Aji tertegun saat setelah membalikan tubuhnya dan melihat siapa yang ada di sana. Di sebuah kursi sederhana yang ada di kamarnya, ia akhirnya melihat sosok yang tak lagi asing baginya. "Ba–bapak?" gumam Aji pada saat itu. Matanya sampai terbelalak lebar saat melihat suatu hal yang bahkan tak ia duga-duga. Bapaknya sudah ada di kamarnya, berarti akan ada suatu hal buruk yang akan terjadi sebentar lagi. "Dari mana saja, kamu?!" suara Pak Anton terdengar lebih dingin dari biasanya, dan matanya terlihat memancarkan suatu kemarahan yang sulit di abaikan. Aji terdiam sembari memutar otaknya ahar bekerja lebih. Ia memang tak pamit saat pergi tadi, karena ia sungguh kesal pada kedua orangtuanya dan lagi pula – ia tidak yakin akan di izinkan pergi. "Aku hanya pergi bersama Cecep." balas A

