TIGA BELAS

1593 Words

“Pusing,” Rose mengeluh. Ia mengedarkan pandang, tirai kamar kini tersibak dan mengantarkan cahaya, pertanda bahwa malam telah berlalu. Beberapa kali Rose mengerjapkan mata, mencoba mengusir pening. Rasanya seolah kepala Rose dipalu ribuan paku, sakit. Butuh beberapa detik hingga Rose sadar bahwa ia berada di kamar. “Astaga.” Panik, Rose meraba tubuh. Menghela napas, lega tak seorang pun berani mengganti pakaiannya. “Putri, bukankah sebaiknya Anda bersiap?” Seorang pelayan berdiri tak jauh dari ranjang. Perempuan itu mengenakan tudung berwarna hitam dan tampak tak ramah. Rose curiga, mungkin kerajaan musim dingin dihuni manusia berhati beku—berbeda jauh dari tempat kelahiran Rose yang dipenuhi tawa dan senyum. Rose beringsut dan mencoba bangkit namun kedua kakinya terlalu lemah. “A

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD