Bayangan Dari Dalam

641 Words
Mentari pagi menembus jendela kaca besar Akademi Sihir Altherion. Namun kehangatan itu terasa semu bagi mereka yang baru kembali dari neraka kecil bernama Menara Penanda. Elias duduk di sisi ranjangnya, menatap telapak tangannya. Kulitnya sempat terbakar. Bekas hitam samar masih ada, namun ia tahu bukan itu yang perlu dikhawatirkan. Tadi malam... dia bermimpi. Dalam mimpinya, sihir hitam menyelimuti tubuhnya seperti kabut. Dunia runtuh di sekelilingnya. Teriakan. Darah. Bayangan. Dan dirinya, berdiri di tengahnya... tak tergoyahkan. Tangan kanannya gemetar. > “Kalau aku benar-benar melepaskan semuanya… siapa yang akan tersisa?” Sementara itu – Kamar Infirmary Kael duduk di tepi tempat tidur. Matanya kosong menatap dinding. Lena masuk membawa air, tapi sebelum sempat berkata apa-apa— “Jangan terlalu dekat!” bentak Kael tiba-tiba. Lena terdiam, kaget. Kael memalingkan wajah, menggigit bibir. “Maaf,” katanya pelan. “Aku... aku nggak tahu kenapa.” Lena menunduk. “Kau... tidak seperti biasanya.” Kael tak menjawab. Di benaknya, suara halus kembali muncul: > “Lemah. Mereka hanya akan meninggalkanmu.” > “Biarkan aku membantumu... agar kau tak lagi disisihkan.” Tangannya menggenggam seprai erat. Kelas Pagi – Teori Sihir Tingkat Menengah Instruktur Rize berdiri di depan kelas dengan kristal sihir yang berputar melayang. “Karena insiden ekspedisi kemarin, kami akan mempercepat pengenalan tentang tingkatan sihir,” katanya dingin. “Perunggu → Perak → Emas → Kristal → Dimensi.” “Sebagian besar dari kalian... bahkan tak akan menyentuh Emas dalam hidup kalian.” Semua siswa mendengarkan dengan cemas. Lena mencatat cepat, Aryl menguap. Tapi Kael? Ia menatap meja kosong, tenggelam dalam pikirannya. > “Tak ada yang percaya padamu. Bahkan dirimu sendiri.” Sementara Itu – Ruang Dewan Akademi “Tingkat bahaya misi C, padahal di dalamnya ada Shadow Hellbeast?” Suara keras dari salah satu kepala instruktur. Instruktur Erwin, si rambut hitam dan berjubah biru tua, menjawab dengan tenang, “Itu bukan kesalahan kami. Data dari Menara itu dikirim oleh pusat.” Instruktur Rize menyilangkan tangan. “Lalu siapa yang memalsukan datanya? Atau... apakah seseorang mencoba membunuh siswa kita?” Keheningan menggantung. Tak ada yang tahu bahwa di antara para instruktur... satu dari mereka bukanlah manusia. Malam Hari – Asrama Siswa Elias terbangun. Nafasnya memburu. Seprei terbakar di ujung jari-jarinya. Ia segera mengangkat tangan dan membekukannya dengan sihir es miliknya sendiri. Panas dan dingin bertabrakan, meninggalkan bekas uap di udara. Ia berdiri perlahan, menatap jari-jarinya yang sedikit menghitam. “Kalau ini terus terjadi... mereka akan tahu,” gumamnya lirih. Keesokan Hari – Halaman Tengah Akademi Para siswa dikumpulkan untuk latihan tempur tim. Nama tim dipanggil satu per satu. “Instruktur memilih tim... Lena Ferelle dan Elias Virein.” Lena mematung. “Hah?!” Elias hanya menatap datar. “Tidak ada keberatan,” ucap Rize tegas. “Ini ujian strategi, bukan hubungan pribadi.” Lena mendesah, lalu melangkah pelan ke sisi Elias. Untuk pertama kalinya mereka berdiri bersebelahan di depan umum. “Jangan berpikir aku akan diam saja kalau kau bertindak sendiri,” kata Lena. Elias melirik, lalu menjawab, “Aku tak butuh kau menahanku. Tapi... mungkin kau bisa menyeimbangkanku.” Lena terdiam. Entah kenapa, pipinya memanas. Sementara Itu – Di Gedung Utara Akademi Seorang siswa pindahan tiba dari Akademi Selatan. Rambut perak, mata tajam, dan senyum ramah yang terlalu... sempurna. “Namaku Vrael. Senang bergabung.” Tak ada yang curiga, bahwa Iblis kini telah melangkah di antara mereka. Kamar Kael – Tengah Malam Kael berdiri di depan cermin. Matanya merah, bukan karena menangis—tapi karena sesuatu mengendap di balik tatapannya. Ia mendengar suara-suara. Bukan dari luar... tapi dari dalam dirinya sendiri. > “Kau tahu siapa musuhmu.” > “Lena yang mulai melupakanmu... Aryl yang selalu meremehkanmu... Elias yang diam-diam... menjauh.” > “Buktikan pada mereka.” Kael menatap tangannya. Sedikit aura hitam keluar dari ujung jari... hanya sebentar, lalu lenyap. Ia menutup matanya. "Itu... bukan sihirku... kan?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD