Malam itu, aroma sate ayam yang Kenanga siapkan memenuhi ruang makan, namun kehangatan yang seharusnya ada tak kunjung datang. Revan, suaminya, duduk di seberangnya seperti patung, dingin dan tak terjangkau. Sepiring sate yang dihidangkan dengan sepenuh hati itu seolah tak mampu mencairkan kebekuan di antara mereka. Setelah suapan terakhir, Revan bangkit tanpa sepatah kata, melangkah kembali ke kamarnya, meninggalkan Kenanga sendiri di meja makan yang terasa semakin luas.
Kenanga membereskan piring-piring dengan gerakan lambat, hati kecilnya berdenyut nyeri. Ia kemudian melangkah ke balkon kamarnya, membiarkan angin malam membelai wajahnya. Langit di atas sana pekat, tanpa bintang, mencerminkan perasaannya. Ia menatap kegelapan itu, pertanyaan-pertanyaan berdesir di benaknya, menghantam dinding hatinya yang rapuh.
"Pernikahan ini... kenapa rasanya seperti es saja? Begitu dingin. Setiap hari aku berusaha, mencoba mencairkan hatinya, membangun jembatan di antara kami. Tapi, sepertinya sia-sia. Revan seperti tembok tak kasat mata, selalu ada, tapi tak pernah bisa kuraih. Apa aku salah? Apa yang kurang dari diriku?
Aku tahu ini bukan pernikahan yang kuinginkan sepenuhnya, tapi bukankah kita bisa membangunnya bersama? Bukankah seharusnya ada sedikit kehangatan, setidaknya sebagai pasangan? Tapi tidak, yang ada hanya kebisuan dan jarak.
Aku merindukan tawa, percakapan ringan, atau bahkan sekadar tatapan hangat. Aku merindukan rasa bahwa aku tidak sendirian dalam pernikahan ini. Malam ini, seperti malam-malam sebelumnya, aku hanya bisa menatap kegelapan di luar sana, bertanya-tanya, sampai kapan es ini akan terus membekukan kami?"
Pagi harinya, Kenanga terbangun dengan perasaan hampa. Sisi tempat tidur Revan sisa semalam. Ia menoleh ke jam, masih terlalu pagi untuk berangkat kerja. "Ke mana Revan pergi? Apa ke kantor?" batinnya. Tak ada pesan, tak ada suara, tak ada pamit seperti layaknya suami istri. Lagi-lagi, hanya kepergian yang sunyi.
Hatinya mencelos. Seberat apa pun pernikahan ini dimulai—sebagai syarat untuk melunasi utang ayahnya—ia selalu berharap ada sedikit kehangatan yang bisa tumbuh. Setidaknya, sisa-sisa kesantunan antara dua orang yang terikat janji. Tapi yang ia dapat hanya kebisuan dan jarak yang semakin membeku.
"Apa aku benar-benar tak berarti apa-apa baginya? Bahkan sekadar ucapan 'aku pergi' pun tak ada. Bagaimana bisa aku hidup seperti ini? Pernikahan macam apa ini jika setiap hari yang ada hanya kekosongan dan pertanyaan tanpa jawaban?" Kenanga memejamkan mata, menahan embun yang ingin jatuh. Ia merasa seperti hidup di rumah yang sama, namun di dunia yang berbeda, sendirian.
Pagi itu, Kenanga terbangun dengan tekad membaja, mengusir dinginnya sepi yang semalam merayapi. Ia menatap sisi ranjang yang sudah kosong di sampingnya, sebuah kebiasaan menyakitkan yang kini seolah menjadi bagian tak terpisahkan dari hari-harinya. Revan sudah pergi lagi, tanpa pamit, tanpa jejak, hanya menyisakan sunyi yang menganga. Namun, kali ini, Kenanga menolak untuk menyerah pada kebekuan itu. "Tidak," bisiknya pada bayangan dirinya di cermin, "pernikahan ini tidak akan terus seperti ini."
Tangannya cekatan menyiapkan sarapan. Bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah ritual kecil yang ia selipkan harapan. Nasi goreng dengan irisan telur dadar yang tertata apik, taburan bawang goreng renyah, dan potongan buah segar di sisinya. Sebuah kotak bekal turut ia siapkan, berisi hidangan serupa, untuk Revan. Hatinya berdesir, membayangkan ekspresi pria itu saat menerima bekal ini. Ia tahu ini bukan hanya tentang makanan, tapi sebuah pesan, sebuah jembatan yang ingin ia bangun.
Dengan kotak bekal di tangan, Kenanga melangkah menuju mobil. Jantungnya berdebar kencang, irama yang selaras dengan doa-doa kecil yang tak henti dipanjatkannya. Bagaimana jika Revan menolak? Bagaimana jika sikap dinginnya tetap tak tergoyahkan? Berbagai skenario buruk menyeruak, namun Kenanga cepat-cepat mengusirnya. Ia harus mencoba. Ia harus mendobrak dinding es itu.
Kantor Revan menjulang megah, cerminan dari status dan kesuksesan suaminya. Lobi luas dengan marmer berkilau terasa dingin dan formal. Kenanga menghampiri meja resepsionis, senyum tipis terukir di bibirnya, meski hatinya gelisah.
"Selamat pagi," sapanya ramah. "Saya Kenanga, ingin bertemu dengan Bapak Revan."
Resepsionis muda itu membalas senyum. "Selamat pagi, Ibu. Apa Bapak Revan sudah membuat janji dengan Anda?"
Kenanga mengangguk, lalu menggeleng pelan. "Belum, tapi saya istrinya. Saya hanya ingin mengantar ini." Ia mengangkat sedikit kotak bekal itu, menunjukkan isinya. resepsionis, namun segera digantikan senyum profesional. "Baik, Ibu. Saya akan coba hubungi Bapak Revan terlebih dahulu."
Kenanga menunggu dengan cemas. Setiap detik terasa panjang, seperti jarum jam yang enggan beranjak. Telepon berdering, dan resepsionis itu berbicara singkat. "Bapak Revan sedang ada rapat, Ibu. Tapi beliau mengizinkan Anda menunggu di ruang tunggu, atau jika Ibu mau, saya bisa mengantarkan bekalnya langsung."
"Tidak apa-apa, saya akan menunggu saja. Terima kasih," jawab Kenanga cepat. Ia ingin bertemu Revan, walau hanya sekilas. Ia ingin pria itu melihat usahanya, bukan sekadar menerima bekal yang diantar orang lain.
Ruang tunggu itu mewah, namun dingin. Kenanga membiarkan dirinya tenggelam dalam kursi empuk, membiarkan pikirannya berkelana. Apa Revan akan tersenyum? Atau tatapannya akan tetap datar, membeku? Ia membayangkan berbagai respons, menyiapkan hatinya untuk yang terburuk, namun tetap menyimpan secercah harapan.
Sekitar lima belas menit kemudian, pintu lift terbuka. Revan melangkah keluar, diikuti oleh beberapa pria berjas rapi. Wajahnya seperti biasa, datar, tanpa ekspresi. Kursi roda di dorong oleh rudi, memancarkan aura d******i yang Kenanga kenal betul. Pandangannya menyapu ruang tunggu, dan mata mereka bertemu. Sedikit kejutan melintas di wajah Revan, hampir tak terlihat.
"Kenanga? Ada apa?" Suaranya datar, tanpa intonasi. Dingin, persis seperti yang Kenanga duga.
Kenanga bangkit, mencoba memancarkan ketulusan lewat senyumnya. "Maaf mengganggumu, mas Revan," katanya, menyodorkan kotak bekal itu. "Aku cuma ingin mengantarkan ini. Aku buatkan sarapan dan bekal untukmu. Tadi pagi kamu sudah pergi."
Revan menatap kotak bekal itu sejenak, lalu beralih ke wajah Kenanga. Ekspresinya tak terbaca, seperti topeng yang tak bisa ditembus. Rekan-rekan kerjanya yang berdiri tak jauh dari Revan sesekali melirik ke arah mereka, penasaran.
"Tidak perlu repot-repot," kata Revan, suaranya masih dingin, namun tangannya terulur meraih kotak bekal itu. "Terima kasih."
"Aku... aku cuma ingin kamu makan yang layak," Kenanga melanjutkan, suaranya sedikit bergetar. "Dan aku ingin kita bicara, Revan. Aku tidak mau pernikahan ini terus seperti ini." Kalimat terakhir itu meluncur lebih pelan, sarat permohonan.
Revan tidak langsung menjawab. Ia hanya memegang kotak bekal itu, pandangannya sedikit menerawang, seperti memikirkan sesuatu yang jauh. Ada keheningan sesaat, diwarnai tatapan-tatapan dari orang-orang di sekitar.
"Aku harus kembali bekerja," ujar Revan akhirnya, mengembalikan Kenanga pada kenyataan.
"Aku tahu," jawab Kenanga cepat. "Tapi, bisakah nanti malam kita bicara? Sebentar saja."
Revan mengangguk kecil, anggukan yang nyaris tak terlihat. "Baiklah."
Dan setelah itu, ia berbalik, rudi mendorong kursi roda Revan dan pergi bersama rekan-rekannya, meninggalkan Kenanga yang masih berdiri di sana, memegang sisa-sisa harapannya. Kenanga tak tahu apakah anggukan kecil dan kata "baiklah" itu berarti sebuah awal, atau hanya formalitas belaka. Namun, untuk saat ini, itu sudah cukup baginya. Setidaknya, kotak bekal itu diterima, dan ada janji singkat untuk bicara. Sebuah langkah kecil, setitik cahaya di tengah dinginnya es, dan Kenanga berdoa, semoga ini adalah awal dari sesuatu yang lebih baik.
Malam itu, jam dinding berdetak semakin keras di telinga Kenanga. Pukul sembilan, dan Revan belum juga menunjukkan batang hidungnya. Meja makan sudah tersaji rapi, hidangan yang Kenanga siapkan dengan penuh harap kini mulai mendingin. Setiap dering telepon, setiap suara mobil yang lewat di jalan depan, selalu memicu lonjakan harapan yang kemudian patah. Janji Revan untuk bicara malam ini, yang Kenanga pegang erat-erat sebagai secercah harapan, kini terasa seperti ilusi.
Ia meraih ponsel, jemarinya ragu saat menekan nomor Akmal, asisten pribadi Revan. Hatinya sudah berdebar tak karuan, firasat buruk mulai merayapi.
"Halo, Akmal?" suara Kenanga sedikit bergetar.
"Ya, Ibu Kenanga? Ada yang bisa saya bantu?" sahut Akmal, suaranya terdengar profesional seperti biasa.
"Apa pak Revan... apa dia ada di kantormu?" Kenanga mencoba mengatur napas. "Dia belum pulang."
Ada jeda sejenak di seberang sana. "Maaf, Ibu. Bapak Revan sudah terbang ke Bali sore tadi. Ada pertemuan bisnis mendadak di sana."
Dunia Kenanga seolah runtuh dalam sekejap. Bali? Pertemuan bisnis? Tanpa pamit? Lagi-lagi. Hatinya mencelos, lebih hampa dari sebelumnya. "Oh... baiklah. Terima kasih, Akmal." Ia menutup telepon, menatap meja makan yang kini terasa lebih kosong dari sebelumnya. Janji itu, percakapan itu, lagi-lagi sirna ditelan kesibukan Revan yang tak terduga. Air matanya menetes, melukis jejak perih di pipinya. Dinginnya pernikahan ini benar-benar terasa membekukan.
Kedatangan yang Mengejutkan
Tiga hari berlalu dengan Kenanga tenggelam dalam tumpukan dokumen dan rapat kerja sama. Ia menyibukkan diri, mencoba mengalihkan pikiran dari Revan dan kekosongan yang terus membayang. Ruangan kerjanya yang elegan menjadi saksi bisu kegigihannya.
Ketukan di pintu membuyarkan konsentrasinya. "Masuk!" serunya.
Sekretarisnya muncul, tersenyum tipis. "Maaf mengganggu, Bu. Ada tamu yang ingin bertemu Anda."
Kenanga mengernyit. "Siapa?"
"Bapak Revan," jawab sekretaris itu, ada nada tak biasa dalam suaranya.
Kenanga terkesiap. Revan? Secepat ini? Ia baru saja kembali dari Bali? "Suruh masuk," katanya, berusaha terdengar tenang meski jantungnya berpacu kencang.
Pintu terbuka lebih lebar, dan Kenanga melihat sosok Rudi, salah satu staf di kantor Revan, mendorong sebuah kursi roda. Di atas kursi roda itu, duduklah Revan. Wajahnya agak pucat, namun tatapannya tetap setajam biasanya. Rudi dengan hati-hati membantu Revan berpindah ke sofa yang ada di ruangan Kenanga.
Kenanga bangkit dari kursinya, sedikit terkejut dengan pemandangan di depannya. Ia berusaha menyembunyikan keterkejutannya di balik senyum manis.
"Mas Revan?" Kenanga melangkah mendekat, duduk di sampingnya, tatapannya menyiratkan kerinduan yang mendalam. "Senang mas Revan kesini, mas Revan sudah sarapan?" Tangannya terulur ingin menyentuh Revan, namun ia menahan diri.
Revan menatapnya, ekspresinya masih sulit dibaca. "Belum," katanya singkat.
"Oh, kebetulan sekali, Mas." Kenanga tersenyum manis, memecah keheningan di antara mereka. "Bagaimana kalau kita sarapan bersama?"
Revan menatapnya, ada sedikit gurat kelelahan di wajahnya, namun tatapannya tak sebeku tadi. "Mau sarapan di mana?" tanyanya, suaranya masih datar, namun tak menolak.
Kenanga berpikir sejenak. "Hmm, dekat sini ada bubur ayam yang enak. Nanti sekretaris saya bisa membelikannya."
Revan mengangguk tipis. "Boleh."
Tak lama kemudian, dua mangkuk bubur ayam hangat mengepul di meja kerja Kenanga, aroma gurihnya memenuhi ruangan. Rudi sudah pergi, meninggalkan Kenanga dan Revan berdua. Ini adalah momen yang Kenanga nanti-nantikan, kesempatan untuk mendekatkan diri, sedikit demi sedikit.
"Mas, boleh Kenanga suapin?" Kenanga bertanya lembut, memegang sendok. Senyum tulus mengembang di bibirnya.
Revan menggeleng pelan, fokus pada mangkuk di depannya. "Enggak usah. Saya bukan anak kecil," jawabnya, masih menghabiskan buburnya.
Kenanga tidak menyerah. Ia tahu, dinding es itu tak akan runtuh semudah itu. Ia hanya mengangguk, lalu mulai menyantap buburnya sendiri. Namun, matanya tak lepas dari Revan. Saat Revan mengangkat sendok, setitik bubur menempel di sudut bibirnya. Tanpa berpikir panjang, Kenanga mengulurkan tangan, jemarinya yang lentik menyentuh lembut sudut bibir Revan, mengusapnya hingga bersih.
Revan berhenti makan, tatapannya beralih pada Kenanga, dingin namun tak marah. "Maaf," bisik Kenanga, pipinya sedikit merona, menyadari tindakannya yang spontan.
Setelah sarapan selesai, Kenanga menghela napas, menumpukan kepalanya di bahu Revan yang terasa kokoh. Aroma maskulin Revan menyeruak, entah mengapa terasa begitu menenangkan. "Mas, mau makanan penutup?" tanyanya, suaranya sedikit merajuk.
"Sudah kenyang, Kenanga," jawab Revan datar, tanpa menggerakkan bahunya.
Kenanga mengangkat kepalanya, kedua tangannya menangkup wajah Revan, ibu jarinya membelai lembut rahang suaminya. Ia menatap lekat mata Revan, mencoba membaca apa yang tersembunyi di baliknya. Perlahan, ia mendekatkan wajahnya, membiarkan napas hangatnya menyapu wajah Revan, lalu bibirnya mendarat lembut di bibir Revan.
Awalnya, ciuman itu hanya sebuah sentuhan singkat, penuh harapan. Namun, yang mengejutkan Kenanga, Revan tidak menolak. Sebaliknya, lengan Revan terulur, menarik Kenanga lebih dekat, membalas ciumannya dengan intensitas yang tak terduga. Bibir mereka menyatu, saling melumat, seolah melampiaskan kerinduan yang terpendam selama tiga hari tak bertemu. Ciuman itu dalam, penuh gairah yang membara, memadamkan dinginnya suasana, setidaknya untuk sesaat. Kenanga merasakan degupan jantungnya sendiri, bersahutan dengan degupan jantung Revan yang terasa berdetak kencang. Dalam ciuman itu, Kenanga merasa, ada celah kecil yang terbuka di dinding es itu.