BAB 13 [21+] - Sentuhan Di Alam Bawah Sadar

1138 Words
Di dalam bayangan gelap ingatan Yiven, lampu tidur kecil Maria di sudut kamar kos memancarkan cahaya oranye lembut, hampir tak terlihat, namun cukup untuk menggarisi lekuk tubuh telanjang yang saling bertaut. ​Udara di ruangan itu terasa berat, bukan karena panas, melainkan dipadati oleh aroma feromon yang menguar dari pori-pori mereka. Wangi alami tubuh Maria, kini bercampur aduk dengan aroma maskulin Yiven—keringat dan kayu cendana—menciptakan wewangian yang memabukkan, sebuah parfum pribadi yang hanya tercipta untuk mereka berdua malam itu. Jemari Yiven, kasar namun penuh pemujaan, mulai melakukan pemetaan di punggung Maria. Ia melacak setiap ruas tulang belakang gadis itu seolah sedang membaca peta harta karun yang sakral. Menghafal setiap lekukan dan setiap getaran yang merambat di bawah kulit putih lembut itu. Ia menarik tubuh ringkih namun menggairahkan itu semakin lekat ke dalam dekapannya, meniadakan jarak, menolak menyisakan ruang bagi udara untuk lewat di antara mereka. ​Saat Maria mendongak, Yiven merasa dirinya tenggelam. Mata itu... mata itu berkilau basah, memantulkan intensitas gairah yang begitu dahsyat, berpadu dengan kasih sayang yang tulus. Ada badai di sana, dan Yiven dengan sukarela menyerahkan dirinya untuk dihempas badai itu. Tanpa kata, Yiven menunduk, merampas bibir Maria dalam sebuah ciuman yang bukan sekadar pertemuan fisik, melainkan sebuah pernyataan kepemilikan. Bibir itu terasa panas, mendesak, dan menuntut. Tangan Yiven yang besar kini bergerak bebas, menyusuri setiap inci kulit yang begitu familiar baginya. ​Jemari Yiven berkelana liar namun presisi, menyusuri lembah dan bukit di tubuh Maria. Ketika telapak tangannya menangkup kurva lembut di d**a gadis itu, ia merasakan detak jantung yang berpacu di bawahnya, seirama dengan napas yang mulai terpenggal-penggal. Yiven tidak terburu-buru; ia menikmati setiap inci tekstur itu. Ibu jarinya menyapu puncak bukit yang menegang, sebuah sentuhan seringan bulu namun berdampak setara sengatan listrik bertegangan tinggi. Maria melenguh tertahan, suara yang terdengar seperti musik paling merdu di telinga Yiven, memecah keheningan kamar. ​Yiven menurunkan kecupannya, meninggalkan jejak basah di leher jenjang itu, turun perlahan hingga ia mengecap puncak gairah Maria, memberikan gigitan kecil penuh sayang yang memancing sentakan nikmat. ​"Pelan-pelan..." Maria berbisik, suaranya serak, pecah di udara. Namun, Yiven tahu, di balik kata itu tersimpan tantangan. Itu bukan permohonan untuk berhenti, melainkan undangan untuk tersesat lebih jauh dalam badai. ​Yiven menjawabnya dengan geraman rendah dari dasar tenggorokan. Tatapannya mengunci manik mata Maria, mengikat janji bisu di tengah riuh napas mereka yang memburu. Penyatuan itu terjadi perlahan, sebuah gesekan yang menyiksa sekaligus menyempurnakan. Mereka bergerak dalam ritme yang lambat dan menghanyutkan, membangun gelombang energi yang merayap naik dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun. Setiap sentuhan terasa diperbesar seribu kali lipat, sampai Yiven bisa merasakan kontraksi otot Maria, dan panas yang melingkupinya. Setiap gesekan, setiap sentuhan, terasa begitu detail, begitu nyata, hingga Yiven lupa bahwa ini hanyalah ilusi yang dirajut oleh alam bawah sadarnya. Napas Maria mulai memendek, cakarannya di bahu Yiven semakin mengerat seiring irama yang semakin cepat, semakin menuntut, tanda badai itu akan segera berlalu. Saat puncak kebahagiaan itu mencapai batasnya, Maria memejamkan mata, memanggil nama Yiven dengan suara parau. Yiven menunduk, menangkap bibir Maria untuk membungkam seruan itu, merasakan getaran terakhir cinta eksplosif yang menyebar di antara mereka. Hening kembali merajai, namun kini terasa lebih damai. Yiven dan Maria berbaring berdekatan, d**a mereka naik-turun seirama. Kulit yang basah oleh keringat, kini terasa dingin disapa udara malam seiring hilangnya intensitas. Maria menyandarkan kepalanya di d**a tegap Yiven, menelusuri garis rahangnya dengan ibu jarinya. Yiven merasakan embusan napas hangat Maria di lehernya. Seulas senyum, sehangat mentari pagi yang menerobos tirai jendela, menari di bibir Yiven. Ia merasakan sentuhan lembut, seperti bisikan angin yang lewat di telinganya, disusul bisikan yang telah lama menjadi mantra penenang dalam tidurnya. "Aku mencintaimu," bisik Maria, suaranya serak dan puas. Diiringi sebuah ciuman yang ringan, dan secepat kupu-kupu yang melintas. Yiven mengerjap. Perlahan realitas menghantamnya dengan kejam. ​Yiven mendapati dirinya terengah, menatap langit-langit kamar yang gelap dan dingin. Ia sendirian. Kehangatan yang tadi memeluknya, kulit halus yang ia raba, aroma Maria yang memabukkan—semuanya menguap, ditelan oleh udara pagi yang menusuk tulang. Mimpi itu, layaknya bara api yang gagal padam disiram air, meninggalkan sisa panas dan ketegangan yang nyata di tubuhnya. Di bawah selimut tebal, Yiven merasakan dorongan fisiknya yang menyakitkan, sebuah bukti biologis bahwa gairah dalam mimpinya terasa terlalu nyata. Ia mengerang frustrasi, menenggelamkan wajah ke bantal. Kebahagiaan sejati, ironisnya, hanya bisa ia temukan di alam bawah sadar dalam kepalanya, sementara dunia nyata hanya menawarkan ranjang yang luas namun kosong melompong. Yiven menoleh ke jam dinding, jam tujuh pagi. Waktu terus berlari tanpa pernah menunggu penyesalannya. Ia menyeret tubuhnya ke kamar mandi, mencoba membasuh sisa-sisa visi wajah Maria dari ingatannya. Berharap air bisa melunturkan dosa kerinduan yang melekat di kulitnya. Sejam kemudian Yiven berhasil sampai di ruang praktiknya di rumah sakit Arga, dan duduk di kursi kerjanya. Sebenarnya, hari ini adalah jadwal libur praktik Yiven. Ia seharusnya bisa menghabiskan waktu dengan bermain golf atau sekadar tenggelam dalam ketenangan perpustakaan pribadinya. Namun, Dokter Heri, kolega sekaligus senior yang sering menangani kasus-kasus pediatrik di rumah sakit, tiba-tiba dimutasi ke rumah sakit cabang luar negeri untuk menyelesaikan gelar profesornya. Keputusan itu bersifat mendadak, menyebabkan kekosongan signifikan, dan membuat jadwal jaga Yiven berantakan. Mau tidak mau, sebagai spesialis jantung yang paling kompeten dan paling tidak memiliki alasan untuk menolak, membuat Yiven terpaksa mengambil alih semua pasien yang ditinggalkan Dokter Heri. Di atas meja kerjanya yang tertata rapi, Yiven menyalakan tablet. Cahaya layar menyinari wajahnya yang datar. Ia menggulir daftar pasien baru. Diagnosis rumit, nama-nama asing, riwayat penyakit... hingga jarinya berhenti mendadak. Di urutan paling atas, terpatri sebuah nama: Fiona Starla. Pasien anak. Namun bukan nama anak itu yang membuat darah Yiven berdesir, melainkan sosok yang akan mendampinginya. Sosok wanita yang wajahnya selalu berhasil membuat Yiven terguncang. Yiven tersenyum kecil. Senyum itu bukan senyum bahagia, melainkan senyum miris penuh ironi. Seolah semesta sedang menertawakan upayanya untuk menjauh dari wajah yang menghantuinya. Setelah ketidakstabilan mentalnya setelah melihat wajah itu, kini ia dipaksa untuk berinteraksi dengan Nayla Jeneva secara profesional. Wanita yang memiliki kemiripan wajah tak masuk akal dengan Maria, wanita yang telah ia temui dua kali, dan setiap kali ia melihatnya, jurang penyesalan di hatinya seakan terbuka lebih lebar. Yiven menggigil di kursinya. Kini, ia harus menjaga profesionalisme, sambil berjuang melawan dorongan anehnya untuk tahu lebih banyak tentang Nayla dan anak itu. Ia harus menekan obsesinya terhadap kemiripan wajah itu. Matanya terus memandang jam dinding yang seolah bergerak lebih lambat dari biasanya. Lima belas menit menuju jadwal praktik pertama Yiven! Dan lima belas menit lagi dari pertemuannya pada wanita itu. Ruangan Yiven berada di sayap spesialis jantung, sebuah koridor yang selalu sepi dan steril, jauh dari keramaian lobi. Ia berdiri, membetulkan jas dokternya, dan melangkah keluar. Bukan untuk mencari udara segar. Ia sudah tidak bisa lagi menahan dirinya. Ia akan mencari wajah yang terus menghantuinya itu di koridor dengan topeng seorang dokter yang ramah. ............................
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD