Bab 8

1465 Words
Revan tiba di Kopi Lain Hati. Akmal sudah menunggu di salah satu sudut kafe yang cukup tenang. Suasana kafe yang ramai dengan obrolan dan aroma kopi yang kuat membantu Revan sedikit mengalihkan pikirannya dari Kenanga. Ia langsung berfokus pada laptop di hadapannya, membahas materi presentasi dengan Akmal. Tak lama, klien mereka, perwakilan dari perusahaan investasi besar, tiba. Revan menyambut mereka dengan senyum profesional, menjabat tangan satu per satu. Pertemuan berlangsung intens. Revan menjelaskan proyek-proyek perusahaannya dengan detail, menjawab setiap pertanyaan dengan lugas dan meyakinkan. Kemampuan analisis dan ketajaman berpikirnya membuat para klien terkesan. Ia benar-benar berada di elemennya saat bekerja. Namun, di tengah-tengah penjelasan mengenai proyeksi keuntungan, sekelebat bayangan Kenanga melintas di benaknya. Aroma parfumnya seolah tercium samar, dan sensasi sentuhannya tadi siang tiba-tiba terasa nyata. Revan sedikit tersentak, namun berhasil mengendalikan diri, melanjutkan presentasinya tanpa cela. Sore Hari dan Kerinduan yang Tak Terucap Pertemuan selesai menjelang sore. Klien tampak puas, mengindikasikan kemungkinan besar adanya kerja sama. Revan menghela napas lega. Ia kembali ke kantor, membereskan beberapa berkas, dan bersiap untuk pulang. Perjalanan pulang terasa berbeda. Biasanya, Revan akan terfokus pada pekerjaan yang harus diselesaikan atau rencana terapi selanjutnya. Namun kini, pikirannya terus melayang pada Kenanga. Ia membayangkan Kenanga sedang apa sekarang. Apakah Kenanga akan menunggunya di rumah? Apakah ia akan bersikap seperti tadi siang lagi? Keraguan di hatinya masih ada, namun ada perasaan lain yang mulai tumbuh: sebuah kerinduan. Kerinduan akan sentuhan Kenanga, akan senyumnya yang selalu ceria, bahkan di tengah sikap dingin Revan. Ia mulai menyadari bahwa kehadiran Kenanga dalam hidupnya, meski baru sebulan, telah membawa warna baru yang tak pernah ia sangka. Revan tiba di rumah Kenanga, namun hatinya mendadak terasa mendidih. Di ruang tamu, ia melihat sosok Alvian, adiknya, duduk santai. Revan tahu betul Alvian adalah mantan kekasih Kenanga. "Assalamualaikum," sapa Revan, berusaha menjaga nada suaranya tetap ramah, meskipun gejolak di dadanya mulai membesar. "Waalaikumsalam," jawab Kenanga. Ia segera berdiri menyambut suaminya, wajahnya sedikit tegang melihat interaksi keduanya. Kenanga mendorong kursi roda Revan dan memapahnya hingga duduk di sofa. "Wah, sang suami sudah pulang rupanya," ejek Alvian, tatapan matanya menyorot tajam ke arah kakaknya. "Kak, apa kamu enggak kasihan kepada Kenanga? Setiap hari menjadi beban dengan kakimu yang lumpuh itu?" Wajah Kenanga langsung memerah, emosinya terpancing. "Jaga ucapanmu, Alvian! Saya tidak merasa kalau Mas Revan adalah beban!" seru Kenanga, suaranya meninggi. "Wohoo, ternyata kamu sudah jatuh cinta kepada Mas Revan, Kenanga," sahut Alvian sinis, senyum mengejek tersungging di bibirnya. "Pergilah, Alvian! Kembali kepada perawat yang kamu cintai!" usir Kenanga, nada suaranya penuh kemarahan. Revan hanya diam, wajahnya semakin dingin membeku. Kata-kata Alvian terasa menusuk, apalagi melihat Kenanga yang begitu membela dirinya. "Baiklah, sayang. Tapi saya yakin kamu masih mencintai saya, bukan kakakku yang lumpuh," ucap Alvian, menatap Kenanga dengan pandangan meremehkan sebelum akhirnya berlalu dari rumah Kenanga. Setelah kepergian Alvian, suasana di ruang tamu menjadi hening. Kenanga masih berdiri di samping Revan, napasnya memburu menahan amarah. Sementara Revan, ia terdiam, tatapannya kosong ke depan, namun hatinya berkecamuk. Kenanga duduk di samping Revan, meraih tangannya. "Mas, maafkan Kenanga," ucapnya lembut. Revan menepis tangan Kenanga. "Saya capek, Kenanga. Mau istirahat," katanya dingin. "Kenanga bantu ya," pinta Kenanga, suaranya mesra. "Enggak usah, Kenanga, saya bisa sendiri. Kamu tidak tahu apa yang Alvian katakan? Saya hanya menjadi beban kamu saja," ucap Revan, nada suaranya penuh kepahitan. "Mas, jangan berkata seperti itu!" seru Kenanga, matanya berkaca-kaca. "Kenanga, saya tidak suka kamu menerima tamu tanpa seizin dari saya," ucap Revan ketus, tatapannya tajam. "Maafkan Kenanga, Mas. Kenanga sudah berusaha mengusir Alvian, namun dia tetap memaksa masuk," jelas Kenanga, suaranya bergetar. "Kalau kamu tidak membukakan pintu, tidak mungkin Alvian bisa masuk," balas Revan, tak memberi celah. "Mas, tolong maafkan Kenanga. Kenanga janji akan menjaga hati Mas Revan," ucap Kenanga penuh harap, berusaha meraih tangan Revan lagi. Revan menatap Kenanga tajam. Ia kemudian meraih kursi rodanya dan, dengan sedikit kerepotan, akhirnya Revan berhasil duduk di kursi roda. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Revan menggerakkan kursi rodanya keluar dari rumah Kenanga. Pak Rudi, sang sopir, dengan sigap membantu bosnya naik ke dalam mobil. Kenanga mengejar Revan, berusaha keras. "Mas, tolong dengarkan Kenanga!" teriaknya. Namun, Revan seolah tuli, tidak mau mendengarkan penjelasan Kenanga sedikit pun. Mobil pun melaju, meninggalkan Kenanga yang berdiri mematung di depan rumah, air mata mulai mengalir di pipinya. Alvian ternyata tidak benar-benar pulang. Dengan seringai licik, ia kembali ke rumah Kenanga. Kenanga terkejut melihatnya lagi. "Mau apa kamu, Alvian?" tanyanya, nada suaranya penuh kekhawatiran. "Saya mau kamu, sayang. Saya tahu pernikahanmu begitu dingin, jadi saya ingin menghangatkanmu," jawab Alvian dengan tatapan penuh nafsu yang membuat Kenanga bergidik. Kenanga segera berbalik, berlari ke dalam rumah dan berusaha menutup pintu. Namun, Alvian lebih cepat. Ia berhasil menahan pintu, mendorongnya hingga terbuka. Alvian masuk, dan Kenanga, dengan wajah penuh ketakutan, berusaha mencari cara untuk melarikan diri. Alvian terus melangkah maju, sorot matanya tajam dan mengancam. Kenanga meraih bantal sofa terdekat dan melemparkannya ke arah Alvian, berharap bisa menghambat gerakannya. Namun, dengan mudah Alvian menepisnya. Kenanga tak punya pilihan lain, ia berbalik dan lari menaiki tangga menuju kamarnya, mengunci pintu di belakangnya. Ketakutan melanda Kenanga. Dengan santai, Alvian mulai mencoba mendobrak pintu kamar Kenanga. Kenanga bersembunyi di sudut lemari, tubuhnya gemetar hebat. "Braaak!" Pintu terbuka paksa. Dengan seringai menjijikkan, Alvian melangkah masuk, mencari Kenanga. "Kenanga, di mana kamu?" suaranya menggema di ruangan itu. "Ke mana pun kamu pergi, saya tidak akan melepaskanmu. Malam ini kamu harus menjadi milik saya, bukan kakakku yang lumpuh itu!" Alvian terus mencari. Ia tahu Kenanga pasti bersembunyi. Pandangannya akhirnya tertuju pada sudut lemari. Dengan kasar, Alvian menarik kerudung Kenanga. "Argggh! Alvian, lepaskan saya! Mohon lepaskan!" teriak Kenanga, berusaha melepaskan diri. Alvian terus menarik kerudung Kenanga hingga rambut panjangnya tergerai indah. "Wah, kamu cantik sekali, Kenanga. Sayang kalau dirimu dimiliki oleh si lumpuh itu," ucap Alvian, tatapan matanya menelanjangi Kenanga. Kenanga mundur, punggungnya membentur dinding. Ia terpojok, air mata mulai mengalir di pipinya. "Pergilah, Alvian! Saya mohon!" pintanya, suaranya putus asa. Alvian menarik tangan Kenanga ke dalam pelukannya. "Lepaskan, Alvian! Lepaskan!" teriak Kenanga, berontak sekuat tenaga. Alvian berusaha menciumnya, namun Kenanga terus memberontak. Dengan sisa tenaganya, Kenanga menendang kemaluan Alvian. "Arggggh!" Alvian mengerang kesakitan, memegangi bagian bawah perutnya. Kesempatan ini tidak disia-siakan Kenanga. Ia buru-buru keluar dari kamar dengan rambut berantakan dan lengan gamisnya robek, berlari sekencang-kencangnya keluar rumah. Sesampainya di halaman, Kenanga melihat Revan telah kembali. Rasa lega bercampur haru melandanya. Ia langsung memeluk Revan yang masih duduk di kursi roda. "Mas Revan!" teriak Kenanga, isak tangisnya pecah. "Tolong Kenanga! Alvian berniat melecehkan Kenanga!" Kemarahan Revan dan Pukulan Rudi Alvian, yang melihat Revan kembali, ikut keluar rumah. Wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut yang samar, namun dengan cepat ia ubah menjadi seringai mengejek. "Wah, Kak, kenapa balik lagi?" ucap Alvian. Revan menatap adiknya dengan mata menyala. Amarah memuncak di dadanya. "Rudi, hajar dia!" perintah Revan, suaranya rendah dan penuh kemarahan. Rudi, yang selain sopir juga seorang pengawal pribadi Revan, dengan sigap maju. Perkelahian pun tak dapat terhindarkan. Rudi bergerak cepat dan terampil, dengan mudah melumpuhkan Alvian dan menghadapkan wajah adiknya itu ke arah Revan. Dengan sisa amarah yang membakar, Revan mengangkat tangannya dan menampar Alvian. "Plak!" Suara tamparan itu menggema. Alvian menyeringai, darah mengalir dari sudut bibirnya. "Jangan cuma menyuruh pengawalmu untuk melumpuhkanku! Kita bertarung satu lawan satu!" tantangnya, tatapan matanya provokatif. "Pergilah, Dek. Jangan sampai Kakak gelap mata," ucap Revan, berusaha keras menjaga emosinya agar tidak lepas kendali sepenuhnya. "Rudi, lepaskan dia," perintah Revan. Rudi pun melepaskan Alvian. Sambil berlalu pergi, Alvian menoleh ke arah Kenanga dengan seringai mengancam. "Kenanga, ini belum selesai," ucapnya, suaranya penuh dendam, sebelum akhirnya menghilang dari pandangan. Kenanga bernapas lega, tubuhnya masih sedikit gemetar dalam pelukan Revan. Revan melihat rambut Kenanga yang berantakan dan gamisnya yang robek. "Rudi, ambilkan kerudung Kenanga," perintah Revan, suaranya kembali datar namun ada nada kepedulian di sana. Rudi segera masuk ke kamar Kenanga dan tak lama kemudian kembali membawa kerudung instan milik Kenanga. Kenanga yang masih berjongkok memeluk Revan tersenyum tipis. "Makasih, Mas, kamu telah menyelamatkan aku," ucap Kenanga, suaranya sedikit serak karena tangis. Rudi menyerahkan kerudung dan sebuah ikat rambut kepada Revan. "Rudi, kembalilah ke mobil," perintah Revan. Rudi mengangguk patuh dan berlalu. Dengan gerakan lembut, Revan mengikat rambut panjang Kenanga dengan rapi, jari-jarinya sesekali menyentuh kulit kepala Kenanga. Kemudian, ia memakaikan kerudung instan itu di kepala Kenanga, menutupi rambut yang tadi tergerai. "Bangunlah, Kenanga," perintah Revan. Kenanga bangkit, air mata di pipinya sudah mengering. Ia kemudian berusaha mendorong kursi roda Revan. Mereka berdua masuk ke dalam rumah. Kenanga mengantar Revan ke kamar tamu. "Biarkan saya sendiri, Kenanga," ucap Revan, pandangannya lurus ke depan. "Tapi, Mas, Kenanga mau bantu Mas Revan," pinta Kenanga. "Tidak usah, saya bisa sendiri," jawab Revan. Dengan berat hati, Kenanga menghela napas. Ia keluar dari kamar tamu dan menutup pintu, meninggalkan Revan sendirian di dalamnya. Meskipun telah diselamatkan, ada gurat kekecewaan di wajah Kenanga melihat Revan kembali bersikap dingin dan menjaga jarak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD