Pagi itu sunyi, hanya suara detik jam dinding dan dengung pelan oven yang baru saja ditutup oleh tangan mungil Artika. Rambut panjangnya yang diikat tinggi ikut bergoyang ringan saat ia mundur selangkah, menatap adonan kue yang perlahan mengembang dalam panas. Aroma mentega mulai memenuhi udara, tapi tak cukup untuk mengusir kekosongan yang terasa menyesak.
Kafe kecil yang belum buka itu seperti ruang tunggu tak berujung—senyap, teduh, tapi menggantung. Artika berdiri mematung di dekat dapur, seolah berat untuk sekadar berpaling dari oven. Ia menghela napas, lalu membuka ponsel yang sejak tadi digenggam. Layar menyala, menampilkan deretan pesan yang tak kunjung dibalas.
Namanya terpampang di atas chat yang sepi, tak berubah sejak tujuh hari lalu. Tidak ada tanda terbaca, tidak ada balasan, tidak ada kejelasan. Hatinya terus digelayuti kekhawatiran yang tak tahu arah. Apalagi sejak mimpi itu.
Artika menutup mata sejenak, membiarkan pikirannya kembali pada bayangan dua minggu lalu—mimpi aneh yang terlalu nyata untuk diabaikan. Semuanya gelap. Dingin. Hujan mengguyur deras, seperti tirai yang menutupi pandangan. Tapi entah bagaimana, dalam kilasan samar, ia bisa melihat sosok itu… sosok Abim. Terluka. Pucat. Tak bergerak.
Ia tak bisa mengingat detailnya dengan jelas, tapi perasaannya menolak lupa.
Tangan Artika bergetar saat menggenggam ponsel lebih erat. Napasnya memburu, dan dalam kesunyian itu, matanya basah. Air mata meluncur perlahan tanpa bisa dicegah.
"Kang Abim…," bisiknya, nyaris tak terdengar, seakan takut suaranya sendiri akan memecah harap yang masih bertahan di dalam d**a.
Hatinya tahu ada yang tak beres. Tapi logikanya terus berusaha menyangkal.
Dan pagi itu, di tengah aroma kue dan kursi-kursi kosong, Artika berdiri sendirian, bersandar pada mimpi yang menakutkan, dan kenyataan yang belum sempat menjelaskan apa-apa.
Lamunannya buyar saat denting oven berbunyi nyaring, memecah keheningan seperti lonceng pengingat yang tak sabar. Artika tersentak kecil, buru-buru membuka pintu oven dan mengangkat loyang berisi kue yang kini telah matang sempurna. Aroma manis menyeruak, tapi tak mampu sepenuhnya menenangkan pikirannya yang masih bergelayut pada satu nama.
Baru saja ia meletakkan kue itu di atas meja kerja, ponselnya tiba-tiba berdering. Artika mengedip cepat, mengusap sisa air mata di pipinya, lalu menyambar ponsel itu dengan cepat.
"Halo, dengan Fluffy Cloud Cafe, ada yang bisa dibantu?" sapanya, sambil mulai memindahkan kue ke etalase kaca. Suaranya terdengar ramah sekilas. Tapi ada nada yang tertahan, seperti semangat yang setengah mati dipaksa tetap hidup.
"Ah… custom bento cake…?" gumamnya, terdengar ragu.
Artika mengernyit. Otaknya yang lelah tak langsung menyusun respon yang tepat. Tangannya sempat terhenti di atas piring kue.
"M-maaf, ya, Kak. Seperti yang sudah diinfokan di i********:, kurang lebih beberapa waktu ini belum bisa pre-order apapun." Ia mencoba menjelaskan sebisa mungkin.
"Iya… maaf, ya."
Begitu panggilan berakhir, napasnya berat. Ada rasa bersalah yang menggantung di dadanya, seperti kabut tipis yang tak mau pergi. Biasanya, ia selalu antusias setiap menerima pesanan. Merancang warna, menata desain, mencicip adonan. Tapi kini, semua terasa berat. Segalanya tampak kabur, seperti ada selubung di kepala yang tak kunjung tersingkap.
Ia hanya berdua mengelola kafe ini bersama satu partner yang juga mulai kewalahan. Tapi alasan terbesarnya bukan itu.
Artika menatap layar ponselnya yang kembali sunyi, sebelum membiarkannya tergeletak di meja. Jemarinya mengusap permukaan kaca seolah berharap sesuatu muncul di sana.
"Apa hari ini aku tanya ke kantornya Kang Abim, ya?"
Suara hatinya lirih, nyaris tak terdengar di antara suara kulkas dan kipas oven.
Pertanyaan itu sudah berputar di kepalanya sejak tiga hari lalu. Tapi ketakutan selalu menang—takut mendengar jawaban yang ia tidak siap menerimanya.
Sudah seminggu, Abim menghilang. Tanpa kabar. Tanpa pesan. Bahkan rumahnya pun kosong, seperti ditinggalkan terburu-buru. Seolah... lenyap.
Artika memejamkan mata sejenak. Ia ingin percaya bahwa ini hanya kesibukan biasa. Tapi sesuatu di dalam dirinya. Mimpi mencekam, firasat yang menusuk, membisikkan hal sebaliknya.
Artika kembali melanjutkan aktivitas, menata bunga segar di meja pelanggan, merapikan kursi, dan menyapu serpihan debu yang terselip di pojok ruangan. Kafe mungil itu, Fluffy Cloud, selalu menyambut pagi dengan hangat seperti pelukan lembut di tengah hiruk pikuk Kota Bandung.
Dari arah dapur terdengar suara Dinda yang sibuk menyiapkan topping untuk tart mini. Sementara itu, Artika berjalan pelan ke depan, membawa botol semprot dan lap kering untuk membersihkan kaca besar di sisi kafe. Aktivitas yang biasa, bahkan rutinitas yang menenangkan. Tapi tidak pagi ini.
Saat ia mengangkat wajah dan mulai menyemprot permukaan kaca, pandangannya tiba-tiba terpaku.
Di seberang jalan, berdiri seorang pria tinggi berjaket gelap dengan topi yang sedikit menutupi wajahnya. Sekilas, hanya siluet samar. Tapi entah mengapa, detik itu juga, napas Artika tersangkut di tenggorokan. Botol semprot di tangannya menggantung, tak lagi bergerak.
Jantungnya mulai berdebar tak karuan. Ia menyipitkan mata, mendekat ke kaca, menatap lebih dalam. Cara berdirinya. Bahu lebarnya. Gerak kecil saat ia menoleh. Bisikan itu meluncur tanpa sadar dari bibirnya. Tubuhnya terpaku, tak yakin apakah ini nyata atau hanya ilusi yang dihadirkan oleh kerinduan yang terlalu pekat.
Tapi sosok di seberang juga sedang menatap ke arahnya dan saat itu, dunia seolah berhenti berputar.
Artika buru-buru meletakkan botol semprotnya, lalu berlari keluar kafe tanpa sempat memberi tahu Dinda. Kakinya seperti bergerak sendiri, menembus embusan angin pagi yang masih lembap.
Saat jarak mereka hanya tinggal beberapa langkah, tak ada kata yang cukup. Ia langsung memeluk tubuh pria itu erat, menenggelamkan wajahnya di d**a yang begitu dirindukan.
"Kang Abim..." Suara itu lirih, nyaris patah.
Pelukannya hangat, bukan hanya karena cinta, tapi karena kegelisahan yang selama ini akhirnya menemukan pegangan.
Namun tubuh pria itu sedikit kaku. Seperti ragu. Seperti... bukan Abim yang dulu.
Tapi Artika belum menyadarinya. Yang ia tahu, lelaki yang ada di hadapannya adalah sosok yang selama ini ia cari dan pelukannya adalah jawaban yang ia tunggu-tunggu.
"Akang kemana aja? Aku kangen."
Mata pria yang Artika kira Abim itu bergetar. Ia masih berusaha mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi. Tapi suara itu terdengar seolah menembus sesuatu di dalam dirinya yang telah lama ia kubur.
Dan entah dari mana datangnya dorongan itu, ia mengangkat kedua tangannya. Ragu-ragu. Lalu menguat. Tangannya menepuk punggung si perempuan dengan lembut. Di antara pelukan yang mendadak itu, waktu seakan berhenti sejenak saat pinggir kota mulai ramai. Tak ada kata-kata lain. Hanya dua jiwa yang saling menyentuh, sebelum ingatan sempat menyusul.
Arju semakin terperangah ketika pelukan itu perlahan terurai. Barulah ia bisa benar-benar melihat wajah perempuan itu. Dan untuk sesaat, dunia di sekelilingnya terasa diam.
Sepasang mata bening menatapnya penuh ketulusan, berkilat di pelupuk seolah menyimpan rindu yang panjang. Ini pertama kalinya Arju melihatnya, namun entah kenapa, ada sesuatu yang membuat jantungnya berdetak pelan namun berat. Perempuan ini jelas memeluk kenangan yang dalam. Pada... Abim, mungkin?
Ia tak tahu. Yang jelas… perempuan itu salah orang.