Northcliff menarik napas berulang kali dan mengembuskannya dengan perlahan sebelum dia kembali melongokan kepala untuk mengintip keluar. Dia melihat ketiga demon itu tengah menatap ke atas entah karena apa. Begitu Northcliff ikut menatap ke atas, dia melihat demon-demon yang beterbangan di udara seolah hendak kembali masuk ke dalam awan hitam di mana mereka keluar tadi. Mungkinkah mereka akan kembali ke tempat asal dan p'enyerangan mereka terhadap bumi sudah selesai? Entahlah, Northcliff tak tahu karena itu dia mencoba mencaritahu dengan memperhatikan ketiga demon itu dengan seksama.
Northcliff melebarkan mata saat menyaksikan ketiga demon itu kini melayang di udara, mereka terbang untuk berbaur bersama demon yang lain sebelum kembali masuk ke dalam awan hitam.
“North, apa yang terjadi?”
Merasakan tangannya ditarik oleh Courtney, juga suara wanita itu yang terus bertanya, Northcliff pun kembali mundur. “Mereka sudah pergi,” katanya.
Wajah Courtney berubah sumringah, “Benarkah? Mungkinkah sekarang kita sudah aman?”
Nortcliff menggeleng karena dia tak bisa memastikan kondisi sudah benar-benar aman meskipun dia melihat ketiga makhluk yang nyaris menangkapnya dan Courtney tadi kini sudah masuk kembali ke dalam awan hitam, tempat pertama kali mereka muncul.
“Aku rasa p'enyerangan mereka sudah selesai. Tadi aku melihat makhluk-makhluk itu masuk kembali ke dalam awan hitam.”
“Mungkinkah alasan makhluk-makhluk tadi pergi begitu saja dan mengurungkan niat untuk menangkap kita karena waktu mereka untuk menyerang sudah selesai?” tanya Courtney.
“Entahlah, bisa jadi memang demikian. Mungkin mereka memiliki waktu tertentu untuk melancarkan serangan.”
“Tapi kenapa mereka tiba-tiba menyerang padahal sebelumnya tidak pernah seperti ini? Dan lagi mereka itu makhluk apa? Rupa mereka seperti monster.”
Northcliff tak menjawab apa pun karena semua pertanyaan yang baru saja dilontarkan Courtney juga sejak tadi terngiang di benaknya.
“Apa pun makhluk itu sepertinya mereka datang ke bumi karena ingin menyerang manusia. Kita harus melihat kondisi di luar. Ayo pergi. Kurasa situasi sudah aman sekarang.”
Courtney mengangguk setuju karena dia juga sudah tidak tahan berlama-lama bersembunyi di sana, dia ingin segera mengetahui kondisi keluarganya.
Begitu Northcliff melangkah meninggalkan gua, Courtney mengikutinya. Mereka berjalan beriringan masih dengan kedua mata yang awas mengawasi sekitar, mengantisipasi semisal makhluk itu kembali muncul dan menyerang mereka.
“Awan hitam itu masih belum hilang,” kata Courtney karena begitu dia mendongak ke atas, awan hitam yang menghalangi langit memang masih melayang di tempatnya. Meskipun para demon mulai memasuki awan itu satu demi satu seolah misi mereka sudah selesai dan tiba saatnya mereka kembali ke tempat asal.
“Ya, kita harus bergegas. Ayo, lari.”
Bagai kerbau yang dicocok hidungnya, Courtney menuruti perintah Northcliff. Suatu keajaiban karena sebelumnya tak pernah terjadi hal seperti ini. Untuk pertama kalinya mereka terlihat akur dan berjuang bersama-sama. P'enyerangan para demon yang begitu tiba-tiba dan mendadak ini memberikan pengaruh tersendiri bagi hubungan Northcliff dan Courtney. Bagi mereka sekarang selamat adalah prioritas utama. Kebencian di hati masing-masing dikesampingkan untuk sementara.
Mereka terus berlari seolah tak mengenal kata lelah. Namun, begitu mereka tiba di pemukiman penduduk, mereka berdua hanya bisa menegang di tempat dengan kedua mata melebar karena melihat pemandangan yang begitu mengerikan terhampar di depan mata.
Tubuh manusia dalam jumlah tak bisa diprediksi dengan kata-kata, kini bergelimpangan di tanah. Kondisi mereka sangat mengenaskan karena terlihat seperti jasad yang telah lama mati padahal Northcliff dan Courtney yakin mereka baru saja tewas. Mungkinkah ini ulah para demon? Mereka tak tahu jawabannya karena tak melihat secara langsung apa yang sudah terjadi.
Kedua insan itu berjalan menghampiri para jasad. Courtney refleks membekap mulut begitu melihat betapa seram kondisi mereka. Tulang belulang yang masih terbungkus kulit itu terlihat begitu kering dan keriput. Kedua mata mereka melotot dengan mulut yang menganga menjadi pertanda betapa kesakitan dan tersiksa sebelum nyawa mereka dihisap secara paksa. Air mata Courtney yang sempat mengering kini kembali berjatuhan begitu menyadari salah satu dari jasad itu ada yang dia kenali. Gadis itu pun berjongkok tepat di samping jasad seorang ibu dan anak perempuannya yang sedang berpelukan.
“Kau mengenal mereka?” tanya Northcliff.
Courtney mengangguk, “Ya. Gadis kecil ini sering mondar-mandir di depan kastil. Aku sering memergokinya. Ketika aku bertanya, dia ternyata sedang kebingungan.”
Northcliff mulai antusias mendengarkan, “Kebingungan kenapa?”
“Ibunya sedang sakit. Mereka hanya tinggal berdua karena ayahnya dulu seorang Prajurit Guardian yang tewas di medan perang. Gadis kecil itu bingung harus mencari makanan di mana karena ibunya tak mampu bekerja lagi.”
Nothcliff menundukan kepala, merasa iba mendengar nasib gadis itu yang begitu menyedihkan. Terlebih setelah mengetahui ayahnya merupakan rekannya sebagai Prajurit Guardian.
“Aku kasihan padanya karena itu aku sering memberinya makanan. Semenjak itu hampir setiap hari dia datang ke kastil. Aku dan Kak Jenedith selalu memberinya makan. Aku terkadang berpikir ingin menemui ibunya karena aku ingin melihat kondisinya secara langsung. Siapa sangka sekarang aku bisa melihat ibunya, tapi …” Courtney tak melanjutkan tapi Northcliff bisa menebak apa yang ingin dikatakan gadis itu.
“Kasihan sekali mereka. Kenapa makhluk-makhluk itu begitu kejam? Kenapa mereka membunuh manusia seperti ini? Siapa sebenarnya mereka, North?”
“Itulah yang harus kita selidiki. Ini misteri yang harus kita ungkap kebenarannya termasuk mencari solusi untuk menyelesaikannya.” Northcliff menatap ke arah langit, pada awan hitam yang masih melayang di udara. “Firasatku mengatakan para monster itu kapan pun akan kembali muncul dan menyerang kita. Kita harus selalu waspada.”
Courtney bangkit berdiri, ikut menatap awan hitam yang dilihat dari luar pun memang sangat menyeramkan dan menguarkan aura yang sangat mampu membuat tubuh siapa pun yang melihatnya gemetaran karena dihantam rasa takut.
“Kita harus bagaimana sekarang, North?”
“Kau bilang ingin pulang ke rumah untuk memastikan kondisi keluargamu? Pulang saja. Seharusnya kondisi di sini sudah aman sekarang.”
“Lalu kau? Apa yang akan kau lakukan?” tanya Courtney, penasaran ingin mengetahui rencana Northcliff selanjutnya.
“Aku akan berkeliling sebentar. Ingin memastikan kekacauan apa saja yang sudah diciptakan makhluk itu.”
“Aku ikut denganmu.”
Northcliff tercengang mendengar ucapan Courtney, “Hah? Untuk apa kau ikut denganku?”
“Tentu saja karena aku juga ingin melihat kondisi setelah p'enyerangan makhluk itu tadi.”
Northcliff berdecak, “Tidak perlu. Kau pulang saja. Bukankah kau bilang di kastil lebih aman dibandingkan di luar?”
“Aku sudah terlanjur ada di sini. Jadi, aku ingin ikut memastikan kekacauan yang terjadi. Baru setelah itu aku akan pulang.”
“Wanita sepertimu lebih baik diam saja di kastil. Berlindung di tempat yang aman.”
Courtney memutar bola mata, “Jangan bicara seolah kau ini pria kuat dan pemberani ya. Kau ini Northcliff si Prajurit Guardian terlemah dan seorang pecundang. Jika kau saja yang payah bisa memeriksa keadaan sekitar, kenapa aku tidak boleh?”
“Kau ….” Northcliff kesal bukan main karena sifat Courtney yang menyebalkan kembali kambuh, tapi dia sadar bukan saat yang tepat untuk bertengkar dengan gadis itu karenanya dia memilih diam dan mengalah. “Baiklah, terserah kau. Tapi awas jika kau menyusahkanku.”
“Huh, padahal beberapa menit yang lalu kau dengan penuh percaya diri mengatakan akan melindungiku. Kenapa sekarang ucapanmu jadi berubah? Sudah kuduga, kau ini memang orang yang tidak bisa dipegang kata-katanya apalagi diandalkan.”
“Heh, jaga mulutmu itu. Jika bukan karena aku melindungimu tadi, mungkin kau sudah bernasib sama seperti jasad-jasad ini sekarang.”
Courtney mengabaikan ucapan Northcliff, dia berjalan untuk melakukan apa yang ingin dia lakukan yaitu memeriksa kondisi sekitar.
Langkah Courtney terhenti karena tangannya dicekal oleh Northcliff yang mengejarnya. “Hei, jangan pergi sendiri. Bagaimana kalau mereka masih ada? Kau tidak takut diserang oleh makhluk-makhluk itu?”
“Beberapa menit yang lalu ada seseorang yang mengatakan akan menjagaku jadi aku sedang mencoba membuktikannya,” jawab Courtney sembari memeletkan lidah untuk menyindir Northcliff. Pria itu menggeram tertahan, kesal bukan main tapi lagi-lagi dia menyadari tak ada gunanya bertengkar sehingga kini dia mengikuti ke mana pun gadis itu melangkah.
Mereka terus berjalan lurus, kedua mata mereka melebar sempurna karena melihat kerusakan yang mengerikan terjadi di mana-mana. Tanah terbelah sehingga menciptakan celah, mereka harus berhati-hati saat berjalan. Pohon-pohon tumbang sehingga tak ada satu pun yang masih berdiri kokoh.
“Bukankah di depan sana ada pemukiman penduduk?” tanya Northcliff, tak yakin karena suasana kota yang kacau dan porak poranda membuatnya kesulitan mengenali tempat yang biasanya terlihat asri dan terawat ini.
Courtney mengangguk, “Ya. Di sana ada pemukiman penduduk. Sangat ramai karena di sana banyak ditempati penduduk. Banyak rumah didirikan di sana.”
“Apa kau tidak melihatnya, Courtney?” tanya Northcliff seraya tangan kanannya bergerak untuk menunjuk sesuatu. “Lihat itu, sepertinya di sana ada api.”
Courtney mengikuti arah yang ditunjuk Northcliff, dan ya … dia pun melihat asap tebal melambung tinggi di udara. Udara di sekitar tempat itu berubah menjadi merah menyala pertanda api yang besar memang sedang berkobar di sana.
“Pasti ada kebakaran di sana. Aku yakin itu pemukiman penduduk.”
“Ayo, kita ke sana!”
Tanpa pikir panjang Northcliff berlari ke sana, diikuti Courtney di belakangnya.
Suasana pemukiman penduduk yang biasa ramai itu kini sunyi senyap. Itulah yang Northcliff dan Courtney temukan begitu tiba di sana. Kerusakan terjadi di mana-mana. Rumah-rumah penduduk, mereka temukan terbakar. Api begitu cepat melahap sehingga yang bisa dilakukan Northcliff dan Courtney hanya tercengang melihatnya.
Bukan hanya satu rumah saja yang terbakar, melainkan semua rumah yang ada di pemukiman tersebut. Hawa panas dari kobaran api serasa menyengat kulit. Northcliff dan Courtney tak bisa melanjutkan perjalanan padahal belum lama mereka meninggalkan tempat di mana banyak jasad bergelimpangan di jalan tadi. Bukan hanya itu, celah pada tanah yang retak terlihat di mana-mana, menjadi pertanda begitu banyak demon yang baru saja keluar dari perut bumi dan menyerang pemukiman tersebut sehingga porak poranda seperti ini.
“B-Bagaimana bisa hal seperti ini terjadi? Rumah-rumah penduduk terbakar. Mungkinkah makhluk-makhluk itu yang membakarnya?”
Northcliff sama sekali tak menanggapi karena fokus pria itu tertuju pada kondisi semua rumah yang sedang dilahap si jago merah yang berkobar besar.
“Bagaimana kondisi penduduk di sini? Mungkinkah mereka ikut terbakar?” Courtney yang mengatakan ini bahkan tak sanggup membayangkan jika benar semua orang yang menetap di pemukiman itu ikut terbakar bersama rumah mereka.
“Tolong! Tolong!”
“Tolong kami!”
“Northcliff dan Courtney saling berpandangan karena mereka yakin sama-sama mendengar suara teriakan meminta tolong dari dalam pemukiman yang terbakar. Mungkinkah masih ada orang yang hidup di sana?
“Kau mendengarnya, North? Itu teriakan meminta tolong.”
Tanpa merespons apa pun, Northcliff tak berpikir panjang langsung melesat melewati gapura yang merupakan pintu masuk ke pemukiman yang menguarkan hawa panas tersebut.
“North, tunggu aku!”
Courtney pun melakukan tindakan yang sama, mengabaikan panas yang begitu menyengat, dia ikut menyusul Northcliff memasuki pemukiman tersebut. Gadis itu terbelalak ketika melihat Northcliff sedang berusaha menolong beberapa orang yang rupanya memang terjebak di pemukiman tersebut. Terhitung ada delapan orang yang terjebak di sana, terdiri dari tiga remaja dan lima di antaranya merupakan orang dewasa yang semuanya wanita.
“Tolong kami. Di sini panas sekali,” ucap seorang wanita paruh baya yang keningnya berlumuran darah, mungkin karena terluka selama pelarian untuk menyelamatkan diri.
“Di mana penduduk yang lain?” tanya Northcliff seraya menggulirkan mata ke sekeliling, berharap masih ada penduduk yang dia temukan dalam keadaan masih bernapas seperti orang-orang ini.
“Mereka semua sudah tewas ditangkap makhluk itu. Mereka dibunuh. Ada juga yang dibakar hidup-hidup.”
“Kejam sekali,” sahut Courtney dengan kedua mata yang kembali meneteskan air mata karena tak sanggup membayangkan penderitaan yang dirasakan penduduk di pemukiman itu selama p'enyerangan para demon terjadi. Di saat dia dan Northcliff bersembunyi di gua yang aman, mereka justru sedang mati-matian menyelamatkan diri di tempat ini.
“Ayo, kalian ikut dengan kami. Kami akan membawa kalian ke tempat yang aman.”
Northcliff dengan penuh semangat yang mengajak. Orang-orang itu menanggapi dengan antusias, terlihat lega karena bantuan akhirnya datang. Courtney pun tak tinggal diam, dia memapah seorang remaja yang kakinya terluka. Sedangkan Northcliff menggendong sang ibu yang terluka parah di bagian kening tadi.
“Kalian semua ikuti kami. Kita harus keluar sebelum api melahap habis tempat ini. Larilah secepat mungkin!”
Northcliff memberikan komando, dia lantas berjalan cepat, tak terlihat kesulitan meskipun tengah menggendong orang lain. Semua orang menurut, mereka berlarian mengikuti langkah Northcliff yang cepat dan lebar. Courtney berjalan di barisan paling belakang, masih berusaha membantu si remaja yang kakinya terluka agar bisa meninggalkan tempat itu.
Aaaaaaakkhhh!!
Suara teriakan mengalun begitu atap salah satu rumah jatuh ke bawah dalam kondisi terbakar api dan nyaris mengenai mereka. Hanya tinggal beberapa inci saja maka mereka akan tertimpa atap yang jatuh tersebut, beruntung mereka masih selamat.
“Ayo, cepat. Jangan berhenti. Tempat ini akan segera terbakar habis!”
Northcliff kembali meneriakan komando pada orang-orang yang berhenti berlari karena terkejut dengan insiden yang nyaris merenggut nyawa mereka barusan. Mereka kembali menurut, kini melanjutkan berlari untuk mengikuti Northcliff.
Setibanya di pintu keluar pemukiman, laju mereka terhenti. Gapura terlihat mulai terbakar. Api berkobar sangat besar membuat mereka kini terjebak karena tak bisa melewati satu-satunya pintu yang ada di pemukiman tersebut.
“Bagaimana ini? Pintunya tertutup api. Kita tidak bisa lewat.” Seorang gadis remaja menggumamkan keputusasaannya. Dia terlihat ketakutan karena posisi mereka kini terkepung api dari segala arah dan penjuru.
Northcliff mengedarkan mata, mencari benda apa pun yang bisa digunakan untuk melindungi mereka dari kobaran api yang menghalangi jalan. Saat dia menemukan sebuah sumur tak jauh dari tempat mereka berada, dia merasa mendapatkan sebuah ide bagus.
“Kita ke sumur itu.”
Northcliff berlari menghampiri sumur setelah memberikan instruksi yang tentunya langsung dituruti semua orang. Begitu tiba di dekat sumur itu, Northcliff menimba airnya. Kemudian dia mengguyur tubuhnya dengan air yang dia timba dengan menggunakan ember.
“Maaf, aku harus menyiram kalian dengan air. Jika tubuh kalian basah, kita bisa menerobos api.”
“Hah? Menerobos api kau bilang?” tanya Courtney yang terkejut dengan rencana nekat Northcliff.
“Ya. Tidak ada pilihan lain. Hanya itu satu-satunya cara agar kita selamat. Kita harus menerobos api itu selagi masih sempat.”
“T-Tapi …”
“Bukan saatnya untuk ragu. Kita tetap harus mencobanya.”
Courtney tahu yang dikatakan Northcliff memang benar sehingga dia memilih mengikuti cara pria itu. Dia pun melangkah maju, “Baiklah, cepat siram aku,” pintanya.
Northcliff bergegas menuruti, dia kembali menimba air dan menyiramkannya pada Courtney. Semua orang kini mengikuti cara mereka berdua, meminta agar tubuh mereka pun disiram dengan air hingga basah kuyup.
“Sekarang kita lari menerobos api itu. Kalian harus berani. Harus yakin kita pasti akan selamat.”
Sekali lagi Northcliff memberikan instruksi sekaligus semangat pada semua orang agar memberanikan diri untuk menerobos api. Pria itu kembali menggendong si ibu yang terlihat lemas karena darah yang keluar dari luka di keningnya tak kunjung berhenti.
Dia yang menjadi orang pertama yang berlari menerobos api. Meski dalam hati merasakan takut yang luar biasa, dia memilih nekat karena tak ingin mati sia-sia dengan ikut terbakar di dalam pemukiman itu.
Melihat tindakan Northcliff, satu demi satu para wanita itu pun mengikuti. Mereka berlari dengan menerobos kobaran api yang melahap gapura. Mereka memekik riang begitu berhasil selamat meski ada beberapa yang sempat terkena api di bagian rambut maupun kulit. Bukan luka yang serius karena yang terpenting mereka berhasil bertahan hidup.
“Kalian semua baik-baik saja?” tanya Northcliff, memastikan.
“Kami baik-baik saja, Anak Muda. Terima kasih atas bantuannya.” Yang menyahuti adalah si ibu yang digendong Northcliff, dia tak mengalami luka apa pun karena Northcliff berlari secepat yang dia bisa sehingga api tak mengenai tubuhnya maupun tubuh si ibu yang dia gendong.
“Syukurlah kalau begitu. Setelah ini aku akan membawa kalian ke tempat yang aman. Untuk sementara aku akan membawa kalian ke camp Prajurit Guardian. Atau mungkin kalian bisa mengungsi di Kastil Kaum Paladin. Courtney, bagaimana menurutmu?”
Northcliff menoleh ke belakang, pada sosok Courtney yang dia yakini sedang berdiri di barisan paling belakang.
“North.”
Namun, yang ditemukan oleh Northcliff adalah sesosok demon yang tiba-tiba keluar dari celah tanah yang terbelah dan kini tengah mencengkeram tubuh Courtney dari belakang. Demon itu kembali masuk ke celah tanah bersama dengan Courtney yang dia tarik agar ikut bersamanya.
Northcliff yang syok sempat menegang di tempat melihat tubuh Courtney yang sedikit demi sedikit mulai tertarik ke dalam celah tanah. Northcliff berlari untuk menyelamatkan Courtney, berusaha menangkap tangan gadis itu tapi percuma karena dia kalah cepat dengan sang demon. Kini tubuh Courtney ikut lenyap bersama demon yang menculiknya.
“Courtney!!!”
Hanya teriakan Northcliff yang terdengar mengalun penuh ketakutan dan putus asa karena telah gagal menepati janjinya untuk melindungi Courtney.