Suara nyaring berasal dari bilah pedang dan besi yang saling beradu menjadi satu-satunya suara yang terdengar di padang rumput yang kini telah berubah menjadi porak poranda, kendati demikian kedua orang itu tetap memilih tempat tersebut sebagai tempat untuk mereka berlatih.
Bukan tanpa alasan mereka memilihnya, melainkan karena di tempat itu masih terdapat sumur yang bisa mereka minum airnya jika kehausan selepas lelah berlatih. Meskipun tempat ini nyaris hancur akibat serangan para demon beberapa hari yang lalu sehingga padang rumput terkikis habis dan digantikan oleh tanah yang retak. Pohon-pohon yang menjulang tinggi dan berdaun lebat yang bisa memberikan kesejukan pun sudah tak ada karena semuanya tumbang. Tetapi satu-satunya sumur yang pernah didirikan di sana, masih tetap berdiri kokoh. Airnya tetap penuh, jernih dan segar ketika diminum.
Kembali pada pertarungan yang sedang terjadi antara dua pria itu yang tidak lain merupakan Northcliff dan mentornya, Aezar. Aezar mengabulkan permohonan Northcliff, walau sebenarnya memang hal inilah yang selama ini dia harapkan yaitu mengajari Northcliff bela diri dan cara bertarung dengan pedang seperti yang diperintahkan Labhrainn padanya. Jika biasanya dia harus mati-matian membujuk Northcliff agar mau berlatih, Aezar bersyukur karena pria itu sudah sadar sehingga kini dia yang memohon untuk diajari. Sehingga itulah yang sedang mereka lakukan sekarang, sedang berlatih untuk memperkuat kemampuan bela diri Northcliff.
“Arrrggh … Uh!”
Northcliff memekik sakit saat tendangan kaki kanan Aezar tepat mengenai perutnya. Dia meringis seraya memegangi perutnya yang terasa berdenyut nyeri karena Aezar menendangnya dengan mengerahkan seluruh tenaga, sama sekali tak mengurangi tenaga meskipun mereka hanya sedang berlatih.
“Apa hanya sampai di sini saja kemampuanmu, North? Sejak tadi seranganmu selalu meleset dan tidak beraturan. Mudah sekali bagiku untuk menghindari atau menepisnya. Gerakan kakimu juga sangat lambat, kau selalu gagal menghindari seranganku.” Aezar berkomentar, mengutarakan berbagai kelemahan selama dua hari ini dia mengajari Northcliff bela diri. Menurutnya belum ada kemajuan apa pun, sungguh miris mengingat dia sudah mengajari pria itu bela diri sejak usianya baru 10 tahun. Hei, mengingat usia Northcliff sekarang menginjak 20 tahun, bukankah ini artinya sudah 10 tahun lamanya dia mengajari pria itu bela diri? Inikah hasilnya? Kemampuan Northcliff begitu payah seolah semua yang pernah diajarkan Aezar tak pernah dia perhatikan sejak awal.
“North, aku benar-benar kecewa padamu. Aku merasa selama ini sia-sia saja mengajarimu. Semua gerakan yang pernah aku ajarkan dulu tidak ada satu pun yang kau ingat. Apa selama ini kau memang tidak pernah memperhatikan saat aku mengajarimu?”
Northcliff tak mengatakan apa pun, napas pria itu masih terengah-engah dengan wajah meringis karena masih merasakan sakit pada perutnya yang sedang dia pegang.
“Kau ini tidak pernah memperhatikan atau pada dasarnya kau sangat bodoh, North?”
“Tutup mulutmu,” balas Northcliff, mulai jengkel karena pria yang berdiri beberapa meter di depannya itu terus saja mengoceh dan semua yang dia katakan tidak jauh-jauh dari ejekan dan hinaan yang membuat Northcliff tersinggung.
“Tapi yang aku katakan ini kebenaran. Padahal aku sudah mengajarimu bela diri dan ilmu berpedang sejak kau masih berusia 10 tahun. Jika dihitung sudah 10 tahun aku mengajarimu tapi tidak ada satu pun yang kau kuasai. Ini apa namanya jika bukan karena kau bodoh atau payah?”
Northcliff menggeram kesal, tangannya yang sejak tadi memegang perutnya kini kembali memegang besi yang dia jadikan senjata untuk melawan pedang Aezar. Ini semua terjadi karena Northcliff sama sekali tidak memiliki pedang setelah pedang pemberian ayahnya patah karena kecerobohannya.
“Aku jadi ragu apa kau ini bisa kuat. Aku merasa kau memang tidak berbakat menjadi seorang petarung apalagi prajurit, North. Mungkin seharusnya kau terlahir sebagai r'akyat j'elata bukan sebagai Prajurit Guardian. Kurasa ini kesalahan kau dilahirkan di camp Prajurit Guardian, terlebih kau ini putra Labhrainn yang perkasa dan terhormat.”
“Ck, sudah kubilang tutup mulutmu. Apa kau tidak mengerti bahasaku? Jangan bicara sembarangan. Aku ini tidak payah ataupun bodoh. Akan kubuktikan kalau aku memang dilahirkan untuk menjadi prajurit yang hebat.”
Setelah beujar demikian dengan penuh percaya diri, Northcliff berlari ke depan, berniat melancarkan serangan pada Aezar. Melihat hal itu Aezar menyeringai, rupanya dia berhasil menyulut emosi sang murid karena dia ingin latihan mereka lebih serius dari sebelumnya.
“Tunjukan padaku kemampuanmu yang sebenarnya, North. Jangan membuatku malu sebagai gurumu.”
Northcliff tak mempedulikan lagi apa pun yang dikatakan Aezar, dia mengayunkan besi berukuran panjang menyerupai pedang di tangannya tepat ke arah Aezar. Namun, tentu saja Aezar tak tinggal diam. Dia balas mengayunkan pedangnya untuk menahan serangan Northcliff. Suara benturan bilah pedang dan besi pun untuk kesekian kalinya kembali terdengar nyaring.
Northcliff kali ini tak ingin dikalahkan begitu saja, dengan mengerahkan tenaga yang dia miliki, dia menekan besi sehingga pedang Aezar terdorong hingga nyaris mengenai lehernya.
“Aku sama sekali tidak lemah!” teriak Northcliff menyuarakan semangat bertarungnya yang sedang membara.
Sayang, Northcliff yang ceroboh melakukan kesalahan fatal dengan tidak memperhatikan sekitar. Terlalu fokus berusaha menekan pedang Aezar, dia tak sadar ketika sang lawan menggunakan kaki untuk menyikut perutnya dengan lutut.
Dughh!
“Uh!” Suara rintihan Northcliff mengalun. Masih di posisi yang sama yaitu perutnya, dia kembali terkena serangan Aezar. Berbeda dengan tadi di mana Northcliff langsung berhenti menyerang karena terkena serangan Aezar, kali ini dia tak berhenti berjuang menekan sang lawan sampai terdesak.
Bayangan saat para demon bermunculan dari awan hitam dan celah tanah kembali terngiang di kepalanya. Jasad manusia yang bergelimpangan di tanah layaknya ranting pohon yang kering, gundukan tanah yang merupakan makam kakaknya pun ikut terlintas. Puncaknya saat bayangan Courtney yang meronta meminta pertolongannya sebelum dibawa pergi oleh salah satu demon yang menculiknya menjadi pemicu amarahnya kini meluap-luap. Sebuah amarah yang membuat tenaganya berkali lipat keluar.
Aezar terbelalak merasakan tenaga Northcliff terasa lebih kuat dibanding sebelumnya, dia bahkan kesulitan untuk mengimbangi. Bilah pedangnya semakin tertekan oleh dorongan besi di tangan Northcliff hingga nyaris mengenai lehernya. Aezar menyadari jika dia tak cepat-cepat melakukan perlawanan yang serius maka dia akan berakhir dengan mengalami kekalahan.
Aezar pun mendorong paha Northcliff dengan salah satu kakinya sebelum dia melompat mundur. Karena dorongan kaki Aezar yang sangat kuat, Northcliff terdorong beberapa langkah ke belakang tapi sama sekali tidak menyurutkan semangatnya untuk kembali menyerang. Dia kembali menerjang maju bahkan sebelum Aezar sempat memasang kuda-kuda untuk bersiap menghadapi serangan Northcliff selanjutnya.
Gerakan tangan Northciff yang mengayunkan besi terlihat lebih akurat dan terarah, tidak sembarangan seperti sebelumnya. Aezar tahu Northcliff cepat mencerna apa yang dia ajarkan, hanya saja selama ini pria itu malas dan tak tertarik mempelajari bela diri sehingga dengan sengaja tak mengingat semua gerakan yang pernah dia ajarkan. Tetapi sekarang Northcliff menunjukan keseriusannya, terlihat dari dia yang dalam waktu relatif singkat berhasil belajar dari kesalahan dan mencoba memperbaikinya.
Tidak hanya mengayunkan besi yang menjadi senjata utama, Northcliff pun menyerang dengan memanfaatkan tangan maupun kakinya. Memukul dan menendang Aezar dengan gerakan cepat, yang sayangnya masih bisa dihindari oleh Aezar yang tentu saja lebih cepat darinya. Kendati demikian, Aezar mengakui kemampuan bela diri Northcliff mengalami kemajuan yang pesat hanya selama dua hari mereka memulai latihan berat ini.
Northcliff melayangkan tinjunya yang terarah pada wajah Aezar, Aezar yang menyadarinya bergegas memiringkan kepala untuk menghindar, pria itu pun membalas dengan memukul balik wajah Northcliff, meninggalkan luka memar di wajah tampan pria itu.
Northcliff tak menunjukan dirinya kesakitan karena terkena serangan itu, kini dia kembali menyerang balik dengan kakinya yang diarahkan ke perut Aezar. Akan tetapi, untuk kesekian kalinya gerakannya dapat dibaca dengan tepat oleh Aezar. Pria itu melompat ke belakang, dengan cepat menangkap kaki Northcliff yang terangkat ke arahnya, dia memelintir kaki itu sehingga Northcliff pun terpelanting dan mendarat ke tanah dengan posisi punggung yang mendarat sangat keras menabrak tanah.
Nortchliff tak mengeluh meskipun serangannya gagal untuk kesekian kalinya, dia kembali bangkit berdiri. Seolah tak mengenal kata lelah, dia menyerang Aezar secara bertubi-tubi membuat Aezar harus dengan susah payah menepis dan menghindari serangan muridnya tersebut.
Aezar tengah fokus pada gerakan tangan dan kaki Northcliff yang tak mengenal kata menyerah terus berusaha mengenai bagian tubuhnya yang terjangkau oleh pria itu. Terlalu fokus menghindari serangan tangan kosong Northcliff, Aezar terkejut bukan main saat tanpa diduga Northcliff berniat menusukkan ujung senjatanya ke arah perutnya. Spontan karena berusaha menghindari serangan lawan, Aezar balas mengayunkan pedang dan sebelum besi di tangan Northcliff mengenai perutnya, Aezar lebih dulu menusukkan ujung pedangnya yang tepat mengenai bahu Northcliff.
Aezar terbelalak ketika mendengar suara rintihan kesakitan dari Northcliff, terlebih melihat darah pria itu kini melumuri bilah pedangnya. Ketika dia mencabut pedang itu, darah dari lubang yang menganga di bahu Northcliff menyembur keluar. Detik itu juga Northcliff tumbang ke tanah dalam posisi satu tangannya mencoba menekan luka di bahu agar tak terus mengeluarkan darah.
Aezar syok bukan main karena sungguh dia terlalu terbawa suasana pertarungan yang seru sehingga dia melupakan mereka sedang berlatih dan tanpa sengaja benar-benar menusuk Northcliff.
“North, aku minta maaf. Aku benar-benar tidak sengaja. Tadi itu refleks aku menusukmu. Aku terlalu bersemangat, North. Kau baik-baik saja, kan?”
“Bahuku berlubang oleh pedangmu, mana mungkin aku baik-baik saja,” sahut Northcliff masih disertai wajah yang meringis kesakitan.
Aezar terlihat kebingungan terlebih ketika melihat darah yang keluar dari luka itu tak kunjung berhenti. Telapak tangan Northcliff yang menahan luka bahkan kini sudah berlumuran darah.
“Kau kenapa tidak menggunakan pedangmu saat berlatih denganku, North? Jika kau menggunakan pedangmu, kau pasti bisa menangkis seranganku tadi.”
Sambil menyengir lebar, Northcliff menyahut, “Jangan bilang-bilang pada ayahku ya. Pedang pemberiannya patah waktu aku gunakan untuk mencungkil batu.”
Aezar melongo, tak habis pikir ada orang sebodoh dan seceroboh Northcliff.
“Jangan bilang-bilang pada ayahku atau dia akan membunuhku jika mengetahui pedang pemberiannya aku patahkan.”
“Dasar bodoh.”
“Kau yang bodoh karena membuatku terluka seperti ini. Kau mau bagaimana sekarang? Aku bisa mati karena kehabisan darah ini.”
Aezar berdecak berulang kali, terlihat jelas pria itu sedang kebingungan bukan main. “Hm, aku akan mencari obat dulu untuk menghentikan pendarahanmu. Kau mau ikut denganku atau …”
“Aku tunggu di sini, ibuku bisa terkena serangan jantung jika melihatku terluka begini. Apalagi setelah kematian Kak Lei, Ibu jadi lebih posesif padaku.”
“Huh, itu karena kau ini anak kesayangannya.”
“Ya, aku beruntung di saat ayah justru sangat membenciku dan menganggapku sebagai anak tidak berguna yang selalu mengecewakannya.”
Ada raut sedih yang terselip di wajah Northcliff, Aezar menyadarinya dengan pasti. Tapi dia tahu Northcliff bisa diperlakukan seperti itu oleh ayahnya karena kesalahannya sendiri yang selalu melakukan keonaran dan menolak untuk berlatih bela diri apalagi ikut serta saat perang terjadi. Sangat wajar jika dia dikatakan tidak berguna oleh semua orang bahkan ayahnya sendiri.
“Kau tunggulah di sini. Aku pergi mengambil obat dulu. Ingat, kau jangan pergi ke mana-mana. Mengerti?”
“Memangnya aku mau ke mana? Asal kau tahu bahuku sakit sekali sekarang. Jangankan berjalan, untuk berdiri saja mungkin aku tidak sanggup.”
Aezar meringis, semakin merasa bersalah. “OK, tahan sebentar. Aku akan segera kembali.”
Aezar pun berlari cepat menuju camp Prajurit Guardian untuk mengambil obat yang akan digunakan untuk menghentikan pendarahan pada luka di bahu Northcliff.
Northcliff merasa dirinya benar-benar kehausan, mungkin ini efek dari terlalu letih setelah berlatih tadi, juga darah yang terlalu banyak keluar dari lukanya. Dengan susah payah dia berusaha berdiri, lalu berjalan tertatih-tatih menuju sumur yang letaknya tak terlalu jauh dari tempatnya berada.
Beruntung ember untuk menimba air masih penuh dengan air sehingga dia bisa langsung meminumnya. Segarnya air dingin itu mengalir di tenggorokannya dan membuat Northcliff merasa kondisinya jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Northcliff pun kembali mendudukan diri sambil menyandarkan punggung pada dinding sumur yang terbuat dari batu bata. Dia memejamkan mata karena rasa sakit di bahunya sungguh tak tertahankan.
Namun, tiba-tiba telinganya menangkap suara langkah kaki seseorang yang mendekat. Meski kedua matanya terasa berat, dia dengan enggan memaksakan diri untuk membuka mata. Berpikir Aezar yang datang menghampiri karena sudah kembali sembari membawakannya obat, yang terjadi setelah itu adalah Northcliff yang terheran-heran melihat sosok asing yang kini berdiri tepat di hadapannya.
Orang itu merupakan seorang kakek renta yang terlihat lusuh dan mengenakan pakaian compang-camping layaknya pengemis. Wajahnya kotor karena banyak debu dan lumpur kering yang menempel. Tubuh kakek itu bungkuk dan dia bisa berdiri karena sebuah tongkat yang menopang berat tubuhnya.
“Kakek siapa?” tanya Northcliff karena merasa sang kakek begitu asing baginya. Dia tak pernah melihat kakek itu sebelumnya.
Kakek itu tak memberikan respons apa pun membuat Northcliff semakin kebingungan menghadapinya. Di sisi lain dia merasa iba melihat kondisi kakek itu. “Apa kakek ingin minum?”
Di luar dugaan, sang kakek akhirnya memberikan respons dengan memberikan anggukan kepala teramat perlahan.
“Baik, Kek. Tunggu sebentar.”
Northcliff tahu persis sang kakek tak mungkin sanggup menimba air di dalam sumur jika dilihat dari kondisinya yang mengkhawatirkan. Selain itu, air di dalam ember sudah dia minum sampai habis tadi. Meskipun rasa sakit semakin menghantamnya seiring dengan banyaknya dia bergerak, Northcliff mengabaikan rasa sakit itu karena yang dia inginkan sekarang adalah mengambilkan air untuk sang kakek.
Dengan susah payah Northcliff berusaha menimba air, setelah berhasil tanpa ragu dia menyerahkannya pada kakek tersebut.
“Ini, Kek. Silakan diminum airnya,” kata pria itu seraya menyerahkan ember berisi air pada si kakek asing.
Northcliff meneguk ludah begitu melihat kakek itu menenggak air pemberiannya dengan begitu rakus seolah sudah sejak lama dia tak pernah meminum air. Begitu ember yang telah kosong itu diulurkan sang kakek, Northcliff menerimanya tanpa ragu.
“Kakek ingin minum lagi?” tanyanya, karena berpikir mungkin si kakek masih belum puas minum mengingat begitu rakus dia meminum air seolah dirinya begitu kehausan.
“Tidak perlu. Sudah cukup.”
Suara kakek itu terdengar jernih dan menggema, berbanding terbalik dengan kondisi fisiknya yang sudah tua renta dan terlihat lemah serta patut dikasihani. Suaranya justru terdengar sangat berwibawa.
“Sepertinya kau sedang terluka, Anak Muda.”
“Ah, ya,” kata Northcliff seraya memegang luka di bahunya yang masih juga meneteskan darah segar dengan bau anyirnya yang khas. “Aku terluka saat berlatih pedang dengan guruku tadi.”
“Jika kau ingin mengalahkan para demon, tidak mungkin kau bisa menang jika menggunakan besi itu,” kata sang kakek seraya menatap besi yang tergelatak di samping Northcliff, besi yang dia gunakan sebagai pengganti pedang.
Kening Northcliff mengernyit bingung, “Para demon? Siapa yang Kakek maksud?”
“Makhluk menyerupai monster yang tiba-tiba muncul dan menyerang bumi, mereka yang dinamakan demon.”
Northcliff terbelalak, terkejut bukan main karena kakek itu bahkan mengetahui makhluk yang tiba-tiba meneror mereka beberapa hari yang lalu. “D-Dari mana Kakek tahu mereka itu demon?”
Sang kakek mengulas senyum, “Sepertinya aku harus menceritakan sebuah kisah padamu. Kau mau mendengarnya?”
Walaupun Northcliff masih merasa bingung tapi tak dipungkiri dia mulai penasaran. Kepalanya pun terangguk mengiyakan.
Sang kakek pun memulai ceritanya. “Di atas langit sana sebenarnya ada kehidupan lain. Tempat itu bernama Caelum,” ucap sang kakek seraya menatap ke arah langit yang masih tertutupi awan hitam. Awan hitam yang tiba-tiba muncul itu masih tetap berada di tempat yang sama membuat suasana bumi seolah malam setiap harinya. Sinar matahari tak lagi bisa menerangi bumi seperti dulu karena terhalangi awan hitam tersebut.
“Di Caelum ada berbagai jenis makhluk yang menetap di sana. Salah satunya adalah demon. Mereka makhluk yang diciptakan dari api dan karena hal itu mereka sangat sombong sehingga menganggap mereka paling kuat di atas makhluk lainnya. Mereka selalu membangkang dengan melanggar peraturan di Caelum bahkan menciptakan keonaran. Karena perbuatan tercela mereka itu, mereka pun dikurung di dalam neraka yang penghuni Caelum menyebutnya Infernum.”
Northcliff mengerjapkan mata, masih mencoba mencerna informasi dari sang kakek yang baru pertama kali dia dengar ini.
“Tapi para demon tidak pernah jera, meski sudah diberi hukuman yang berat, mereka tetap menciptakan keonaran. Untuk menghentikan mereka diciptakanlah para prajurit langit, Milites Caelum … itulah nama para ksatria yang bertugas menangkap dan menjebloskan kembali para demon ke Infernum.”
“T-Tunggu, Kek. Jika makhluk yang menyerang kami itu adalah demon penghuni Infernum, kenapa mereka tiba-tiba datang ke bumi dan melakukan teror ini?”
Sang kakek tersenyum, “Itu misteri yang harus kau pecahkan, Anak Muda. Alasan para demon yang seharusnya terkurung di Infernum tiba-tiba berdatangan ke bumi dan menyerang manusia sehingga bumi sekarang mencekam karena teror mereka, kau harus mengungkap kebenarannya.”
Northcliff tertegun, semakin dibuat kebingungan tapi entah kenapa dia sama sekali tak meragukan ucapan kakek tersebut. Semua yang dikatakan sang kakek, dia mempercayainya bulat-bulat karena hati kecilnya berteriak seolah menyuruhnya untuk percaya semua yang dikatakannya.
“Aku datang ke sini untuk memberitahumu satu hal, Anak Muda.”
“A-Apa itu, Kek?” tanya Northcliff, penasaran.
“Hanya ada satu senjata yang bisa mengalahkan para demon. Senjata yang bisa mengembalikan mereka ke tempat asal yaitu Infernum. Sebuah pedang legendaris … Gladius.”
Northcliff melebarkan mata, nama pedang itu terasa tak asing baginya meski dia yakin ini pertama kalinya dia mendengar tentang pedang itu.
“D-Di mana aku bisa menemukan pedang itu?”
Untuk kesekian kalinya sang kakek mengulas senyum, “Pedang itu berada di tempat yang tak bisa ditemukan siapa pun karena sangat tersembunyi dan rahasia. Tapi aku akan memberikan petunjuk padamu tentang keberadaan pedang itu. Sebuah dasar tanpa batas.”
“Sebuah dasar tanpa batas?” gumam Northcliff. “Apa maksudnya itu, Kek?”
“Itu misteri lain yang harus kau temukan jawabannya. Yang jelas pedang itu berada sangat jauh dari tempat ini. Kau harus meninggalkan rumahmu jika ingin menemukannya.”
Northcliff menundukan kepala, tengah menimbang-nimbang informasi yang didapatkannya ini entah harus dia percaya atau tidak. Karena meski hatinya berteriak menyuruhnya untuk percaya, logikanya justru berbisik agar dia berhati-hati karena mungkin saja kakek itu sedang menipunya.
“Sebagai ucapan terima kasih dariku untuk airnya tadi, ini … terimalah.”
Northcliff kembali mendongak, tertegun tatkala melihat sang kakek mengulurkan botol kecil untuknya. “Itu apa, Kek?”
“Elixcir. Jika kau meminum obat ini, lukamu akan sembuh dalam sekejap.”
Northcliff terkekeh, merasa itu sesuatu yang mustahul karena menurutnya sehebat apa pun jenis obat tetap saja akan membutuhkan proses untuk menyembuhkan luka atau penyakit apa pun.
“Jika kau tidak percaya obat ini ajaib? Kau bisa mencobanya sendiri. Ini, minumlah.”
Northcliff menerima botol itu pada akhirnya. Terlihat ragu untuk meminumnya karena khawatir obat itu justru akan membahayakan nyawanya, dia pun memutuskan untuk mencobanya begitu melihat wajah sang kakek yang lagi-lagi sedang mengulas senyum padanya. Northcliff merasa kakek itu sangat baik jadi mustahil akan menipunya. Dia pun melakukan tindakan nekat dengan meminumnya.
Di detik berikutnya, Northcliff merasakan tubuhnya begitu panas setelah cairan dalam botol itu mengalir ke tenggorokan. Rasa panas terpusat pada luka di bahunya. Akan tetapi, rasa panas itu perlahan menghilang, bersamaan dengan rasa sakit dan perih pada lukanya ikut menghilang. Dia bahkan tak melihat ada darah yang mengalir keluar lagi. Bergegas Northcliff memeriksa luka di bahu, dan terbelalak menemukan keajaiban yang dikatakan kakek itu memang sebuah kebenaran.
Lubang menganga karena tertusuk pedang tajam Aezar kini tertutup sempurna seolah di bahunya tak pernah ada luka tusukan pedang. Bahunya yang sempat sakit tak tertahankan itu kini sembuh dan kembali pulih seperti semula. Northcliff tersenyum sumringah, kini dia tak lagi meragukan ucapan sang kakek. Dia pun mendongak untuk mengucapkan terima kasih pada kakek itu. Namun …
Sang kakek yang beberapa detik yang lalu masih berdiri di hadapannya kini menghilang entah ke mana. Northcliff menggulirkan mata untuk mencari sosok sang kakek yang tak mungkin bisa berjalan cepat mengingat kondisi fisiknya yang tua renta serta menggunakan tongkat untuk berjalan.
“Kek! Kakek!”
Tetapi yang ditemukan oleh Northcliff adalah kakek misterius itu menghilang bagai ditelan bumi. Kini batin Northcliff penuh dengan tanda tanya … siapa sebenarnya kakek misterius itu?