Langit Jakarta memerah ketika senja menggantung malas di ujung cakrawala. Di balik jendela kaca lantai atas kantor Adrian, Alena berdiri diam. Tangannya mengepal di sisi tubuh, matanya menatap lurus pada gedung-gedung pencakar langit yang perlahan tenggelam oleh bayang cahaya sore. “Kenapa kamu diam?” tanya Adrian akhirnya, memecah keheningan yang menggantung berat. Alena menoleh pelan. “Kau tahu jawabannya.” Adrian berjalan mendekat, ekspresi wajahnya masih datar seperti biasa, tapi ada getaran lembut di suaranya. “Kau marah soal konferensi pers itu?” “Tentu saja,” jawab Alena tanpa ragu. “Kau bilang kita hanya hubungan pura-pura. Tapi di depan publik… kau menggenggam tanganku seperti” ia menghentikan kalimatnya, bibirnya bergetar. “Seperti apa?” “Seperti kita sungguhan,” gumamnya l

