EMPAT BELAS

1240 Words

Angin hangat berembus menerbangkan dedaunan kering. Langit biru membentang dan di bawahnya terhampar batu-batu nisan. Rerumputan hijau tumbuh subur layaknya pasukan semut merah. Agatha menggandeng tangan gadis kecil yang berjalan di sampingnya. “Beri salam kepada ayah dan ibumu.” Rose menyibak dedaunan kering di atas nisan. Ia hanya diam, mengamati tulisan yang tertera di atas nisan. Ia tak tahu wajah sang ayah ataupun ibu, Agatha tak mengizinkan Rose melihat potret orangtuanya. Dan mungkin, hal itu memang benar; semakin sedikit kenangan yang dimiliki Rose akan orangtuanya, maka ia tak terlalu merasa kehilangan. Meski sebenarnya tidak begitu. Rasa kehilangan tetaplah ada, tak peduli seberapa banyak kisah bahagia yang dituturkan Agatha kepada Rose. Gadis itu tetap merasakan bagian yang

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD