CHAPTER 11 KEPUTUSAN YANG BERESIKO

2132 Words
“Sebuah dasar tanpa batas? Petunjuk macam apa itu?”  Respons pertama yang dilontarkan Aezar begitu mendengar cerita Northcliff yang baru saja bertemu dengan seorang kakek misterius yang memberitahunya sebuah informasi penting. Jika Northcliff terlihat mempercayai sepenuhnya informasi dari sang kakek, Aezar justru sebaliknya. Pria itu tampak tidak mempercayainya, menganggap informasi itu hanya omong kosong dan karangan belaka.  “Ya, dia bilang itu petunjuk keberadaan Gladius. Ini misteri yang harus kita pecahkan.” Dengan penuh semangat Northcliff berujar demikian.  Aezar berdecak karena menurutnya respons Northcliff terlalu berlebihan, mempercayai kakek misterius yang bisa saja hanya seorang penipu.  “Kau ini polos sekali, North, padahal usiamu sudah dewasa. Kakek itu pasti menipumu. Lagi pula mana ada pedang legendaris bernama Gladius, aku baru mendengarnya. Jika benar itu pedang legendaris pasti sudah ramai dibicarakan para ksatria seperti kita.”  “Memang benar aku juga baru mendengarnya. Tapi entah kenapa nama pedang itu sepertinya tidak asing bagiku,” kata Northcliff, mengutarakan kejanggalan yang dia rasakan begitu nama pedang itu disebutkan sang kakek.  “Ck, itu hanya perasaanmu saja. Mana ada pedang yang bisa mengembalikan monster ke naraka.” “Demon. Mereka itu demon. Dan tempat asal mereka bernama Infernum. Hanya Gladius yang bisa mengalahkan mereka dan mengembalikan mereka ke Infernum.”  Aezar menggeleng-gelengkan kepala karena yakin Northcliff sudah sepenuhnya termakan tipu muslihat kakek mistrius yang sayangnya sudah pergi sebelum dia sempat melihatnya. Aezar jadi penasaran ingin melihat sosok kakek yang begitu mudah berhasil menipu Northcliff sampai mempercayai kebohongannya mentah-mentah seperti ini.  “Dipikirkan beberapa kali pun aku tetap merasa kakek itu hanya sedang mengarang cerita. Bagaimana mungkin dia mengetahui hal seperti ini. Tentang demon, Caelum, Infernum, pedang legendaris bernama Gladius. Menurutku dia itu hanya sedang menipumu. Dia tahu kau itu terlalu bodoh, polos dan mudah dibohongi, North.”  Northcliff berdecak, “Kau masih mengatakan kakek itu seorang penipu meskipun aku memperlihatkan ini padamu?”  Northcliff menggulung pakaiannya untuk memperlihatkan bahunya yang terluka kini kembali mulus tanpa bekas luka sedikitpun. Memang Aezar sudah melihat keajaiban itu tadi karena Northcliff sudah memperlihatkannya sebelum mulai bercerita tentang si kakek misterius. Tapi tetap saja Aezar tidak bisa mempercayai ucapan kakek itu sepenuhnya.  “Ini keajaiban namanya. Kakek itu benar memberikan keajaiban ini. Dan lagi lihat ini.” Kali ini Northcliff mengeluarkan botol kecil pemberian sang kakek yang merupakan obat ajaib yang dalam sekejap menyembuhkan lukanya.  “Kakek itu bilang obat ini bernama elixcir. Ini obat paling mujarab yang pernah aku lihat seumur hidupku. Walaupun kau tidak mempercayainya, aku tetap percaya kakek itu mengatakan kejujuran padaku.”  Aezar menghela napas panjang, melihat raut serius di wajah Northcliff, dia tahu pria itu tidak main-main dengan ucapannya. Dia memang sudah memutuskan akan mempercayai informasi yang diberikan sang kakek.  “Tapi North, aku masih tidak yakin informasi darinya itu kebenaran.” “Terserah kalau kau tidak percaya. Aku tetap mempercayainya. Aku sama sekali tidak meragukan ucapan kakek itu sedikit pun. Dia pasti bukan orang sembarangan. Sudah kukatakan dia menghilang bagai ditelan bumi setelah memberiku elixcir ini, Aezar.”  Aezar menggelengkan kepala, masih sulit untuk mempercayainya karena dia tak melihatnya secara langsung.  “Aku tahu kau sulit mempercayainya karena berbeda denganku yang melihatnya secara langsung, kau justru tidak sempat bertemu dengan kakek itu. Tapi yang kukatakan ini adalah kebenaran. Aku tidak berbohong.” “Huh, orang yang sering berbohong dan menipu sepertimu, memangnya kau pikir aku akan mempercayaimu semudah itu?”  Northcliff meringis, jadi teringat Aezar jadi tak mudah mempercayai ceritanya karena perbuatannya di masa lalu yang sering menipu pria itu ketika ingin kabur dari latihan. Dia jadi menyesal karena saat dia serius seperti sekarang, Aezar menjadi ragu untuk mempercayainya.  “Dulu aku memang sering berbohong dan menipumu, tapi percayalah … sekarang aku mengatakan yang sebenarnya. Apa luka di bahuku yang sembuh ini tidak cukup membuatmu percaya bahwa yang kukatakan adalah kebenaran?”  Aezar seketika tertegun, walau dia enggan mempercayai tapi luka di bahu Northcliff yang tiba-tiba sembuh memang menjadi bukti tak terbantahkan.  “Terserah jika kau masih tidak percaya padaku. Aku tetap pada pendirian awal, aku tidak akan meragukan informasi yang diberikan kakek itu.” “Lantas sekarang apa rencanamu, North?” Inilah yang membuat Aezar penasaran, dia ingin mengetahui rencana pria itu selanjutnya setelah mendengar informasi ini.  “Kau masih bertanya? Bukankah sudah jelas, aku akan mencari Gladius? Aku akan mengungkap kebenaran di balik petunjuk yang diberikan kakek tadi dan aku akan menemukan pedang itu. Aku pasti akan membasmi para demon dengan menggunakan Gladius.”  “Apa ini artinya kau akan melakukan petualangan untuk mencari pedang itu?” Tanpa ragu Northcliff mengangguk, “Ya, aku akan berpetualang. Tak peduli meskipun aku harus mengelilingi dunia sekalipun.” “Bumi itu luas, North. Entah sampai kapan kau harus berpetualang mencari keberadaan sebuah pedang yang belum tentu memang benar-benar ada.” “Karena itulah aku akan berpetualang sambil mencari jawaban untuk petunjuk itu.” Northcliff tiba-tiba memakukan tatapan pada Aezar, entah kenapa membuat pria itu menegang di tempat karena merasakan fisarat buruk. Northcliff pasti sedang merencanakan sesuatu karena itu menatapnya seintens ini.  “Aku sadar tidak mungkin sanggup mengungkap misteri di balik petunjuk ini sendirian. Aku membutuhkan seseorang yang cerdas untuk membantuku memikirkan jawaban dari petunjuk ini. Siapa lagi orang cerdas itu jika bukan kau, Aezar.”  “Hah? Jangan bilang kau memintaku untuk menemanimu berpetualang?”  Mendapati Northcliff mengangguk tanpa ragu, Aezar kini tahu inilah firasar buruk yang dia rasakan tadi. Northcliff memang merencakan sesuatu yang gila dan sialnya melibatkan dirinya juga.  “Aku tidak bisa, North. Kau gila mengajakku berpetualang untuk mencari benda tidak jelas seperti itu. Aku tidak ingin membuang waktu berhargaku dengan mengelilingi dunia hanya untuk mencari benda yang keberadaannya saja belum pasti.” Aezar tertawa terbahak-bahak karena tentu saja dia tak akan pernah mau mengabulkan permintaan konyol Northcliff yang satu ini.  “Tapi bagaimana jika pedang Gladius benar-benar ada? Aezar … coba kau lihat ke atas langit sana.”  Melihat Northcliff kini mendongak untuk menatap langit, Aezar pun melakukan tindakan yang sama.  “Langit yang cerah, yang sangat indah dengan warna birunya yang mencolok. Awan-awan putih yang saling berkejaran. Sinar matahari yang menerangi bumi dan menghangatkan umat manusia yang menetap di bawah. Lalu benda-benda langit yang biasanya muncul di malam hari seperti bulan dan bintang yang memanjakan indera penglihatan kita setiap menatapnya. Kau lihat, semua itu tak akan pernah bisa kita lihat dan rasakan lagi jika kita tidak menyingkirkan awan hitam yang menghalangi langit itu.” Kata Northcliff tegas seraya menunjuk ke arah awan hitam yang kapan pun para demon bisa kembali bermunculan dari sana.  “Kau lihat juga suasana sekarang seperti malam hari setiap saat. Tak ada lagi siang hari yang terang benderang. Semuanya gelap. Kita hanya bisa melihat sekitar dengan remang-remang. Aezar, tidakkah kau ingin melihat bumi kembali terang seperti sediakala?”  “Dan lagi, bukan hanya kita … umat manusia, yang tersiksa dengan kondisi bumi yang sekarang. Tapi makhluk lainnya juga. Seperti hewan dan tanaman. Kau lihat tanaman mati dan mengering karena mereka tak bisa mendapatkan sinar matahari yang sangat mereka butuhkan untuk kelangsungan hidup. Lama-kelamaan mungkin manusia juga tak akan bisa bertahan hidup karena keadaan bumi yang lambat laun akan binasa jika para demon itu tidak segera ditumpas dan dikembalikan ke tempat asal mereka yaitu Infernum.”  “Mungkin saat ini mereka tidak muncul. Tapi jangan lupa, Aezar. Kapan pun para demon bisa kembali dan menyerang kita seperti beberapa hari yang lalu. Kau ingin semakin banyak orang yang menjadi korban keganasan mereka? Aku kehilangan kakakku karena kebiadaban mereka. Apa kau baru akan bertindak jika sudah kehilangan seseorang yang kau sayangi? Setelah kehilangan Lamia?”  Aezar terenyak mendengar nama seseorang yang amat dia cintai baru saja disebut oleh Northcliff.  “Kau pasti tidak mau, kan? Karena itu kita harus berjuang. Aku percaya kakek itu mengatakan kebenaran. Jika dia bisa memberikan obat ajaib yang dalam sekejap bisa menyembuhkan lukaku hingga tak meninggalkan bekas. Jika dia mengetahui nama makhluk-makhluk itu ternyata demon dan mereka berasal dari Infernum. Kenapa juga aku tidak mempercayai bahwa memang ada senjata yang mampu mengalahkan para demon? Apa pun yang kau katakana, Aezar. Aku akan tetap mempercayai ucapan kakek itu. Aku akan pergi untuk mencari Gladius, sekalipun aku harus berpetualang sendirian.”  Northcliff lantas melangkahkan kaki karena menurutnya tak ada lagi yang bisa dia katakan pada Aezar. Jika pria itu memang tak mau membantunya maka dia pun tak mungkin memaksanya.  “Perjalanan ini mungkin akan sangat beresiko.”  Langkah kaki Northcliff seketika terhenti karena mendengar suara Aezar yang kembali mengalun. Dia pun berbalik badan, kembali menghadap sang mentor. “Maksudnya? Jika kau masih berpikir perjalananku ini akan berakhir sia-sia, aku tidak mau berputus asa sebelum mencobanya. Aku yakin perjuanganku tidak akan menjadi sia-sia karena aku percaya akan berhasil menemukan Gladius.”  “Bukan itu maksudku. Seperti yang kau katakana tadi, para demon kapan pun bisa muncul lagi dan kembali menyerang. Kau tidak mungkin bisa melawan mereka tanpa kemampuan bela diri atau tanpa memegang senjata. Seperti yang dikatakan kakek itu, kau tidak mungkin bisa melawan mereka hanya dengan sebuah besi. Jadi, selama perjalanan ikuti semua perintahku. Aku akan membuatmu menjadi ksatria kuat tak terkalahkan.”  Northcliff terbelalak mendengar penuturan Aezar, “Aezar, mungkinkah ini maksudnya ….” “Ya. Aku akan menemanimu. Seperti yang kau katakan tadi, hanya orang cerdas sepertiku yang bisa memecahkan makna di balik petunjuk itu. Tanpaku, aku ragu kau akan bisa menemukan Gladius.”  Northcliff tersenyum lebar, terlihat lega dan senang karena Aezar akhirnya memahami dan bersedia menemaninya.  “Lagi pula, jika membayangkan Lamia diculik oleh para demon …” Aezar bergidik seolah dia tak sanggup membayangkan hal mengerikan tersebut terjadi pada seseorang yang begitu dia cinta.  “… aku sekarang mengerti perasaanmu dan alasanmu begitu bersi keras ingin mencari Gladius. Hatimu pasti sakit sekali karena Courtney diculik oleh mereka, bukan?” “Ya, begitulah,” jawab Northcliff. Pria itu tertegun dan memelotot setelah menyadari sesuatu. Apalagi begitu melihat Aezar menyeringai di depan sana.  “Apa maksudmu mengatakan itu? Jangan menyamakan Courtney bagiku seperti Lamia bagimu ya. Aku tidak memiliki perasaan seperti itu pada Courtney.” “Ah, yang benar?” Aezar menaik-turunkan kedua alisnya. “Pantas saja kalian selalu bertengkar jadi itu cara kalian menunjukan perasaan cinta di hati masing-masing.” “Jangan bicara sembarangan kau, Aezar. Sudah kukatakan aku tidak …” “Tapi miris sekali karena kau justru dijodohkan dengan kakaknya. Setelah kita berhasil menyelamatkan Courtney katakan perasaanmu yang sesungguhnya dan mintalah pada ayahmu agar Courtney yang dijodohkan denganmu, bukan Jenedith.”  Northcliff menggeram kesal karena dia tahu Aezar sedang menggodanya. “Kau pikir ini waktu yang tepat untuk membahas ini? Kau sangat menyebalkan, rasanya aku ingin menghajarmu sekarang.”  Alih-alih takut dengan ancaman Northcliff yang sepertinya sungguh-sungguh, Aezar justru tertawa karena puas menggoda muridnya tersebut.  “Sudahlah, daripada kau marah-marah tidak jelas padahal yang kukatakan adalah kebenaran. Lebih baik kau cepat mempersiapkan diri untuk petualangan panjang dan berat ini. Kau harus meminta izin dan dukungan dari keluargamu.”  Northcliff mendecih, “Justru aku yang harus mengatakan ini. Kau akan berpisah jauh dalam waktu yang lama dengan pujaan hatimu itu. Katakan perasaanmu pada Lamia sebelum pergi atau kau akan menyesal karena mungkin saat kau kembali ke sini nanti dia sudah menjadi milik orang lain. Jadi, sebelum kita pergi pastikan dulu kau menyatakan perasaanmu padanya dan memintanya untuk menunggumu sampai kembali.”  Melihat Aezar yang wajahnya kini memerah karena tersipu malu, Northcliff menyeringai. Tahu persis dia berhasil membalas sang guru yang sudah menggodanya habis-habisan tadi.  “Huh, hubunganku dan Lamia itu bukan urusanmu, North.” “Kalau begitu aku juga sama. Masalah perjodohanku dengan Jenedith juga bukan urusanmu. Jadi, jangan ikut campur.” “Jangan katakan kau memang bersedia menikah dengan Jenedith?”  Northcliff mendengus, “Bukan saatnya untuk membahas masalah ini sekarang, kan? Yang terpenting bagiku sekarang adalah menemukan Gladius. Tidak ada yang lain. Tentang meminta izin pada keluargaku juga itu hal yang mudah. Orang-orang di camp tidak akan ada yang peduli meskipun aku pergi jauh. Ayahku apalagi, dia mungkin senang tidak melihat wajahku lagi di camp, dengan begitu dia tidak akan merasa dikecewakan lagi olehku. Sedangkan Kak Therion.” Northcliff menjeda seraya mengembuskan napas pelan. “Berbeda dengan Kak Lei yang sangat dekat denganku. Aku dan Kak Therion sama sekali tidak dekat. Dia bahkan sama saja dengan ayah, selalu menatapku dengan ekspresi merendahkan. Jadi ya …” Northcliff mengangkat kedua bahu. “… aku rasa dia akan senang jika melihatku pergi.” “Ingat, ibumu tidak mungkin bisa dengan mudah kau bujuk. Seperti yang kau katakan tadi, ibumu bisa terkena serangan jantung jika mengetahui kau akan pergi jauh darinya.”  Northcliff seketika tertegun, benar yang dikatakan Aezar. Inilah rintangan terbesarnya yaitu mendapat dukungan dari sang ibu yang di dunia ini mungkin menjadi satu-satunya orang yang begitu menyayangi dirinya.  Tapi Northcliff tidak akan menyerah semudah itu. Petualangan ini tetap harus dia lakukan karena nasib umat manusia di bumi, juga keselamatan Courtney yang entah bagaimana nasibnya sekarang … berada di tangannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD