Bab 3

1542 Words
Aku menatap kosong langit-langit kamar VIP ini. Mewah, nyaman, tapi terasa seperti sangkar emas. Kaki. Kakiku... lumpuh. Kata itu bergaung di kepalaku, menikam setiap kali aku mencoba bernapas. Orang tua. Mereka di sini, menguatkan, berusaha tersenyum. Aku tahu betapa sakitnya mereka, melihatku begini. Tapi bagaimana denganku? Bagaimana aku harus menerima ini? Dulu, aku bisa berlari, melompat, merasakan angin menerpa wajah. Sekarang? Bahkan untuk menggerakkan jari kaki pun rasanya mustahil. Masa depanku... mimpi-mimpiku... seolah ikut lumpuh bersamaku. Aku ingin marah. Berteriak pada takdir yang begitu kejam. Tapi untuk apa? Air mata ini pun terasa hambar. Apa gunanya semua dukungan ini jika aku sendiri merasa sudah kehilangan segalanya? Apakah aku harus percaya pada mereka? Pada harapan yang terasa begitu jauh? Bisakah aku? Bisakah aku bangkit lagi, walau hanya dengan semangat? Atau aku akan selamanya terjebak di sini, di ranjang ini, dengan kaki yang tak lagi bisa merasakan dunia? Pertanyaan itu terus menghantuiku, tanpa jawaban. Ruang rawat VIP itu terasa menyesakkan, bahkan untuk Revan yang terbaring lemah di ranjang. Kemewahan dinding berpanel kayu dan aroma antiseptik yang bercampur dengan wangi bunga Lily dari vas di sudut, tak mampu meredam kekalutan di hatinya. Kenanga, dengan gerakannya yang selalu cekatan dan tenang, sedang merapikan meja kecil di samping ranjang, tumpukan berkas dan alat tulis berserakan di sana. "Kenanga!" Suara Revan menusuk, lebih tajam dari biasanya, membuat Kenanga tersentak dan pulpen di tangannya meluncur jatuh ke lantai. "Kamu taruh mana laporan keuangan minggu lalu? Aku butuh sekarang juga!" Kenanga mematung sejenak, wajahnya memucat. "Maaf, Pak Revan. Saya... saya tadi letakkan di map biru di atas meja. Mungkin terselip." Mata Revan menyalang. "Terselip apanya?! Kamu tuh kerja yang becus sedikit bisa tidak sih?! Sudah tahu saya begini, jangan malah menambah masalah!" Nada suaranya meninggi, menusuk hingga ke ulu hati Kenanga. Ia menunduk, bahunya sedikit bergetar menahan gejolak yang terasa menyesakkan di d**a. Tepat saat itu, pintu terbuka dan Dr. Alvian, adik Revan sekaligus kekasih Kenanga, melangkah masuk. Di tangannya ada beberapa berkas yang ia letakkan begitu saja di meja perawat. Suara tumpukan berkas itu terdengar agak keras, menandakan kemarahan yang mulai membuncah dalam dirinya. "Revan! Cukup!" bentak Alvian, melangkah cepat mendekat. Revan menoleh, tatapan tajamnya kini beralih pada adiknya. "Apa?! Kamu mau ikut campur lagi?!" "Dia itu sekretarismu, bukan samsak emosimu!" Alvian menunjuk Kenanga yang masih menunduk. "Dia sudah berusaha melayanimu dengan baik, kenapa kamu selalu membentaknya begitu?" "Dia itu memang tidak becus!" Revan mendengus. "Lagipula, kamu ini siapa ikut campur urusanku dengannya? Kekasihnya? Pacarnya? Jangan mentang-mentang begitu, kamu bisa membelanya di depanku!" Ada nada mengejek dalam suaranya, sebuah racun yang perlahan menyebar. Alvian mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. "Aku membela yang benar, Revan. Dan kamu keterlaluan! Kenanga sudah bekerja dengan sangat baik selama ini, dia bahkan menemani kamu terus di sini. Kamu harusnya berterima kasih, bukan malah melampiaskan amarahmu padanya!" Kenanga, yang merasakan ketegangan memuncak, buru-buru menarik lengan Alvian pelan. "Sudah, Mas Al. Jangan..." Namun, Revan seolah tak peduli. Senyum sinis terukir di bibirnya. "Oh, jadi benar ya? Kalian ada hubungan? Pantas saja dia selalu menempeliku. Mau cari muka di depanmu, begitu?" Kata-kata itu menghantam Kenanga seperti tamparan keras. Wajahnya pias. Alvian sudah tak bisa menahan diri lagi. Ia maju selangkah, sorot matanya tajam menusuk Revan. "Jaga ucapanmu, Revan! Kamu tidak tahu apa-apa! Jangan karena kamu sedang dalam kondisi ini, kamu jadi punya hak untuk menyakiti orang lain, apalagi Kenanga!" Revan memalingkan muka, mendengus kasar. "Cih." Alvian menoleh pada Kenanga, tatapannya melembut. "Kenanga, kamu tidak perlu dengarkan dia. Kamu sudah melakukan yang terbaik." Ia menuntun Kenanga perlahan menuju pintu. "Sekarang, tolong keluar sebentar. Aku mau bicara berdua dengan Revan." Kenanga mengangguk samar, matanya sempat menatap Revan sekilas, penuh luka, sebelum akhirnya melangkah keluar, meninggalkan dua bersaudara itu dalam ketegangan yang pekat. Di ruang rawat VIP yang seharusnya nyaman itu, waktu terasa berjalan begitu lambat, membeku dalam kemarahan Revan. Sudah seminggu berlalu sejak kecelakaan itu, seminggu yang diwarnai ledakan emosi dan penolakan. Mama Revan, seorang wanita paruh baya dengan sorot mata yang tak pernah padam kasih sayangnya, tak pernah lelah mendampingi. Ia duduk di sisi ranjang, memegang erat tangan Revan yang dingin. "Revan, Nak..." suara Mama lembut, mencoba meresap masuk ke dalam dinding amarah yang dibangun putranya. "Sampai kapan kamu mau begini, hm? Sudah seminggu ini kamu terus saja marah. Mama tahu ini berat, sangat berat. Tapi kamu tidak bisa terus-terusan begini." Revan menarik tangannya kasar, menatap kosong ke luar jendela, seolah pemandangan gedung-gedung tinggi di kejauhan bisa menyembunyikan rasa sakitnya. "Berat? Mama bilang berat?" Suaranya serak, penuh keputusasaan. "Mama tidak mengerti! Mama tidak tahu bagaimana rasanya! Kaki ini, Ma... kaki ini sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi! Aku lumpuh! Lumpuh!" Air mata menggenang di pelupuk mata Mama, namun ia menahannya. Ia harus kuat untuk putranya. "Mama tahu, Nak. Mama melihat sendiri, Mama merasakan sakitmu. Tapi hidup tidak berhenti di sini, Revan. Tuhan memberikan kita cobaan, tapi Dia juga memberikan kita kekuatan untuk melewatinya." "Kekuatan apa, Ma?" Revan tertawa getir. "Kekuatan untuk menjadi beban? Kekuatan untuk melihat orang lain berjalan, berlari, sementara aku terkurung di sini? Buat apa semua ini, Ma? Untuk apa?" Mama menggeser kursinya lebih dekat, mengusap lembut rambut Revan. "Revan, dengarkan Mama. Kamu bukan beban, tidak akan pernah. Kamu adalah putra Mama, dan Mama akan selalu ada untukmu. Kamu punya Papa, Alvian, Kenanga... mereka semua menyayangimu." "Cih, Kenanga," Revan mendengus. "Dia itu cuma kasihan padaku. Sama seperti kalian semua." "Bukan kasihan, Nak, itu namanya cinta dan dukungan," koreksi Mama lembut. "Mereka semua peduli padamu. Dan kamu... kamu punya banyak hal yang bisa kamu lakukan. Ingat, kamu itu pintar, Revan. Kamu punya otak, kamu punya semangat, kamu punya impian." "Impianku sudah mati bersama kaki ini, Ma!" Revan membentak, suaranya pecah. Mama menggeleng, tatapannya lekat pada mata putranya. "Tidak, Nak. Impianmu hanya perlu beradaptasi. Jalanmu mungkin berbeda, tapi bukan berarti kamu tidak bisa mencapai tujuanmu. Banyak orang hebat di luar sana yang punya keterbatasan fisik, tapi mereka membuktikan bahwa mereka bisa melakukan hal-hal luar biasa. Kenapa kamu tidak bisa, Revan?" Ia meraih tangan Revan lagi, menggenggamnya erat. "Kamu harus bangkit, Nak. Bukan untuk orang lain, tapi untuk dirimu sendiri. Terima kenyataan ini, pelan-pelan. Marah itu wajar, tapi jangan biarkan kemarahan itu menguasaimu sampai kamu lupa bahwa kamu masih punya banyak alasan untuk hidup, untuk berjuang." Hening sejenak. Revan tidak menjawab, namun tatapan matanya yang tadi penuh amarah, kini sedikit melunak, dipenuhi keraguan. Mama terus mengusap punggung tangan Revan, mengirimkan kekuatan yang tak terucap melalui sentuhan hangatnya. Kantor Revan yang dulu dipenuhi gemerisik kertas dan obrolan renyah, kini terasa seperti medan perang yang sunyi. Aura negatif yang dipancarkan Revan, sepekan setelah ia kembali dari rumah sakit, seolah menyelimuti setiap sudut ruangan, menekan napas semua orang. Revan yang dulu, sosok tenang dan bijaksana yang selalu dihormati, kini seolah telah mati. Yang tersisa hanyalah bayangan yang diselimuti amarah, mudah meledak kapan saja. Akmal, asisten pribadi Revan, masuk ke ruangan dengan tumpukan dokumen setebal bantal. Gerakannya tampak hati-hati, seolah khawatir akan mengganggu ketenangan yang rapuh itu. "Selamat pagi, Pak Revan," sapa Akmal, suaranya sedikit tertahan. "Ini ada beberapa dokumen kerja sama yang membutuhkan tanda tangan Bapak. Semuanya sudah saya cek ulang." Revan melirik tumpukan dokumen itu, matanya dingin tak berekspresi. "Letakkan saja," katanya singkat, bahkan tanpa melirik Akmal. Akmal meletakkan berkas-berkas itu dengan hati-hati di sudut meja besar Revan. Tak lama kemudian, Kenanga masuk dengan langkah pelan, wajahnya memancarkan kekhawatiran yang mendalam. "Maaf, Pak Revan," Kenanga memulai, suaranya nyaris berbisik. "Saya mau melaporkan bahwa tim marketing ada sedikit kendala dengan data penjualan bulan lalu. Ada salah input angka di laporan yang baru masuk." Pulpen di tangan Revan mendaduk terbanting di atas meja. Suaranya menggelegar, membuat Kenanga tersentak mundur satu langkah. "Kesalahan lagi?! Kalian ini kerja apa sih?! Sudah saya bilang, saya tidak mau ada kesalahan sekecil apa pun! Siapa yang bertanggung jawab di tim marketing itu?!" "Maaf, Pak," Kenanga menelan ludah, berusaha menenangkan diri. "Itu pegawai baru, namanya Rian. Dia belum begitu paham sistemnya." "Tidak ada maaf-maafan!" Revan membentak, matanya menyala seperti bara api. "Langsung pecat saja dia! Saya tidak butuh orang yang tidak kompeten di perusahaan ini!" Kenanga terkesiap. "Tapi, Pak Revan... dia kan baru. Mungkin bisa dibimbing dulu?" "Tidak ada waktu untuk membimbing!" Revan memukul meja dengan telapak tangannya, membuat tumpukan dokumen bergeser. "Saya butuh hasil, bukan alasan! Kamu ini sekretaris saya, Kenanga. Seharusnya kamu memastikan semua berjalan lancar, bukan malah membela orang yang membuat kesalahan!" Kenanga menunduk, bibirnya bergetar menahan luapan emosi yang mendesak naik. Sudah berminggu-minggu ia menghadapi Revan yang seperti ini. Salah sedikit dimarahi, telat sedikit dibentak. Rasanya seluruh kesabarannya telah terkikis habis, menyisakan kekosongan yang perih. "Tapi, Pak Revan..." suara Kenanga tercekat, lebih seperti rintihan. "Bapak tidak bisa terus-menerus begini. Sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit memecat orang. Karyawan yang lain jadi takut, Pak." Revan mendengus kasar. "Takut? Bagus kalau begitu! Biar mereka tahu siapa yang berkuasa di sini! Sekarang, urus pemecatan Rian. Dan jangan sampai ada kesalahan lagi di laporan apa pun!" Kenanga mengepalkan tangannya di sisi tubuh. Ingin sekali ia melawan, berteriak, meluapkan semua kekesalannya. Namun, ia tahu, percuma. Revan yang sekarang seperti tembok yang terbuat dari amarah, tak bisa ditembus. Dengan hati hancur, Kenanga hanya bisa mengangguk pelan. "Baik, Pak Revan." Ia berbalik, melangkah keluar dari ruangan itu dengan langkah gontai, meninggalkan Revan dan Akmal dalam keheningan yang tegang. Akmal sendiri hanya bisa menatap punggung Kenanga dengan iba, menyadari betapa berat beban yang harus ditanggung wanita itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD