Sacha menyarankan Rose agar kembali ke aula dansa. Sebenarnya Rose lebih senang menghabiskan waktu duduk di taman daripada memandang para bangsawan yang memenuhi aula dansa. Berdiri menjauh dari lingkaran dansa, Rose dan Sacha memperhatikan lirikan penuh arti yang diarahkan para hadirin.
“Tenanglah,” ujar Sacha. “Mereka hanya iri padamu.”
Iri? Tak bisakah mereka melihat dari sudut pandang seorang Rose? Gadis itu bahkan merasa sesak karena korset bertali yang ia kenakan di balik gaun. “Aku tidak suka.”
“Bersabarlah.”
Resah, Rose menyambar gelas minuman terdekat dan mulai menenggaknya. Minuman berbuih itu terasa manis dan menggelitik lidah Rose. Baru kali ini Rose mencicipi minuman senikmat ini.
“Apa ini?” tanya Rose pada Sacha.
Mengerutkan kening, Sacha segera menyambar gelas yang digenggam Rose. “Kenapa kau meminumnya?”
“Kenapa?” Rose tak mengerti. “Aku haus.”
Menghela napas, Sacha menyugar rambut. “Jangan,” katanya.
Rose tak mempertanyakan pantangan tersebut, ia memilih mengamati para pemusik. Rose pernah belajar salah satu instrumen, walau ia tak semahir Agatha dalam bermain harpa.
Ah, satu hal yang membuatku senang.
Menari, mengikuti alunan musik dan membiarkan gaun-gaun berdesir di atas pualam. Rose menikmati suasana malam dengan menghindari masalah. Beruntung, keberadaan Sacha menjauhkan Rose dari para bangsawan yang ingin mengulik latar belakang kehidupannya.
“Kau tahu,” kata Rose. “Tiago menipuku.”
Terkekeh, Sacha berujar, “Dia memiliki seribu dusta.”
“Huh,” Rose mendengus, kesal. “Katanya aku harus belajar dansa. Dan lihatlah, aku bahkan tak perlu menari.” Panas, Rose mulai merasa pening dan tak mampu mengendalikan semburan kata-kata yang mulai meluncur melalui mulutnya. “Dia benar-benar menjengkelkan. Terlebih para gadis,” tunjuk Rose pada barisan gadis yang mengantre kesempatan berdansa bersama Tiago. “Aku yakin mereka ingin mencincangku. Berani taruhan, Tiago akan melemparku ke sarang harimau saat ia tak lagi membutuhkanku.”
“Rose, apa kau baik-baik saja?”
Mengabaikan pertanyaan Sacha, Rose mulai berjalan menuju balkon.
“Hati-hati,” kata Sacha. Sadar bahwa gadis itu terhuyung dan hampir menabrak salah seorang pelayan. “Rose, kau mabuk.”
Tak peduli, Rose terus melangkah menuju balkon. Ia bisa merasakan angin malam yang mulai membelai pipinya. “Aneh,” katanya. “Aku merasa … ringan.”
Serangan euforia. Malam terlihat lain; kemilau kristal cahaya dan pendar lilin tampak bagaikan kerlip kunang-kunang. Rasa panas meluap, Rose ingin melepas beberapa kain yang membalut tubuhnya.
Tertawa. Rose merasa bahagia seolah segala beban menguap dan hilang begitu saja.
“Sacha, kau terlihat aneh.”
“Rose,” panggil Sacha, khawatir. “Sebaiknya kita masuk sebelum mereka—”
“Biar saja,” potong Rose. “Aku lelah. Permaisuri jelas tak menyukaiku, Baginda pun tampaknya tak peduli padaku, sementara Tiago itu sangat kurang ajar.” Setetes air mata mengalir, ia benar-benar merasa putus asa. “Aku kesepian. Noa, ia berjanji padaku. Janji tinggal janji. Ia tak bisa mengorbankan orangtuanya. Aku ingin pergi.” Rose menunjuk dadanya. “Sesak, aku tak bisa bernapas. Ini tak adil. Kenapa harus aku? Aku juga ingin dicintai dan mencintai. Namun lihatlah, di sini aku hanya bisa menahan asa saat mata-mata asing itu mulai menilaiku.”
“Rose….”
“Apa gunanya hidup jika aku harus berakhir bersama orang yang tak kucintai?”
Rose mulai mendekati Sacha namun kedua kakinya tak mampu menahan beban tubuh hingga akhirnya Rose tersungkur jatuh ke dalam pelukan Sacha.
“Rose…,” kata Sacha.
Kedua mata Rose terpejam.
“Kasihan,” kata Sacha. “Kau jauh dari keluargamu.”
Sacha membopong Rose. Ia berniat mengantar Rose ke kamar saat sebuah suara menyela, “Berhenti!”
Berbalik, Sacha mendapati keberadaan Tiago. Pangeran itu terlihat jengkel.
Astaga, mungkinkah Tiago mendengar percakapan barusan?
“Kembalikan,” perintah Tiago.
Menggigit bibir, Sacha mencoba menahan emosi. “Kau meninggalkannya,” tekan Sacha, “sendirian.”
“Itu bukan urusanmu,” tepis Tiago.
Terpaksa, Sacha menyerahkan Rose. Gadis itu mengguman ketika berada dalam rengkuhan Tiago.
“Sacha,” Tiago menegaskan. “Dia milikku.”
Kedua tangan Sacha mengepal, marah. “Aku mengerti.”
Tiago pergi meninggalkan Sacha seorang diri. Adapun yang penting baginya hanyalah Rose. Mengabaikan pandangan sekitar, Tiago membawa Rose meninggalkan aula dansa. Para pengawal menunduk ketika Tiago melewati selasar istana. Malangnya, beberapa kali Tiago mendengar Rose menggumam, “Tiago, berengsek.”
Terkekeh, Tiago membaringkan Rose ke ranjang.
“Aku membencimu.”
“Ya, ya,” kata Tiago sembari melepaskan sepatu Rose. “Tak bisakah kau memujiku, Sayang?”
Tak ada balasan. Rose tidur.
Tiago merapikan anak-anak rambut Rose. Penasaran, mimpi macam apa yang kira-kira dinikmati istrinya saat ini.
“Andai saja,” ujar Tiago, “kau bisa memberikan separuh hatimu padaku.”
***
Noa menatap rembulan dari jendela kamarnya. Berkali-kali ia membayangkan senyum terakhir Rose; air mata yang tak kunjung surut, kekecewaan, dan salam perpisahan. Andai saat itu Noa mendengarkan permintaan Rose agar tak mengunjungi festival Agnis, mungkin saat ini ia masih….
Rose telah pergi, Noa harus belajar menerima kenyataan.
“Maafkan aku,” ucapnya getir. “Rose, maafkan aku.”
Hancur. Tiada lagi yang bisa Noa lakukan.
Siang dan malam tiada bedanya bagi Noa. Tiada lagi sentuhan hangat yang selama ini menghapus kegundahannya. Gadis itu telah dimiliki pria lain. Noa hanya bisa membiarkan jemari ramping itu terlepas dari genggaman Noa. Perih datang acapkali Noa mengingat Rose. Tak peduli seberapa sering Noa mengucap maaf, nyatanya ia sendirian.
Kau tak pernah tahu apa yang menyebabkan hati seorang manusia hancur.
Meski berkali-kali kau berusaha melekatkan kepingan-kepingan itu.
Tetap saja, kau akan melihat ada satu garis halus yang mengingatkanmu kepadanya.
Walau ia berada jauh darimu.
Walau ia telah dimiliki orang lain.
Tetap saja, hatimu merindu.
Kau ingin menyentuh ujung jemarinya.
Kau ingin merasakan debar yang membara.
Tapi sejujurnya, hati manusia itu lebih rapuh daripada kaca.