Udara di Restoran Kembang Rasa terasa menekan. Kamal, dengan ponsel masih tergenggam di tangannya, menatap Pak Rahardian. Kata-kata Dokter Alvian masih berdengung di telinganya: "Kondisinya kritis... di ICU... tidak sadarkan diri."
"Pak Rahardian," suara Kamal tercekat, mengumpulkan keberanian. "Saya... saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Pak Ervan... beliau tidak bisa hadir. Beliau baru saja mengalami kecelakaan serius dan saat ini sedang dalam kondisi kritis di ICU."
Pak Rahardian terkesiap. Wajahnya yang semula diliputi kekecewaan kini berubah pucat. Kilatan amarah di matanya meredup, digantikan oleh sorot keprihatinan. "Kecelakaan?" gumamnya, lebih kepada diri sendiri. "Ya Tuhan... saya turut prihatin, Kamal. Saya kira ia mempermainkan saya, tapi..." Ia menghela napas panjang. "Baiklah, saya memakluminya. Tentu saja. Keselamatan lebih utama dari segalanya."
Kamal sedikit bernapas lega. "Terima kasih atas pengertian Bapak. Namun, kami telah mempersiapkan segalanya. Kenanga Azira, sekretaris Pak Ervan, sudah di sini. Kami siap melanjutkan presentasi dan diskusi mengenai kerjasama PT. Hendra Agung Perkasa ini, jika Bapak bersedia."
Kenanga, yang sejak tadi duduk diam namun siap siaga, mengangguk sopan. Ia menarik napas, mempersiapkan diri. Ini adalah momen penting bagi perusahaan, dan ia tidak boleh mengecewakan Ervan, terutama dalam keadaan seperti ini.
Pak Rahardian mengangguk perlahan. "Baiklah. Kalau begitu, mari kita mulai."
Meeting pun berlanjut. Kamal dan Kenanga bahu-membahu. Kamal, yang selama ini fokus pada urusan internal CEO, kini menunjukkan pemahamannya yang mendalam tentang visi perusahaan. Sementara Kenanga, dengan ketelitian dan presentasi yang lugas, menjelaskan setiap detail proposal PT. Hendra Agung Perkasa dengan sangat baik. Ia memaparkan potensi keuntungan, proyeksi pertumbuhan, dan keunggulan kompetitif yang dimiliki perusahaan. Pak Rahardian mendengarkan dengan saksama, sesekali melontarkan pertanyaan yang dijawab dengan cekatan oleh keduanya.
Meskipun tanpa kehadiran Ervan Revano, karisma dan keyakinan yang dipancarkan oleh Kamal dan Kenanga berhasil menular. Pak Rahardian, yang awalnya skeptis, perlahan mulai menunjukkan ketertarikan. Ia melihat dedikasi dan profesionalisme yang luar biasa dari tim PT. Hendra Agung Perkasa.
"Saya sangat terkesan," kata Pak Rahardian pada akhirnya, sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. "Jujur, saya tidak menyangka presentasi ini akan berjalan sebaik ini tanpa kehadiran Pak Ervan. Proposal Anda sangat menarik, dan saya melihat potensi besar untuk berbisnis dengan PT. Hendra Agung Perkasa."
Sebuah desahan lega meluncur dari bibir Kamal. Kenanga tersenyum penuh kemenangan.
"Baiklah," lanjut Pak Rahardian, meraih pena di atas meja. "Saya setuju dengan kesepakatan ini."
Penandatanganan pun dilakukan. Pak Rahardian membubuhkan tanda tangannya di lembar kesepakatan, disusul oleh Kamal dan Kenanga sebagai perwakilan PT. Hendra Agung Perkasa. Sebuah kesepakatan penting tercapai, meskipun diwarnai oleh insiden tak terduga.
Usai meeting, dengan dokumen kesepakatan yang telah ditandatangani di tangan, Kamal dan Kenanga segera berpisah di lobi restoran.
"Saya akan langsung ke rumah sakit, Kenanga," kata Kamal, tatapan matanya dipenuhi kekhawatiran yang kembali menyeruak. "Tolong urus sisanya di kantor. Pastikan semua berkas ini aman." Ia menyerahkan salinan kesepakatan kepada Kenanga.
Kenanga mengangguk serius. "Tenang saja, Kamal. Kamu fokus pada Pak Ervan. Biar perusahaan yang ini saya urus. Semoga Pak Ervan cepat pulih."
Kamal mengangguk, lalu bergegas menuju mobilnya. Pikirannya melayang pada sosok Ervan yang terbaring tak berdaya. Sementara Kenanga, setelah memastikan semua beres, kembali ke perusahaan, membawa kabar baik yang bercampur dengan kecemasan. Kesepakatan penting itu adalah secercah harapan di tengah badai yang melanda keluarga Revano.
Tentu, ini kelanjutan ceritanya dengan gaya novel:
Kedatangan Orang Tua
Sore itu, koridor ICU yang biasanya tenang menjadi saksi bisu kedatangan dua sosok yang memancarkan duka mendalam. Pak Hendra Satria, ayah dari Ervan dan Alvian, melangkah masuk dengan wajah tegang, kerutan di dahinya tampak lebih dalam dari biasanya. Di sampingnya, Ibu Andini Maharani berjalan gontai, tangannya gemetar. Wajahnya pucat pasi, matanya sembap, menunjukkan betapa besar guncangan yang ia alami. Ia terlihat sangat syok, seolah jiwanya baru saja dicabut paksa.
Alvian, yang berdiri di depan pintu ICU, segera menghampiri mereka. "Ayah, Ibu..." suaranya bergetar.
Pak Hendra segera meraih bahu istrinya, mencoba menopang tubuh ringkih itu. "Andini, sabar, sayang... Kita harus kuat." Meskipun suaranya berusaha tegar, sorot matanya tak bisa menyembunyikan kekhawatiran yang sama.
Ibu Andini menatap Alvian, air mata kembali menggenang. "Bagaimana Ervan, Nak? Bagaimana kondisi ervan?"
Alvian menghela napas, menatap mata ibunya yang memohon. "Kondisinya... masih kritis, Bu. Kita harus banyak berdoa semoga Kak Ervan bisa melewati masa-masa ini. Dokter dan tim sudah melakukan yang terbaik. Sekarang tinggal menunggu reaksi tubuhnya." Ia berusaha terdengar meyakinkan, padahal hatinya sendiri diliputi kecemasan.
Dengan langkah berat, Pak Hendra dan Ibu Andini memasuki ruang ICU. Lampu redup menyinari ruangan steril itu, hanya dipecah oleh cahaya monitor yang berkedip. Di tengah ruangan, terbaringlah Ervan Revano, putra sulung mereka, terhubung dengan berbagai selang dan alat medis. d**a Ervan naik turun perlahan, diatur oleh ventilator.
Keheningan di ruang ICU tiba-tiba pecah. Sebuah gerakan kecil, namun terasa bagai ledakan kebahagiaan di hati Pak Hendra dan Ibu Andini. Tangan Ervan, yang baru saja diusap lembut oleh ibunya, bergerak perlahan. Jemarinya menggenggam ringan jemari Ibu Andini.
"Ervan...?" bisik Ibu Andini, air mata kelegaan membanjiri pipinya, kali ini air mata bahagia. Pak Hendra segera mendekat, napasnya tertahan.
Perlahan, kelopak mata Ervan berkedip. Cahaya redup ruangan terasa asing di matanya. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba menyesuaikan diri, lalu secara samar-samar pandangannya menemukan wajah kedua orang tuanya yang berlinang air mata namun tersenyum lega.
"Ayah... Ibu..." Suaranya serak, lemah, seolah baru saja bangkit dari tidur panjang. "Aku... aku di mana?"
Ibu Andini menggenggam erat tangan putranya. "Nak, kamu di ruang ICU, Sayang. Kamu kecelakaan. Syukurlah kamu sudah sadar."
Ervan mencoba mencerna kata-kata ibunya. Kecelakaan? Ingatannya perlahan memutar kembali kejadian nahas itu. Bus di depannya, keputusannya untuk menyalip, dan kilasan mobil dari arah berlawanan. Jantungnya berdebar kencang. Mengerikan.
Ia mencoba menggerakkan tubuhnya, merasakan sakit di sekujur tubuh. Namun, saat ia mencoba menggerakkan kedua kakinya, sebuah kepanikan melanda. Otaknya memerintahkan, tapi kedua kakinya seolah mati rasa, tak merespons sama sekali.
"Ibu... kenapa dengan kakiku?" Suara Ervan kini penuh kesedihan, bercampur ketakutan. Wajahnya yang pucat semakin memutih.
Melihat kepanikan putranya, Dokter Alvian, yang sejak tadi berdiri di dekat mereka, segera mendekat. Ekspresinya berubah serius. Ia segera memeriksa Ervan, dibantu oleh seorang dokter saraf dan dokter tulang yang dipanggilnya. Suasana tegang menyelimuti ruangan itu.
Beberapa menit berlalu, terasa bagai berjam-jam. Para dokter saling berpandangan, ekspresi mereka suram.
"Ervan..." Dokter saraf memulai, suaranya pelan. "Ada kerusakan signifikan pada saraf tulang belakangmu akibat benturan keras. Sayangnya... kamu mengalami kelumpuhan."
Kalimat itu menohok, bagai pisau tajam yang menghujam jantung Ervan. Dunia Ervan mendadak jungkir balik.
"Tidak! Tidak!" Ervan berteriak, suaranya lemah namun penuh keputusasaan. Matanya melebar, memandang kosong ke langit-langit. "Tidak mungkin! Kakiku... kakiku tidak mungkin lumpuh! Aku tidak bisa... tidak bisa menerima ini!" Ia mencoba lagi menggerakkan kakinya, berulang kali, dengan kekuatan yang tak ada, namun sia-sia. Tangis putus asa Ervan pecah, memenuhi ruang ICU yang sunyi itu. Ibu Andini terisak, memeluk erat lengan putranya, sementara Pak Hendra hanya bisa berdiri terpaku, hancur melihat kondisi anak sulungnya.
Hati Ibu Andini mencelos. Ia memandang nanar ke arah putranya, pemuda yang biasanya penuh energi, kini terbaring tak berdaya. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah ruah, mengalir deras membasahi pipinya. Pak Hendra memeluk bahu istrinya, mencoba menenangkan, namun ia sendiri merasakan sayatan perih di dadanya.
Perlahan, Ibu Andini melangkah mendekat. Tangannya yang bergetar meraih lengan Ervan yang hangat, mengusapnya lembut. "Ervan... anak Ibu..." suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. "Bangun, Nak... Ibu di sini... Ayah di sini..."
Ia membungkuk, menempelkan pipinya ke tangan Ervan. "Kamu harus kuat, Nak. Ingat, kamu punya banyak mimpi... perusahaanmu... semua orang menunggumu. Jangan tinggalkan Ibu, Nak... Bangunlah, Ervan..." Bisikan-bisikan itu keluar dari lubuk hatinya, penuh cinta dan keputusasaan, berharap sepotong kecil dari kata-kata itu bisa menembus kabut tak sadarkan diri Ervan, menyentuh jiwanya, dan membawanya kembali.
Jangan lupa komentarnya dan terima kasih sudah membaca
***TBC***