Dasha akhirnya tiba di depan toko kue itu. Aroma gula karamel bercampur wangi kopi tercium dari deretan kafe di sepanjang trotoar. Di jendela toko, pantulan cahaya jingga membuat deretan kue tampak seperti rangkaian permata.
Suasananya ramai tapi hangat Sabtu sore itu. Beberapa anak keluar sambil menenteng kotak cake ulang tahun, sementara pasangan muda memilih pastry sambil berdiskusi soal topping favorit.
Dasha menarik napas pendek, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena perjalanan, lalu masuk ke toko kue.
Dengan langkah ragu tapi mantap, dia memesan satu slice red velvet dan segelas lemon tea, lalu memilih kursi kosong di sudut. Tempat itu jauh dari keramaian, cukup dekat dengan jendela.
Dia menyalakan ponsel. Jemarinya mengetik 'Kent' tanpa berpikir panjang. Nama itu muncul, tapi dia hanya menatapnya. Dia merasa terlalu tak profesional jika menghubunginya sekarang, mengingat Kent mungkin sedang jungkir-balik di dapur.
Jadi dia menunggu saja.
Namun begitu akan pura-pura sibuk dengan ponselnya, suara langkah cepat terdengar mendekat. Dasha refleks mengangkat wajah.
Dan di sana, Kent. Masih mengenakan apron hitam berhiaskan debu tepung, kemeja putih yang sudah sedikit kusut, dan bau manis mentega yang masih menempel di lengannya.
“Aku melihat orderan atas namamu di dapur,” ucapnya, masih tampak tak percaya. “Awalnya kupikir itu Dasha yang lain.” Dia menghela napas pendek. “Tapi ternyata kau sungguh di sini.”
Dasha tersenyum. “Jadi ini seragammu ketika bekerja?” tanyanya dengan nada menggoda.
“Ya,” jawab Kent, meraih kursi di depannya seolah siap duduk.
“Kau tak perlu menemaniku.”
Gerakan Kent langsung terhenti. Keningnya berkerut. “Kenapa?”
“Kau kerja saja seperti biasa. Aku akan jadi pelanggan yang baik hari ini sampai shift-mu selesai.” Dasha melambaikan tangannya. “Cepat kembali ke dapur sebelum bosmu memarahimu.”
Kent tampak bingung. “Tapi aku—”
“Tak usah merasa tak enak," potong Dasha, membuka ritsleting tas dan mengeluarkan sebuah buku tebal. “Kau tenang saja, jangan pikirkan aku.” Buku itu dia letakkan di meja. “Aku punya hiburan mandiri.”
Kent menurunkan pundak, nyaris menyerah. “Akan aku selesaikan cepat. Jangan ke mana-mana.”
Dasha memberi hormat kecil dengan gaya formal. “Baik, Chef.”
Kent hanya bisa menggeleng sambil berjalan mundur, seolah takut membelakangi Dasha terlalu lama. Begitu dia berbalik menuju dapur, ritme kerjanya mendadak naik satu level, dan senyumnya tak hilang sejak melihat Dasha duduk di luar.
Sementara Dasha menyelesaikan beberapa halaman buku, menyeruput minumannya perlahan. Sesekali dia mengangkat wajah, melihat ke sekitar, lalu kembali ke bacaan.
Dua jam berlalu tanpa terasa. Pesanan mulai mereda, mesin-mesin dapur diturunkan intensitasnya, dan ritme kerja kembali normal. Kent melepas sarung tangannya, menarik napas lega.
Ketika pintu dapur berayun terbuka, Kent keluar bersama dua pegawai lain.
“Akhirnya selesai juga,” keluh Julian sambil meregangkan punggung.
“Kalian hebat hari ini," ucap Kent.
"Kami pulang dulu. Sampai besok, Chef!" ucap Mara, memanggul tasnya.
Julian melambaikan tangan. “Sampai jumpa di peperangan besok, Chef."
Mereka berdua pergi sambil tertawa, meninggalkan Kent berdiri di lorong itu dengan senyum kecil.
Dan langkahnya otomatis bergerak ke arah tempat duduk di sudut kafe, tempat seseorang masih menunggunya.
“Maaf membuatmu menunggu lama,” katanya sambil mendekat dan duduk di depan Dasha.
Dasha menutup bukunya. “Tak masalah."
“Tetap saja, aku merasa bersalah. Kau duduk di sini sendirian cukup lama.”
“Aku baik-baik saja,” balas Dasha. "Lagi pula, tempat ini nyaman.”
Perhatian Kent teralih ketika staf front counter melambaikan tangan singkat saat hendak pulang. Mereka hanya saling bertukar senyum sopan dengan Kent sebelum melewati pintu kaca, meninggalkan keheningan hangat di toko kue yang mulai kosong.
Begitu pintu tertutup, Kent kembali menatap Dasha. “Aku akan menutup tokonya sebentar.”
Dasha hanya mengangguk, tak berkata apa-apa, tapi matanya mengikuti setiap gerak Kent. Cara pria itu menurunkan tirai, membalikkan papan bertuliskan 'Closed', kemudian mengunci pintu dengan gerakan halus yang seolah sudah ribuan kali dia lakukan.
Dasha tetap duduk, memperhatikan punggungnya yang menjauh dan kembali. Ada sesuatu yang anehnya menenangkan, sekaligus memicu degupan kecil di dadanya, dan ... perutnya bergemuruh keras, suara yang terlalu lantang untuk kesunyian seperti ini.
Dasha memejamkan mata sepersekian detik. Tidak. Tidak sekarang. Tidak di hadapan Kent.
Namun perutnya jelas punya agenda sendiri, sebuah agenda yang sangat tak romantis.
Kent berhenti sejenak. Alisnya terangkat samar, ekspresi menahan tawa sudah terlihat meski dia berusaha profesional.
Dasha mengencangkan senyumnya, pura-pura santai padahal wajahnya panas. “Itu … suara kendaraan."
Kent akhirnya tertawa kecil. “Kelihatannya seseorang butuh sesuatu dari dapur.”
Kent melangkah mendekat, lalu tanpa banyak bicara, dia meraih tangan Dasha. “Ikut aku,” katanya.
Dasha hanya sempat menarik napas pendek sebelum tubuhnya sudah dituntun bangkit.
Di dapur, Kent langsung bekerja. Dia membuka kulkas, mengambil bahan, lalu menyiapkan cutting board. Gerakannya yang memotong bahan itu begitu presisi, membuat Dasha terpana.
“Menggunakan dapur toko untuk hal pribadi … tak masalah?” tanya Dasha khawatir.
Kent melirik singkat. "Ini hanya versi kecil dari rasa terima kasihku dan juga permintaan maafku karena membuatmu menunggu lama."
“Kau tak perlu sampai begitu. Kita makan di luar saja. Kau sudah seharian di dapur, pasti lelah.”
Kent tersenyum tipis tanpa menoleh, tangan tetap bergerak. “Lelahnya hilang kalau untukmu."
Degup Dasha naik setengah tingkat.
Dan Kent?
Ya, pria itu sedang memasak sambil pura-pura tak tahu efeknya.
Akhirnya Dasha menyerah. Dia bersandar di meja stainless steel, dan hanya menonton Kent bekerja. Ada sesuatu yang menenangkan sekaligus memikat saat melihat pria itu bergerak.
Tak lama kemudian, seporsi mie zucchini dengan d**a ayam tersaji di hadapannya. Uap tipis naik ke udara, membawa aroma bawang putih dan rempah yang membuat Dasha perlahan menelan ludah.
“Oh … selain kue, kau bisa masak begini juga?” tanyanya kagum, meski mencoba tetap terdengar kritis.
“Kau coba dulu. Aku sendiri tak yakin.”
Dasha mengangkat alis. “Aku tak percaya.”
