Yiven Mahendra duduk gelisah di kursi ruang kerjanya. Ruang kerja yang biasanya hening dan tenang, kini terasa seperti sel isolasi yang menyesakkan. Kegelisahan yang mencekiknya, jauh lebih buruk daripada kelelahan fisik setelah melakukan operasi maraton selama dua belas jam sekalipun. Fokus pikirannya terbagi dua: sebagian logikanya terfokus pada keselamatan Fiona, namun sebagian besar didominasi oleh bayangan Nayla. Bulu kuduknya masih meremang setiap kali teringat Nayla yang memanggil namanya langsung, tanpa embel-embel gelar 'Dokter', di tengah badai kepanikan IGD tadi. Panggilan itu terdengar begitu akrab, penuh keputusasaan, dan entah mengapa, terasa begitu intim hingga berhasil menembus lapisan pelindung yang telah ia bangun selama berminggu-minggu ini. Bayangan tubuh Nayla yang g

