"Mas Aji, aku tidak bisa terus bersama seorang pria yang sudah bertunangan." ujar Anjani. Degh! Batin Aji pada saat itu. Tenggorokannya seakan tercekat di saat mendengar ucapan Anjani. Ada semacam hal yang menyakitkan yang menancap di hatinya. Dan ada sebuah rasa sesak yang memenuhi rongga dadanya. Anjani yang baru saja hendak melangkah pergi dari sana, dan tubuhnya juga sudah memunggungi Aji. Tapi, ia menghentikan langkahnya — dan menolehkan kepalanya ke belakang. "Tapi, mas..., aku ingin tanya satu hal padamu." Anjani membalikan tubuhnya dan menatap ke arah Aji. Aji tak mampu lagi berkata-kata, ia terdiam seribu bahasa dan tertegun menatap wanita yang ternyata sudah singgah di hatinya dan bersarang di dadanya itu. "Apa, memang tak ada sedikitpun perasaan yang tersimpan untukku?

