Dasha menatap rumah Kent, hampir tak bisa memercayai luasnya. Untuk seorang patissier, ini terasa terlalu mewah. Apakah dia berasal dari keluarga kaya? Atau aku salah menilai semuanya? Pikirannya berputar, tapi dia mencoba menenangkan diri.
“Apa ingin duduk dulu atau langsung bertemu Molly?” Kent menatapnya, santai tapi penuh arti.
“Langsung saja,” jawab Dasha, berusaha terdengar tegas.
Dasha mengikuti Kent ke sebuah ruangan, dan seketika matanya melebar. Tak hanya satu kucing, ada banyak, dengan fasilitas lengkap yang rapi dan teratur.
Kent tersenyum tipis, seolah membaca ekspresi Dasha. “Aku tak bisa membawa Molly karena dia sedang menyusui,” jelasnya.
Dasha menahan napas sejenak, sedikit malu dengan pikirannya sendiri. “Kau punya banyak kucing di rumah.”
“Ya. Aku mencari seseorang yang bersedia merawatnya. Sendirian sulit merawat semuanya."
“Bagaimana dengan keluargamu?” Dasha bertanya, mencoba terdengar netral.
“Keluargaku? Mereka semua di luar negeri,” kata Kent, matanya tetap menatapnya dengan tenang.
“Jadi kau tinggal sendiri di rumah besar ini?!” Dasha menahan kaget, cepat-cepat menambahkan, “Maaf, aku … tak menyangka.”
Kent tertawa kecil, nada suaranya ringan. “Kau sangat lucu.”
Dasha menggaruk kepala, wajahnya memerah sedikit karena gugup. “Kalau aku buat pengumuman di klinik tentang kucingmu, mungkin akan lebih mudah mencari pemilik baru.”
Kent tersenyum, menatapnya hangat. “Terima kasih, Dasha. Itu sangat membantu.”
Dasha mendekat ke Molly. Dia mengelus bulunya perlahan, menatap mata kucing itu, memeriksa postur dan pernapasannya. Tangannya bergerak ringan memeriksa bagian perut, memastikan semuanya normal.
“Menyusui memang membuat Molly kehilangan selera makan, tapi hanya sementara,” katanya, suaranya tenang dan lembut.
Kent menarik napas lega, jelas merasa aman melihat Dasha menangani kucingnya dengan cekatan.
Dasha menyelesaikan pemeriksaannya. “Sepertinya Molly baik-baik saja. Cuma perlu sedikit perhatian ekstra dan makanan bergizi,” katanya santai.
Kent mengangguk. "Aku akan memperhatikan itu."
Dasha menoleh. “Kalau begitu, aku akan mengambil beberapa foto kucingmu."
Kent memberi ruang bagi Dasha untuk mengambil foto. Begitu semua selesai, mereka pindah ke ruang tamu. Dasha duduk di sofa, menunjukkan foto-foto kucing satu per satu, menjelaskan angle terbaik, pencahayaan, dan mana yang paling menarik untuk pengumuman.
Kent duduk di kursi seberang, tapi atensinya bukan pada foto, melainkan pada ekspresi Dasha yang begitu serius. Alisnya sedikit bertaut, bibirnya mengerucut kecil saat memilih, jemarinya lincah menggeser layar.
Kent merasakan sesuatu menghangat di dadanya. Terlalu cepat untuk jatuh hati? Mungkin. Tapi rasanya sulit memalingkan diri.
Dasha mengangkat wajah. “Menurutmu, yang ini oke?”
Kent tersadar dari lamunan, lalu menunduk melihat foto itu sekilas. Padahal otaknya masih sibuk memproses wajah Dasha, bukan kucing. Dia mengangguk pelan. “Aku suka.”
Kent berdiri, dengan sedikit kegugupan yang terselip. “Mau minum sesuatu?”
Dasha memandangnya. “Boleh,” jawabnya, kembali menatap layar ponsel.
Tak lama kemudian Kent kembali, membawa dua gelas minuman. Dasha segera menyimpan ponselnya, menerima salah satu gelas itu.
“Ngomong-ngomong,” Dasha membuka percakapan, “benar kau patissier?”
Kent menaikkan alis. “Kenapa meragukanku?”
“Bukan meragukan …” Dasha terkekeh kecil, bahunya terangkat pelan. “Aku hanya terkejut. Melihat orang sepertimu membuat kue."
Kent tersenyum, lalu menyandarkan dirinya pada sofa, postur tubuhnya santai tapi matanya masih mengamati Dasha dengan perhatian penuh. “Memangnya aku orang yang seperti apa?”
Dasha menyipitkan mata seolah sedang menilai. “Orang yang rapi, serius, dan … cukup elegan.”
Kent memiringkan kepala, ekspresi campuran antara geli dan tersanjung. “Apa aku harus terlihat berantakan dan penuh tepung dulu baru kau percaya?”
Dasha tertawa kecil, menggeleng pelan. “Begitu pun aku takkan percaya.”
Kent seperti tersengat tantangan halus itu. Dia mencondongkan tubuh sedikit ke depan, suaranya menurun setengah oktaf. “Haruskah aku bawa kau ke tempat kerjaku? Di sana kau takkan ragu lagi.”
