Hangover

1160 Words
Menutupi kemarahannya, Anima terus menegak minumannya. Anggar mengerti kegelisahan yang coba di tutupi oleh wanita cantik di depannya. Dia kembali mengambil gelas baru yang berisi wine. "Kamu tidak bisa terus meminumnya!" Anggar masih melihat senyum anggun di wajah Anima, tapi dia juga tahu wanita itu sudah mulai Hangover. "Aku tidak bisa bertahan, bahkan lima menit lagi, jika tidak meminumnya. Tidakkah kamu melihat, orangtuaku tidak berhenti berusaha mengenalkan putra temannya secara bergantian?" Anima yang terlalu banyak minum, sehingga agak sedikit lebih banyak bicara. "Kamu putrinya, mereka akan mengerti saat kamu membicarakannya!" Anggar terus berdiri di sisi Anima sejak tadi, dan ikut menyapa para tamu bersama Anima. Anima tersenyum sinis, dia masih berdiri di sana hanya agar tidak mempermalukan orangtuanya. Tapi orangtuanya sedikitpun tidak memikirkannya. Dia sudah menahannya, berusaha ramah dan tetap bersikap baik pada para tamu, berharap acara itu segera berakhir. Karena sebentar lagi akan tiba saatnya jamuan makan. "Nona Anima, nyonya meminta anda untuk datang dalam jamuan makan lebih awal, untuk menyembut para tamu di ruang makan!" Seorang kepala pelayan menghampiri Anima, karena posisinya saat ini berdiri di balkon dengan minuman di tangannya. Juga seorang pria yang menemaninya, jika Anggar tidak menemaninya, maka ada orang lain yang akan mamanya sodorkan untuk akrab dengannya. Anima memperbaiki ekspresinya, lalu berjalan mengikuti kepala pelayan menuju ruang makan. Hanya tamu penting saja yang masih bertahan untuk mengikuti acara jamuan makan. Sedangkan tamu lainnya sudah pulang. Anggar menggoyangkan gelas anggurnya, memperhatikan sosok Anima yang melenggang pergi meninggalkannya. Awalnya Anima sama sekali tidak ingin akrab dengannya, berbicara sebatas saling kenal saja. Hingga acara terus berlangsung dan banyak para pemuda yang mencoba akrab dengan bantuan mamanya Anima, barulah dia melihat kefrustasian dari seorang Anima Lampauta. Dia menegak habis minumannya, dan menaruh gelas kosong itu di meja dalam. Berjalan mengikuti instruksi menuju ruang makan. Saat masuk, Anggar bisa melihat betapa mewahnya makanan yang disajikan. Menunjukkan kalau Lampauta benar-benar menjamu tamunya dengan sangat mewah. Matanya memperhatikan Anima yang duduk di sebelah anak pengusaha besar, Titan Barel. Dia melihat bagaimana Anima bersikap sangat anggun, gaya bicaranya tertata rapi menunjukkan kecerdasannya. Bukan hanya dirinya, beberapa pemuda lain juga terpesona dengan karakternya. Selain membicarakan fisik yang tidak lagi perlu disebutkan, karekter Anima adalah perhiasan mahal yang melengkapi kecantikannya. "Terimakasih untuk para tamu yang telah hadir, saya dan istri saya merasa terhormat menerima kalian di kediaman kami!" Galih Lampauta membuka suara, menarik perhatian para tamu yang hadir. "Kami yang seharusnya merasa tersanjung, bukan begitu ibu presiden?" Seorang menteri yang hadir bersama putrinya meminta persetujuan ibu presiden. Ibu presiden tersenyum hangat, karena sedari tadi memperhatikan betapa cakapnya Anima dalam berbicara bersama Titan Barel, padahal Titan Barel sendiri terkenal dengan kejeniusannya. Tapi sedikitpun, dia tidak melihat Anima tenggelam dalam karakter kuat laki-laki tersebut. "Yah, keluarga Lampauta selalu punya cara untuk memperlakukan tamunya dengan baik. Saya sendiri sangat beruntung dapat mengenal keluarga anda, dikatakan kalau keluarga anda sangat cakap, ternyata itu bukan sekedar omong kosong!" Ibu presiden memberikan ungkapan jujurnya, dia membuat para tamu lain juga setuju dengan pendapatnya. Anima menyimak dengan muak. Mama dan papanya sedang memamerkan betapa kompaknya mereka, sehingga membuat iri tamu lain yang hadir. Dia merasa banyak perhatian yang juga tertuju padanya, rasanya dia ingin menjungkirbalikkan meja agar mereka berhenti memperhatikannya. "Anda juga memiliki putri yang cantik. Sangat beruntung laki-laki yang akan menjadi pasangannya kelak!" puji ibu Anggar membuat Maya tersenyum lebar. "Yah, aku berniat menikahkannya. Karena kami ingin segera menimang cucu, di usia kami yang tidak muda lagi, hanya kebahagiaan Anima yang kami inginkan!" Maya melancarkan serangannya, membuat para tamu mengerti kalau keluarga Lampauta sedang mencari pasangan untuk putri tunggalnya. Anima hampir mati tersedak ludahnya sendiri. Dia masih menunjukkan senyum ramah, meskipun wajahnya hampir terbakar menahan rasa malu. Pembicaraan berlanjut, hingga mereka memulai jamuan makan. Anima tidak banyak makna, apalagi saat dia terus mendapatkan perhatian dari para tamu. Setelah makan, Anima sudah menegak tiga gelas anggur menunggu para orangtua selesai berbicara. "Anda memiliki toleransi alkohol yang cukup baik!" ujar Titan yang merasa wanita di sebelahnya bisa saja pingsan karena kebanyakan minum. "Aku tidak!" jawab Anima masih bersikap wajar dengan wajah sedikit memerah. Siapapun akan berpikir kalau Anima memiliki toleransi yang baik untuk minuman wine. Sedangkan untuk Titan yang duduk paling dekat dengannya tahu itu tidak benar, juga Anggar yang sudah melihatnya mulai minum sejak acara berlangsung. Titan memilih untuk undur diri dengan alasan ada urusan mendadak, ibunya juga jadi ikut permisi bersamanya. Setelahnya, para tamu juga akhirnya ikut untuk meminta undur diri. Anggar mengerti kalau Titan sengaja untuk memulai lebih dulu, agar para tamu ikut segera undur diri bersamanya. Dia tahu maksud dari kesengajaan tersebut, secara tidak langsung Titan sedang menyelamatkan Anima dari aksi terus meminum wine mahal tersebut. Anima tidak bodoh, dia juga tahu Titan sedang membantunya. Dia tidak benar-benar berharap para pemuda itu langsung menunjuk kepedulian mereka. Dia hanya berpikir untuk segera pulang. "Sayang, bagaimana tadi. Siapa yang paling kau sukai? Apakah pilihanmu jatuh pada pemuda jenius, Titan Barel?" Maya menyenggol lengan putrinya, dia menggoda Anima karena menyadari kalau tadi Anima tampak akrab dengan Titan Barel. "Mama paling tahu jawabannya! Ini terakhir kalinya, aku tidak akan datang jika itu lain kali!" Anima berjalan goyah, Tama yang sejak tadi mengawasi dari kejauhan segera membantunya. "Sayang, kau mungkin belum terlalu mengenalnya. Mama rasa kalian cocok, atau kau lebih suka dengan Anggar Anggoro?" Maya melihat putrinya pergi, dia ingin memastikan pilihannya. Dia tidak bisa membiarkan usahanya hari ini sia-sia. Galih melihat putrinya sama sekali tidak tertarik dengan para pemuda yang datang. Dia juga jadi khawatir. Karena Anima bahkan tidak tertarik dengan para pemuda yang paling digemari para wanita. Lalu, pemuda seperti apa yang dapat masuk pandangannya. "Sayang, jangan terlalu memaksa. Masih banyak pemuda yang lebih baik di luar sana. Kita berikan dia waktu!" Galih mencoba menenangkan istrinya. "Bagaimana bisa! Dia belum pernah terlihat dekat dengan laki-laki hingga usia sekarang. Aku khawatir dia tidak bisa mengembangkan perasaannya sama sekali. Kau tahu, dia terbiasa mandiri dan hidup sendiri. Sayang, setidaknya dia harus memiliki kencan!" Maya tidak tahu apakah dia terlalu khawatir, tapi yang dikatakannya memang benar, putrinya selalu bisa bersikap profesional dalam banyak hal, tapi dia sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menjalin hubungan. Saat Maya dan Galih sedang membicarakan hal-hal yang serius. Anima hampir saja kehilangan kesadarannya. Dia telah menahannya sangat lama, dan tiba saatnya dia tidak bisa menahannya lagi. "Nona, apakah kita harus memanggil dokter?" Tama melihat sendiri bosnya itu mendapatkan banyak gelas berisi wine. Dia khawatir hal tersebut mengganggu kesehatannya. "Bawa saja aku pulang!" Anima sedikit meracau, dia tidak benar-benar sadar, hanya merasa ingin muntah dan kepalanya sangat pusing. Saat itu masih pukul tiga sore, Anima sudah berbaring di tempat tidurnya. Dia meracau, dan mengusir Tama agar segera meninggalkannya sendirian. Akhirnya dia benar-benar menangis. Anima menertawakan dirinya sendiri. Dia tertekan dengan acara tadi. Jika saja mamanya benar-benar memaksakan satu di antara mereka, dia mungkin tidak akan tahan lagi. Bukannya mereka kurang baik, hanya saja dia benar-benar enggan terlibat dalam pernikahan yang akan membatasinya bergerak. Meskipun sekarang ini ada jaman modern, tapi posisi wanita akan tetap terbelenggu dalam ikatan pernikahan. Dia tidak mau terikat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD