Tapi perempuan itu memesona, bukan dengan cara yang mencolok, melainkan lewat daya tarik yang lembut namun kuat. Wajahnya oval sempurna, dihiasi garis rahang halus yang menciptakan kesan anggun tanpa dibuat-buat. Kulitnya cerah dan bersih, bercahaya alami seperti pantulan sinar bulan di permukaan air yang tenang. Senyumnya tersungging, teduh... bersamaan dengan leleh air mata yang akhirnya tak tertahan.
Tanpa berkata apa-apa, Arju menurut saat diminta masuk ke dalam cafe. Ia membiarkan jemari perempuan itu menggenggam tangannya erat, membawanya melintasi pagi yang mulai ramai. Mereka berjalan menyusuri sisi bangunan menuju sebuah pintu kecil di samping kafe berwarna pastel. Aroma adonan manis dan kayu hangat menyambut dari celah pintu yang dibuka diam-diam.
Kafenya masih tutup. Hening. Namun langkah mereka mantap masuk ke dalam.
Dan di situ, Arju merasa seperti sedang membuka pintu menuju masa lalu orang lain… yang perlahan menyeretnya masuk, entah sebagai siapa.
Nyaris saja Arju bisa bernapas lega saat perempuan itu berbalik menuju dapur untuk mengambil kue. Tapi langkahnya mendadak terhenti, lalu ia kembali menoleh. Bukan sekadar menoleh, ia mendekat, menatap Arju dengan sorot yang dalam, begitu dekat hingga jarak di antara mereka membuat d**a Arju kembali sesak.
“K-kenapa?” Arju mencoba tersenyum, lembut, walau jelas canggung.
“Akang nggak kenapa-napa, kan?” tanya perempuan itu pelan, tapi sorot matanya penuh kecurigaan yang tulus. Ada sesuatu yang terasa mengganjal, dan ia ingin memastikan.
“Aku?” Arju nyaris gagap. “O-oh... Maaf. Aku... habis nggak enak badan sedikit. J-jadi pulang ke rumah Ibu.”
Wajah perempuan itu langsung berubah. “Harusnya Akang kabari aku!” tegurnya dengan nada tinggi, mengejutkan Arju.
“Kebiasaan buruk Akang belum ilang juga. Sakit tahan sendiri. Akang kira hidup sendirian? Akang kira hubungan kita ini apa sampai nahan sendiri?” lanjutnya, seperti luapan kekhawatiran yang lama tertahan. Kalimatnya mengalir deras, menohok dan sekaligus membingungkan bagi seseorang yang bahkan belum tahu siapa dirinya di mata perempuan ini.
“M-maaf.”
“Jangan kemana-mana!” tegasnya.
“I-iya…” jawab Arju spontan seperti anak sekolah yang ketahuan bolos.
Ia memandangi punggung mungil perempuan itu menjauh ke arah dapur, lalu menghilang di balik pintu kecil. Saat itu juga, Arju akhirnya terduduk di bangku terdekat, tubuhnya seolah ambruk oleh intensitas yang datang terlalu cepat. Ia mengembuskan napas panjang, dalam, dan memegangi dadanya yang masih berdebar seolah baru saja turun dari roller coaster.
“Ya ampun... apa-apan ini?” gumamnya nyaris tanpa suara.
Ia termenung, mencoba memperbaiki napasnya yang masih acak-acakan. Matanya memandang kosong ke depan, sementara pikirannya melayang ke banyak arah. Sosok perempuan itu terlalu kuat, terlalu hidup, terlalu dekat… seperti sesuatu yang memang nyata dalam kehidupan Abim.
“Abim masih sempat-sempatnya pacaran saat ngurusin kebusukan kantornya?” Arju terkekeh kecil, sinis. “Wahhh…” Hentakan napasnya begitu abstrak saat akhirnya ia menyadari bahwa usia mereka bahkan sudah tidak lagi menapaki tahap yang main-main.
Arju hanya kaget dan tidak terpikirkan jika aka nada kemungkinan genre romansa dalam hidup kembarannya.
Namun lamunannya berhenti mendadak saat otaknya seperti menabrak sesuatu. Sebuah ingatan samar muncul akan selembar strip foto dari mesin foto box yang ia temukan semalam di kamar Abim. Ia ingat pernah melihat foto Abim berpose lucu dan akrab di samping seorang perempuan… tapi sosoknya? Arju tak ingat jelas. Wajahnya buram dalam ingatan. Dengan kening berkerut, Arju menyipitkan mata, berusaha mengais memori yang mengambang bersamaan dengan perempuan itu yang datang bersama nampannya.
Tatapan Arju mendadak terfokus pada sosoknya yang mengarah semakin dekat. Hidungnya kecil dan simetris, menyatu sempurna dengan bibir mungil yang berwarna natural merah muda, sering terulas senyum hangat yang menenangkan.
“Dia ceweknya yang ada di foto itu,” gumamnya mendadak yakin.
“Hampir aja Aku mau datangi kantor Akang,” kata perempuan itu memberikan satu kue berwarna ungu padanya.
“Kenapa?”
“Kenapa?” Ia mengulang pertanyaan Arju yang sedang berkamuflase menjadi Abim. “Ya jelas aku khawatir sama kamu Kang Abim!”
“Bayangin aja… ini udah 8 hari sejak kamu nggak balas chat-ku!” lanjut perempuan itu mengomel. “Aku kira kamu cuma main-main sama Aku, ninggalin aku gitu aja.”
Arju memandangi wajah perempuan itu yang sedang dirundung amarah, kekecewaan, kekhawatiran juga kesedihan. Semua itu bercampur aduk di wajahnya. Apalagi saat mereka berhadapan seperti ini. Semua terlihat jelas. Sudah berapa lama mereka berpacaran? Rasanya seperti telah menyatu satu sama lain.
Dalam diamnya, Arju berusaha mencerna banyak hal, meski sempat dibuat kaget lagi saat tangan perempuan itu mengusap wajahnya yang langsung ditangkis lelaki itu seolah tak menginginkan sentuhan, tentu saja. Ia bahkan tak mengenalnya.
“O-oh!”
“Uhm?” Perempuan itu bingung. Tercenung cukup lama. Memandangi tangannya yang mengambang di udara, kemudian menatap sosok Abim di hadapannya.
“Ah…” Abim palsu itu segera meraih kembali tangan mungil perempuan itu. Menggenggamnya erat, mencium punggung tangan. “Maaf… Aku emang masih agak sedikit belum fokus.”
Perempuan itu mengedipkan matanya berulang kali seperti sedang mencerna sesuatu, lalu mengangguk-angguk mengerti.
“Tapi, Akang…”
“Kenapa?”
“Yang kamu cium itu bukan tanganku. Tapi tanganmu sendiri.”
Arju terlonjak. Seperti tersengat listrik halus di tulang belakangnya. Ia segera melepaskan tangannya dan menatap dengan bingung, hanya untuk mendapati kenyataan... benar saja. Yang tadi diciumnya ternyata bukan tangan si perempuan, tapi punggung tangannya sendiri yang tanpa sadar mengurung tangan mungil itu sejak tadi.
Pipinya merona seketika.
"A-aku…"
Ia mencari kata, tapi lidahnya terikat malu. Matanya bergantian menatap perempuan itu dan tangannya sendiri, lalu menghela napas cepat seperti orang baru saja tertangkap basah.
Perempuan itu hanya tersenyum. Bukan mengejek, bukan menggoda berlebihan. Hanya senyum. “Kamu sakit apa, sih, Kang? Sampe agak tulalit gitu?” Kemudian ia terkekeh kecil.
Arju membelalak. Tulalit?!
Ia ingin membuka topi, rasanya gerah, mungkin bahkan mengangkat dua tangan dan mengumumkan bahwa dia bukan Abim. Tapi tentu saja… ia tahan sekuat tenaga. Lehernya menegang, mulutnya hampir terbuka, tapi ia menahan meledak itu dengan segenap harga diri yang tersisa.
Perempuan itu tertawa kecil, ringan, seperti baru menggoda anak kucing. Lalu meletakkan sepiring kecil kue di hadapannya. “Tuh, makan dulu. Bluberry cheesecake kesukaan Akang.”
Arju terdiam. Pandangannya jatuh pada potongan kue cantik itu. Tampak lembut, menggiurkan, dengan topping buah segar dan lelehan krim keju yang sempurna. Dari tampilannya saja, jelas ini dibuat dengan cinta dan perhatian untuk Abim.
Tapi ia punya masalah besar. Bagaimanapun juga, Arju bukan Abim.
Dan Arju yang sedang menjalani kehidupan Abim, saudara kembarnya ini punya alergi terhadap s**u sapi.
Jadi sekarang dia duduk, menatap kue itu seperti sedang menghadapi jebakan maut dalam film laga.
Mau nolak? Kasihan. Mau makan? Mati.
Arju melirik perempuan itu yang kini sibuk menuangkan teh ke cangkir sambil membuat strategi. Ia menelan ludah. Dalam hati, ia menyusun strategi.
“Kenapa nggak dimakan?” tanya perempuan itu menyentakkan Arju.
“Mampus, gue!”