Langkah June terdengar bergema di lorong hotel tua yang sunyi. Ia memeluk tas kecilnya erat-erat, amplop cokelat dari Evan masih tersimpan di dalamnya. Langkahnya tidak pasti, tapi hatinya mantap. Sudah terlalu lama ia hanya diam, menunggu jawaban yang tak pernah datang. Kini, ia memilih mengejarnya sendiri.
Alamat yang tertera di foto lama itu membawanya ke sebuah gedung lawas berlantai tiga, dikelilingi oleh pepohonan besar yang seolah menyimpan rahasia. Pintu besi di depan bangunan sudah berkarat, tapi masih kokoh. Di atasnya tergantung papan kayu pudar bertuliskan: Panti Asuhan Sentra Kasih.
June menatap nama itu lama. Ia mengingatnya. Tempat ini... tempat di mana semuanya dimulai.
Ia mendorong pintu perlahan, dan suara derit tua menyambutnya. Aroma cat lama dan kayu lapuk menyeruak, membawanya kembali ke masa kecil yang samar. Beberapa anak kecil tengah berlari di lorong, dan seorang wanita paruh baya segera menghampirinya.
“Maaf, kamu mencari siapa?” tanya wanita itu ramah.
“Saya... June. Saya pernah tinggal di sini sekitar dua belas tahun lalu,” jawabnya hati-hati.
Wajah wanita itu berubah pelan, dari ramah menjadi terkejut. “Tunggu... kamu bukan June. Nama aslimu dulu bukan itu. Kau... anak dari” Ia menutup mulutnya sendiri, seolah sudah mengungkap sesuatu yang seharusnya tak keluar.
June menatapnya tajam. “Tolong... saya mohon. Ceritakan semuanya. Siapa ibu saya? Kenapa nama saya disembunyikan? Apa hubungannya dengan keluarga Ardyn?”
Wanita itu terlihat ragu. Ia mengarahkan June ke sebuah ruangan kecil di ujung lorong, lalu menutup pintunya rapat.
“Nama ibumu adalah Isabelle Quinn. Dia wanita cerdas dan baik hati, tapi hidupnya tak mudah,” mulai wanita itu. “Dulu dia datang ke panti ini dalam keadaan hamil, sendirian. Tak pernah menyebut siapa ayahmu. Tapi dari cara berpakaiannya, dari cara bicaranya… aku tahu dia berasal dari keluarga terhormat.”
June menelan ludah.
“Setelah kamu lahir, dia tinggal di sini selama hampir setahun. Lalu... suatu hari, dia pergi. Meninggalkanmu dengan surat dan liontin biru itu.”
June memegang liontin di lehernya.
“Kenapa dia pergi?” bisiknya.
Wanita itu menunduk. “Dia bilang... akan kembali. Tapi sejak hari itu, dia tak pernah muncul lagi.”
Hening sejenak. Hanya suara jarum jam berdetak yang terdengar.
“Dan nama keluarga Ardyn?” tanya June.
Wanita itu menarik napas. “Beberapa bulan sebelum dia menghilang, aku melihatnya bertemu dengan pria berpakaian mewah. Aku tak tahu siapa, tapi aku ingat inisial yang terukir di pena milik pria itu L.A.”
“Lawrence Ardyn…” June bergumam.
“Kalau benar dia orangnya,” lanjut wanita itu, “berarti kau…”
June menutup matanya. Rasanya seperti bagian dirinya runtuh dan bangkit bersamaan.
“Aku anak dari hubungan yang disembunyikan,” ucapnya lirih.
Sementara itu, di rumah besar keluarga Ardyn, Lawrence menatap dokumen yang ditinggalkan June. Tangan kanannya mengepal, rahangnya mengeras. Kepalanya penuh dengan pertanyaan tentang June, tentang ibunya, dan tentang apa yang telah dilakukan ayahnya selama ini.
Ia bergegas ke ruang kerja ayahnya, tempat yang jarang ia datangi. Di sana, ia menemukan lemari besi tua yang terkunci rapat. Tapi Lawrence tahu kode rahasianya. Ia memasukkan tanggal lahirnya.
Klik.
Lemari terbuka, memperlihatkan tumpukan dokumen, kontrak, dan... sebuah map merah tua bertuliskan: Confidential Quinn Lineage.
Ia membuka map itu perlahan, dan isi dokumen di dalamnya membuat darahnya berdesir.
Surat perjanjian. Surat pengakuan. Salinan akta kelahiran atas nama Jaslyn Quinn—bukan June.
