Akhirnya Kami Putus

1339 Words
Kunyahanku terhenti ketika Jujung tiba-tiba saja datang dan duduk di depanku. Aku bertanya pada diriku sendiri, sebenarnya mengapa Jujung bisa-bisa ada di sini dan berkata sesuatu yang jujur saja sedikit terdengar menyindir diriku yang sedang makan roti dari Mas Taeyoga. Aku menatapnya dengan sendu, kembali benci pada keadaan seperti ini. Keadaan yang sangat membingungkan, yang membuatku tidak tahu harus apa, yang pada akhirnya hanya membuatku diam saja. "Tik, aku mau ngomong sama kamu," kata Jujung. Nada bicaranya begitu datar. Tatapnnya sangat kentara jika bukan hal sederhana yang akan Jujung katakan. Aku bingung sekaligus takut. Aku masih diam dan membiarkan Jujung melanjutkan perkataannya, sedangkan mulutku perlahan mengunyah dan menelan roti. Karena aku cukup sadar dengan situasi seperti ini, akan sangat lucu jika aku dengan bar-bar meneruskan kunyahanku seperti biasanya, bahkan akan lebih lucu lagi jika aku menawari roti ini kepada Jujung. "Aku mau kita putus." Deg. Omong kosong macam apa itu? Telingaku sedang bermasalah kan? Jujung tidak benar-benar mengatakan hal itu kan? Katakan padaku, sekarang aku sedang berhalusinasi! "Maaf, ya. Kayaknya hubungan kita sampai di sini aja." Setelah ucapan ucapan singkat tanpa alasan itu kudengar, Jujung langsung bangkit dari duduknya. Ia melangkah pergi, tanpa pamit, tanpa senyum, dan tanpa apapun yang biasa menjadi rutinitas kami setiap berpisah di akhir hari. Aku masih diam, menatap nanar punggung laki-laki itu yang semakin menjauh. Badanku masih gemetar, tetapi kaku untuk dapat kugerakkan. Kenyataan yang sesungguhnya memang benar, bahwa Jujung baru saja mengucapkan kata putus yang bahkan tidak pernah kubayangkan selama menjadi kekasihnya. Jadi, hari ini diriku resmi menyandang status sebagai mantan kekasih Jujung. Ah, bukan. Mantan kekasih dari Juwanaㅡlaki-laki dengan tinggi semampai keturunan Korea Selatan, laki-laki pertama yang membuatku tahu bagaimana rasanya pacaran, dan laki-laki yang selalu membuatku tertawa dengan tingkahnya yang menggemaskan. Jangan lupakan juga, Jujung adalah laki-laki yang berhasil membuatku mematung karena ucapannya yang menyakitkan, yang baru saja aku dengarkan, sangat menusuk indra pendengaran. Sepertinya aku bodoh. Benar sekali. Harusnya sedari tadi aku tidak diam seperti ini. Seharusnya saat Jujung mengakhiri hubungan kami, aku bisa menolaknya, atau setidaknya aku harus bertanya apa alasan logis yang membuat Jujung memutuskan hubungan ini. Aku bodoh, aku bodoh, aku akui itu. Rasanya memang sulit. Dua tahun lebih memanggil laki-laki itu dengan panggilan sayang, lalu tiba-tiba aku harus memanggilnya dengan nama aslinya. Sangat berat. Diriku sudah terlanjur latah. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nanti kalau aku bertemu dengan Jujung, apakah aku akan tetap memanggilnya dengan panggilan kesayangan, atau aku akan memanggilnya seperti oranh lain memanggil laki-laki itu, Juwana. "Jujung!" Tatapanku mengedar ketika samar-samar kudengar seorang perempuan meneriaki nama laki-laki itu. Siapa lagi kalau bukan Della, karena hanya Della yang memanggil laki-laki itu dengan panggilan Jujung selain diriku. Ternyata memang benar orang itu adalah Della. Aku bisa melihat beberapa belas meter dari tempatku duduk, Della berjalan cepat dan memanggil Jujung yang tubuhnya masih belum lenyap oleh tempat. Jujung masih dapat kulihat, laki-laki bercelana krem dengan kemeja marun itu lalu menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke sumber suara, sampai akhirnya Della ada tepat di sampingnya. Aku tidak tahu, apakah aku salah lihat atau memang ini yang benar-benar aku lihat. Saat Della ngos-ngosan di depan Jujung sambil sedikit membungkuk lalu memijat lututnya, Jujung justru tersenyum menatap perempuan itu. Ia lalu mengacak rambutnya dan menarik pergelangan tangan Della hingga membuat Della terpaksa melangkah mengikuti Jujung. Sampai di sini, aku cukup tahu. Sepertinya memang ada sesuatu antara Della dan Jujung, sesuatu yang tidak kuketahui. Sesuatu rahasia, antara dua teman yang sudah kenal sebelum aku mengenal Jujung. Alarm berhasil membuat ponselku berdering, begitu juga membuyarkan fokusku pada Jujung dan Della yang mulai memasuki gedung. Sudah pukul sembilan lebih tiga puluh lima menit, yang berarti aku harus segera masuk karena ada jadwal kelas. Tidak ada semangat barang satu persen dalam diriku. Aku sungguh lemas. Roti bawang yang diberikan Mas Taeyoga pun akhirnya kembali kubungkus dan tidak jadi kulahap habis, padahal tadi aku sangat yakin jika aku akan bisa menghabiskan semuanya. Benar-benar Jujung manusia sontoloyo. Bisa-bisanya dirinya menghancurkan nafsu makanku. Ah, tepatnya dia juga menghancurkan perasaanku. - - - Mataku tidak fokus, hanya menerawang ke layar besar yang ada di depan kelas. Ketika teman-temanku sedang mempresentasikan materi hari ini, telingaku memang mendengar dengan jelas. Namun, otakku sama sekali tidak bisa menangkap materi yang mereka sampaikan. Layar besar itu memang berisi poin-poin materi. Tetapi yang aku lihat, di sana ada bayang-bayang Jujung dengan ekspresi datarnya yang sama persis ketika dirinya memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami siang tadi. Apalagi saat kutoleh sedikit ke arah kanan, melihat Della yang sedang fokus pada presenter, dan sesekali mencatat materi di buku tulisnya, membuatku sedikit tercekik. Bisa dibilang, Della itu jauh lebih rajin dariku, walau nilai akhir kita tidak jauh berbeda. Tetapi, dari segi pergaulan, Della lebih ramah dan dia lebih hebat untuk berbicara di depan orang banyak. Intinya, Della lebih aktif bersosialisasi daripada diriku. Aku jadi memikirkan, mungkinkah Jujung memutuskan hubungan kami karena ia lebih memilih Della yang memiliki nilai plus dalam bersosialisasi? "Sampai di sini, adakah yang belum jelas dan ingin ditanyakan?" "Saya!" Sedetik setelah presenter selesai menyampaikan materi dan membuka sesi tanya-jawab, seperti biasa Della lah orang pertama yang mengajukan pertanyaan atau bahkan sanggahan. Sungguh, otak Della jauh lebih kritis dari otakku. Mungkin benar apa yang dikatakan orang-orang, bahwa perempuan zaman sekarang harus cerdas dan tidak boleh bermalas-malasan. Perempuan zaman sekarang harus setara dengan pria, terutama dalam segi pendidikan. Karena seorang pria hanya mau bersanding dengan perempuan yang cerdas yang setara dengannya. Aku sadar. Aku bukan siapa-siapa kecuali hanya seonggok daging bernyawa yang belum sepenuhnya berguna pun bagi diri sendiri. Entah seberapa lama aku hanya melamun tanpa memperhatikan dengan betul materi yang disampaikan presenter maupun dosen pada kelas siang ini. Tahu-tahu, dosen menutup kelas dengan ucapan salam dan langsung menyadarkanku dari lamunan. Satu per satu mahasiswa keluar kelas, begitu pula dengan Della. Dan ya, siang ini, Della hanya melewatiku begitu saja padahal biasanya perempuan itu selalu bersamaku jika keluar kelas. Aku jadi curiga, mungkinkah Della sudah tahu jika aku dan Jujung sudah putus? Lantas jika memang benar begitu, mengapa Della malah menjauh dariku? Bukankah sebagai teman yang baik seharusnya Della memberikanku semangat? Bukannya aku mengemis perhatian dari orang lain. Tapi sungguh, tidak selayaknya Della mencampakkanku begitu saja! Hatiku sempat mencelus. Jantungku berdesir hebat ketika kulihat Jujung yang berdiri di depan kelas bersama Della. Kepalaku mendadak pusing karena banyak sekali dugaan-dugaan yang memenuhi pikiranku. Mulai dari penyebab putusnya hubunganku dan Jujung karena Della, hingga Della yang memang sudah tahu rencana Jujung yang akan mengakhiri hubungan denganku. Ponselku bergetar. Langkahku terhenti tepat ketika Jujung menyadari bahwa aku ada di belakangnya. Aku tidak tahu pasti, tapi kuyakin saat ini Jujung sedang memperhatikanku karena aku belum juga mendengar langkah kakinya pergi. "Iya, Mas. Sudah. Ah, nggak usah. Aku jalan kaki aja sekalian kudu mampir ke beberapa tempat." Ketika aku menutup panggilan dari Mas Taeyoga yang menawarkan tumpangan, kulihat di depanku, rupanya memang benar bahwa Jujung sedang memperhatikanku bersama dengan Della. "Jujung," ucapku spontan ketika Jujung mulai melangkahkan kakinya pergi dari sana. Sekali lagi aku memanggil namanya, tetapi tidak ada jawaban. Barangkali memang suaraku yang sangat pelan karena aku sudah tidak lagi bertenaga atau memang Jujung yang berpura-pura tidak mendengarnya. "Risha, ayo pulang bareng!" Ah, Mas Taeyoga muncul dari belakangku. Entah mengapa untuk saat ini aku tidak suka kehadiran Mas Taeyoga. Mungkin saja jika Mas Taeyoga tidak memberiku roti bawang, pasti Jujung tidak akan memutuskan hubungan kami secara sepihak seperti ini. Ya, itu hanya berlaku jika penyebab berakhirnya hubungan kami adalah karena Mas Taeyoga, lain lagi jika semua ini ada hubungannya dengan Della. Dengan atau tanpa kehadiran Mas Taeyoga, mungkin saja Jujung akan tetap minta putus. "Ayo pulang bareng," katanya dengan senyum mengembang. Aku sudah lelah dengan semua ini. Pikiranku terlalu capek untuk pergi bersama orang lain atau bahkan aku sedang tidak mau berbicara dengan siapapun. Aku tidak menjawab ajakan Mas Taeyoga. Dia masih menatapku dengan binarnya. Tetapi, aku hanya memberinya balasan dengan tatapan jengah. Setelah itu, aku pergi begitu saja tanpa memedulikan Mas Taeyoga. Dalam hati, aku minta maaf, mungkin aku terlihat jahat dengan tidak menggubris ajakan Mas Taeyoga. Dalam hati juga, aku ingin sendirian tanpa gangguan dari siapapun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD