Alergi

1204 Words
Suara lonceng kecil di atas pintu berdenting lembut, menandakan pelanggan baru masuk ke Fluffy Cloud Café. Waktu hampir menuju siang, dan seperti biasa, kafe mungil itu dipenuhi tawa ringan, aroma kopi, dan piring-piring kecil berisi camilan manis yang menggoda. Artika melangkah sigap dari balik meja barista, membawa satu scoop banana pudding dalam gelas kaca bening. "Satu banana pudding, seperti biasa, favorit kamu ya, Kak," ujarnya dengan senyum tipis, menyajikannya ke meja pelanggan yang sudah menunggu. Banana pudding buatan Artika memang jadi incaran banyak orang. Teksturnya lembut, rasa pisangnya pas, dan ada sentuhan rahasia di dalamnya yang membuat siapapun ingin kembali lagi. Tapi hari itu, bahkan pujian dari pelanggan langganan pun hanya terdengar seperti gema jauh di telinga Artika. Setelah semua pesanan tersaji, dan pelanggan mulai tenggelam dalam obrolan masing-masing, Artika berdiri di balik meja kasir, membiarkan kedua tangannya menopang tubuhnya yang diam. Tatapannya kosong. Mengarah ke satu titik di udara yang tak nyata. Ia menghela napas pelan, hampir tak terdengar. Helaan itu seperti membawa beban dari sesuatu yang tak bisa ia definisikan. Alhamdulillah, Kang Abim baik-baik saja. Itu yang terus ia bisikkan dalam hati, mencoba meyakinkan diri. Namun tetap saja ada yang mengganjal. Rasa itu terus mengendap, seperti noda di dasar cangkir yang tak pernah benar-benar bisa dibersihkan. Artika memejamkan mata sejenak, mengingat kembali mimpi anehnya dua minggu lalu, gelap, hujan, tubuh Abim terbaring tak berdaya, wajahnya pucat, samar, seakan terhalang tirai tipis antara dunia nyata dan dunia lain. Mimpi itu... biasanya tak pernah meleset. Dan itulah yang diam-diam menakutkannya. Seolah ada sesuatu yang belum selesai. Sesuatu yang belum ia pahami. Tapi apa? Artika membuka mata perlahan. Dari kejauhan, ia bisa melihat bayangan samar dirinya di kaca etalase. Rambutnya masih diikat tinggi, senyum yang biasanya hangat kini nyaris tak tampak. Lantas menarik napas dalam-dalam, lalu mencoba kembali tersenyum saat pelanggan berikutnya datang mendekat ke kasir. ^^^ "Aakhh!" Arju merengek sambil menggaruk lehernya yang mulai memerah. Rasa gatal menjalar seperti semut berbaris di bawah kulitnya. Ia tampak frustrasi, berjalan cepat menyusuri trotoar menuju markas penyamaran Abim, sebuah rumah kontrakan sederhana di ujung gang. Alerginya mulai bereaksi. s**u dalam cheesecake sialan itu mulai menunjukkan taringnya. Ia memang hanya mencicipi, tapi cukup untuk memicu gatal yang menyebar. Untung ada suplier datang saat itu, memberinya celah untuk mencari akal. Sekarang, seplastik blueberry cheesecake tak berbentuk tergenggam di tangannya. Ia tatap isi plastik itu dengan jijik dan kesal. "Issh!" Arju melempar plastik itu ke belakang, berharap masuk ke dalam tong sampah di pojok gang. “Om!” Langkah Arju terhenti. Ia menoleh cepat, mendapati seorang bocah laki-laki—usia sekitar delapan tahun, berdiri dengan tangan di pinggang. "Gue?" Arju menunjuk dirinya sendiri, heran. "Jangan buang sembarangan!" seru bocah itu tegas, wajahnya tak main-main. "Gue enggak buang sembarangan, itu tadi... meleset," Arju membela diri, mendekati kue malang yang kini tergeletak pas di pinggir tong. Bocah itu menyipitkan mata, menatap seperti hakim kecil. "Kalau meleset, ambil lagi dong. Masa dibiarin. Itu sama aja buang sampah sembarangan!" Arju menatap bocah itu tak percaya. Merasa bahwa harga dirinya sebagai orang dewasa, dokter, bahkan sedang menyamar sebagai agen pun sekarang diomeli anak TK gara-gara cheesecake. “Auhh! Iya, ya, gue ambil!” gertak Arju meraih lagi benda tersebut sambil menggerutu. “Kenapa orang-orang pada ngomelin gue, dah!” "Makanan tuh jangan dibuang!" Nada bocah itu terdengar sarkastik, penuh penekanan seperti sedang menegur anak bandel di kelas. Arju mendesah panjang, lalu memutar bola matanya jengah. Ia pun berjongkok, menyamakan tinggi dengan si bocah. "Om… nggak bisa makan ini," ujarnya sambil menunjukkan lehernya yang kini tampak ruam. "Kamu mau makan ini?" "Kalau mau ngasih orang tuh yang bagus!" "Wah!" Arju berdiri