Sore itu, Kenanga melangkah keluar dari kantor dengan langkah gontai. Beban di pundaknya terasa berkali lipat lebih berat dari biasanya. Sepanjang hari, ia harus menahan diri dari ledakan amarah Revan yang semakin tak terkendali. Setiap bentakan, setiap kata-kata kasar yang meluncur dari bibir atasannya, mengikis sedikit demi sedikit sisa kesabaran Kenanga. Ia mendambakan ketenangan, sebuah pelukan hangat, dan senyum menenangkan dari Alvian, kekasihnya. Ya, Alvian. Pria itu adalah satu-satunya pelipur lara di tengah badai yang menerpa hidupnya.
Kenanga memutuskan untuk langsung menuju rumah sakit, tempat Alvian bekerja sebagai dokter. Ia ingin memberikan kejutan kecil, berharap bisa melepas penat dalam dekapan pria itu. Dengan senyum tipis, ia berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang sepi, mencari ruang kerja Alvian. Langkahnya melambat saat ia mendekati pintu berukir nama 'Dr. Alvian'. Sebuah kebahagiaan sederhana membuncah di dadanya.
Namun, senyum di bibir Kenanga memudar. Dari balik pintu yang sedikit terbuka, sebuah suara samar-samar terdengar. Bukan suara Alvian yang sedang menelepon, bukan pula suara pasien yang sedang berkonsultasi. Itu... desahan. Disusul erangan pelan yang tak salah lagi, suara seorang wanita. Jantung Kenanga berdebar kencang, memukul-mukul dadanya dengan irama tak beraturan. Kerongkongannya tercekat, udara di sekelilingnya terasa menipis.
Dengan tangan gemetar, Kenanga mendorong pintu ruang kerja itu. Pintu tidak terkunci. Apa yang dilihatnya kemudian menghancurkan dunianya dalam sekejap. Di tengah ruangan, tepat di hadapan matanya yang membelalak, Alvian... kekasihnya... sedang bergelut dalam nafsu bersama seorang wanita asing. Kenanga merasakan seluruh darahnya mengering, dunianya runtuh, dan kepingan hatinya berserakan di lantai dingin ruang kerja itu.
"Mas Alvian?" Suara Kenanga tercekat, sangat perih, nyaris tak terdengar. Namun cukup untuk menghentikan gerakan liar Alvian yang terkejut.
Alvian membelalak, wajahnya pias. Ia segera menarik diri dari dekapan wanita itu, sibuk menggapai pakaiannya yang berserakan di lantai. Celana dan kemejanya buru-buru ia kenakan, menyembunyikan rasa malunya yang membuncah. Wanita di sampingnya, seorang perawat dengan rambut pirang yang tak lain adalah Alea Maharani, tampak terkejut sekaligus kesal karena gangguan yang tak terduga ini.
"Kenanga..." ucap Alvian, suaranya serak, matanya penuh penyesalan.
Air mata Kenanga tumpah ruah, membasahi pipinya yang putih. Hatinya hancur berkeping-keping. Ia mundur selangkah, menggelengkan kepala tak percaya. "Tak kusangka kau tega padaku, Mas..." Bisikannya seperti pecahan kaca yang melukai. "Kau khianati cinta kita..."
Tanpa menunggu jawaban, Kenanga berbalik, berlari keluar dari ruangan itu. Rasa sakit yang ia rasakan jauh lebih pedih daripada amarah Revan mana pun.
"Kenanga! Tunggu!" Alvian mencoba mengejar, namun lengan kekar Alea segera menarik dan memeluknya dari belakang.
"Mau ke mana, Sayang?" suara Alea berbisik manja di telinga Alvian, jarinya mulai bergerak-gerak di dadanya. "Dia itu siapa? Biarkan saja dia pergi. Kita kan belum selesai..."
Alvian menepis tangan Alea, matanya menatap tajam ke arah pintu yang tertutup. "Lepaskan aku, Alea! Aku harus mengejarnya!"
Alea mendengus kesal. Ia berjalan di depan Alvian, menghalangi langkahnya. Tubuhnya yang polos dan menggoda tak sedikit pun membuatnya gentar. "Oh, jadi kamu mau mengejar gadis itu? Setelah semua yang kita lakukan? Jangan harap! Aku akan membeberkan hubungan kita ke publik, ke rumah sakit ini, ke seluruh kolega kamu kalau kamu berani meninggalkanku sekarang." Ancaman itu bagai belati yang menancap tepat di jantung Alvian. Reputasinya, kariernya, semuanya akan hancur.
Alvian terhuyung mundur, kembali duduk di sofa dengan wajah putus asa. Ia tahu Alea tidak main-main. Di satu sisi ia ingin mengejar Kenanga, menjelaskan, memohon maaf. Namun di sisi lain, ancaman Alea melumpuhkannya.
Alea tersenyum puas. Dengan tubuh polosnya, ia naik ke pangkuan Alvian, memeluk leher pria itu erat. Bibirnya yang basah kembali menciumi bibir Alvian, tangan-tangannya mulai menyentuh dan membelai kulit Alvian. Pikiran Alvian sempat terpecah, antara rasa bersalah dan sensasi sentuhan Alea. Namun, dengan cepat, sensasi itu kembali menguasai dirinya.
Pergolatan panas yang sempat tertunda itu kembali berlanjut, lebih intens, lebih memabukkan. Sementara di luar sana, Kenanga berlari entah ke mana, membawa serta kepingan hatinya yang hancur berkeping-keping.
Kenanga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, air mata masih menganak sungai di pipinya. Setir mobil terasa licin di tangannya yang gemetar. Ia tidak tahu harus ke mana, hanya ingin menjauh dari kenyataan pahit yang baru saja ia saksikan. Tanpa sadar, mobilnya melaju menuju ke rumahnya.
Begitu sampai, ia buru-buru masuk ke dalam, berharap bisa menemukan sedikit ketenangan. Namun, langkahnya terhenti di ambang pintu ruang kerja Papanya. Suara-suara yang akrab itu membuat jantungnya kembali berdebar.
"Pak Heru, kapan kamu mau melunasi hutang kepadaku?" Suara tegas dan menusuk itu adalah suara Revan, atasannya sendiri.
Kenanga terpaku di tempatnya.
"Maafkan saya, Pak Revan. Saya belum bisa melunasi hutang saya," suara Papanya, Pak Heru, terdengar lemah, penuh keputusasaan. "Kamu tahu sendiri perusahaanku masih di ujung tanduk."
Detik berikutnya, Kenanga melihat sebuah pemandangan yang mengoyak hatinya. Papanya, seorang pria yang selalu ia banggakan, kini berlutut di hadapan Revan.
"Kamu tahu, Pak Heru, hutangmu sudah mencapai 10 miliar," Revan berkata lantang, tanpa sedikit pun rasa iba dalam nadanya.
"Saya tahu, Pak Revan. Saya akan membayarnya," balas Pak Heru, suaranya tercekat.
Kenanga tak bisa menahan diri lagi. Ia masuk ke dalam ruang kerja Papanya, sorot matanya tajam menuntut penjelasan. Pak Heru terperanjat melihat putrinya tiba-tiba muncul. Wajahnya pias, ketakutan bercampur rasa malu.
"Papa?" suara Kenanga tercekat, "Apa benar yang aku dengar tadi? Papa punya hutang dengan Pak Revan, Pa?"
Pak Heru menunduk, tak sanggup menatap mata putrinya. "Maafkan Papa, Nak. Tidak ada jalan lain lagi." Ia menghela napas berat. "Perusahaan sedang tidak baik-baik saja, Nak."
Revan, yang selama ini hanya fokus pada Pak Heru, kini terkejut tak percaya. Matanya melebar saat menyadari Kenanga adalah anak kandung dari Pak Heru. Rahasia ini, yang selama ini tersimpan rapat, kini terbongkar di hadapannya.
"Oh..." Revan menatap Kenanga dengan kilatan amarah yang berbeda. "Kenapa kamu tidak pernah bercerita kalau kamu anak dari Pak Heru?" Nada suaranya meninggi, menuduh. "Apakah kamu sengaja melamar pekerjaan ke perusahaan saya dan memata-matai perusahaan?!"
Kenanga merasa dadanya sesak. Ia sudah muak dengan segala tuduhan dan amarah. "Tidak, Bos Revan!" Ia membela diri, suaranya tegas meski ada getar di dalamnya. "Saya melamar pekerjaan memang saya butuh pekerjaan dan saya tidak menggunakan koneksi apa pun melamar di perusahaan Bapak!"
"Tapi kenapa kamu tidak bekerja di perusahaan ayahmu, Kenanga?" Revan balik bertanya, nada suaranya semakin meninggi, menuntut jawaban.
"Karena saya mau mandiri dan tidak tergantung dengan harta orang tua, Pak!" Kenanga menjawab, matanya memancarkan kekecewaan dan kemarahan yang dalam. Dua kenyataan pahit dalam satu hari, seolah dunia berkonspirasi untuk menghancurkannya.
"Oh begitu, Kenanga? Alasan klasik," Revan mendengus, sorot matanya tajam menembus Kenanga, seolah ia bisa melihat ke dalam jiwanya.
Tanpa disangka, Kenanga melangkah maju. Air mata masih membasahi pipinya, namun ada tekad yang terpancar dari sorot matanya. Ia berlutut di hadapan Revan, di samping Papanya yang masih menunduk.
"Tolong, Bos," suara Kenanga bergetar, memohon. "Beri Papa saya waktu untuk membayarkan hutang Papa saya."
Revan mendongak, menatap Kenanga dan Pak Heru bergantian. Sebuah senyum tipis, nyaris tak terlihat, tersungging di bibirnya. "Bapak sama anak sama saja," katanya, dengan nada yang sulit ditebak. "Oke, Pak Heru, saya ada penawaran buat kalian."
Pak Heru yang tadinya menunduk lesu, mengangkat kepalanya perlahan, menatap Revan penuh harap. "Penawaran apa, Pak Revan?"
Revan menyilangkan tangannya di d**a, tatapannya beralih pada Kenanga. "Saya akan menganggap hutang Pak Heru lunas... kalau..." Ia sengaja menjeda, menggantungkan kalimatnya.
Kenanga mengangkat kepalanya, jantungnya berdebar kencang. "Kalau apa, Bos Revan?" tanyanya, tak sabar.
Revan mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, suaranya rendah namun jelas. "Kalau kamu bersedia menikah dengan saya, Kenanga."
Dunia Kenanga seolah berhenti berputar. Udara terasa tipis, suara di sekelilingnya memudar. "Apa?" ia berbisik, tidak yakin telinganya tidak salah dengar. "Saya... menikah denganmu, Bos?"
"Iya, apa kamu tuli, Kenanga?" Revan menjawab, nada suaranya kembali keras. Sebuah seringai kecil tersungging di bibirnya. "Itu juga kalau kamu sayang terhadap papamu, Kenanga."
Kenanga menatap Papanya, Pak Heru, yang kini menatapnya dengan pandangan campur aduk antara terkejut dan sedih.
"Jangan lakukan itu, Kenanga!" seru Pak Heru, suaranya bergetar. "Papa ngga mau kamu menderita, Nak! Papa tahu kamu sudah punya kekasih!"
Kata-kata Papanya, bersama dengan bayangan Alvian dan wanita itu di ruang kerja tadi, menghantam Kenanga dengan telak. Air matanya kembali tumpah, ia menundukkan kepalanya, membiarkan rambutnya menutupi wajahnya yang basah. Di antara puing-puing hatinya, ia merasa terperangkap. Pilihan ini terasa begitu menyakitkan, sebuah pertaruhan atas kebahagiaannya demi kebebasan Papanya.