Bab 8 – Di Balik Tirai Kebenaran

1359 Words
Langit mulai menghitam saat hujan turun perlahan, menetes di atas jendela apartemen mewah milik keluarga Ardyn. Gadis itu menatap ke luar, memeluk lututnya dengan ekspresi murung. Dalam diamnya, pikirannya terus berputar pada kalimat terakhir yang diucapkan Lawrence sebelum dia meninggalkan ruangan. "Kenapa kamu selalu berusaha menyembunyikan siapa dirimu sebenarnya?" Pertanyaan itu membekas, menusuk jauh ke dalam batinnya. Ia sendiri belum yakin siapa dirinya. Seorang pelayan? Seorang anak tanpa nama? Atau... seseorang yang menyimpan masa lalu kelam yang bahkan dirinya tak tahu pasti? Pintu diketuk pelan. “Aku tahu kau di dalam,” suara itu tenang, tapi mengandung kuasa. “Bolehkah aku masuk?” Gadis itu menarik napas panjang sebelum menjawab. “Silakan.” Pintu terbuka, dan Lawrence melangkah masuk dengan langkah ragu. Tak seperti biasanya, wajahnya tidak menampilkan arogansi atau ketegasan. Justru sebaliknya ada keraguan. “Aku tidak bermaksud menyakitimu,” ucapnya pelan. “Aku hanya… bingung.” Ia menoleh padanya, tidak berkata apa-apa. Lawrence duduk di sisi lain ruangan, menjaga jarak. “Aku menyuruh orang menyelidikimu,” katanya jujur. “Dan hasilnya… aneh. Tak ada catatan tentang masa kecilmu, nama sekolahmu, bahkan akta lahirmu.” Napas gadis itu tercekat. Ia tahu suatu hari ini akan terjadi, tapi tetap saja tidak siap. “Aku bukan siapa-siapa,” jawabnya pelan. “Aku hanya anak yang tumbuh di panti asuhan. Namaku pun bukan pemberian orang tua kandungku. Aku… tidak tahu siapa diriku sebenarnya.” Lawrence menatapnya, matanya tak bisa menyembunyikan rasa kasihan dan keterkejutan sekaligus. “Kau bilang kau bekerja di rumah keluargaku karena butuh uang, tapi kenapa kau tak pernah meminta bantuan? Bahkan setelah semua yang terjadi?” Dia menunduk. “Karena aku tak ingin terikat pada siapa pun. Aku sudah cukup hancur. Dan jika aku menerima bantuan, itu berarti aku punya hutang. Hutang emosional yang lebih berat dari apa pun.” Hening menyelimuti mereka beberapa saat. Lalu Lawrence berkata lirih, “Kau tak perlu menanggung semuanya sendiri.” Gadis itu menatapnya, mata mereka bertemu. Ada luka di sana, tapi juga ada harapan yang perlahan tumbuh. Lawrence berdiri dan mendekatinya. “Mulai sekarang, biar aku jadi seseorang yang berdiri di sampingmu. Aku tidak janji akan selalu sempurna, tapi aku janji tidak akan pergi.” Air mata menggenang di mata gadis itu, tapi ia cepat menghapusnya sebelum jatuh. “Kenapa kau begitu peduli?” tanyanya pelan. “Karena setiap kali aku melihatmu, aku merasa seperti melihat diriku sendiri. Kita sama-sama terjebak dalam kehidupan yang tidak kita pilih. Tapi mungkin, kita bisa saling menyembuhkan.” Tiba-tiba ponsel Lawrence berdering. Wajahnya menegang saat melihat nama penelepon. “Maaf, aku harus angkat,” katanya cepat sebelum keluar dari ruangan. Gadis itu menarik napas panjang. Tapi sebelum sempat menenangkan pikirannya, layar televisi besar di ruangan menyala otomatis. Sebuah siaran berita muncul. "BREAKING NEWS: Tuan Muda Ardyn dikabarkan akan bertunangan dengan pewaris perusahaan kosmetik ternama, Melissa Quinn. Acara tunangan akan digelar dalam waktu dekat." Tangannya gemetar. Lawrence belum mengatakan apa-apa tentang pertunangan itu. Kenapa? Apakah semua perhatian dan kelembutan itu hanya kepura-puraan? Pintu terbuka lagi. Lawrence kembali masuk. “Aku harus pergi sebentar,” katanya tergesa. “Ayahku memanggilku ke kantor pusat.” Gadis itu mengangguk, menyembunyikan kekecewaannya. “Baik.” “Jangan pergi ke mana-mana, ya?” ucapnya sebelum pergi. “Aku akan kembali malam ini.” Tapi begitu pintu tertutup, gadis itu tak bisa menahan air matanya lagi. Malam itu, gadis itu berjalan ke halaman belakang rumah keluarga Ardyn. Di bawah cahaya remang lampu taman, ia berdiri memandangi bunga lavender yang perlahan mulai bermekaran. Ini tempat favoritnya—tenang dan jauh dari sorotan. “Kau masih menyukai lavender, rupanya.” Suara asing tapi familiar itu membuat tubuhnya menegang. Ia menoleh. Seorang pria dengan jas hitam berdiri beberapa langkah di belakangnya. Rambutnya hitam legam dan wajahnya bersih, tapi mata itu… mata itu penuh rahasia. “Kau siapa?” tanyanya. Pria itu tersenyum tipis. “Namaku Evan. Mungkin kau tidak mengenaliku, tapi aku mengenalmu.” “Maaf?” “Namamu bukan yang sekarang kau pakai,” ucapnya. “Dan kau bukan hanya seorang pelayan biasa.” Wajahnya memucat. “Apa maksudmu?” Evan melangkah mendekat. “Kau adalah kunci. Kunci dari konflik keluarga besar yang selama ini disembunyikan dari publik. Kau adalah pewaris sah dari” “Berhenti!” serunya, gemetar. Evan terdiam. “Aku tak peduli siapa aku dulu. Aku hanya ingin hidup tenang sekarang.” “Tapi hidupmu tidak akan tenang sebelum kau menghadapi kebenaran,” jawab Evan lembut. “Karena dunia tidak akan membiarkanmu bersembunyi selamanya.” Sebelum ia bisa berkata lagi, Evan menyerahkan sebuah amplop cokelat padanya. “Jika kau ingin tahu semuanya, buka ini. Tapi hati-hati apa yang kau temukan di dalam bisa mengubah seluruh hidupmu.” Evan lalu pergi, meninggalkan gadis itu dalam kebingungan. Ia menatap amplop itu. Haruskah ia membukanya? Atau membuangnya dan melanjutkan hidup seperti sekarang? Tapi jauh di dalam hatinya, ia tahu… hidupnya sudah tidak akan pernah sama lagi. Gadis itu memandangi amplop cokelat di tangannya, jari-jarinya sedikit gemetar. Angin malam berembus pelan, membawa aroma lembap rumput yang baru disiram hujan. Di sekitarnya, suasana rumah besar itu tetap sunyi terlalu sunyi untuk ukuran rumah orang-orang berkuasa. Dengan hati-hati, ia membuka amplop itu. Isinya hanya tiga benda: selembar foto lama, sebuah tiket pesawat bertanggal dua tahun lalu, dan salinan dokumen kepemilikan saham dari perusahaan Ardyn Group dengan nama yang tertulis di pojok bawah: Isabelle Quinn. "Quinn..." bisiknya. "Nama yang sama dengan tunangan Lawrence." Namun matanya tertuju pada foto tua itu. Ia hampir tak bisa bernapas saat mengenali wajah wanita dalam foto itu—sangat mirip dengan dirinya. Terlalu mirip. Wajah lembut dengan mata berkabut, rambut gelombang sebahu, dan sebuah kalung berliontin biru yang sama persis seperti yang kini tergantung di lehernya. Itu… ibunya. Ia berlutut perlahan, tubuhnya melemah karena emosi yang meluap tiba-tiba. Tangannya menggenggam erat liontin di dadanya, berharap bisa merasakan kehangatan ibunya lagi, walau hanya sekejap. “Kenapa semua ini muncul sekarang...?” isaknya pelan. “Siapa aku sebenarnya?” Di tempat lain, Lawrence berdiri di balkon kantor pusat Ardyn Group dengan wajah gelisah. Di tangannya, ponsel terus bergetar. Panggilan dari Melissa. Ia tahu apa yang akan dibicarakan wanita itu. Tentang pertunangan. Tentang perjanjian bisnis yang melibatkan nama mereka berdua. “Ini gila...” desisnya. Lawrence memejamkan mata. Ia bisa saja menerima perjodohan itu demi menyelamatkan citra perusahaan, tapi hatinya… hatinya sudah terlanjur tertambat pada seseorang yang bahkan ia belum tahu asal-usulnya. Seseorang yang diam-diam mengobrak-abrik pertahanannya, menghancurkan tembok yang sudah lama ia bangun. “June…” gumamnya. “Siapa sebenarnya kamu?” Kembali ke rumah, June nama palsu gadis itu masih terduduk di taman. Ia menatap dokumen itu lagi. Tapi kali ini, matanya penuh tekad. Ia bangkit, melangkah cepat masuk ke dalam rumah dan menuju kamar rahasia tempat ia menyimpan semua catatan tentang masa lalunya. Berkas-berkas, surat panti asuhan, dan bahkan salinan surat dari seseorang bernama “L” yang dulu pernah ia terima di usia empat belas. Kini, semuanya mulai masuk akal. “Isabelle Quinn... bukan hanya nama ibuku,” gumamnya. “Tapi juga... bagian dari Ardyn Group.” Satu lembar surat terselip di tumpukan lama. Tulisan tangan yang ia kenali langsung itu tulisan ibunya. “Jika suatu hari kamu membaca ini, berarti aku gagal menjaga rahasiamu. Tapi ingatlah, kamu tidak lahir tanpa nama. Kamu adalah bagian dari dunia yang besar, dan suatu hari... kamu akan menjadi cahaya di antara kegelapan mereka.” Matanya kembali berkaca-kaca. Tapi kini bukan karena takut, melainkan karena keyakinan baru yang tumbuh dalam hatinya. Ia tidak akan lari lagi. Jika Ardyn Group menyimpan masa lalu ibunya jika Lawrence terlibat di dalam permainan besar ini maka ia akan menghadapinya, bukan sebagai pelayan tanpa nama, tapi sebagai seseorang yang punya hak untuk tahu. Malam semakin larut saat pintu utama terbuka. Lawrence masuk dengan langkah cepat, mencarinya. Tapi kamar June kosong. Ia bergegas ke halaman belakang dan mendapati lampu taman masih menyala. Namun tak ada siapa pun. “June…?” panggilnya. Tak ada jawaban. Hanya suara dedaunan yang bergesek pelan. Lawrence memutar tubuhnya, dan di balik semak, ia melihat kertas terjatuh. Saat diambil, matanya membelalak. Itu salinan dokumen kepemilikan saham dengan nama Isabelle Quinn. Dan di baliknya, tertulis satu kalimat: “Maaf. Aku harus mencari kebenaran sendiri.” Wajah Lawrence menegang. "June..."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD