Rasa Takut Pertama

571 Words
Langit malam tak berbintang. Kabut dan dingin menguasai reruntuhan Menara Penanda. Api kecil berusaha melawan hawa beku, memantulkan bayangan ke wajah-wajah yang lelah. Lena membalut luka Kael yang menghitam di sekitar tepian. Cairan ramuan sihir ia teteskan perlahan ke perban. “Ini... belum berhenti berdarah,” gumamnya. Kael tersenyum tipis, menahan nyeri. “Aku masih bisa berdiri. Jangan cemas.” Aryl duduk gelisah. “s**l. Monster-monster tadi... mereka kayak bukan dari dunia ini.” Elias berdiri sendiri di luar api, menatap gelapnya hutan. Tak bicara sepatah kata pun. Dari bayang-bayang, Vrael mengamati. Ia mengangkat tangannya. Segel iblis bersinar samar di udara. “Sedikit tekanan,” gumamnya, “lihat seberapa jauh bocah itu bisa bertahan menyembunyikan dirinya.” Dari balik pepohonan, empat bayangan merayap. Tubuh menghitam, mata merah menyala, dan lidah terjulur seperti hewan liar. Api menyala samar dari celah kulitnya—Shadow Hellbeasts, makhluk pemanggilan dari kegelapan wilayah iblis. “Monster!!” Aryl berseru, panik. Salah satu makhluk menyambar ke arah Lena. Ia berguling menyelamatkan diri, namun satu lagi mencakar bahu Kael yang sedang duduk—tepat di lukanya tadi. “ARGHH!!” Kael memekik, tubuhnya tersentak keras. “Kael!!” Lena dan Aryl mencoba menyerang, tapi serangan angin dan api mereka hanya menciptakan luka ringan di kulit monster. “Kenapa nggak mempan?!” Lena menggertakkan gigi. “Mereka... di atas kita.” “...Tingkat sihir mereka setidaknya Emas Rendah. Kita semua... masih di Perunggu atau Perak.” Aryl mengumpat. “s**l. Kita cuma nyamuk buat mereka!” Salah satu Hellbeast melompat ke arah Lena. Cakar terangkat tinggi. SCHRAAKK!! Bayangan hitam dari tanah muncul seperti tombak, menghantam makhluk itu dan menyeretnya ke dalam bumi. Lena membuka mata. Tubuhnya gemetar. Elias berdiri di depannya, membelakanginya. Aura dingin memancar dari tubuhnya, membentuk tekanan samar seperti malam pekat yang menggantung di udara. “Jangan sentuh dia,” suaranya datar, tapi menusuk. Makhluk-makhluk lain berhenti. Mereka mundur, perlahan, seolah merasa… takut. Di kejauhan, Vrael tersenyum samar. “Jadi, kau memang bukan bocah biasa…” Setelah monster menghilang, suasana hening. Lena duduk di dekat Elias. Tanpa berkata-kata, hanya memandangi api yang hampir padam. Kael berbaring dengan nafas terengah. Tangannya dingin, dan matanya terbuka sedikit, menatap kosong langit-langit menara. Di dalam pikirannya, suara bisikan halus terdengar: > “Bukalah... biarkan aku masuk... Kau akan kuat... Kau akan aman…” Wajah Kael tetap tenang, tapi iris matanya bergetar pelan—sekilas hitam pekat menyelinap di tepiannya. Lena menoleh ke Elias. “Kau... menyelamatkanku,” suaranya pelan. Elias tetap menatap jauh. “Itu... refleks.” Hening. Tiba-tiba, Lena menggenggam tangan Elias—hanya sebentar. Tangannya kecil, hangat. “Terima kasih,” bisiknya, sambil menunduk malu. “Aku hanya... takut.” Elias tak langsung menarik tangannya. Wajahnya menegang. Matanya memandangi tangan mereka berdua... Lalu perlahan, ia menarik tangannya kembali. “Jangan bergantung padaku.” Namun suaranya tak sekeras sebelumnya. Bahkan... sedikit bergetar. Pagi menjelang. Elias berdiri sendirian di luar. Angin membawa bau besi dan kabut. Aryl muncul dari belakang, menguap lebar. “Kau udah bangun?” “Tidak tidur,” jawab Elias pendek. Aryl menatapnyA heran. “Kau... nggak seperti anak manusia biasa. Kau kadang kayak... ngeri.” Elias menatap Aryl. “Tetap anggap aku biasa. Itu lebih aman buat kalian.” Di reruntuhan menara lain yang tersembunyi... Vrael berlutut di hadapan bola sihir bercahaya merah. Di dalamnya, siluet sosok wanita duduk di atas singgasana bayangan. > “Lapor pada Putri Selena. Target ditemukan. Dan... ada satu tambahan menarik.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD