Bab 6

1888 Words
Siang itu, Revan dan Kenanga kembali larut dalam pekerjaan masing-masing setelah makan siang yang hening. Suasana kantor kembali ke ritme biasanya, hanya deru pendingin ruangan dan ketukan jari di atas keyboard yang terdengar. Kenanga sedang fokus meninjau laporan keuangan ketika tiba-tiba ponselnya bergetar di atas meja. Sebuah panggilan masuk dari nomor tak dikenal. Kenanga mengerutkan kening, ragu-ragu sejenak sebelum menggeser ikon hijau. "Halo?" Suara di seberang sana terdengar panik dan terburu-buru. "Ini dari Rumah Sakit Pondok Indah. Dengan saudari Kenanga Maharani?" Jantung Kenanga berdegup kencang. "Iya, saya sendiri. Ada apa ya?" "Bapak Heru Santoso mengalami kecelakaan dan saat ini sedang dalam penanganan di IGD kami. Mohon segera ke rumah sakit." Dunia Kenanga seolah runtuh dalam sekejap. Ponsel di genggamannya terasa dingin. "Kecelakaan? Papa?" gumamnya, suaranya tercekat. Ia menoleh ke arah Revan yang duduk di seberang mejanya. Revan yang menyadari perubahan ekspresi Kenanga, langsung bertanya, "Ada apa, Kenanga? Kamu baik-baik saja?" Kenanga berdiri dengan lutut gemetar. Ia mencoba menenangkan diri, tapi tubuhnya berkhianat. "Pak Revan... Papa kecelakaan..." Revan segera menghampiri Kenanga, ekspresi cemas terpancar jelas di wajahnya. "Kecelakaan? Di mana? Rumah sakit mana?" "Rumah Sakit Pondok Indah," jawab Kenanga, air mata sudah membendung di peluping matanya. "Aku harus ke sana sekarang." Revan tanpa ragu mengambil kunci mobilnya dari atas meja. "Jangan panik. Kita ke sana sekarang. Aku antar." Kenanga menatap Revan, sedikit terkejut dengan kesigapannya. "Tapi pekerjaan..." "Pekerjaan bisa menunggu. Papa kamu lebih penting," potong Revan tegas. Ia mengarahkan Kenanga ke pintu. "Ayo." Kenanga membantu revan ke kursi rodanya dan mendorong kursi roda, meninggalkan segala kesibukan yang ada. Dalam perjalanan, Kenanga tak henti-hentinya berdoa dan mencoba menghubungi ibunya. Revan sesekali melirik Kenanga, mencoba menenangkan dengan tatapan pengertian. Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan. Hanya ada kecemasan dan harapan yang menggantung di udara. Revan tahu, ini bukan saatnya untuk banyak bicara, yang terpenting adalah mengantar Kenanga secepat mungkin sampai ke rumah sakit. Sesampainya di Rumah Sakit Bhayangkara, Revan dan Kenanga langsung menuju IGD. Suasana panik menyelimuti ruangan itu. Tak lama kemudian, seorang dokter keluar dari ruang IGD dengan wajah serius. "Dengan keluarga Bapak Heru Santoso?" tanyanya. Kenanga maju, jantungnya berdebar kencang. "Iya, saya anaknya, Dok." Dokter itu menghela napas berat. "Kami sudah melakukan semaksimal mungkin, namun kondisi Bapak Budi sangat kritis. Beliau mengalami pendarahan hebat dan benturan di kepala. Saat ini, kami memindahkannya ke ruang ICU." Ucapan dokter itu bagai sambaran petir di siang bolong. Kenanga merasakan kakinya lemas. Revan yang duduk di kursi roda dengan sigap menopang tubuhnya. "Kritis?" bisik Kenanga, air mata sudah membanjiri pipinya. Revan membimbing Kenanga menuju ruang ICU. Di balik pintu kaca, terbaring sosok yang sangat dicintainya, ayahnya, dengan berbagai alat medis menempel di tubuhnya. Revan tetap setia di kursi rodanya di belakang Kenanga, memberikan kekuatan dalam diam. Kenanga masuk dengan langkah gontai. "Papa..." panggilnya, suaranya parau. Ia mendekati ranjang, menggenggam tangan ayahnya yang terasa dingin. "Bangun, Pa... Jangan tinggalkan Kenanga..." Perlahan, mata Pak Heru, yang tadinya terpejam rapat, mulai terbuka. Sorot matanya lemah namun penuh makna. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. "Kenanga..." ucapnya lirih, suaranya nyaris tak terdengar. "Maafkan Papa..." Kenanga menggelengkan kepala, air matanya jatuh membasahi tangan ayahnya. "Jangan bicara begitu, Pa..." "Papa... harus memberitahumu..." Pak Heru terbatuk pelan. "Ibumu... Kayla... dia... berselingkuh... dengan mantannya... Harry..." Kenanga terdiam, tak percaya dengan apa yang didengarnya. Hatinya hancur berkeping-keping. Di tengah semua kepedihan ini, fakta itu bagaikan luka baru yang menganga. "Jaga adikmu, Yusuf... ya, Kenanga..." pinta Pak Heru, napasnya semakin memburu. "Tentu, Pa... Kenanga akan menjaga Yusuf... Kenanga janji..." isak Kenanga, menggenggam erat tangan ayahnya. Pak Heru kemudian mengalihkan pandangannya ke Revan yang masih berdiri tegak di belakang Kenanga. Sebuah isyarat diberikan kepada Revan, meminta mereka untuk bicara berdua. Kenanga mengerti dan mundur perlahan, memberi ruang. Revan mendekat, meraih tangan Pak Heru yang terulur. "Pak Heru..." "Revan... maafkan saya..." suara Pak Heru semakin melemah. "Saya memang berutang banyak padamu..." Ia terdiam sejenak, mengumpulkan sisa tenaganya. "Ambillah perusahaan saya, Revan... untuk membayar semua hutangmu... Dan... ceraikan Kenanga..." Revan terkejut, cengkeramannya pada tangan Pak Heru mengerat. "Tidak! Saya tidak akan menceraikan Kenanga! Dia istriku... Aku akan menjaganya sampai ajalku!" tegas Revan, suaranya mantap dan penuh keyakinan. "Dan kamu tenang saja, Pak Heru... Saya juga akan menjaga Yusuf seperti adikku sendiri..." Air mata menetes dari sudut mata Pak Heru. Sebuah senyum haru terakhir terukir di wajahnya. "Terima kasih... Revan..." Setelah mengucapkan kata-kata itu, genggaman tangan Pak Heru melemah. Napasnya terhenti. Mata itu terpejam untuk selamanya. Revan membelalakkan mata. "Pak Heru?" Ia segera memeriksa denyut nadi dan memanggil dokter dengan panik. "Dokter! Dokter!" Kenanga yang mendengar teriakan Revan, langsung menghambur. Ia melihat ayahnya tak bergerak. "Papa! Jangan tinggalkan Kenanga! Papaaa!" teriaknya histeris, memeluk erat tubuh ayahnya yang kini tak bernyawa, tangisnya pecah memenuhi ruang ICU. Satu minggu telah berlalu sejak kepergian Pak Heru. Pemakaman berjalan lancar, diiringi isak tangis dan doa dari kerabat serta sahabat. Selama hari-hari berkabung itu, Revan tak pernah meninggalkan Kenanga. Ia selalu ada di sampingnya, menjadi sandaran di tengah badai duka yang mendera. Yusuf, meskipun masih kecil, merasakan kehilangan besar ayahnya dan seringkali termenung dalam diam. Pagi itu, suasana di rumah Pak Heru terasa lebih berat dari biasanya. Pengacara almarhum, Bapak Wijoyo, datang untuk membacakan surat wasiat. Kayla, Kenanga, Yusuf, dan Revan duduk di ruang tamu, semuanya diliputi ketegangan. Mata mereka tertuju pada amplop berwarna krem yang dipegang Bapak Wijoyo. Bapak Wijoyo membuka amplop itu dengan hati-hati. Kacamata bertengger di hidungnya saat ia mulai membaca dengan suara tenang namun tegas: "Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, saya, Heru Santoso, dalam keadaan sadar dan sehat akal jasmani serta rohani, dengan ini menyatakan surat wasiat terakhir saya." Kayla menunduk, Kenanga menggenggam tangan Yusuf erat, sementara Revan tetap fokus, mendengarkan setiap kata. "Untuk aset perusahaan, PT. Heru Wijaya Kusuma, dengan segala aset dan kewajibannya, akan diserahkan sepenuhnya kepada putra saya, Yusuf Santoso." Napas Yusuf tercekat, meskipun ia belum sepenuhnya mengerti implikasi dari perkataan itu. Kenanga menatap adiknya dengan tatapan sendu. "Mengingat Yusuf Santoso belum mencapai usia dewasa, maka pengelolaan dan hak kuasa penuh atas PT. Heru Wijaya Kusuma akan diserahkan kepada putri saya, Kenanga Maharani, sampai Yusuf Santoso mencapai usia dua puluh satu tahun." Kenanga terkejut. Beban yang tiba-tiba dipikulnya terasa begitu berat. Ia melirik Revan, yang mengangguk kecil, seolah memberinya kekuatan. Bapak Wijoyo melanjutkan, "Untuk tempat tinggal yang saat ini saya huni, rumah ini akan diserahkan dan menjadi hak milik sepenuhnya untuk putri saya, Kenanga Maharani, dan putra saya, Yusuf Santoso." Mendengar itu, Kenanga menatap sekeliling ruangan, rumah yang menyimpan begitu banyak kenangan bersama ayahnya. "Dan untuk istri saya, Kayla Aditama, dengan ini saya memberikan sebuah rumah di daerah Bekasi sebagai tempat tinggal. Adapun segala kebutuhan finansial pribadi beliau akan tetap menjadi tanggungan perusahaan sampai beliau memutuskan untuk tidak lagi bergantung pada perusahaan." Wajah Kayla mengeras mendengar bagian ini. Ada sedikit kilatan kekecewaan di matanya. Ia menatap Revan, lalu Kenanga, namun tak ada yang mengatakan apa pun. Setelah selesai membaca, Bapak Wijoyo melipat kembali surat wasiat itu. "Demikian isi surat wasiat dari almarhum Bapak Heru Santoso. Jika ada pertanyaan, silakan ditanyakan." Kenanga menarik napas dalam. "Pak Wijoyo, apakah ada hal lain yang perlu kami ketahui mengenai perusahaan?" "Untuk detail lebih lanjut, kita bisa jadwalkan pertemuan terpisah, Nona Kenanga. Banyak dokumen yang perlu ditinjau dan serah terima yang harus dilakukan." Revan menatap Kenanga. "Kita akan hadapi ini bersama, Kenanga." Ia menggenggam tangan Kenanga, memberikan kekuatan. Kayla beranjak berdiri, tatapannya dingin. "Baiklah. Kalau begitu saya permisi dulu." Ia tidak menunggu jawaban, langsung melangkah pergi meninggalkan ruang tamu. Kenanga menghela napas. Ia tahu, perjalanan ke depan tidak akan mudah. Namun, ia juga tahu, ia tidak sendirian. Ada Yusuf yang harus ia jaga, dan ada Revan yang selalu ada di sisinya. Satu bulan telah berlalu sejak pembacaan surat wasiat mendiang Pak Heru. Kenanga kini resmi menjabat sebagai direktur utama PT. Heru Wijaya Kusuma, sebuah tanggung jawab besar yang awalnya terasa membebani. Namun, dengan bantuan dan dukungan tak henti dari Revan yang diam-diam banyak membimbingnya dari belakang, Kenanga mulai menemukan ritmenya. Ia belajar dengan cepat, beradaptasi dengan dunia bisnis yang keras, demi memenuhi amanah mendiang ayahnya dan masa depan Yusuf. Yusuf sendiri telah membuat keputusan yang mengejutkan. Ia memilih untuk melanjutkan pendidikannya di sebuah pesantren di Bogor. Meskipun berat hati melepas adik semata wayangnya, Kenanga menghormati keputusan Yusuf. Ia tahu, pesantren akan memberikan pendidikan yang baik dan membentuk karakter Yusuf menjadi pribadi yang lebih mandiri dan kuat. Malam itu, setelah seharian berkutat dengan laporan dan rapat, Kenanga duduk termenung di kamarnya. Sunyi menyelimuti, hanya ditemani cahaya rembulan yang menembus jendela. Ia merindukan ayahnya, merindukan tawa Yusuf, dan merenungkan segala perubahan drastis dalam hidupnya. Tiba-tiba, ponselnya bergetar, menampilkan nama Revan di layar. "Halo, Revan?" sapa Kenanga, sedikit terkejut. "Aku sudah ada di depan rumah," jawab Revan dari seberang, suaranya tenang namun ada nada ceria yang samar. "Bersiaplah, keluar." Kenanga mengerutkan kening. Tanpa berkata apa-apa, ia beranjak ke jendela dan mengintip keluar. Di halaman, mobil Revan sudah terparkir rapi. Revan tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya. Kenanga segera berganti pakaian dan bergegas keluar. "Ada apa? Kenapa mendadak sekali?" tanya Kenanga begitu ia masuk ke dalam mobil. "Ada yang harus kamu ketahui," kata Revan, ekspresinya sulit ditebak. "Dan ada seseorang yang ingin sekali bertemu denganmu." Ia kemudian mulai melaju, meninggalkan pekarangan rumah Kenanga. Tidak butuh waktu lama, mobil Revan berhenti di depan sebuah rumah mewah bergaya modern. Kenanga menatapnya bingung. "Rumah siapa ini?" tanyanya. Revan tersenyum tipis. "Rumah orang tuaku." Jantung Kenanga berdegup kencang. Ia belum pernah bertemu dengan orang tua Revan. Kecemasan mulai merayapinya. Saat masuk ke dalam rumah, sepasang suami istri yang terlihat ramah menyambut mereka di ruang tamu. Di sofa, seorang pria muda yang terlihat seumuran dengan Revan juga ikut duduk. "Mama, Papa, ini Kenanga," ujar Revan dengan nada bangga. "Kenanga, ini Mama dan Papa." Kenanga membungkuk hormat. "Selamat malam, Tante, Om." "Selamat malam, Nak Kenanga," jawab Mama Revan dengan senyum hangat. "Aduh, akhirnya Revan mau juga membawa kamu ke sini. Mama sudah dengar banyak tentangmu dari Revan." Ayah Revan juga tersenyum. "Selamat datang di keluarga kami, Nak." "Ma, Pa, ada satu hal lagi yang ingin aku sampaikan," kata Revan, menatap Kenanga. "Kenanga ini bukan hanya calon istriku. Dia sudah resmi menjadi istriku." Mata Kenanga membelalak kaget. Ia menoleh ke arah Revan, tak percaya dengan apa yang didengarnya. Bagaimana bisa? Ia tidak tahu apa-apa! Revan tidak pernah membicarakan hal ini. Kenanga mencoba membuka mulut, namun kata-kata tak mampu keluar. Ia hanya bisa terdiam, syok. Tanpa Kenanga ketahui, Revan memang sudah mengurus semua surat pernikahan mereka di KUA tanpa sepengetahuannya, persis setelah pembacaan wasiat itu. Pria muda yang duduk di sofa, adik Revan, yaitu Alvian, menyeringai sinis. "Wah, wah, sepertinya ada yang sangat beruntung, nih. Menikah dengan Direktur perusahaan yang baru. Pasti karena harta, kan, Kakak ipar?" Alvian melirik Kenanga dengan tatapan merendahkan. Wajah Kenanga memerah mendengar ejekan itu, namun ia memilih diam, berusaha menahan diri. Mama Revan segera menyela dengan tatapan tajam ke arah Alvian. "Alvian! Jaga bicaramu!" Kemudian, ia menoleh ke Kenanga dengan senyum lembut. "Jangan dengarkan Alvian, Nak. Dia memang suka iseng. Mama sangat senang sekali! Revan sudah menceritakan semuanya, dan Mama sangat menyetujui pernikahan kalian." Ayah Revan mengangguk setuju. "Iya, Nak Kenanga. Kami senang sekali Revan akhirnya memilih kamu. Sekarang, kita harus segera mengurus resepsi pernikahan. Bagaimana kalau kita adakan dalam waktu satu minggu ke depan?" Kenanga semakin terkejut. Satu minggu? Semua ini terjadi begitu cepat, begitu tiba-tiba. Ia menatap Revan, mencari penjelasan di mata pria itu. Revan hanya tersenyum tipis, seolah mengatakan, 'Ini semua sudah diatur.' ****tbc***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD