Bab 7

1580 Words
Senyum tak lepas dari wajah orang tua Revan, memancarkan kebahagiaan yang tak terhingga melihat putra sulung mereka, Revan, kini telah resmi menikah. Resepsi pernikahan yang megah di hotel bintang lima berjalan lancar, penuh tawa dan doa restu. Setelah seluruh rangkaian acara usai, Revan dan Kenanga melangkah memasuki kamar pengantin yang telah disiapkan. Kenanga berniat membantu Revan yang berjalan dengan tongkat, namun Revan menepisnya lembut. "Jangan menganggapku lemah, Kenanga, hanya karena kakiku lumpuh," ujar Revan dengan nada datar, sembari melangkah mantap menuju kamar mandi. Kenanga terdiam, memperhatikan Revan membersihkan diri dan berganti pakaian santai. Tak lama, Revan keluar dan duduk di tepi ranjang, sorot matanya masih dingin. "Silakan, giliranmu, Kenanga," katanya. Kenanga tersenyum tipis, kemudian berjalan ke kamar mandi. Beberapa saat kemudian, ia keluar dengan balutan dress pendek tanpa lengan, rambutnya digerai, menampakkan leher jenjangnya. Ini pertama kalinya Revan melihat Kenanga tanpa kerudung. Dadanya bergetar hebat, namun ia lihai menyembunyikannya di balik sikap dinginnya. Ketukan di pintu membuyarkan keheningan. Seorang pelayan hotel mengantarkan makan malam. "Pak Revan, makan malam dulu," ajak Kenanga, tangannya terulur membantu Revan turun dari ranjang. Revan menerima uluran tangan itu, dan mereka berdua melahap hidangan yang tersaji hingga tak bersisa. Setelah makan, mereka beralih menonton televisi. Namun, sikap Revan yang dingin dan jarak yang tercipta di antara mereka membuat suasana terasa canggung. Mereka duduk berjauhan, seolah bukan sepasang suami istri yang baru saja menikah. Hanya suara televisi yang mengisi kesunyian malam itu. Revan hendak kembali ke ranjangnya, dan Kenanga sigap membantu memapahnya. Revan merebahkan diri di kasur, dan Kenanga pun ikut berbaring di sampingnya. "Pak Revan, apa boleh saya tidur duluan?" tanya Kenanga lembut. "Tidurlah, Kenanga," jawab Revan, suaranya datar. Namun, tanpa diduga Revan, Kenanga malah mendekapnya, menyandarkan kepalanya di d**a Revan. "Apa boleh seperti ini, Pak?" tanyanya lagi. "Iya, boleh," ucap Revan, suaranya sedikit bergetar. Ia berusaha keras menahan gejolak dalam dadanya, detak jantungnya berdebar menggila. Kenanga bahkan bisa mendengar detak jantung itu. "Kalau Bapak Revan mau menginginkan hak Bapak Revan sekarang, Kenanga sudah siap," ucap Kenanga sambil menatap Revan, yang matanya masih terpaku pada layar TV. "Sudah, Kenanga, tidurlah," sahut Revan dingin. Kenanga tersenyum tipis. Ia kemudian mengusap pipi Revan, lalu mencium bibir Revan sekilas. "Selamat tidur, Pak Revan," bisiknya, kemudian kembali ke bantalnya. Revan menghela napas panjang. Ia menatap Kenanga yang sudah terlelap di sampingnya, perasaannya berkecamuk. Hari demi hari berlalu, sudah satu bulan Kenanga menjalani pernikahan yang terasa dingin. Namun, Kenanga tak terlalu memikirkannya. Fokus utamanya adalah memajukan perusahaan ayahnya demi sang adik, Yusuf. Revan sendiri, secara diam-diam, terus memberikan dukungan dan motivasi. Revan kini kembali rutin menjalani terapi untuk kakinya, didampingi Kenanga yang selalu setia menyemangatinya. Siang itu, Kenanga sengaja datang ke kantor Revan. Ia menyapa Mia, sekretaris baru Revan, sebelum melangkah masuk. "Assalamualaikum," sapa Kenanga. "Waalaikumsalam," jawab Revan, yang masih sibuk dengan pekerjaannya. "Pak, saya bawakan makan siang," kata Kenanga. "Terima kasih, Kenanga. Taruh saja di meja," ucap Revan. Entah kenapa, Kenanga ingin bermanja dengan suaminya. Ia memeluk Revan dari belakang kursi. "Kenanga, apa yang kamu lakukan?" tanya Revan. Kenanga mencium pipi Revan. "Kenanga kangen, Pak," ucapnya mesra. Revan yang mendadak tak fokus pada pekerjaannya menghela napas. "Kenanga, pergilah. Tidak enak kita bermesraan seperti ini," kata Revan. "Memang salah ya, Pak, seorang istri bermanja dengan suaminya?" balas Kenanga, masih menciumi leher Revan, membuat jantung Revan semakin berdebar. Kenanga kemudian menggeser kursi kerja Revan, berjongkok di hadapan Revan, dan bersembunyi di bawah kolong meja. "Kenanga, kenapa kamu ngumpet di situ?" tanya Revan dengan suara bergetar. Kenanga tersenyum, lalu tangannya meraba kedua paha Revan. "Rileks, Pak Revan, jangan tegang begitu," goda Kenanga. Revan semakin tak bisa konsentrasi. Andai saja kakinya tidak lumpuh, sudah pasti Kenanga akan berada dalam pelukannya sekarang. Perlahan, Kenanga mengelus "pusaka" Revan. "Kenanga, jangan begini," ucap Revan, namun tak menolak. Kenanga semakin berani, membuka celana Revan. "Kenanga mau membuat Pak Revan rileks dan enggak tegang," ucap Kenanga sambil terus mengelus "pusaka" Revan. "Tapi Kenanga, saya malah jadi tegang," kata Revan, mengeratkan tangannya di atas meja. Kenanga terus mengelus "pusaka" Revan, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. "Shhhh... ahhh... ahhh... ahhh... Kenanga," desah Revan pelan, tangannya menggenggam meja dengan kuat. "Keluarkan saja, Pak, kalau Bapak enggak tahan," ucap Kenanga, memainkan lidahnya, membuat Revan belingsatan. "Ahhh... Kenanga, jangan begini!" seru Revan. Kenanga semakin mempercepat gerakannya, membuat Revan mengerang dan mendesah. Akhirnya, cairan kenikmatan Revan keluar, membasahi tangan dan mulut Kenanga. Terdengar ketukan di pintu kerja Revan, "Tok tok tok!" Revan gelagapan, napasnya memburu. Cepat-cepat ia mengambil tisu dan membersihkan "pusaka"nya, lalu membenarkan celananya yang dibuka Kenanga. Di bawah kolong meja, Kenanga masih sibuk mengelap sisa cairan Revan. Revan memberikan tisu dari atas mejanya. Revan berusaha rileks saat Akmal, asistennya, masuk. "Hai, Bos, kenapa kok berkeringat? Apa AC kurang dingin?" tanya Akmal. Revan refleks meraih sapu tangannya dan mengelap wajahnya. "Ada apa?" ucap Revan, suaranya masih bergetar. "Satu jam lagi ada meeting di Kopi Lain Hati, Bos," kata Akmal. "Oke, Akmal, saya akan bersiap setelah ini," jawab Revan. "Perlu saya bantu, Bos?" tawar Akmal. "Tidak usah," ucap Revan dingin. Akmal segera meninggalkan ruangan Revan. Kenanga pun keluar dari kolong meja Revan dengan senyum mengembang, lalu duduk di pangkuan Revan. "Kenanga, kamu mau apa lagi?" ucap Revan. Kenanga menggenggam erat tangan Revan dan mengecupnya. "Aku suapin ya?" tanyanya. Revan mengangguk. Kenanga membantu Revan mengambil tongkat, memapahnya ke sofa. Dengan sabar, Kenanga menyuapi Revan. "Gimana, Sayang, enak?" tanya Kenanga. "Hmm, enak," jawab Revan sedikit canggung. Setelah selesai makan siang dan Kenanga mengelap bibir Revan, ia kembali duduk di pangkuan Revan. Kenanga menangkup wajah Revan, matanya menatap dalam mata suaminya. Perlahan, ia mendekatkan wajahnya, dan bibir mereka bertemu. Ciuman itu dimulai dengan lembut, perlahan, seolah Kenanga ingin memberi Revan waktu untuk bereaksi. Namun, kali ini Revan tidak menolak. Dia memejamkan mata, membiarkan ciuman itu berlanjut. Kenanga merasakan napas Revan yang memburu, jantungnya berdebar kencang. Ia memperdalam ciuman itu, sedikit melumat bibir Revan. Revan pun membalas, tangannya melingkar di pinggang Kenanga, menariknya semakin rapat. Ciuman itu berlangsung beberapa saat, penuh dengan kerinduan yang terpendam dan gejolak emosi yang tertahan. Saat mereka melepaskan ciuman, napas keduanya tersengal. Setelah ciuman di bibir mereka mereda, Revan tak berhenti. Ciumannya turun, menelusuri leher Kenanga, meninggalkan jejak hangat di setiap sentuhannya. Tangan Revan bergerak cekatan, membuka kancing kemeja Kenanga satu per satu. Saat kemeja itu tersingkap, Revan tak membuang waktu. Ia menunduk, bibirnya langsung melabuhkan kecupan pada salah satu buah d**a Kenanga, kemudian berpindah ke yang lain. "Shhh... ahhh... ahhh... Mas Revan," desah Kenanga, punggungnya melengkung, saat Revan mulai menghisap kedua buah dadanya dengan penuh gairah. Revan tersentak saat ponselnya berdering, menghentikan aktivitasnya yang penuh gairah. Deru napas Kenanga yang baru saja mendesah tertahan, bersamaan dengan gerakan Revan yang terhenti mendadak. "Sayang, kita lanjutkan nanti malam saja," bisik Kenanga, suaranya sedikit serak, sambil membenarkan pakaian atasnya yang sedikit terbuka akibat pelukan Revan. Ia kemudian turun dari pangkuan Revan, mencium tangan suaminya dengan takzim. "Kenanga pamit ya, Sayang," ucapnya mesra. "Iya," jawab Revan, masih dengan napas memburu, matanya memancarkan sesuatu yang lebih hangat dari biasanya. Setelah Kenanga pergi, Revan tersenyum sendiri. Pikirannya melayang kembali pada kejadian barusan. "Kenanga... dia benar-benar tak terduga. Dingin? Sikapku mungkin dingin, tapi dia berhasil mencairkannya dalam sekejap. Jantungku... aku tak tahu bisa menahan debaran segila ini. Dia... dia tahu apa yang dia lakukan. Sentuhannya, bibirnya, caranya membuatku melupakan segalanya. Sial, kenapa ponsel itu harus berdering tepat di saat itu? Tapi... ada sesuatu yang berbeda. Ini bukan hanya nafsu. Aku merasakan... sesuatu yang lain saat bersamanya. Aku tidak menyangka akan sejauh ini. Apakah aku siap? Apakah aku sanggup? Kenanga... dia mungkin adalah jawaban yang selama ini kuelak." "Kenanga... dia memang tak terduga. Entah bagaimana, dia selalu berhasil membuatku hilang kendali. Tapi... apakah ini yang namanya cinta? Atau hanya sekadar ketertarikan sesaat? Aku sudah terlalu lama sendiri, terbiasa dengan dinding pertahanan yang kubangun. Menerima kenyataan bahwa ada seseorang yang bisa membuat jantungku berdebar segila ini... rasanya aneh. Aku takut. Takut jika ini hanya gairah. Takut jika aku salah mengartikan perasaanku. Apakah aku benar-benar jatuh hati pada Kenanga? Atau ini hanya kehangatan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya? Aku... aku masih belum yakin." Revan menghela napas panjang, berusaha menyingkirkan keraguan yang masih membayang di benaknya. Ponselnya berdering lagi, memaksanya kembali ke realitas. Ia melihat nama Akmal di layar dan segera menjawab panggilan itu. "Ya, Mal?" suara Revan sudah kembali ke nada dingin dan profesionalnya, menyembunyikan badai emosi yang baru saja ia rasakan. "Bos, lima belas menit lagi kita berangkat. Mobil sudah siap di bawah," lapor Akmal. "Oke, saya segera turun," jawab Revan. Ia berdiri perlahan, meraih tongkatnya. Matanya sempat melirik ke arah sofa tempat Kenanga menyuapinya tadi, tempat kehangatan singkat itu terjadi. Ada sebersit keinginan untuk mengabaikan meeting, untuk tetap tenggelam dalam perasaan baru yang membingungkan ini. Namun, profesionalisme Revan segera mengambil alih. Ia harus fokus. Perusahaan, terapi, dan masa depannya lebih penting dari keraguan hati yang baru muncul. Revan melangkah menuju kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air dingin. Ia menatap pantulannya di cermin. Wajahnya masih sedikit memerah, namun ia berusaha menormalkan ekspresinya. Kemeja yang tadi sempat terbuka kini sudah rapi kembali. Ia memastikan penampilannya sempurna untuk meeting penting itu. Meskipun tubuhnya ada di sana, pikiran Revan masih sedikit melayang. Aroma parfum Kenanga seolah masih melekat di udara, menggodanya untuk kembali ke momen intim tadi. Namun, ia menggelengkan kepala, mencoba mengusir bayangan itu. Ini bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal semacam itu. Setelah merasa siap, Revan keluar dari ruangan, menuju lift. Ia tahu meeting ini akan menjadi pengalih perhatian yang baik. Setidaknya, untuk sementara. Namun, ia juga tahu, Kenanga dan segala perasaannya yang rumit kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hari-harinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD