CHAPTER 9 PRIA YANG SELALU MENEPATI JANJI

2220 Words
Suara tamparan itu mengalun kencang di sebuah ruangan luas yang lima orang sedang berada di sana. Northcliff menundukan kepala, walau rasa panas pada sebelah pipinya akibat tamparan keras dari Maksimus terasa begitu menyakitkan, dia mencoba diam. Ini karena Nortchliff menyadari kesalahannya dan memang pantas mendapat tamparan itu. Bahkan mungkin sebuah tamparan terlalu ringan untuknya.  “Kenapa kau tidak melindungi, Courtney? Kanapa kau tidak menolongnya, Northcliff?!” Suara bentakan yang mengalun dari mulut Maksimus sudah yang kesekian kalinya terdengar. Sang pemimpin Kaum Paladin tengah mengungkapkan kemarahan karena putri kesayangannya dikabarkan telah dibawa pergi oleh monster yang tiba-tiba menyerang bumi. Tak ada yang tahu bagaimana keadaan Courtney sekarang bahkan si pembawa berita buruk yang tidak lain merupakan Northcliff pun tak tahu menahu kondisi Courtney saat ini. Gadis itu hilang tertelan tanah sama halnya dengan demon yang menculiknya.  “Padahal kau sedang bersamanya. Apa karena sebegitu bencinya kau pada Courtney sampai kau tidak mempedulikannya?” Maksimus kembali melakukan tindakan ekstrim, kali ini dia mencengkeram kerah pakaian yang dikenakan Northcliff begitu erat.  Jenedith merasa dia tak bisa tinggal diam melihat sang ayah melampiaskan amarahnya pada Northcliff yang dia yakini sama sekali tidak bersalah dalam hal ini. Dia melepaskan diri dari pelukan ibunya yang sejak tadi menangis semenjak mendengar kabar yang dibawa Northcliff bahwa Courtney telah diculik. Gadis itu lalu berjalan menghampiri dua pria yang masih bersitegang tersebut. Berdiri di antara mereka berdua hanya karena dia ingin mencoba melerai keduanya. Tujuan utama gadis itu adalah mencoba menenangkan ayahnya yang sedang tersulut emosi.  “Ayah, lepaskan Northcliff. Ayah tidak bisa menghakiminya seperti ini.”  Maksimus mendelik tajam pada putri sulungnya, terlihat semakin kesal karena Jenedith membela pria yang menurutnya bertanggung jawab atas p'enculikan Courtney.  “Dia memang sudah seharusnya diperlakukan seperti ini, Jene. Bahkan seharusnya kita membunuhnya. Ini hukuman setimpal untuknya yang menyebabkan adikmu diculik. Entah bagaimana nasib adikmu sekarang. Melihat kondisi jasad yang mengenaskan setelah dibunuh makhluk-makhluk itu. Courtney juga mungkin sudah ….” Maksimus tak sanggup melanjutkan ucapannya karena membayangkan putrinya bernasib sama seperti orang lain yang mati mengenaskan di tangan para demon, sungguh dia tak tega. Kepalanya tertunduk untuk menyembunyikan kesedihan yang sedang dia rasa.  “Courtney pasti baik-baik saja.”  Pria yang sejak tadi terdiam dan tak melawan sama sekali setiap Maksimus memperlakukannya dengan kasar, kini akhirnya mengeluarkan suara. Dengan wajah yang menyiratkan keseriusan yang kentara, Northcliff tanpa gentar menatap wajah Maksimus.  Rupanya perkataan Northcliff semakin menyulut emosi Maksimus terbukti dari cengkeramannya yang semakin erat pada kerah pakaian Northcliff. “Dari mana kau memiliki kepercayaan diri sebesar itu, hah? Kau pasti melihatnya sendiri, jasad orang-orang yang mereka bunuh dengan amat sadis. Lalu putriku, mungkin dia juga bernasib sama seperti mereka dan semua ini bisa terjadi karena salahmu. Kau hanya mementingkan diri sendiri dan melupakan keberadaan putriku. Aku tahu kalian tidak akur, tapi aku tidak menyangka kau setega ini pada Courtney.”  “Anda salah, Paman. Aku sudah berusaha untuk menyelamatkan Courtney. Walaupun aku tahu di sini aku yang paling bersalah karena sempat mengabaikan Courtney. Tapi aku juga sangat yakin Courtney pasti baik-baik saja. Di dalam sini …” Northcliff memegang d@da kiri, “… aku bisa merasakan firasat dia masih hidup. Aku berjanji akan menebus kesalahanku ini, Paman. Aku pasti akan membawanya Courtney kembali kepada kalian.”  Semua orang tercengang mendengar penuturan Northcliff, terdengar begitu meyakinkan sekaligus mustahil. Bagaimana bisa pria itu menyelamatkan Courtney yang bahkan mereka tak tahu makhluk apa yang telah menculiknya tersebut?  Maksimus mendengus sebagai bentuk cemoohan, “Memangnya kau pikir tahu cara untuk menyelamatkannya? Kau tahu di mana dia berada sekarang?” “Sekarang aku memang belum tahu. Tapi aku akan mencarinya sampai ketemu. Aku tidak akan berhenti mencari sampai aku mendapatkan kabar tentangnya dan aku berjanji akan membawanya kembali kepadamu, Paman.” “Semua orang tahu kau ini Prajurit Guardian paling lemah dan tak bisa diandalkan. Jangan menjanjikan sesuatu yang tak akan pernah bisa kau tepati. Apa kau paham? Jangan menjanjikan sesuatu yang membuat kami berharap padahal kami tahu orang sepertimu mustahil bisa menyelamatkan putriku.” “Bagaimana kalau kita bertaruh?”  Maksimus tertegun mendengar tantangan yang diberikan Northcliff.  “Jika aku berhasil membawa Courtney kembali, aku minta Paman mengubah penilaian Paman padaku. Aku bukan pria lemah.” “Jika kau gagal menyelamatkannya?” tanya Maksimus, dengan cepat memotong ucapan Northcliff. “Maka silakan Paman melakukan apa pun padaku, sekalipun Paman ingin membunuhku. Aku tidak akan melawan dan aku siap mati di tanganmu, Paman.”  Cengkeraman tangan Maksimus pada kerah pakaian Northcliff mengendur hingga akhirnya terlepas. Pria itu melihat keseriusan dalam sorot mata Northcliff. Dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya.  “Aku pasti akan menemukan Courtney dan menyelamatkannya bagaimanapun caranya. Ini adalah janjiku, Paman. Bukan pada Paman saja …” Tatapan Northcliff mengedar ke sekeliling, dia menatap wajah Jenedith yang masih berdiri di dekatnya dan Maksimus. Lalu menatap pada Romulus yang hanya berdiri menyimak pembicaraan, terakhir pada istri Maksimus yang sejak tadi tiada henti meneteskan air mata karena memikirkan keselamatan putrinya.  “… tapi aku berjanji pada kalian semua yang ada di sini. Aku akan mempertaruhkan nyawa demi bisa membawa Courtney kembali. Aku tidak akan berhenti mencari sampai berhasil menemukannya.” Keraguan di wajah Maksimus perlahan pudar, melihat sorot mata Northcliff yang begitu serius, dia merasa telah mendapatkan sebuah harapan baru. Ya, dia akan mencoba mempercayai Northcliff. Dia harus mendukung dan percaya pria itu akan berhasil menemukan putrinya.  “Baiklah, aku pegang kata-katamu. Kau harus membawa putriku kembali. Tapi sesuai taruhan kita tadi, jika kau gagal maka bersiaplah …” Maksimus mengepalkan tangan dan mengarahkannya tepat di depan wajah Northcliff. “… karena dengan tangan ini aku akan membunuhmu.”  Northcliff mengangguk dengan tegas, dia menyetujui kesepakatan mereka. Pria itu lalu melenggang pergi tanpa mengatakan apa pun lagi. Sebuah tekad besar kini tengah berkobar di dalam hati dan dia akan melakukan apa pun untuk menepati janjinya tersebut.  Langkah Northcliff semakin cepat meninggalkan kastil megah Kaum Paladin.  “Northcliff!”  Namun, saat suara teriakan yang memanggilnya itu tertangkap indera pendengarannya, Nortchliff seketika menghentikan langkah. Dia berbalik badan, menghadap pada Jenedith yang berdiri dengan disertai napas yang terengah-engah.  “Sama sepertimu, aku juga bisa merasakan Courtney masih hidup,” kata Jenedith. Northcliff sama sekali tak berkomentar, dia hanya terdiam mendengarkan apa pun yang ingin dikatakan gadis itu.  “Courtney bukan gadis yang lemah. Dia pasti melakukan sesuatu untuk menyelamatkan diri. Aku percaya dia baik-baik saja. Karena itu … karena itu …”  Jenedith menangkupkan kedua tangannya di depan d@da, dengan wajah cantiknya yang berlinang air mata dia mengutarakan permohonannya. “… karena itu tolong selamatkan dia. Bawa dia kembali. Aku percaya padamu, North.”  Karena Northcliff hanya terdiam tanpa mengatakan sepatah kata pun, Jenedith berjalan semakin mendekat untuk mengikis jarak di antara mereka. “Courtney sebenarnya peduli padamu. Mungkin untuk menarik perhatianmu karena itu dia selalu mencari gara-gara padamu sehingga kalian selalu bertengkar sejak masih anak-anak.”  Northcliff mendengus, “Aku berniat menyelamatkannya bukan karena dia itu kenalan apalagi musuhku. Tapi karena aku merasa menyelamatkannya sudah menjadi tanggung jawabku. Lagi pula, aku sudah berjanji pada Courtney akan selalu menjaganya. Aku hanya berusaha untuk menepati janjiku padanya.”  Jenedith mengulas senyum, “Terima kasih, North. Aku akan selalu mendoakanmu di sini. Aku percaya kau pasti akan berhasil.”  Northcliff sedikit menganggukan kepala, “Terima kasih,” sahutnya, sebelum kedua kakinya kembali bergerak untuk melanjutkan langkahnya yang tertunda.  ***  Suasana penuh duka tengah menyelimuti semua orang yang berada di area pemakaman tersebut. Semua Prajurit Guardian tengah memasang posisi penghormatan dengan berlutut sembari menopang kedua tangan pada pedang yang ditancapkan ke tanah. Kepala mereka semua tertunduk dengan disertai raut duka yang begitu kentara. Semua Prajurit Guardian yang berjumlah ribuan itu dalam posisi yang sama, membuat pemandangan di tempat itu terlihat begitu mengharukan sekaligus menakjubkan. Ini bukti seseorang yang sedang dimakamkan merupakan orang yang penting dan sangat berpengaruh bagi seluruh Prajurit Guardian.  Suara isak tangis terdengar dari orang-orang yang berdiri paling dekat dengan gundukan tanah, mereka adalah pihak keluarga dari sang prajurit yang telah gugur dalam misi menyelamatkan istana dari serangan para demon yang tiba-tiba bermunculan.  Berdiri di barisan paling depan adalah Labhrainn bersama kedua putranya, Therion dan Northcliff. Tatapan ketiga orang itu terlihat sendu, tertuju pada gundukan tanah yang merupakan makam dari anggota keluarga mereka, Leicester.  Jika membahas siapa yang paling berduka atas tewasnya Leicester karena dia menjadi salah satu korban keganasan para demon … tidak lain merupakan ayahnya, Labhrainn. Sang pemimpin Prajurit Guardian yang selalu tegas, gagah dan berwibawa itu kini terlihat begitu murung dan sedih. Sesuatu yang wajar mengingat dia baru saja kehilangan putra kebanggaannya. Sang putra sulung yang dia gadang-gadang akan menggantikan dirinya memegang tampuk kekuasaan di masa depan. Namun, harapan besar yang dia simpan di pundak sang putra kini seolah luruh, runtuh dan hancur berkeping-keping. Leicester tewas secara mengenaskan dengan kondisi tubuh yang menyedihkan untuk dipandang. Sama halnya dengan korban lain keganasan para demon, kondisi jasad Leicester pun sama tragisnya dengan mereka.  Sekarang Labhrainn kehilangan harapan. Pemikirannya untuk beristirahat dan berhenti menjadi pemimpin Prajurit Guardian mau tak mau harus dia urungkan karena kepergian sang pewaris kekuasaan. Kendati dia masih memiliki dua putra. Namun, di mata Labhrainn, tak ada yang pantas menyandang gelar sebagai penerusnya selain Leicester. Kedua putranya yang lain belum pantas, bahkan Northcliff menurutnya sangat tidak layak menerima gelar tersebut.  Labhrainn menarik pedang yang tersampir di pinggangnya. Itu pedang kebanggaan Leicester setiap kali bertarung di medan perang. Bahkan saat ditemukan, jasadnya tengah memegang pedang tersebut membuktikan dia tewas dengan cara terhormat karena sedang menjalankan tugasnya sebagai pelindung kerajaan.  Labhrainn mengangkat tinggi pedang itu sebelum dia tancapkan tepat di bagian kepala gundukan makam. Itu sebagai bentuk penghormatan terakhir pada sang putra yang kini telah dinobatkan sebagai pahlawan kerajaan.  Satu demi satu orang-orang yang berkumpul di sana mulai melangkah pergi. Semua ritual pemakaman telah dilaksanakan. Tiba saatnya untuk kembali menjalankan tugas yaitu memakamkan jasad yang tak terhitung jumlahnya akibat serangan demon di wilayah kerajaan mereka.  Meskipun dalam kondisi tengah luar biasa berduka, Labhrainn tahu bukan saatnya untuk terpuruk karena masih banyak tugas yang menantinya. Dia seorang pemimpin. Dia harus menjadi contoh dan panutan untuk semua bawahannya.  Untuk terakhir kalinya, Labhrainn menatap makam sang putra. Lantas dia pun berbalik badan, menatap kedua putranya yang berdiri di sampingnya. Tatapan Labhrainn kini tertuju sepenuhnya pada Therion. “Ikut denganku,” katanya, mengajak putra keduanya itu untuk pergi bersamanya.  Sedangkan Northcliff sama sekali tak dia anggap seolah putra ketiganya itu sama sekali tak terlihat olehnya. Northcliff hanya menghela napas panjang, sudah terbiasa diperlakukan seperti itu oleh sang ayah yang kecewa padanya.  Northcliff sendiri sadar sangat wajar sang ayah bersikap seperti itu karena dibandingkan kedua kakaknya, Northcliff memang tak memiliki kemampuan apa pun. Selain dianggap lemah oleh semua orang, ayahnya pun secara terang-terangan selalu memperlihatkan kekecewaannya pada Northcliff.  Northcliff berjalan menghampiri makam sang kakak, dia berjongkok dan mengusap tanah itu. “Kak, beristirahatlah dengan tenang. Mulai sekarang serahkan semuanya pada kami. Aku berjanji akan membalaskan kematianmu. Kau tahu aku tidak pernah mengingkari janjiku, bukan?”  Setetes air mata meluncur dari salah satu mata Northcliff. Walau dia berusaha tegar menerima kepergian salah satu orang terdekatnya, rupanya dia tetaplah manusia biasa yang gagal membendung kesedihannya. Di dalam camp Prajurit Guardian, selain sang ibu, Leicester-lah yang selalu memperlakukan Nortcliff dengan baik. Layaknya seorang kakak yang selalu memberikan nasihat dan membelanya dikala ayah mereka menghukum Northcliff karena keonaran yang dia buat.  Kini Northcliff merasa kehilangan sosok kakak yang begitu dia kagumi sekaligus dia sayangi. Tekad Northcliff semakin kuat dia rasakan karena ada tiga alasan kenapa dia harus berjuang melawan para demon. Pertama, karena mereka telah lancang membunuh kakaknya. Kedua, demi bumi agar kembali damai seperti sebelum kedatangan mereka, Northcliff akan membasmi mereka semua dan menyelamatkan seluruh umat manusia. Sedangkan alasan terakhir demi gadis itu … ya, demi janjinya pada Kaum Paladin untuk membawa kembali Courtney yang telah mereka culik.  Northcliff bangkit berdiri, dia berbalik badan dan menemukan hanya Aezar yang masih berada di area pemakaman sepertinya.  “Kenapa kau tidak pergi bersama ayah?” tanya Northcliff heran melihat Aezar masih berdiri di tempat padahal Prajurit Guardian yang lain telah pergi mengikuti Labhrainn dan Therion.  “Aku belum siap mengucapkan selamat tinggal pada sahabatku. Butuh sedikit waktu lagi, biarkan aku tetap di sini.”  Northcliff tahu sosok Leicester selain dikagumi dan dihormati, juga begitu disayangi semua orang. Itu karena pria itu begitu baik dan tidak pernah membeda-bedakan dalam hal bergaul meskipun dia calon pemimpin selanjutnya.  Northcliff melangkah mendekati Aezar, dia baru berhenti ketika kini berhadap-hadapan dengan mentornya tersebut.  “Aezar, boleh aku memohon sesuatu padamu?”  Tatapan Aezar yang sejak tadi tertuju pada makam Leicester, kini beralih pada wajah Northcliff. Muridnya yang menyebalkan karena selalu berhasil melarikan diri darinya.  “Memohon apa? Jika kau ingin meminta izin untuk bermalas-malasan seperti biasa, aku tidak peduli lagi. Kau bebas melakukan apa pun yang kau inginkan karena aku mulai lelah menghadapimu, North.”  Northcliff mendengus pelan, jika dulu dia akan senang mendengar sang mentor sudah menyerah menghadapinya, tidak dengan kali ini. Dia justru berpikir … sudah keterlaluankah dia sampai mentornya sekalipun menyerah menghadapinya? Dia kini menyesali semua tindakan bodoh yang pernah dia lakukan juga waktu yang sudah dia buang dengan percuma karena melakukan tindakan yang tidak penting.  “Aku mohon padamu … tolong ajari aku semua bela diri yang kau kuasai. Jadikan aku sekuat dirimu, Aezar. Tolong latih aku agar menjadi kuat.”  Aezar terbelalak, luar biasa terkejut karena Northcliff yang selalu bermalas-malasan dan menjalani hidupnya dengan begitu santai itu kini berubah menjadi sosok pria yang penuh tekad karena ingin berubah menjadi kuat. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD