Usai menuntaskan dzikir dan menutup doa panjangnya, Kenanga menatap Revan dengan pandangan lembut. Ia bangkit perlahan, lalu meraih tangan Revan dan menciumnya dengan takzim—sebuah tanda penghormatan, cinta, dan harapan bahwa suaminya yang kini duduk di hadapannya benar-benar telah berubah. Revan menatap istrinya, hatinya mencelos—bukan karena rasa bersalah, melainkan karena rasa syukur yang tak terhingga. Kenanga masih bersedia menciumnya dengan penuh hormat, setelah semua luka yang pernah ia timbulkan. Kenanga melepas mukenahnya, melipatnya rapi di sisi ranjang. Keduanya lalu duduk berdampingan di tepi kasur. Sunyi pagi masih menyelimuti, tapi hangatnya terasa seperti sinar pertama matahari. “Mas…” Kenanga menoleh, menatap wajah suaminya dengan alis sedikit mengernyit. “Kakinya masih

