago memilih selir yang menjengkelkan dengan perilaku tak ubahnya nenek sihir? Astaga, jika saat itu tiba, Rose akan melarikan diri. Seolah itu bisa terjadi. Mereka akan mematahkan tangan dan kakimu. Rose, bangun. Hening. Segala bising terhenti. Di tengah aula para gadis bergaun putih mulai melakukan tarian musim dingin. Masing-masing dari mereka membawa setangkai lili air, jenis teratai yang hanya mekar di saat malam; kelopaknya dua kali ukuran teratai normal dengan warna ungu di setiap pucuk bunga. Para gadis membiarkan rambut mereka tergerai bebas menutup bagian belakang tubuh mereka yang Rose yakini semulus porselin. Rose tak mampu mengalihkan pandang saat mereka menari. Lemah gemulai, gaun berumbai mereka bergemerisik saat para penari memutar tubuh. Menengadah, dari tiap jemari sang penari, butir-butir salju mulai bermunculan. Detik berikutnya bunga-bunga mungil berwarna putih bermunculan. Rose terpukau pada keindahan berkat yang tengah dipertontonkan para penari. Para naturalist itu benar-benar paham menggunakan kekuatan mereka, tiap kali jemari mereka memercikkan kelopak bunga—harum pun memenuhi ruangan. Rose membuka telapak tangan ketika sekuntum bunga berwarna putih jatuh di atas telapak tangannya. Dalam keharmonisan, salah seorang penari mulai berdendang. Luma meramalkan. Ia terpikat pada aliran sungai bintang yang membentang permai. Dalam satu tarikan napas, Luma menyucikan jiwa-jiwa. Memberi mereka kasih dan cinta. Duhai Agnis yang agung. Darimu kehidupan pertama terlahir. Berkatilah jiwa-jiwa saudara kami yang ada di sana. Ise yang perkasa pun bertitah. Ia akan melindungi jiwa-jiwa dari pelukan kegelapan. Illina, cinta adalah berkatmu yang paling sempurna. Biarkanlah masing-masing dari kami berjumpa dengan belahan hati kami. Kau berikan pelita dalam setiap petang. Maka kami tak akan ragu. Tak akan ragu pada cinta yang tulus. Rose mengenali salah satu balada kuno Lumios. Ia pernah membacanya. Terberkatilah petugas perpustakaan yang mengizinkan Rose menghabiskan waktu bersama buku-buku. Lalu, Noa akan berujar, “Rose, apa menariknya orang-orang yang ada di dalam sana?” Tersenyum, Rose menghidu bunga salju. “Kalau kau menyukainya,” bisik Tiago tepat di telinga Rose. “Aku akan meminta pelayan menghias kamar kita dengan bunga magnolia.” Merengut, Rose tak menyukai apa pun yang digagas sang suami. “Berhentilah menggangguku.” “Aku ini sangat perhatian,” sangkal Tiago. “Omong-omong, jauhi minuman berwarna keemasan.” Mengerutkan kening, Rose bertanya, “Kenapa?” “Jauhi saja.” Selepas tarian, para hadirin mulai menyambangi Tiago. Kebanyakan dari mereka lebih tertarik mengorek informasi perihal kemungkinan Tiago mengangkat selir dari salah seorang sanak saudara mereka. Kebanyakan dari nyonya besar yang Rose jumpai memiliki beberapa persamaan; kaku, angkuh, dan dingin. Terlebih anak gadis yang mereka bawa, tak henti-hentinya bibir mereka menunjukkan puja dan puji atas ketampanan Tiago. Mereka tersenyum pada Tiago, lalu menatap sinis saat melihat Rose. Rose ingin berteriak, “Aku tak ingin menikahinya!” “Perkenalkan,” kata Tiago. “Dia adalah Nona Elvira, penari badai. Lalu, kakaknya Alaric, sang bayangan.” Rose mengangguk kepada sepasang pemuda dan pemudi berambut hitam. Gadis bernama Elvira terlihat … anggun mungkin bukanlah kata yang sesuai untuk menjabarkan Elvira. Di balik kecantikan yang dimiliki Elvira, Rose merasakan kegelapan. Sementara Alaric, pria itu tampak dingin. “Istrimu sangat menawan,” Alaric memuji. Seulas senyum bak kabut menghias wajahnya. “Aku sampai tergoda untuk menculiknya.” Hawa dingin merayapi tulang belakang Rose. Resah, Rose tak menyukai cara Alaric berucap. “Jangan,” kata Elvira. “Tiago akan mengubahmu menjadi bongkahan es.” “Tepat sekali,” Tiago mengakui, kedua manik matanya menatap tajam, memperingatkan siapa pun yang berani menyentuh miliknya. “Sebaiknya kau mempertimbangkan keinginanmu.” “Yah,” desah Alaric. “Itu sulit.” Elvira menyikut saudaranya. “Maafkan dia. Kakakku hanya bercanda.” Entah mengapa Rose merasa sikap Alaric terlalu mencurigakan. Luma, pinta Rose, selamatkan aku. *** Luma menjawab doa Rose. Permaisuri Amelia mengajak Rose ke perkumpulan bangsawan besar. “Perkenalkan,” kata Permaisuri Amelia. “Rose dari Helios.” Tatapan menilai, mereka mulai menimbang kualifikasi seorang Rose. “Apa pekerjaan orangtuamu?” tanya salah seorang wanita bergaun hitam dengan sanggul setinggi papan penggilas. Menelan ludah, Rose menjawab, “Kedua orangtuaku sudah meninggal.” “Kasihan,” ujar seorang wanita berambut merah. “Permaisuri akan menjadi ibu kedua bagimu.” Sangat diragukan, mengingat Permaisuri Amelia telah menerapkan beberapa dekrit yang tak boleh dilanggar Rose. Terlebih, sang permaisuri jarang tersenyum—menegaskan ketidakinginan wanita itu menikahkan Tiago dengan kaum jelata. “Kau tinggal di panti asuhan?” tanya seorang wanita berambut hitam. Ketika berucap, ia selalu menempatkan kipas berbulu di depan mulutnya. Hal yang membuat Rose merasa geli. “Saya tinggal bersama paman dan bibi dari pihak ibu,” jawab Rose. “Apa berkatmu?” Bagai dihantam martil, pertanyaan jahat pun terlontar. Rose ingin mencakar sanggul wanita jahil itu. Tak adakah hal penting yang bisa mereka usik selain gelar, predikat, harta dan sebagainya? “A-aku, tidak memiliki berkat apa pun.” Suara lenguhan pun meluncur, siap mencaci dan memaki kelemahan Rose. Melirik ke samping, Permaisuri Amelia tak menunjukkan ekspresi apa pun. Rose menduga wanita itu tengah menahan emosi. “Ini sangat … aneh,” ungkap ketiga wanita bangsawan secara bersamaan. Mengigit pipi bagian dalam, Rose berusaha menahan dorongan untuk memaki dan mengasihani diri sendiri. Seolah belum cukup seisi institut menghina Rose dengan tatapan memelas dan semacamnya. Rose adalah Rose, dengan ataupun tanpa berkat, Rose akan menjalani kehidupan yang dipilihnya. Dipilihnya? Astaga, Rose bahkan tak memiliki pilihan. Terkutuklah burung-burung Agnis. Saat ini Rose ingin memiliki kemampuan untuk menghilangkan keberadaan. Ketiga penyihir jadi-jadian ditambah sikap diam sang permaisuri semakin memperburuk suasana. Panas menyengat mata. Rose akan menangis. Tidak, larang Rose, jangan sekarang. Kau tak boleh terlihat lemah di hadapan bangsawan sombong ini. “Salam, Ibu Ratu.” Perhatian teralih, kini setiap mata memusatkan pandangan pada Sacha. “Sacha,” kata Permaisuri Amelia. “Kepentingan apa yang membawamu kemari?” “Tiago memintaku menjemput istrinya,” tutur Sacha. “Semoga Anda sekalian tidak keberatan.” Pangeran itu menampilkan seulas senyum yang memikat. Ketiga wanita itu tanpa ragu mempersilakan Sacha membawa Rose menjauh dari perkumpulan penyihir jadi-jadian. “Tiago?” ungkap Permaisuri Amelia. “Aneh, tak biasanya ia meminta bantuanmu.” “Para gadis menahan sang pangeran,” ujar Sacha. “Oleh karena itu, ia meminta pertolongan Putri Rose untuk menyelamatkannya.” Kerutan halus muncul di dahi sang permaisuri. “Baiklah, bawa Putri pada pangerannya.” Sacha membawa Rose menuju bagian utara aula dansa; melewati selasar dan berakhir di taman mawar. Sebuah taman yang dikhususkan untuk menanam aneka jenis mawar musim dingin, bahkan mawar yang mampu berbunga di saat salju menutupi dataran dan lembah dengan selimut putih. Rose terpana menatap kumpulan rumpun mawar yang terlihat cemerlang di bawah naungan rembulan. Hingga ia sadar, Tiago tidak ada di mana pun. “Kau,” kata Rose, waswas. “Menipu—” “Aku menyelamatkanmu,” potong Sacha. “Kau terlihat mengenaskan.” Terkekeh, Rose berujar, “Di sana mengerikan.” Rose duduk di atas rerumputan, mengabaikan rumput yang mengotori gaunnya. “Aku tidak cocok dengan segala kemewahan ini.” “Yah,” kata Sacha. Ia pun duduk di samping Rose. “Kau harus terbiasa.” “Aku tak akan terbiasa.” “Sacha,” katanya. “Namaku Sacha.” “Rose,” timpalnya. “Bukankah kau….” “Adik Tiago. Percayalah, dia akan mengamuk saat menyadari dirimu tidak ada di sana.” Aneh. Rose bisa bercakap normal dengan Sacha. Gadis itu melirik sekilas pada Sacha, memperhatikan rambut dan manik mata sang pangeran. “Kenapa?” “Mungkin karena aku kasihan padamu?” “Kasihan?” ulang Rose. Tidak mengerti. Mengangguk, tanpa menoleh Sacha beralasan, “Pasti berat bagimu. Menikahi Tiago.” Menunduk, Rose memperhatikan tepi gaunnya yang bersentuhan dengan ujung rerumputan. “Sangat,” katanya. Rose mengingat wajah Agatha dan Abel yang tampak nelangsa, Pablo dan Estela yang terlihat sama murungnya dengan langit di bulan Agustus, dan tentu saja Noa. Sesak rasanya, tiap kali Rose memikirkan Noa dan segala janji yang tak pernah terpenuhi. Ia tahu, saat itu Noa bermaksud menjemput Rose. Hanya saja … tak mungkin, melepas segala tanggung jawab setelah Noa menolak ajakan Rose. “Mungkin aku akan membiarkan Tiago memilih selir saat ia naik takhta.” “Jangan,” Sacha melarang. “Ketahulilah, petaka bagi seorang wanita ketika mendapati lelaki yang dinikahinya membagi cinta dengan perempuan lain.” Hening, Rose menangkap getaran miris di setiap perkataan Sacha. Menoleh, Rose bertanya, “Apakah Selir Ana?” “Rose,” sela Sacha. “Sebisa mungkin, jangan terlihat lemah di hadapan mereka.” “Asal kau tahu, itu sulit.” Kali ini Sacha menampilkan wajah galak dan berpesan, “Tatap mereka tepat di matanya. Jangan biarkan mereka mengintimidasimu. Kau harus memperlihatkan siapa dirimu. Abaikan berkat dan kuasa dewa, kau memiliki hal lain yang jauh lebih kuat: Tiago. Tunjukkan pada para gadis berbedak tebal itu, kau lebih baik dari mereka.” “Bagaimana kalau salah seorang dari mereka membakarku?” “Berlindung saja di belakang Tiago dan biarkan ia yang menanggung dosa perbuatanmu.” Terkekeh, Rose menepuk pelan bahu Sacha. “Aku rasa akan lebih baik bagiku jika aku sembunyi di belakang punggungmu.” Menaikkan alis, Sacha berkata, “Boleh, tinggalkan Tiago dan menikahlah denganku.” Sontak, rona merah memenuhi wajah Rose. “Kau menakutkan.” “Bagus, sebaiknya kau berhati-hati denganku.” “Tapi, aku yakin,” katanya. “Kau akan menolongku.” “Sebab?” “Kau sahabat pertamaku di Wintersnow.” Mereka berdua saling pandang dalam keheningan. “Iya,” ungkap Sacha. “Aku sahabat pertamamu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD