Bandara Ngurah Rai sore itu penuh hiruk pikuk, namun bagi Revan, semuanya seperti hening. Hanya detak jantungnya yang terasa kencang, keringat dingin mengalir di pelipisnya. Matanya menelisik ke segala penjuru, mencari bayangan sosok perempuan yang sangat ia cintai. “Kenanga… di mana kamu, Sayang?” batinnya lirih, matanya nyaris berkaca-kaca. Anak buah Revan telah tersebar ke seluruh sudut bandara—area keberangkatan domestik, internasional, ruang tunggu VIP, hingga area parkir bandara. Tak satu pun tanda-tanda keberadaan Kenanga ditemukan. Revan berjalan cepat menuju ruang kontrol keamanan bandara untuk kedua kalinya. Di sana, sahabatnya yang bekerja sebagai petugas khusus bandara menyambut dengan wajah kecewa. “Van… maaf. Kami sudah bantu cari, cek semua rekaman sampai pukul empat sor

