Dasha terdiam kaku, seolah seluruh garis waktunya baru saja pecah. Dari awal pertemuan di bar sampai kepanikannya soal biaya Molly, semuanya tiba-tiba terasa konyol.
“Kau … pemilik toko kue ini?” suaranya keluar lebih pelan dari yang dia inginkan.
Kent mengangguk santai. “Ya. Termasuk gedungnya.”
Kalimat itu seketika menjadi tombol reset di kepala Dasha. Suasana hangat yang tadi ada langsung berubah kikuk. Dia turun dari meja perlahan, setiap gerakan terasa seperti peluang mempermalukan dirinya lebih parah lagi.
“A-aku jadi sangat malu,” ucap Dasha, menunduk.
Kent memiringkan kepala. “Malu? Kenapa?”
Dasha menarik napas panjang, mencoba merapikan pikirannya. “Aku mengira kau kesulitan biaya. Mengira kau cuma pegawai biasa, bahkan aku menahanmu supaya tak meladeni aku waktu jam kerja. Padahal bosnya … yah … kau sendiri.”
Kent menganalisis sejenak, lalu tersenyum dan tertawa ringan. “Kau tak perlu malu. Itu juga salahku yang tak mengoreksi lebih cepat.”
Dasha menatapnya, ragu-ragu. Senyum Kent hangat, menenangkan, membuatnya merasa sedikit lega meski pipinya tetap memerah.
"Tapi harus kukatakan, melihatmu panik dan begitu serius, cukup menghibur juga," Kent menambahkan.
Dasha terkekeh, meski malu. “Menghibur? Kau menikmati penderitaanku, ya?”
Kent tertawa lagi, kali ini lebih hangat. “Bukan begitu. Aku … hanya senang kau ada di sini.”
Dasha menelan ludah, hatinya tiba-tiba berdetak lebih cepat. Kata-kata Kent menyisakan getaran aneh yang sulit dia abaikan, membuat ekspresi tenangnya goyah.
Jemarinya memainkan ujung lengan bajunya sendiri dengan gugup. Namun di balik itu, ada dorongan lain, sebuah rasa ingin tahu yang menuntunnya maju, meski dia belum sepenuhnya siap mengakuinya pada diri sendiri.
"Kent … boleh aku tanya sesuatu?" Dasha menatapnya, suara sedikit bergetar.
Kent mengangguk perlahan. "Apa itu?"
Dasha menggigit bibirnya, menahan napas sejenak. "Bagaimana kalau kita … mencoba bertemu lagi?"
Kent menatapnya, sedikit terkejut. “Kau ingin bertemu lagi denganku?”
“Ya,” jawab Dasha, suara lembut tapi tegas. “Bukan karena Molly, bukan karena kau seorang patissier.”
Kent mengernyit, penasaran. “Kenapa?”
Itu pertanyaan yang sulit dijawab. Dasha tak tahu seberapa jujur dia bisa, atau apakah sekadar membuka sedikit isi hati akan membuat Kent mundur—atau justru menerimanya. Namun, menahan keraguan itu lebih lama hanya membuatnya terseret ke tepi kewarasan.
Dasha menunduk sebentar, memainkan ujung lengan bajunya. “Karena … aku ingin mengenalmu lebih jauh. Kau … membuatku penasaran.”
Sentuhan Kent di pipinya membuat Dasha spontan mengangkat wajah, dan dia merasakan helaian rambutnya diselipkan rapi di belakang telinga. Sentuhan itu cukup intim untuk membuat jari-jari Dasha menggenggam lengan bajunya lebih erat.
Kent menatapnya sebentar, senyum tipis bermain di bibirnya. “Kalau begitu,” ucapnya lembut, “aku akan menunggu pertemuan kita berikutnya, Dasha.”
Dasha menelan ludah, d**a terasa hangat, dan entah mengapa dunia seakan berhenti sebentar di antara senyum Kent dan detak jantungnya sendiri.
Kent menarik tangannya dari Dasha, perlahan memasukkannya ke saku apron. Jarak yang tiba-tiba terbentang itu membuat Dasha tak rela. Dia ingin menahan momen itu, merasakan sentuhan Kent sedikit lebih lama, tapi akalnya bersikeras bahwa ini bukan saat yang tepat untuk mendorong lebih jauh.
***
Dasha memasuki klinik dengan penampilan yang terang-terangan berbeda. Gaun selutut yang anggun, aura feminin yang memancar, tak heran setiap orang yang lewat menatapnya lebih dari sekali.
Termasuk Vincent. Terutama Vincent.
Biasanya dia setenang pilar ruang tunggu, tapi hari ini matanya tak bisa lepas dari Dasha. Dan begitu matanya menangkap keranjang piknik yang dibawa Dasha … rahangnya sempat jatuh sedikit.
Vincent berdeham, pura-pura menulis sesuatu di kertas. “Kau akan pergi ke pesta?”
Dasha mengangkat alis, menatap penampilannya yang sebenarnya membuatnya puas, tapi komentar itu membuatnya sedikit terganggu. “Apa aku terlihat berlebihan?”
“Kau ingin penilaian jujur?” Vincent menatapnya, menaikkan kacamata.
Dasha mengangguk, menunggu dengan penuh perhatian, sedikit menahan napas.
Vincent mencondongkan badan, menyipitkan mata. “Pakaianmu ... memberi kesan kau ingin terlihat rileks, tapi tetap menarik perhatian. Seperti sengaja memberi sinyal ke dunia bahwa kau menikmati waktumu, meski sebenarnya mungkin tak sepenuhnya begitu.”
Dasha menatapnya, setengah tersenyum, setengah ingin menamparnya. “Jadi aku terlihat seperti tak sepenuhnya menikmati waktuku?”
“Bukan begitu. Ma-maksudku .…” Vincent menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri meski frustrasi jelas tergurat di wajahnya.
Dasha mengernyit tajam. “Kau bisa bilang saja kalau penampilanku buruk, tak usah berbelit-belit sampai membuat orang pusing!”
Ucapan itu keluar dengan nada kesal. Tanpa menunggu jawaban Vincent, dia berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Vincent yang berdiri serba salah.
“Ah, aku membuatnya salah paham lagi,” gumam Vincent pelan, menatap punggung Dasha yang menjauh.
Belum sempat dia mengejar, suara pintu klinik berbunyi. Seorang pelanggan masuk, membawa keranjang hewan yang tertutup kain tipis, mata kucing menatap dari sela kain.
“Halo,” sapa pelanggan itu, senyum canggung, sementara kucing di dalam keranjang mengeong kecil.
Seharian itu di klinik, Dasha bergerak dengan cekatan. Meski masi kesal, dia tetap menata ruang pemeriksaan, mencatat catatan medis, dan memastikan setiap hewan yang masuk mendapatkan perhatian penuh.
Vincent berdiri tak jauh, sesekali mencoba menyelinap ke dekatnya, menawarkan komentar ringan atau pertanyaan tak penting. Namun setiap kali dia memulai percakapan, Dasha dengan lihai mengalihkan pandangan, mencondongkan tubuh ke arah lain, atau pura-pura sibuk dengan dokumen di tangannya.
Sementara itu, pasien demi pasien datang dan pergi, hingga klinik mencapai batas waktu kerja.
Vincent menatap Dasha yang berdiri di depan klinik. Gaun selututnya berwarna pastel lembut, potongannya simpel tapi pas di badan, menonjolkan garis bahu dan pinggang Dasha dengan elegan.
Vincent menelan ludah, mencoba menenangkan diri. Semua yang ingin dia katakan tentang betapa menawannya Dasha hari ini, betapa penampilannya menarik perhatian, mendadak terasa berbelit-belit di mulutnya. Kata-kata yang tepat sulit keluar, dan ekspresi kagum itu justru membuatnya lebih canggung.
Dia harus meluruskan kesalahpahaman di antara mereka.
Vincent menarik napas dalam, lalu bergerak mendekat. "Da—!"
Tiba-tiba suara klakson mengalihkan fokusnya, bersamaan dengan lambaian tangan Dasha. Saat dia menoleh, sebuah mobil meluncur pelan di depan klinik, pintu kabinnya perlahan terbuka, dan seorang pria tampak duduk di dalamnya sambil melemparkan senyum akrab.
“Kent, kau akhirnya datang!” Dasha tersenyum, matanya berbinar saat melihat pria itu.
“Kau menunggu lama?” tanya Kent, nada suaranya ringan tapi penuh perhatian.
“Tidak, aku baru saja selesai bekerja.”
“Kalau begitu, naiklah."
Suara tawa Dasha terdengar riang, penuh keceriaan, berbeda dari yang biasa dia dengar.
Vincent seketika paham.
Kenapa Dasha berdandan seperti itu.
Kenapa dia membawa keranjang piknik.
Kenapa wajahnya sejak pagi begitu cerah.
Semua jawaban terpampang jelas di depan matanya. Dasha tampak berbahagia, bahagia dengan seorang pria, dan pria itu … bukan dirinya.
Vincent menekan dadanya, napasnya tersengal. Rasa sesak tiba-tiba menguasai tubuhnya—campuran cemburu, kecewa, dan kepahitan.
Dan mobil itu perlahan menjauh, meninggalkan Vincent dengan bayangan senyuman Dasha yang tak sempat dia ukir di wajahnya hari ini.