lagi, berkacak pinggang, tampak frustrasi. "Kalau nggak mau ya udah, dibuang aja. Lagian, gue alergi keju!" Baru saja hendak melempar plastik kue itu ke tong, bocah itu menahan celananya. Tatapannya berubah, seperti meminta, meski malu-malu. "Kamu mau?" tanya Arju, nada suaranya lebih tenang. "Kata Bunda, makanan jangan disia-siain. Mubahadzir." Arju menghela napas pelan, lelah tapi terenyuh. "Bener kata Bundamu." Ia menyerahkan plastik itu. "Walau udah gepeng, tapi ini enak banget. Gue juga cuma nyicip dikit." Saat bocah itu membuka plastiknya dengan hati-hati, Arju menambahkan, "Lain kali Om beliin yang masih bagus." "Serius?!" Bocah itu mendongak antusias. "Uhm." Arju menjawab datar, wajahnya tetap masam saat berbalik meninggalkan bocah itu. "Beneran ya, Om?!" seru bocah itu mengejar dari belakang. "Auh! Iya, iya. Dah, sana pulang!" Arju melambaikan tangan seadanya, setengah mengusir. Bocah itu pun berlari kecil menjauh, melambai, lalu menghilang di balik gang. Arju melanjutkan langkah, perlahan tapi santai, tanpa benar-benar peduli. Tepat saat itu, sebuah mobil SUV hitam meluncur pelan di seberangnya. Tiga sosok dari BIN duduk di dalam. Mata mereka bersirobok dengan Arju sekejap. Seperti mode slow motion. Lambat tapi cukup untuk membekas. Sesuatu sedang bergerak. Dan Arju, entah sadar atau tidak, ada di tengahnya. Masih menggaruk leher yang kini semakin memerah, Arju mengayunkan langkah ke arah gang untuk mencari apotek. Namun, langkahnya seketika terhenti saat sudut matanya menangkap tiga sosok keluar dari sebuah SUV hitam yang baru saja parkir tak jauh dari kontrakan. Gerak mereka rapi tapi tak mencolok, terlalu luwes untuk orang biasa. Naluri Arju langsung menegang. Ia buru-buru menundukkan wajah dan menurunkan topi, menyelip di balik tiang listrik dan tembok rumah warga yang retak, memata-matai mereka dari jauh. "Waah… siapa, tuh?” Dari balik tembok tua yang mengelupas catnya, Arju mengamati dengan napas tertahan. Wajahnya sebagian tersembunyi di balik bayangan, matanya tak berkedip menatap dua orang asing—seorang perempuan bertopi dan seorang lelaki berkemeja abu yang kini berdiri di depan pagar rumah Abim. Mereka tampak ragu sejenak sebelum akhirnya menekan bel. Tak ada respons. Perempuan itu lalu menoleh ke jalan, dan seolah semesta menjawab, Bu RT kebetulan lewat sambil membawa kantong belanjaan. “Mau cari Si Kasep, Abim?” tanya Bu RT begitu peka. “Iya, Bu. Kok sepi, ya? Apa pergi?” tanya si perempuan bertopi, sopan tapi dengan nada menekan. “Berobat di luar kota. Emangnya akang-teteh ini siapanya?” Sebagai pemimpin wilayah tersebut, Bu RT sudah sepatutnya mempertanyakan hal tersebut. Perempuan dan lelaki itu saling melirik. Yang perempuan mencoba tersenyum. "Oh... gitu, ya. Kami temannya..." katanya singkat. Bu RT hanya mengangguk, lalu melanjutkan perjalanannya, tak merasa ada yang janggal. Sementara dua orang asing itu perlahan mundur dari gerbang, berbalik, dan berangsur menjauh. Dari kejauhan, Arju mengembuskan napas penuh tenaga, seolah baru saja menahan hidupnya dalam diam. Semalam, dia memang menghubungi Bu RT sebagai Abim membawa karangan cerita bahwa ia sedang pergi berobat ke luar kota, lengkap dengan sedikit batuk dan suara serak untuk menambah kesan meyakinkan. Syukurlah, rencana kecilnya itu berhasil. Untuk sementara waktu, rumah ini tetap aman dari kecurigaan. Ia menunggu sampai situasi benar-benar tenang. Matanya mengawasi ujung jalan sampai kedua orang itu benar-benar hilang dari pandangan. Tak ada suara motor. Tak ada langkah kaki lagi. Dengan cepat dan senyap, Arju berkeliling menuju sisi rumah. Ia membuka kunci pintu belakang yang sudah ia siapkan sebelumnya, dan melangkah masuk dengan hati-hati. Suasana rumah sunyi, hanya suara jam dinding yang terdengar berdetak pelan. Begitu pintu tertutup di belakangnya, Arju bersandar sejenak di tembok dapur. Napasnya kembali bergetar. Selangkah lagi. Ia tahu waktu yang ia punya tak banyak. Tapi untuk saat ini, setidaknya, penyamarannya masih utuh, meski tidak dengan lehernya yang masih memerah. Segera mencari-cari obat alergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD