Hening. Hanya suara angin malam yang menelusup masuk melalui jendela kaca di lantai atas mansion keluarga Arsenio. Di bawah sorotan lampu gantung kristal yang megah, Alara berdiri kaku, mengenakan gaun biru tua yang sederhana namun anggun. Gaun itu bukan miliknya, melainkan pinjaman dari salah satu pelayan senior demi memenuhi perintah Tuan Muda Ethan: “Temani aku malam ini di acara pertunangan Marcel.”
Pertunangan Marcel. Kakak lelaki Ethan.
Alara masih tidak mengerti mengapa dia diminta datang sebagai pendamping Ethan. Bukan sebagai pacar, bukan sebagai tunangan palsu, bahkan bukan sebagai tamu hanya... “temani.”
“Berhenti melamun.” Suara Ethan terdengar dari belakang. Dingin. Singkat. Seperti biasa.
Alara berbalik dan menunduk sedikit. “Maaf, Tuan.”
Tatapan Ethan menelusuri penampilannya dari atas ke bawah. Tak ada ekspresi di wajahnya, hanya gumaman lirih, “Lumayan.”
Itu bukan pujian. Tapi entah kenapa, jantung Alara berdebar lebih cepat.
Malam itu, ballroom hotel mewah dipenuhi orang-orang terpandang. Para wanita bersaing dengan gaun terindah, sementara para pria tampil rapi dan penuh percaya diri. Ketika Ethan muncul bersama Alara, banyak mata langsung tertuju pada mereka—atau lebih tepatnya, pada gadis asing yang berjalan di samping pewaris keluarga Arsenio.
“Apa itu tunangan barunya?” bisik seseorang.
“Bukan. Itu... cuma pembantunya, katanya.”
Alara bisa merasakan bisikan menusuk dari segala arah. Tapi dia tidak menunjukkan reaksi. Ia hanya berdiri tegak dan mengikuti langkah Ethan, mencoba untuk tidak terlihat gugup.
Namun langkah Ethan tiba-tiba terhenti di tengah ballroom.
Di hadapan mereka berdiri seorang wanita anggun dengan gaun merah marun dan senyum mencibir. Matanya tajam menatap Alara seolah ingin menelanjangi jiwa gadis itu.
“Sudah kuduga, kamu akan membawa kejutan, Ethan,” katanya.
Alara mengenal wanita itu. Clara. Tunangan lama Ethan. Wanita yang konon pernah hampir menikah dengannya sebelum perjodohan itu batal secara misterius.
“Kamu tahu aku benci pesta,” kata Ethan santai. “Tapi Marcel memaksa.”
Clara mengalihkan pandangannya ke Alara, “Dan siapa ini? Pembantu baru atau... ganti selera?”
Ethan menoleh pada Alara, lalu kembali menatap Clara. “Dia lebih dari cukup untuk membuatmu kesal. Jadi, tugasku berhasil.”
Alara terdiam. Sekilas matanya menatap Ethan ada amarah di balik kata-kata dinginnya, tapi juga semacam... perlindungan?
Clara tertawa sinis. “Berhati-hatilah, sayang. Permainan dengan wanita miskin seperti ini bisa membuat citramu hancur.”
Ethan tidak menjawab. Ia meraih tangan Alara dan membawanya menjauh, meninggalkan Clara yang mendesis di balik senyuman.
Di balkon ballroom, jauh dari hiruk-pikuk pesta, Alara akhirnya bisa bernapas lega. Ia bersandar pada pagar besi dan menatap gemerlap kota di bawah sana.
“Maaf... kalau aku mempermalukanmu,” ucapnya pelan.
Ethan menatapnya dari samping. “Kau tidak mempermalukan siapa pun.”
Alara menoleh, terkejut mendengar jawaban itu.
Ethan menyandarkan tubuhnya di pagar, lalu berkata, “Dunia ini kejam, Alara. Kalau kau tak belajar melawan, mereka akan menginjakmu.”
“Aku tidak tahu kenapa kau membawaku ke sini,” lirih Alara. “Tapi aku akan pergi setelah ini, jika itu membuatmu lebih tenang.”
Ethan menatap langit malam. “Kau bukan boneka. Jangan bicara seolah kau tak punya nilai.”
Alara tercekat. Kata-kata itu dingin, tapi juga... menyentuh.
“Clara pernah menusukku dari belakang. Menjual rahasia perusahaan demi posisi. Tapi semua orang hanya melihat kecantikannya, kekayaannya. Bagi mereka, itu cukup.”
Alara menggigit bibir. Ia merasa sesuatu dalam dirinya berubah—entah karena melihat sisi lain dari Ethan, atau karena perlakuannya yang tiba-tiba lebih... manusiawi.
“Aku butuh seseorang yang tidak terlibat dalam semua kepalsuan ini. Seseorang yang tidak akan menjualku demi jabatan. Mungkin itu kamu,” kata Ethan pelan.
Alara menunduk. Suara detak jantungnya membahana di telinga.
Malam kian larut saat mereka meninggalkan ballroom. Di dalam mobil yang meluncur sunyi menuju rumah, suasana menjadi hening kembali.
Tapi di tengah hening itu, Ethan tiba-tiba berkata, “Mulai sekarang, kau tinggal di kamar atas.”
Alara menoleh kaget. “Tapi... itu kamar tamu utama.”
“Aku tahu.”
“Kenapa?”
Ethan tak menjawab langsung. Ia hanya melirik ke arahnya, lalu berkata dengan nada tajam, “Karena aku ingin memastikan tak ada yang menyakitimu saat aku tidak ada.”
Alara tak tahu harus berkata apa. Matanya sedikit memanas. Dan untuk pertama kalinya... ia merasa diperhatikan.
Di balik dinginnya, Tuan Muda Ethan menyimpan luka yang dalam. Dan tanpa sadar, ia perlahan membiarkan seorang gadis tanpa nama masuk ke dalam hidupnya.
Hening itu tak berlangsung lama. Pintu kamar terbuka perlahan, memperlihatkan sosok Alan dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, rambutnya sedikit acak karena baru saja keluar dari kamar mandi. Matanya langsung menemukan June yang membeku di tempat dengan tangan masih menggenggam sesuatu di meja.
"Apa yang kau lakukan di kamarku?" tanyanya dingin, tetapi nada suaranya justru lebih tenang dari biasanya, membuat detak jantung June semakin liar.
June cepat-cepat meletakkan kembali benda di tangannya sebuah jam saku tua berukir huruf “L” dan menatap Alan dengan gugup.
"A-Aku hanya membersihkan... aku tak sengaja menjatuhkan ini," bohongnya sambil mundur satu langkah.
Alan berjalan perlahan mendekat, tidak menunjukkan emosi. Ia mengambil jam itu dari meja, lalu menatapnya sejenak sebelum berkata pelan, "Kau tahu, tidak semua rahasia ingin ditemukan."
June menelan ludah. "Maaf, Tuan. Aku tidak bermaksud"
"Tapi kau tetap melakukannya," potong Alan, matanya mengunci milik June. Namun, anehnya, tak ada kemarahan di sana hanya luka yang dalam, dan itu justru membuat June semakin penasaran.
"Aku tidak ingin tahu lebih banyak. Hanya saja..." Ia terdiam sejenak. "Kenapa Anda menyimpan jam ini dengan begitu hati-hati? Apa ada hubungan dengan orang bernama 'L'?"
Alan menatapnya lama, sangat lama, hingga June merasa jantungnya nyaris berhenti. Tapi akhirnya, ia hanya menghela napas dan berkata lirih, "Itu bukan urusanmu."
June menunduk. “Baik, saya minta maaf.”
Namun sebelum ia berbalik dan pergi, Alan bersuara lagi, kali ini lebih lembut.
"Jam itu milik saudara laki-lakiku. Ia hilang beberapa tahun lalu, dan sampai sekarang... aku belum bisa menemukannya."
Kata-katanya membawa udara sunyi menyelimuti ruangan. Tak ada kata-kata lanjutan, hanya beban yang menggantung di udara, membuat June sadar bahwa sosok Alan yang selalu dingin itu ternyata menyimpan luka lebih dalam daripada yang ia kira.
“Aku turut menyesal, Tuan Alan,” bisik June akhirnya. Lalu tanpa menunggu jawaban, ia berjalan cepat keluar dari kamar, meninggalkan pria itu berdiri dalam kesendirian yang terlihat sangat akrab baginya.
Malam itu, June sulit tidur.
Pikirannya penuh dengan teka-teki yang baru saja ia temukan. Tentang jam itu. Tentang saudara Alan yang hilang. Dan tentang ekspresi sedih yang tak pernah ia lihat sebelumnya di wajah pria itu.
Mengapa seseorang seperti Alan dingin, penuh kuasa, dan tampak tak terjangkau menyimpan begitu banyak luka yang ia sembunyikan rapat?
Dan kenapa June merasa... bahwa ia ingin tahu lebih banyak?
Ia menggenggam liontin kecil di lehernya satu-satunya peninggalan dari masa lalunya yang tak ia ingat dengan jelas. Entah mengapa, malam itu, rasa penasaran tumbuh bukan hanya untuk Alan, tapi juga tentang siapa dirinya sebenarnya. Mungkinkah masa lalunya terhubung dengan keluarga kaya yang sekarang ia layani?
Pikiran itu berbahaya. Tapi juga... terlalu menggoda untuk diabaikan.