Dasha mencoba satu suapan, dan langsung membeku.
“Kau berkata jujur, huh?” katanya, menahan geli. “Ini … hanya kurang garam sedikit."
“Kau tak harus habiskan itu,” ujar Kent.
“Aku akan habiskan. Kau masak untukku.”
Sebelum Dasha sempat mengambil suapan berikutnya, tubuhnya terangkat ringan. Kent menempatkan kedua tangannya di pinggang Dasha dengan lembut, mengangkatnya dan menaruhnya di atas meja stainless steel.
Dasha terpaku, garpu masih teracung seperti antena di tangannya, matanya membulat menatap Kent.
“Kita tak punya kursi di sini,” kata Kent dengan sikap tenang.
Kedua tangan Kent terpasang di sisi tubuhnya. Wajah Kent hanya beberapa inci darinya. Cukup dekat hingga dia bisa merasakan embusan napasnya yang hangat dan stabil.
Kent tampak sadar akan jarak itu, tapi tak menjauh. Tatapan mereka bertemu, tertahan di udara. Satu detik. Dua. Terlalu lama untuk disebut sebagai tatapan biasa. Terlalu dekat untuk tak menyalakan sesuatu di d**a Dasha.
Dasha merasakan tenggorokannya mengering. Pandangannya tanpa sadar turun ke bibir Kent, lalu naik ke matanya, seperti menunggu dia melakukan sesuatu yang bahkan belum berani dia pikirkan keras-keras.
Pikiran Dasha berputar cepat.
Bagaimana kalau aku ...
Bagaimana kalau dia ... dan aku.
Apa yang akan terjadi kalau aku condong sedikit saja?
“Kau menginginkannya?” Kent akhirnya berbicara.
“Iya,” jawab Dasha, terlalu cepat, terlalu jujur.
Kent mengangkat alis sedikit, sesuatu yang mirip senyum menyentuh sudut bibirnya. “Kalau begitu, aku takkan melarangmu. Kau bisa menghabiskannya.”
“… Menghabiskannya?” ulang Dasha, masih terpaku pada bibir itu. Kata-kata Kent masuk setengah detik terlambat ke otaknya yang sibuk membayangkan hal lain.
Kent menarik diri, memberi jarak, lalu menyilangkan tangan di d**a seperti tak terjadi apa-apa. “Makanannya, Dasha. Kau masih ingin menghabiskannya?”
Dasha tersentak keluar dari lamunannya. “Huh? Makanan?” Tatapannya merosot ke piring di sampingnya, seolah baru sadar benda itu ada sejak tadi.
Dengan gerakan gugup, dia menggeser piring itu mendekat. “Te-tentu saja, aku akan menghabiskannya,” katanya cepat, pipinya memanas, sambil berharap Kent tak bisa membaca isi kepalanya barusan.
Kent menahan tawa, jelas menikmati situasinya lebih dari yang seharusnya.
Dasha mulai makan terburu-buru, suapan demi suapan hampir menumpuk di mulutnya.
“Makanlah perlahan, kau bisa tersedak,” Kent memperingatkan, matanya menatap penuh kekhawatiran.
Dasha mengunyah susah payah. “Aku harus cepat … agar kita bisa keluar dari sini.”
“Kenapa begitu?” Kent mengerutkan dahi, penasaran.
“Aku tak ingin bosmu memarahimu karena memakai dapur sembarangan,” jawab Dasha sambil menelan paksa.
Kent menatapnya bingung, lalu mengalihkan berat badan ke satu kaki. "Dasha, soal itu … bos toko kue ini adalah aku.”
Dasha menatapnya, mulutnya masih penuh. “Apa?!”
Dasha tersedak mendadak, dan tanpa menunggu lama Kent sigap mengambilkan minuman. Dia menepuk punggung Dasha pelan, mencoba menenangkan bukan hanya tenggorokannya, tapi juga kenyataan mengejutkan tentang pemilik toko kue.