Wajah Lawrence memucat.
"June... kau bukan hanya seseorang dari masa lalu. Kau adalah… bagian dari kami."
June berdiri di depan cermin tua kamar panti, menatap pantulan dirinya. Kali ini, ia merasa seperti sedang menatap orang asing. Bukan karena wajahnya berubah, tapi karena ia akhirnya tahu siapa dirinya.
“Jaslyn Quinn,” gumamnya. Nama itu terasa asing dan akrab sekaligus.
Ia mengambil ponsel dari tasnya dan menatap layar. Ada dua pesan tak terjawab dari Lawrence, dan satu dari Evan.
“Jangan percaya siapa pun di rumah Ardyn, terutama wanita bernama Melissa Quinn.”
Melissa?
Ia teringat berita pertunangan Lawrence. Wanita itu... pewaris bisnis kosmetik dan sepupu jauh dari pihak ayahnya. Tapi kenapa Evan memperingatkannya?
June belum sempat mencerna semuanya saat ponselnya kembali berdering.
“June, kamu di mana?” suara Lawrence di ujung sana terdengar panik. “Aku tahu segalanya sekarang. Tolong... jangan pergi.”
June terdiam.
“Aku butuh bicara langsung denganmu,” lanjut Lawrence. “Bukan sebagai tuan muda… tapi sebagai seseorang yang—”
Ia tak melanjutkan.
June menggigit bibir. “Besok siang. Taman Lavender. Sendiri.”
Klik.
Ia mematikan telepon sebelum hatinya goyah.
Pagi esoknya, langit berwarna kelabu. Awan gelap menggantung rendah, seolah menahan badai yang belum pecah. Taman Lavender, tempat yang dulu sering ia kunjungi saat ingin menenangkan diri, kini terasa seperti arena pertempuran batin.
Lawrence sudah menunggunya di sana. Tak lagi mengenakan jas formal, hanya sweater hitam dan celana jeans. Tapi wajahnya… penuh dengan beban.
June datang perlahan, angin menerbangkan helaian rambutnya.
“Aku harap kau tidak membawa siapa pun,” katanya.
“Tidak,” jawab Lawrence. “Aku ke sini hanya sebagai Lawrence, bukan pewaris siapa pun.”
Mereka berdiri saling berhadapan. Sunyi, hanya suara dedaunan yang bergesekan.
“Aku tahu namamu sekarang,” ucap Lawrence akhirnya. “Jaslyn.”
June mengangguk.
“Aku juga tahu... kau anak dari wanita yang pernah disakiti oleh keluargaku. Dan mungkin... aku adalah bagian dari luka itu.”
June menatapnya, matanya tak lagi ragu. “Tapi kamu tidak tahu semuanya, bukan?”
Lawrence mengangguk. “Belum. Tapi aku ingin tahu. Dan kalau kau mengizinkan... aku ingin jadi bagian dari pencarian itu.”
Hening.
June menunduk. “Aku tidak tahu apakah aku bisa memercayaimu sepenuhnya.”
Lawrence melangkah lebih dekat. “Maka izinkan aku membuktikannya.”
Ia mengulurkan tangannya.
June menatapnya lama, lalu perlahan menyentuh tangan itu.
Untuk pertama kalinya, dua hati dari dunia yang berbeda mulai menyatu. Bukan karena nasib, tapi karena mereka memilih saling mencari—saling mengerti.
Dan di balik semua rahasia, luka, dan kebohongan, mereka menemukan satu hal yang tak bisa dibohongi: perasaan.
June dan Lawrence masih berdiri di tengah taman lavender yang mulai bermekaran. Udara pagi lembap, membawa aroma tanah dan bunga yang menenangkan, kontras dengan suasana hati mereka yang jauh dari damai.
Lawrence masih menggenggam tangan June atau Jaslyn, nama aslinya namun gadis itu belum memberi reaksi apa pun. Ia hanya menatap ke arah padang bunga, seolah mencari jawaban di balik warna ungu yang membentang.
"Aku tidak pernah tahu soal ibumu," ucap Lawrence pelan. "Ayahku... dia menutup semua informasi rapat-rapat. Aku bahkan tidak tahu kami punya saudara tiri."
June melepaskan genggaman tangan mereka perlahan, lalu duduk di bangku kayu taman. “Bagaimana kalau ternyata... semua ini hanya permainan keluarga kalian? Termasuk kedekatanmu denganku?”
Wajah Lawrence mengeras. “Kalau itu yang kau pikirkan, mungkin aku gagal menjagamu. Tapi aku tidak akan menyerah.”
Ia ikut duduk, menjaga jarak. “Ketika pertama kali aku melihatmu, aku tidak tahu siapa kamu. Tapi aku tahu kamu berbeda. Kamu tidak tunduk pada dunia mewahku. Itu yang membuatku... tertarik.”
June tersenyum miris. “Tertarik pada gadis misterius yang tidak punya latar belakang?”
“Bukan. Tertarik pada gadis yang berani menatap mataku tanpa takut,” jawab Lawrence cepat.
Ia menatapnya lama. “Sekarang aku tahu, kamu bukan hanya kuat, tapi juga bagian dari masa lalu yang ingin kubenahi.”
June diam. Matanya berkaca-kaca, tapi ia menahannya.
“Bagaimana dengan pertunanganmu?” tanyanya tiba-tiba. “Dengan Melissa Quinn?”
Lawrence menarik napas dalam. “Itu... bukan keputusanku. Itu rencana Ayah. Tapi aku tidak pernah menyetujuinya.”
June mengangguk pelan, menahan detak jantung yang berdegup tidak menentu. “Melissa... dia juga dari keluarga Quinn, kan?”
“Iya. Tapi dia bukan sepupu kandung. Hanya sepupu jauh dari pihak ibuku.”
June menggigit bibirnya. “Lalu... jika aku ketahuan sebagai anak dari Isabelle Quinn, apa yang akan terjadi?”
Lawrence menoleh cepat. “Aku akan melindungimu.”
“Tapi kau tak bisa selamanya melawan keluargamu,” bisik June.
Lawrence menunduk. “Kalau begitu, biar aku mulai dari sekarang.”
Sementara itu, di dalam mansion Ardyn, Melissa berdiri di depan cermin dengan gaun satin merah yang membalut tubuhnya sempurna. Wajahnya anggun, tapi mata tajamnya menyimpan rencana.
Ia menatap ke arah asistennya yang berdiri tegak di belakang.
“Kau sudah menyelidiki gadis itu?” tanyanya.
Asisten itu mengangguk. “Namanya tidak terdaftar resmi. Tapi dari dokumen yang ditemukan, ada kemungkinan besar dia adalah... anak dari Isabelle Quinn.”
Melissa mendesis pelan. “Gadis itu harus disingkirkan. Kalau tidak, dia bisa merusak segalanya.”
“Asal Anda tahu, dia sekarang dekat dengan Tuan Muda Lawrence,” tambah sang asisten.
Wajah Melissa menegang. Rahangnya mengeras.
“Persiapkan rencana cadangan. Kalau perlu, gunakan media. Kita bisa balikkan semua fakta. Biar publik menganggap dia hanya... penggoda licik yang ingin naik status.”
“Baik, Nona Melissa.”
Melissa menatap pantulan dirinya, bibirnya tersenyum tipis. “Permainan ini belum selesai. Dan aku tidak pernah kalah.”
June berdiri di depan kamar lamanya di rumah Ardyn. Ia memandangi ruangan itu saksi bisu awal mula pencariannya. Tapi kini, semuanya terasa berbeda. Ia bukan lagi gadis pelayan yang diam-diam menyembunyikan luka. Ia adalah Jaslyn Quinn. Seseorang dengan darah bangsawan dan harga diri.
Pintu kamar terbuka. Ethan, kakak Lawrence, muncul dengan tatapan heran.
“Kau kembali?” tanyanya curiga.
June mengangguk. “Aku belum selesai di sini.”
Ethan menyipitkan mata, menatapnya dari ujung kepala hingga kaki. “Apa yang kau sembunyikan, gadis kecil?”
June tak menjawab. Ia hanya melewati Ethan tanpa rasa takut, membuat pria itu mengerutkan kening. Ada sesuatu yang berbeda. Gadis itu kini membawa aura yang sulit dijelaskan.
Malam harinya, Lawrence berdiri di depan jendela ruang kerjanya, memandangi cahaya kota. Di tangannya, salinan dokumen milik Jaslyn.
“Kalau dia benar-benar saudara tiriku,” gumamnya, “aku harus melindunginya lebih dari siapa pun.”
Tapi sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, ponselnya berdering. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal.
“Jika kau tidak ingin kebenaran Jaslyn tersebar ke media, lepaskan dia. Dan lanjutkan pertunanganmu dengan Melissa.”
Lawrence menegang.
Ancaman telah dimulai.