Di sebuah ruangan yang nyaris gelap total, hanya semburat cahaya rembulan yang menyelinap masuk lewat kaca jendela kamar, terpantul samar di lantai dan dinding. Bayang-bayangnya bergerak perlahan seiring angin malam yang sesekali menggoyang tirai.
Di bawah ranjang, Arju duduk bersimpuh, lututnya tertekuk menahan berat tubuh yang kini tak hanya dibebani oleh fisik, tapi juga oleh tumpukan pikiran yang tak kunjung reda. Napasnya pelan, nyaris tak terdengar. Suasana begitu hening hingga suara gesekan kertas pun terdengar seperti bisikan keras. Ia menimbang banyak hal yang tampaknya cukup rumit namun ia merasa harus melakukannya.
Sekelilingnya penuh dengan benda-benda berserakan. Buku, map, flashdisk, bahkan beberapa nota pembelian dan kemasan suplemen yang belum dibuang. Barang-barang itu bukan miliknya. Itu semua milik Abim.
Pria dengan alis tegas dan tatapan dalam itu, sedang tidak mencari jawaban dari buku. Ia sedang menyelam ke dalam hidup seseorang yang selama ini dianggapnya hanya rekan biasa. Tapi malam ini, tidak ada lagi ruang untuk bersikap biasa-biasa saja.
Tangannya mengambil sebuah map berwarna biru tua yang tampak lebih rapi dibanding yang lain. Di bagian depannya, tertera logo dan tulisan tegas dari Primasehat Biocare.
Ia membuka map itu perlahan, menyentuh setiap lembar dokumen seperti menyentuh rahasia yang tak seharusnya diketahui. Mata Arju menelusuri baris demi baris. Data produk, laporan pengujian, formulasi bahan aktif, korespondensi email yang sudah dicetak.
Ini bukan dokumen biasa. Ini milik seseorang yang sedang menyelidiki sesuatu dan itu pasti. Arju akhirnya tau siapa kegiatan kembarannya itu seperti apa.
Arju menghela napas panjang. Kini beralih ke laptop milik Abim, membuka flashdisk, menelisik satu-persatu data di sana yang isinya sangat penting. Arju pun mulai memahami pola. Abim yang dikenal sebagai pribadi rapi, tertata, nyaris perfeksioni itu telah mengarsipkan segalanya dengan presisi yang tidak main-main. Setiap dokumen memiliki catatan tangan kecil. Ada kode tanggal, ada pengelompokan warna. Bahkan letak dokumen di dalam map seolah sudah dirancang untuk dibaca secara berurutan.
“Kenapa nggak pilih keluar dari kerjaan aja, sih?” gumam Arju pelan, nyaris seperti bicara pada bayangan diri sendiri sambil memijat keningnya yang berdenyut.
Pola pikirnya mungkin berbeda. Jika diposisi ini, Arju memilih pekerjaan lain dan tak ingin ikut campur urusan orang lain. Sebab, dunia memang kotor, mungkin itu juga yang jadi alasannya memilih karir sebagai dokter, ahli forensik pula. Tapi Abimanyu… dia adalah sosok yang idealis dan berpendirian teguh.
Ada sesuatu yang sedang disingkap, dan ia seorang dokter forensik yang biasanya datang setelah semuanya selesai, kali ini justru berdiri di tengah pusaran sebelum semuanya dimulai. Malam itu menjadi saksi. Arju mulai bergerak bukan hanya sebagai keluarga, bukan hanya sebagai rekan. Tapi sebagai satu-satunya orang yang menyadari... sesuatu sedang disembunyikan.
^^^
Alarm meraung nyaring, memecah keheningan pagi yang masih kelabu. Arju terlonjak dari tidurnya. Napasnya tersengal sesaat, sementara matahari pun belum sempat menyapa langit dengan warna keemasannya.
Ia menatap jam dengan alis berkerut, mendengus keras. Ini bukan waktunya bangun. Bukan waktunya dia bangun. Ini waktunya Abim bangun.
Dengan gerakan kasar, ia mematikan alarm dan mengumpat pelan. Rasa kesal menggelayuti wajahnya, bukan hanya karena kurang tidur, ia memang baru saja terlelap setelah semalaman membaca dan membongkar isi hidup orang lain, tapi karena pagi ini ia sadar satu hal bahwa dirinya tidak sedang menjadi dirinya sendiri.
Ia adalah Abim hari ini. Dan untuk beberapa waktu ke depan.
Kepalanya tertunduk di ranjang yang bukan miliknya, dalam kamar yang bukan miliknya, dengan ritme hidup yang bahkan terasa asing bagi pikirannya sendiri. Ia tak bisa sembarangan lagi. Tak bisa hanya menjadi Arju. Karena untuk bisa menyusup ke dalam kebenaran, ia harus hidup sebagai lelaki yang nyaris mati karenanya.
Pelan-pelan, ia bangkit. Tubuhnya yang kekar, basah oleh sisa tidur dan kegelisahan, menapaki lantai dingin. Ia hanya mengenakan handuk panjang yang menggantung di pinggang, membiarkan tubuh bagian atasnya terbuka begitu saja, meneteskan air sisa cuci muka buru-buru yang tak sempat dikeringkan.
Ia berdiri di depan lemari milik Abim. Tangannya ragu saat membuka pintu lemari yang tersusun rapi. Semua pakaian terlipat nyaris simetris, seperti disusun dengan penggaris. Warna-warnanya netral, banyak putih, abu-abu, biru tua. Tidak ada ruang untuk spontanitas.
Arju menghela napas dalam. "Pakaian kaya gini..." gumamnya, setengah geli, setengah frustrasi. "Bahkan kerahnya kayak baru disetrika tadi malam."
Ia menimbang satu demi satu kemeja, mencoba membayangkan dirinya mengenakannya. Tapi tak ada yang benar-benar mencerminkan siapa dirinya. Namun ia lagi-lagi harus sadar bahwa pagi ini bukan tentang kenyamanan. Ini tentang peran. Tentang mempelajari kebiasaan sampai ke hal-hal remeh.
Karena rahasia besar tidak selalu bersembunyi dalam hal-hal besar. Kadang, justru bersembunyi di balik cara seseorang memilih jam bangunnya, cara menyusun lemari, atau warna kaus kaki yang dipakainya di hari tertentu.
Dan Arju tahu, kalau ia ingin menyelesaikan ini, ia harus mulai dari titik yang paling sederhana.
Menjadi Abim. Sepenuhnya.
Pakaian itu pas. Nyaman di tubuhnya, walau asing di jiwanya. Polo putih bersih membalut tubuh bagian atasnya, terselip rapi di balik celana chino krem milik Abim. Satu-satunya barang yang terasa "Arju" hanyalah sneakers putih, kasual, sedikit kotor, dan sudah akrab dengan langkahnya. Selebihnya, ia adalah versi cermin dari pria yang kini terbaring tak sadarkan diri.
Berdiri di depan cermin, Arju sempat mengangguk kecil. Ada sesuatu yang terasa... berhasil. Tapi ketenangan itu tak bertahan lama. Matanya menatap pantulan rambutnya yang sedikit gondrong, menjuntai bebas tanpa bentuk.
"Aissh!" jeritnya tiba-tiba. "Harusnya gue cukur dulu!"
Ia menyambar sisi rambutnya dengan panik, mencoba menyisir, menekan, merapikan. Semuanya sia-sia. Karena satu hal yang pasti, Abim tak pernah membiarkan rambutnya tumbuh sepanjang dan seacak itu. Gaya Abim selalu rapi. Pendek. Bersih. Simetris.
Arju akhirnya membuka laci dan mencari dengan cepat, berharap Abim punya solusi instan. Dan untungnya, sebuah topi hitam dengan logo kecil di sisi kanan ditemukan. Ia mengenakannya. Tidak sempurna, tapi cukup untuk menutupi perbedaan mencolok sementara waktu.
Satu tarikan napas panjang mengiringi langkah keluar dari apartemen Abim. Jalanan masih belum ramai. Udara pagi kota Bandung menyusup masuk ke sela-sela napasnya, memberi rasa dingin dan kesadaran baru. Ia berjalan menyusuri trotoar, mencoba untuk tidak menarik perhatian. Hari ini bukan untuk membuat pernyataan. Hari ini adalah hari mengamati.
Dan ternyata, gedung Primasehat Biocare hanya berjarak beberapa ratus meter dari tempat tinggal Abim. Arju sempat terdiam di pinggir jalan, menatap gedung itu dari kejauhan. Tapi Arju tahu, bangunan itu menyimpan sesuatu.
"Jadi, sedekat ini lokasinya..." gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.
“Akang!”
Suara nyaring seorang perempuan memecah lamunannya. Panggilan itu meluncur cepat, seperti peluru tak terduga. Dan sebelum Arju bisa mencerna, tubuh seorang perempuan menerjang masuk ke pelukannya. Spontan. Penuh. Erat.
Arju membeku.
Tubuhnya menegang, tak tahu harus mendorong atau membalas. Bau parfum yang asing menyusup ke hidungnya, tangan perempuan itu melingkar kuat di punggungnya. Terlalu nyaman. Terlalu mengenal.
Arju perlahan menurunkan tangannya yang sempat tergantung kaku di sisi tubuhnya. Matanya mencari-cari, mencoba mengingat wajah ini. Tapi tidak ada jawaban di otaknya. Pria tampan itu tak bisa mengalahkan keterkejutannya saat tubuh semakin beku.
Pikirannya berpacu.
Siapa dia? Apa dia salah orang… atau ada hubungannya sama Abim?