“Pertemuan lain?” tanya Dasha.
“Kau tak mengharapkan itu?” Kent menatapnya hati-hati, mencoba membaca setiap perubahan kecil di wajahnya.
Dasha tak menjawab.
"Hari ini menyenangkan bagiku.”
Kalimat sederhana itu membuat Dasha seketika membeku. Ada sesuatu di dadanya yang bergerak.
“Kita akan bertemu lagi?” suara Kent lebih lembut dari sebelumnya. Ada harapan di sana, tapi juga kehati-hatian, seolah dia memberi Dasha ruang untuk mundur.
Dasha menunduk sesaat, membiarkan pikirannya berputar. Baginya, pertemuan ini hanyalah ‘membantu Ellen’. Tak ada agenda sampingan. Tak ada rencana lanjutan. Dia tak pernah menghitung kemungkinan terlibat lebih jauh dengan pria seperti Kent. Tapi … setiap kalimat pria itu, setiap gestur kecil, setiap senyum yang datang tanpa pretensi, membuatnya sulit untuk menolak.
Apa ini ide bagus?
Mungkin tidak.
Tapi untuk pertama kalinya hari itu, dia tak ingin mengambil keputusan berdasarkan logika saja.
Dasha mengangkat wajah. “Sepertinya … kita perlu membuktikan kalau kau memang seorang patissier.”
Kent yang tadinya tegang langsung tersenyum. “Kalau begitu …” dia mengambil sedikit napas, menahan antusiasmenya, “Sabtu sore? Atau kau punya waktu lain? Aku akan menunggumu.”
Dasha mengangguk. Senyumnya mengembang tanpa dia sadari. Dia merasa ada sesuatu yang sedang tumbuh di antara mereka. Sesuatu yang belum bisa dia jelaskan. Namun untuk saat ini, dia ingin melihat kemana arahnya pergi.
***
Esoknya di klinik, Dasha sudah bisa menebak siapa yang akan datang menghampirinya duluan. Dan tepat saja, Ellen muncul dengan langkah terburu-buru, wajah penuh rasa bersalah bercampur kepo tingkat dewa.
“Dasha, bagaimana kemarin? Apa dia marah?” Ellen langsung mencecar, suaranya panik.
“Tentu saja dia marah, bahkan hampir membunuhku!” bisik Dasha dramatis sambil menahan tawa.
Mata Ellen membulat. “Apa separah itu?”
“Karena dirimu, aku menanggung seluruh beban di pundakku,” jawab Dasha, meneruskan dramanya.
Ellen langsung menunduk. “Aku berjanji takkan mengulanginya. Sungguh.”
“Bagus. Kau berutang besar padaku.”
“Aku siap melakukan apa saja untuk membayarnya, Paduka Ratu.” Ellen membungkuk dramatis, tangan di d**a.
Dasha terkekeh, lalu menepuk pundak Ellen seperti memberikan mandat penting. “Kalau begitu, alihkan perhatian Vincent untukku.”
Ellen langsung berdiri tegap, ekspresinya kosong satu detik, lalu pelan-pelan berubah. Matanya menyipit, senyum nakal muncul, lalu sikut mendarat halus di lengan Dasha. “Kau mau bolos, kan?” tanyanya dengan nada penuh kepuasan, seolah berhasil menangkap rencana rahasia besar. "Memangnya kau mau ke mana?"
Dasha memutar mata, berusaha terlihat santai padahal wajahnya jelas menyembunyikan sesuatu. Dia menggaruk pelipisnya pelan. “Aku … perlu ke suatu tempat.”
Sebelum Ellen makin curiga, Dasha cepat-cepat memotong arah pembicaraan. “Aku tak punya banyak waktu. Ini darurat.”
Ellen mengangkat alis. “Tapi setidaknya kau harus bilang akan pergi ke mana.”
“Nanti saja,” Dasha mengibaskan tangan, setengah putus asa. “Setelah urusanku beres.”
Ellen menghela napas panjang. “Baiklah. Tapi kau berutang cerita padaku.”
“Ya, ya.”
Dengan berat hati, Ellen akhirnya mengangguk. Lalu, dia langsung berbalik, mengambil dua underpad, dan tanpa rasa malu sedikit pun mengibaskannya seperti sayap.
Dia berlari kecil melewati lorong klinik, melayang-layang sambil berseru, “Vincent, lihat … aku peri kebersihan!”
Vincent yang baru keluar dari ruang periksa mengerjap, terpana oleh tontonan absurd itu.
Begitu Ellen berhasil menciptakan kekacauan untuk mengalihkan perhatian Vincent, Dasha diam-diam menyelinap keluar dari klinik.
Dia berdiri di depan pintu sejenak, menatap jalanan yang ramai. “Kenapa aku melakukan ini?” gumamnya pelan.
Lalu, jawabannya muncul sendiri—karena aku ingin tahu dan karena dia membuatku ingin kembali.
Dasha merapatkan tas di bahunya dan melangkah cepat meninggalkan klinik. Dia menarik napas panjang, mengatur diri.
Ini cuma pertemuan biasa, pikirnya.
Tapi jantungnya tak sepakat, detaknya terlalu tak profesional untuk sekadar pertemuan dengan 'pemilik kucing'.