"Saya siap menikah dengan Anda, Bos Revan, asalkan hutang Papa saya lunas," ucap Kenanga dengan sorot mata mantap, meskipun ada sedikit getaran di suaranya.
Revan tersenyum tipis, sebuah senyum yang sulit diartikan. "Bagus, Kenanga. Bersiaplah," jawabnya singkat, nadanya penuh otoritas.
Mendengar itu, Pak Heru, ayah Kenanga, segera mendekat. "Kenanga, kenapa kamu lakukan itu, Sayang?" tanyanya, cemas dan tak habis pikir.
Kenanga menoleh pada sang papa, mencoba menenangkan. "Papa enggak usah khawatir, Kenanga baik-baik saja, Pa," ucapnya, berusaha menyembunyikan kegundahan di hatinya.
"Sudah, sudah, kalian jangan banyak drama," potong Revan, suaranya terdengar dingin. Ia mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi Akmal, asisten pribadinya. "Akmal, siapkan pernikahan saya. Segera."
Kenanga hanya bisa memejamkan mata sesaat. Ini adalah satu-satunya jalan. Ia tahu, dengan Revan, segalanya akan berubah. Mungkin menjadi lebih baik, mungkin juga tidak. Namun, beban utang papanya harus lunas.
Pernikahan Rahasia di Bintang Lima
Revan telah siap di salah satu suite mewah hotel berbintang lima, suasana tegang menyelimuti ruangan. Akmal, asisten setianya, telah mengatur segalanya dengan sempurna: seorang penghulu datang, ditemani dua orang saksi, termasuk Akmal sendiri. Kenanga masuk ke ruangan itu, jantungnya berdegup kencang, berusaha menenangkan diri. Pak Heru, ayahnya, mendampinginya dengan wajah yang tak bisa menyembunyikan kekhawatiran.
Tak lama kemudian, kata "Sah!" menggema, menandakan Revan dan Kenanga resmi menjadi suami istri dalam ikatan pernikahan siri. Setelah penghulu dan para saksi lainnya undur diri, hanya tersisa Revan, Kenanga, Pak Heru, dan Akmal di ruangan itu. Sebuah hidangan makan malam mewah terhidang di meja, namun suasana masih terasa canggung.
"Saya ingin pernikahan ini disembunyikan dari publik sampai saya sendiri yang memberitahukannya," ucap Revan datar, tatapannya beralih dari Kenanga ke Pak Heru.
Pak Heru hanya mengangguk, mengiyakan tanpa banyak bicara. Ia sudah menduga Revan akan menginginkan hal ini. Kenanga sendiri hanya diam, menunduk, menerima kenyataan pahit bahwa pernikahannya harus menjadi rahasia.
Mereka melanjutkan makan malam dalam keheningan yang sesekali dipecahkan oleh suara dentingan sendok dan garpu. Revan terlihat tenang dan berkuasa, seolah semua ini hanyalah bagian dari rencana besarnya. Kenanga sesekali melirik suaminya, mencoba membaca ekspresi di wajah Revan, namun sulit sekali. Pikirannya dipenuhi pertanyaan tentang masa depan yang tak menentu.
Setelah makan malam selesai, Revan beranjak. "Akmal, antarkan Pak Heru dan Kenanga pulang."
"Baik, Bos," jawab Akmal sigap.
Pak Heru memeluk putrinya erat sebelum mereka melangkah keluar. Kenanga mengikuti Akmal, meninggalkan Revan sendirian di suite mewah itu. Dalam perjalanan pulang, baik Kenanga maupun Pak Heru tidak banyak bicara. Yang jelas, pernikahan siri ini telah mengubah segalanya. Kenanga kini terikat pada Revan, dengan ikatan yang tak bisa dilihat oleh dunia luar.
Keesokan harinya, Kenanga bekerja seperti biasa di kantor Revan. Setiap gerak-geriknya, dari menyiapkan kopi hingga menata berkas, dilakukannya dengan rapi dan efisien—seperti seorang istri yang melayani suaminya, meskipun status itu masih rahasia. Revan memperhatikannya dari kejauhan, sorot matanya tajam, mengawasi setiap detail.
Saat jam makan siang tiba, Kenanga memilih untuk tetap di mejanya, menghindari keramaian. Namun, ketenangannya terusik ketika sebuah bayangan mendekat.
"Kenanga..." Suara itu. Kenanga tahu siapa pemiliknya. Alvian.
Ia mengangkat kepala, ekspresinya dingin. "Ada apa, Mas Alvian?"
Alvian tersenyum tipis, langkahnya mendekat. "Aku datang untuk menjelaskan, Kenanga. Sebenarnya, aku... aku masih mencintaimu."
Kenanga mendengus pelan. "Kita tidak ada hubungan apa-apa lagi, Mas. Pergilah." Nadanya kaku, tak ada kehangatan sedikit pun.
"Tapi, Sayang..." Alvian tidak menyerah. Ia melangkah lebih dekat, meraih dan menggenggam tangan Kenanga.
Tepat saat itu, sebuah deheman berat memecah keheningan. Revan sudah berada di belakang Alvian, dengan kursi rodanya, bersedekap d**a, tatapannya menyala penuh amarah tersembunyi.
"Alvian, jangan ganggu Kenanga," suara Revan menusuk, rendah namun penuh ancaman.
Alvian berbalik, wajahnya memerah karena amarah dan rasa tidak suka yang mendalam pada sang kakak. "Apa hakmu melarang Kenanga untuk dekat denganku, Kak?" desisnya, lalu dengan dorongan kasar, ia mendorong kursi roda Revan.
Kenanga terkesiap. Ia segera menahan kursi roda Revan agar tidak terdoroh jauh. "Mas Alvian, pergilah! Saya tidak ada hubungan apa-apa dengan Anda!" serunya, berdiri di belakang kursi roda Revan, seolah melindunginya.
Alvian tertawa sinis, matanya menyala penuh ejekan. "Oh, jadi benar ya? Sekarang kamu menjalin hubungan dengan kakakku yang lumpuh ini?"
"Mas, jangan berkata begitu dengan Pak Revan!" Kenanga membalas, nadanya dipenuhi kemarahan.
"Oh, jadi benar ya? Sekarang kamu membelanya?" Alvian semakin geram, tatapannya beralih dari Kenanga ke Revan, penuh cemooh. "Dengar, Alvian, kamu boleh berkata sesukamu, tapi mulai sekarang jauhi Kenanga. Dia milikku sekarang," ucap Revan, setiap kata keluar seperti bilah pisau.
Alvian terbahak-bahak, tawa yang menusuk hati. "Hahahahaha! Ternyata bukan saya saja yang berselingkuh, tapi kamu juga, Kenanga! Tapi seleramu sangat bagus, Kenanga. Walaupun kakakku lumpuh, dia seorang CEO, iya kan?"
Kenanga hanya menundukkan kepalanya, tak mampu menatap sorot mata Alvian yang menghina.
"Pergilah, Alvian, jangan sampai kakak emosi," desis Revan, suaranya kini mengeras, menahan letupan amarah yang siap meledak.
"Hah? Kalau emosi, kakak mau apa? Mau memukulku?" Alvian menantang, dengan gerakan cepat ia menarik kerah baju Revan.
Dengan dorongan kecil yang tiba-tiba dari tangan Revan, Alvian terhuyung ke belakang. Kekuatan di balik dorongan itu mengejutkan Alvian, membuatnya nyaris terjatuh. Revan menatap Alvian dengan tatapan dingin, seolah berkata, ini baru permulaan. Dendam di antara kedua bersaudara itu terasa kental, memenuhi ruangan, menjanjikan konfrontasi yang jauh lebih besar di masa depan.
Alvian, dengan mata menyala-nyala karena amarah, melayangkan tangannya, siap menampar wajah kakaknya. Namun, sebelum tangannya menyentuh Revan, PLAKK! Kenanga tiba-tiba maju, melindungi Revan, dan tangan Alvian justru mendarat keras di pipinya.
Kenanga terhuyung sedikit, tangannya refleks memegang pipinya yang kini memerah dan terasa panas. Alvian menatapnya, terkejut dengan tindakan Kenanga, sementara Revan memandang Kenanga dengan sorot mata tak terbaca.
Tak lama kemudian, Akmal masuk ke ruangan dengan tergesa.
"Bawa dia!" perintah Revan, suaranya tajam.
Dua orang satpam yang mengikuti Akmal segera mendekati Alvian. Dengan cekatan, mereka membekuk Alvian dan membawanya keluar dari ruangan, meskipun Alvian terus berteriak dan meronta.
Revan, dengan Akmal yang mendorong kursi rodanya, juga bergerak meninggalkan ruangan Kenanga, masuk ke dalam ruang kerja Revan.
"Pergilah, Akmal. Panggil Kenanga kemari," ucap Revan sesampainya di ruang kerjanya.
"Baik, Bos," jawab Akmal sigap, lalu berjalan kembali ke ruangan Kenanga.
"Kenanga, Pak Revan memanggil Anda," kata Akmal sopan.
Kenanga mengangguk, lalu melangkah ke ruang kerja Revan. Ia melihat Revan sudah duduk di balik mejanya.
"Duduklah, Kenanga," ucap Revan, menunjuk sofa di hadapannya.
Kenanga menurut, duduk dengan hati-hati. Revan menatapnya, pandangannya tertuju pada pipi Kenanga yang masih merah.
"Apa masih sakit?" tanya Revan, suaranya sedikit melunak.
"Iya, Pak," jawab Kenanga pelan, suaranya masih sedikit bergetar.
Revan kemudian meraih sebuah kompres dingin yang ternyata sudah disiapkan Akmal di samping mejanya. Tanpa banyak bicara, ia mendekat, menekan kompres itu dengan lembut pada pipi mulus Kenanga. Sentuhan dingin itu terasa nyaman di kulit yang memerah.
Setelah beberapa saat, Revan meletakkan kompres itu. Jari-jarinya yang hangat kemudian menyentuh lembut pipi Kenanga, mengusapnya perlahan. Kenanga memejamkan matanya, merasakan kehangatan sentuhan itu dan keheningan yang tiba-tiba melingkupi mereka.
Perlahan, Revan mendekatkan wajahnya. Kenanga bisa merasakan napas Revan di pipinya. Kemudian, sebuah kecupan lembut mendarat di pipi yang tadi ditampar.
"Cup."
Kenanga membuka matanya, menatap Revan yang kini sudah kembali ke posisi semula. Ada ekspresi yang sulit diartikan di mata Revan, seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan, namun tertahan. Hati Kenanga berdesir, merasakan gejolak aneh dari sentuhan tak terduga itu. Apakah ini bentuk perhatian? Atau hanya sebuah cara Revan untuk menegaskan kepemilikannya? Ia tak tahu.
Sebuah Janji dan Hidangan Siang
Kenanga masih menundukkan kepalanya, pipinya yang tadi dicium Revan kini terasa hangat, bukan hanya karena bekas tamparan Alvian, tapi juga karena sentuhan lembut Revan.
"Kamu sudah makan, Kenanga?" tanya Revan, suaranya tenang, memecah keheningan di antara mereka.
Kenanga menggeleng pelan. Perutnya terasa kosong, namun nafsu makannya hilang sejak kejadian dengan Alvian.
Revan mengamati Kenanga sejenak, lalu tangannya bergerak di atas keyboard laptopnya, mengetik sesuatu. Rupanya, ia sedang memesan makanan melalui aplikasi. Pandangannya tak lepas dari Kenanga.
"Apa yang membuatmu memutuskan adikku?" tanya Revan tiba-tiba, suaranya kembali serius. "Apa karena status kita?"
Kenanga mengangguk pelan, tanpa mengangkat kepala. Ya, itu adalah salah satu alasan utamanya. Setelah ia setuju menikahi Revan, ia tahu tidak ada lagi tempat untuk Alvian di hatinya, atau di kehidupannya.
Revan tersenyum tipis, sebuah senyum yang Kenanga jarang lihat. Ia meraih tangan Kenanga yang bertumpu di sofa, menggenggamnya lembut. "Kamu tenang saja, Kenanga. Walau kamu sudah menjadi istriku, aku tidak akan menyentuhmu tanpa izinmu," ucap Revan, nadanya tegas namun ada sentuhan meyakinkan.
Kenanga mengangkat kepalanya, menatap Revan. Ada sedikit kelegaan di matanya, bercampur dengan kebingungan. Janji Revan itu, entah bagaimana, membuat beban di hatinya sedikit terangkat.
Tak lama kemudian, ketukan di pintu terdengar. Pesanan makanan sudah datang. Akmal masuk membawa nampan berisi hidangan.
"Hayo, Kenanga, makanlah," ucap Revan, kini suaranya kembali ke nada perintah yang lebih familiar.
"Iya, Pak," jawab Kenanga.
Kenanga beranjak dari sofa. Ia mengambilkan piring, lalu menyusun makanan di atasnya untuk Revan terlebih dahulu. Kemudian, ia mengambilkan segelas air minum. Setelah semuanya siap, ia baru menyiapkan untuk dirinya sendiri. Dalam diam, mereka menikmati makan siang itu, dengan janji Revan yang menggantung di udara, menciptakan lapisan baru dalam hubungan mereka yang rumit.
jangan lupa komentar nya dan Terima kasih sudah membaca
***tbc***