bc

TERJERAT PERNIKAHAN DENGAN CEO LUMPUH

book_age18+
235
FOLLOW
2.7K
READ
love-triangle
family
love after marriage
forced
friends to lovers
arranged marriage
confident
heir/heiress
drama
sweet
bxg
lighthearted
office/work place
like
intro-logo
Blurb

Ervan Revano, seorang CEO sukses berusia 35 tahun, memimpin PT. Hendra Agung Perkasa dengan kecerdasan dan ketegasan. Namun, di balik karismanya, Ervan menyimpan luka mendalam akibat kecelakaan yang merenggut fungsi kedua kakinya. Keterbatasan fisik membuatnya kesulitan menemukan pendamping hidup, meski desakan keluarga untuk segera menikah dan memiliki keturunan semakin kuat.

Di sisi lain, Kenanga Azira, sekretaris Ervan, adalah gadis cantik, pintar, dan berhati lembut. Ia memiliki kekasih, Alvian Satria, seorang dokter muda yang tampan dan cerdas. Namun, kebahagiaan Kenanga hancur ketika Alvian mengkhianatinya dengan Bunga Auliya, seorang perawat di rumah sakit yang sama. Patah hati, Kenanga berusaha tegar menjalani hari-harinya.

Takdir mempertemukan Ervan dan Kenanga dalam situasi yang tak terduga. Ayah Kenanga, Heru Hermawan, terlilit hutang besar pada Ervan. Satu-satunya cara untuk melunasi hutang tersebut adalah dengan menikahkan Kenanga dengan bosnya. Pak Heru menyampaikan kabar pahit ini pada Kenanga, mengatakan bahwa ia terpaksa menjodohkannya dengan seorang pria kaya dan lumpuh demi menyelamatkan keluarga. Dengan berat hati dan tanpa mengetahui siapa pria itu, Kenanga menerima keputusan ayahnya.

Betapa terkejutnya Kenanga saat mengetahui bahwa pria yang akan menikahinya tak lain adalah Ervan Revano, atasannya sendiri. Rasa syok dan marah bercampur aduk dalam benaknya. Selama ini, Ervan dikenal sebagai sosok bos yang dingin dan tidak pernah menghargainya. Pernikahan yang terpaksa ini terasa seperti jeratan yang mengikat kebebasannya.

Bagaimana Kenanga menjalani kehidupan pernikahan dengan bos yang ia benci? Mampukah Ervan, dengan segala keterbatasannya, meluluhkan hati Kenanga yang terluka? Di tengah paksaan dan kebencian, akankah benih-benih cinta tumbuh di antara mereka, ataukah pernikahan ini akan menjadi neraka bagi keduanya?

chap-preview
Free preview
KecelakaanTragis
Dentangan jarum jam di arloji emas Pak Rahardian terasa begitu memekakkan, beradu dengan aroma rempah dan tawa pelan yang berdesir di Restoran Kembang Rasa. Namun, bagi Kamal, asisten pribadi Ervan Revano, dentangan itu bagai palu godam yang menghantam dadanya. Ketegangan mengental di sekeliling meja VIP, menebarkan aura dingin yang menusuk kulit. "Kamal," suara Pak Rahardian mengikis kesabaran, melengking tajam di antara kebisingan restoran, "ini sudah lewat satu jam lebih! Apa begini cara Ervan Revano, CEO perusahaan sebesar ini, menghargai waktu kliennya?" Mata tuanya menyala, menyorot tajam Kamal yang terperangkap di antara dua pilihan: berbohong atau mengakui kelemahan atasannya. Keringat dingin membasahi pelipis Kamal. Ia mengulas senyum canggung yang tak sampai ke mata. "Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Pak Rahardian. Pak Ervan dalam perjalanan, tadi ada sedikit kendala yang tidak terduga. Beliau janji akan segera tiba. Sementara menunggu, bagaimana kalau kita bahas lagi proposal kerjasama kita, Pak? Ada beberapa poin baru yang sangat menguntungkan bagi..." Kamal mengambil napas dalam, merangkai kalimat demi kalimat, berusaha membeli waktu dengan memaparkan detail proposal yang sudah ia kuasai di luar kepala. Namun, tatapan Pak Rahardian tetap menyiratkan kekecewaan yang mendalam, seolah ia merasa sedang dipermainkan. Jalanan yang melengkung dan berdebu seolah mengejek Ervan Revano. Ia menekan pedal gas lebih dalam, mobilnya melaju bak panah lepas dari busur. Waktu adalah musuh, dan ia kalah perang. Pikirannya dipenuhi bayang-bayang Pak Rahardian dan tatapan kesalnya. Keterlambatan, baginya, adalah aib. "Sial!" Ervan bergumam, rahangnya mengeras, tangannya mencengkeram kemudi dengan buku-buku jari memutih. "Kenapa bisa macet parah tadi? Pak Rahardian pasti sudah mengamuk sekarang." Di depannya, sebuah bus kota merayap lambat, seolah sengaja menghalangi jalannya. Darah Ervan mendidih. Terdesak waktu, ia mengambil keputusan instan, nekad. Tanpa berpikir panjang, ia banting setir ke kanan, berniat menyalip bus raksasa itu. Mobilnya meraung, membelah angin, melaju kencang, menembus batas. Namun, di detik yang sama, dari arah berlawanan, sebuah mobil melesat, memecah horizon. Jarak terlalu dekat. Terlalu cepat. Mata Ervan terbelalak, irisnya membesar dipenuhi kengerian. Ia mencoba membanting setir kembali, menarik rem, namun gerakan itu bagai tari kematian yang sia-sia. "TIDAK!" Jeritan ngeri Ervan tertelan oleh suara decitan ban yang melengking, merobek udara, disusul dentuman logam yang menghancurkan. Sekejap, dunia berputar. Kantung udara mengembang dengan kecepatan brutal, menghantam tubuh Ervan yang terlempar ke depan. Aroma hangus dan bau bensin menusuk hidung. Kaca-kaca berhamburan, berserakan bagai bintang jatuh yang kehilangan cahayanya di jalanan. Kembali ke Restoran Kembang Rasa, ponsel Kamal berdering. Sebuah nomor tak dikenal. Ia mengernyitkan dahi sebelum mengangkatnya, firasat buruk mulai merayapi hatinya. "Halo? Ya, saya Kamal. Asisten Bapak Ervan Revano." Detik berikutnya, wajah Kamal memucat pasi. Darah seolah lenyap dari tubuhnya. Matanya melebar, kosong. Ponsel di tangannya bergetar hebat, nyaris terjatuh. Ia menatap Pak Rahardian dengan tatapan hampa, bibirnya bergetar tak mampu berucap. "Pak Rahardian..." Suara Kamal tercekat, serak, nyaris tak terdengar. "...itu... itu Pak Ervan..." Pak Rahardian bangkit dari kursinya, naluri menuntunnya, mencium aroma tragedi yang baru saja menimpa. Ada sesuatu yang jauh lebih besar dan mengerikan dari sekadar keterlambatan janji. Suara panggilan darurat yang memekakkan telinga mengoyak keheningan koridor Rumah Sakit Permata Bunda. Denting roda brankar, derap langkah tergesa, dan bisikan panik perawat berbaur menjadi simfoni mengerikan. Di ruang staf, Dokter Alvian Satria terkesiap, tangannya terangkat ke udara seolah menangkis pukulan tak terlihat. Nama korban yang disebut perawat—"Ervan Revano"— menusuk telinganya, bagai jarum es yang menembus jantung. Ervan Revano. Kakaknya. Darah dagingnya sendiri. Jantung Alvian bergemuruh di dadanya, firasat terburuknya menggerus akal sehatnya. Ia tahu betul Ervan, sang CEO yang selalu terburu-buru, selalu mengejar waktu, seolah dunia berputar lebih lambat darinya. Alvian segera berlari, kakinya melesat tanpa beban menuju UGD. Di sana, di atas brankar yang meluncur, terbaring sosok yang dikenalnya seumur hidup. Wajah pucat pasi, bibir membiru, kemeja yang tadinya mahal dan rapi kini terkoyak, berlumuran darah yang mengering. "Kak Ervan!" bisik Alvian, suaranya tercekat di tenggorokan, napasnya tertahan. Namun, ia adalah seorang dokter. Naluri profesionalisme bagai tembok kokoh yang seketika terbangun, menyingkirkan gejolak emosi yang mengancam. Matanya yang tajam mengamati luka-luka kakaknya, setiap detail, setiap memar, dengan presisi seorang ahli bedah. "Trauma tumpul di d**a, kemungkinan pendarahan internal," ucapnya lugas, suaranya kini kembali mantap, menguasai. "Cepat siapkan ruang operasi! Aku butuh tim terbaik!" Sebagai dokter bedah handal yang reputasinya tak diragukan lagi, Alvian segera memimpin tim. Suasana ruang operasi terasa dingin dan mencekam, aroma antiseptik memenuhi udara. Di bawah lampu sorot yang terang benderang, ia menatap wajah kakaknya yang tak sadarkan diri. Setiap sayatan, setiap gerakan instrumen, dilakukan dengan presisi sempurna, bagai tarian rumit antara hidup dan mati. Keringat membasahi dahinya, namun fokusnya tak pernah goyah. Ia tahu ini bukan hanya pasien yang harus diselamatkan; ini adalah bagian dari dirinya sendiri, darah dagingnya. Jam demi jam berlalu, terasa begitu lambat, bagai pasir yang menetes satu per satu. Suara monitor jantung berdetak konstan, bip... bip... bip..., menjadi musik paling mendebarkan yang pernah didengar Alvian. Akhirnya, setelah perjuangan panjang yang menguras tenaga dan mental, ia menegakkan tubuh. "Operasi berhasil," ucapnya, suaranya serak namun penuh kelegaan yang membanjiri relung jiwanya. "Pendarahan sudah teratasi. Kita pindahkan ke ICU untuk pemantauan intensif." Tim medis mengangguk, napas lega terlihat di wajah lelah mereka. Ervan Revano, sang CEO yang selalu hidup dalam kecepatan tinggi, kini terbaring lemah, namun hidupnya telah diselamatkan oleh tangan dingin sang adik. Di ruang tunggu ICU, atmosfer terasa begitu sunyi, hanya dipecah oleh dengung alat-alat medis yang berbunyi teratur, seolah irama kehidupan yang rapuh. Alvian duduk di kursi, kelelahan membungkus tubuhnya, membebaninya dengan rasa letih yang teramat sangat. Ia baru saja mengabari kedua orang tua mereka, suaranya tercekat saat menyampaikan berita buruk itu. Waktu seolah berhenti bergerak, melayang dalam ketidakpastian. Tiba-tiba, ponsel Ervan yang tadi diletakkan di meja kecil bergetar, layarnya menyala terang, menampilkan nama Kamal. Alvian meraih ponsel itu, jemarinya ragu. Ia tahu Kamal pasti menunggu kabar dari Ervan terkait meeting penting itu, tidak menyadari bahwa nasib sang atasan telah berubah drastis. Ia menghela napas, mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya, lalu menekan tombol jawab. "Halo, ini Alvian." Suara Alvian terdengar sedikit serak, memecah kesunyian yang mencekam. Di seberang sana, hening. Kamal terdiam, pasti mengenali suara itu, namun bingung mengapa ponsel Ervan yang menjawab. Suasana di restoran Kembang Rasa masih terasa panas, dan kekesalan Pak Rahardian kian memuncak. "Dokter Alvian?" Suara Kamal terdengar cemas dan terburu-buru, ada nada frustrasi di dalamnya. "Ini Kamal, asisten Pak Ervan. Apakah Pak Ervan sudah sampai di restoran? Saya sudah menunggu lama dengan Pak Rahardian, dan beliau sudah sangat..." Alvian memejamkan mata sesaat. Bagaimana ia harus menyampaikan berita ini? Bagaimana ia bisa merobek realitas Kamal dengan kenyataan pahit yang baru saja menimpa kakaknya? Rasanya seperti menjatuhkan bom yang tak terlihat. Ia mengambil napas dalam, berusaha menguatkan diri. "Kamal, dengarkan baik-baik. Pak Ervan... dia mengalami kecelakaan." Kalimat itu meluncur dari bibirnya, terasa berat dan dingin. Hening. Sunyi di ujung telepon. Kamal pasti membeku, kata-kata Alvian bagai palu godam yang menghantam telinganya. "Kecelakaan?" Suara Kamal bergetar, nyaris tidak percaya, seperti gelembung udara yang pecah di permukaan air. "Maksud Dokter... bagaimana bisa? Kondisinya... bagaimana, Dok?" "Kondisinya kritis," Alvian menjawab, tanpa basa-basi, agar Kamal memahami urgensinya. "Dia baru saja selesai operasi dan sekarang ada di ICU. Dia tidak sadarkan diri." Pernyataan itu bagai tamparan keras yang menyadarkan Kamal. Mimpi buruk yang sempat ia rasakan di restoran kini menjadi kenyataan paling pahit. "Di ICU...?" Sebuah desahan panjang lolos dari bibir Kamal, penuh keputusasaan. "Ya Allah... Baik, Dok. Terima kasih informasinya. Saya... saya akan segera ke sana." Sambungan terputus. Alvian menghela napas panjang, menatap ponsel Ervan di tangannya. Pekerjaannya sebagai dokter telah selesai untuk saat ini, namun sebagai adik, perjuangannya baru saja dimulai. Di luar jendela, langit mulai meredup, awan kelabu menggantung, seolah turut berduka atas peristiwa yang baru saja terjadi. Akankah Ervan melewati masa kritis ini? Hanya waktu yang bisa menjawabnya. Jangan lupa komentarnya dan terima kasih yang sudah membaca ***TBC***

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
199.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.1K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
64.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.2K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook