Cahaya yang di hasilkan dari lampu para kameramen membuat diriku takut dan bingung, belum lagi suara hiruk pikuk dari wartawan yang enggak tau sejak kapan sudah melingkari ku dan pria gila itu masih merapatkan tubuh ku di d**a nya. Setelah kapal sudah menepi aku tanpa bisa melihat ke arah ke dua sahabat ku yang masih terlihat bingung dan hanya mampu berdiri di posisi meja yang kami pesan. Tiba – tiba tangan ku di tarik paksa berjalan memecah kerumunan wartawan yang sedari tadi meminta jawaban dari diriku yang hanya bisa diam membisu. Diruku dan pria gila itu berjalan cepat hingga masuk ke dalam mobil mewah yang aku yakini itu mobil pria gila itu, di dalam mobil diriku dan pria gila itu hanya diam membisu, entah mengapa rasanya aku tak bisa menanyakan apa yang terjadi dan mengapa diriku seperti di jadikan permainan, belum sempat mulutku berucap mobil yang ku tumpangi sudah berhenti di lobby hotel. Sesaat aku ingin beranjak keluar dari mobil, tiba – tiba tangan ku di tarik paksa mengikuti pria gila itu, aku hanya mampu meronta sesaat dan akhirnya mengikuti dirinya juga, mau tak mau aku butuh penjelasan dari kelakuan yang baru ia perbuat pada diriku.
Diriku memasuki lift yang bukan di pakai secara umum aku yakin lift ini khusus untuk orang – orang tertentu, hati ku mulai di selimuti rasa khawatir dan takut, sampai detik ini saja aku tidak tau pria gila ini siapa, dan mau apa dengan diriku! Dan ciuman itu oh tidak itu tidak masuk dalam ciuman pertama ku!. Sesampainya di salah satu koridor kamar hotel, aku melihat ada beberapa orang yang menatap serius ke arah ku dan pria gila di samping ku.
“Apa yang ada di dalam otak mu Jacob!!!” pria baru baya yang aku ingat saat aku menabrak pria gila ini, pria paruh baya ini yang berbisik di kuping pria gila yang sekarang berdiri di hadapan ku.
“Yang seperti kau lihat!” kaku, tegas, sinis hanya itu yang bisa kusimpulkan dari sosok pria gila ini.
“Kau tau! Berita heboh ini dengan cepat sudah ada di saluran berita” sambil membuka pintu kamar hotel dan memaksa diriku untuk ikut masuk ke dalam kamar itu, setelah masuk kulihat kamar yang begitu besar dan memiliki ruang tamu dan kolam renang pribadi pasti ini kamar VVIP.
“Kalian lihat berita ini, apa yang akan kau lakukan sekarang Jacob! Kau terlalu banyak skandal baru, tuduhan kekerasan pada karyawan saja belum selesai kasusnya dan ini akan membuat perusahaan kita goyang belum lagi proyek kita di Singapura yang belum selesai tidak kau pikirkan !!! Bagaimana aku harus mengatakan pada nenek dan ayah mu! Oh tuhaaan, Jacobbb!!!!”
“Apa gunanya aku memiliki dirimu, jika kau tak bisa mengurus semua ini”
“Jacob! Kau kira semua masalah yang kau buat bisa ku selesaikan dengan baik!!! Aku juga manusia”
“Ya sudah nikahkan saja kami!” ucapan yang di lontarkan pria gila ini membuat diriku dan pria paruh baya itu terkejut, diriku pasti lebih terkejut.
“Hei , Tuan arogan! Kau kira diriku wanita apa! Kau masih berhutang penjelasan pada ku dan barusan kau bilang apa!!! Kau memang sudah gila!!!” sambil memutar tubuh ku untuk keluar dari kamar ini, tangan ku sudah di tahan olehnya, dan itu membuat ku lebih murka.
“Lepaskan pria m***m! Apa kau kira semua perempuan bisa kau perlakukan seenak mu!”
“Kau butuh uang kan! Untuk pengobatan ibu mu yang di rawat di rumah sakit yang mengidap Demensia! Ku rasa kau membutuhkan tawaran ku”
“Dddarrii mana kau tau tentang kehidupan ku?! Jangan berani mengganggu ibu dan keselamatan ibu ku! Aku bisa melaporkan mu ke pihak yang berwajib!” ancam ku dengan wajah yang sedikit mulai pucat menahan rasa takut dan bingung yang sedari tadi masih menyelimuti hati ku, sekarang saat dia menyebut ibuku, aku seperti tersambar, bagaimana pria gila ini mengetahui ibu ku apa dia mencari tau semua kehidupan ku!
“ Kau tak usah berpikir jauh! Aku tak menyukai mu dan tak ingin menyakiti orang tua mu, hanya saja kau mau tak mau harus membantu ku!”
“Kau yang membuat masalah! Kenapa aku harus ikut terseret dalam masalah mu, kau kira aku gila seperti mu! Aku tidak sudi menikah dengan pria yang tidak ku kenal asal usulnya!” saat itu pria paruh baya itu menyodorkan majalah bisnis, terlihat jelas pada sampul depan wajah pria gila itu terpampang dengan tulisan ‘Rain Jacob penguasa Bisnis Property termuda’. Aku hanya menatap dan membisu sesaat.
“Kau sudah lihat, aku bukan pria yang seperti kau ucap! Dan aku menikahi mu bukan karena aku menyukai mu, ku rasa dengan kau tidak menyukai ku itu akan lebih muda untuk kita bercerai”
“Hah apa maksud mu! Yang pasti aku tidak membutuhkan pernikahan gila itu, dan sekarang aku ingin kembali ke kamar ku!”
“ Ha.. Ha.. Kau sombong ! Bukannya ibu mu membutuhkan pengobatan yang lebih baik, dan dari mana kau akan mendapatkan uang sebanyak itu! Dan kau tidak usah khawatir pernikahan ini tidak di dasari cinta, dan diriku juga akan membayar setimpal”
“Kau memang benar – benar sudah gila”
Aku langsung pergi berlari meninggalkan pria gila itu dan pria paruh baya yang sedari tadi hanya diam melihat pertengkaran diriku dengan pria gila itu. Aku langsung pergi menuju kamar ku. Ku benamkan wajah ku ke dalam bantal empuk yang ada di kasur. Serasa semua ini adalah mimpi buruk, hal buruk mengikuti ide kedua sahabat ku untuk berlibur di Bali. Bukanya aku merasa lebih baik malah masalah baru datang. Gila entah apa kesalahan ku terdahulu hingga aku mempunyai nasib yang begitu membuat hidup ku terus penuh dengan cobaan dan kerumitan. Aku tertidur dengan pikiran ku yang melayang, aku seperti tidak bisa membedakan mana nyata dan tidak nyata lagi saat ini. Jika aku mampu rasanya ingin ku kembali ke masa saat si kembar mengajak ku berlibur dan aku menolaknya bukan malah menyetujuinya, semua ini memang karena mereka berdua yang selalu saja membuat hidup ku penuh dengan masalah baru. aku tertidur tanpa sempat membersihkan diriku, rasa lelah, takut dan kebingungngan membuat dirku ku terlelap dengan cepat.