"Tante.." panggil Lumina dengan suara lirih di saat ia melihat Ratih baru saja keluar dari dalam rumah. Ratih tersenyum kaku pada saat itu, entah mengapa – ia masih saja tidak bisa menerima gadis itu menjadi pengganti Diandra. "Kenapa kamu kesini?" tanya Ratih, sekedar berbasa-basi basi saja. "Kak Devan tidak menelpon ku kemarin, chat ku juga ngga di balas. Aku khawatir, dan takut dia marah padaku." balas Lumina dengan suara yang terdengar dibuat memelas. Ratih memandangi wajah gadis itu, dan ia melihat tatapan matanya yang berkaca-kaca. 'Ayolah, bersimpati padaku, dan marahi putramu yang sudah menyia-nyiakan gadis sesempurna aku..' batin Lumina. Ratih tampak diam, dan hal itu akhirnya membuat Lumina bingung, tapi juga kesal. "Hm, begitu ya? Mungkin dia sibuk, dan tadi malam juga

