Radit dan Anjani baru saja selesai makan dan bersiap berangkat kerja saat mendengar suara bel pintu apartement Anjani berbunyi. Radit bergegas membuka pintunya saat Anjani tengah ke kamarnya untuk mengambil tas dan juga beberapa berkas pekerjaannya. Tanpa curiga Radit mempersilakan pria yang ingin bertamu itu masuk dan duduk di sofa ruang tamu mereka.
"Ka....kau..??!." ucap Anjani gugup dan terkejut saat melihat sosok yang sedang duduk di ruang tamunya. Radit mengernyit heran dan mendekati Anjani saat menangkap reaksi Anjani yang berbeda dari biasanya bahkan wajah angkuh Anjani pun menghilang.
"Iya.....ini Aku.... Kau merindukanku?..." ujar pria itu santai dengan alis yang sedikit naik terkesan sombong.
"Cih... merindukanmu?.. tidak mungkin.." ucap Anjani berusaha kembali menunjukkan wajah angkuhnya.
"Benarkah??..."tanya Andri sedikit tersenyum miring dan mulai mendekati Anjani.
"Apa maumu?... Aku sibuk dan harus segera bekerja...." ucap Anjani yakin sudah kembali dengan wajah angkuhnya.
"Bekerja?.... Apakah harta kekayaan yang Kau curi itu masih belum cukup untuk menghidupimu?..."
"Aku tidak mencuri apapun.... Andri Sanjaya....." jawab Anjani menatap tajam dengan wajah penuh emosi. Radit hanya memperhatikan karena tidak mengerti akan pembicaraan itu.
"Ckckck.... terserah apa katamu.... tapi bersiaplah.... dia sudah bebas....dan setelah ini mungkin Ia akan membunuhmu untuk mengambil hartanya kembali...." ucap Andri berbalik dan mulai beranjak meninggalkan Anjani.
"Dan Kau bisa datang padaku jika ingin pertolongan dariku.... Kau tahu... dengan harta yang Kau berikan waktu itu... Aku sudah bisa membangun bisnis dan memiliki harta yang cukup banyak..." ucap Andri lagi menatap Anjani sebentar lalu kembali melangkahkan kakinya meninggalkan apartement Anjani.
Setelah bayangan tubuh Andri menghilang, Anjani sedikit merasa lemas pada tubuhnya sehingga tanpa sadar Ia memegang lengan Radit agar tidak terjatuh. Radit melihat keringat dingin mengalir di sekitar wajah Anjani dan Anjani nampak pucat. Saat Radit ingin memapah Anjani, seolah Anjani tersadar Ia segera melepaskan pegangan tangannya pada lengan Radit dan berusaha menunjukkan wajah angkuhnya lagi sebelum melangkah keluar apartementnya. Walau wajah angkuh Anjani sudah kembali namun Radit dapat melihat sedikit sorot mata ketakutan di mata Anjani. Siapa sebenarnya Andri dan kenapa sepertinya Anjani takut sekali dengan Andri, pikir Radit.
~oO0Oo~
"Anjani..... Sebaiknya kita jual seluruh aset dan kekayaan itu,... setelah itu kita pergi bersama...." Ajak Andri.
"Tidak....Aku tidak akan kemana pun..." yakin Anjani.
"Ayolah Jani... Kita bisa menikah dan hidup bahagia dengan hasil penjualan harta itu...."
"Tidak.... Aku akan melaporkanmu pada polisi...."ucap Anjani yakin dan akan beranjak mengambil ponselnya namun ditahan oleh Radit.
"Anjani.... Kau tega melaporkanku?.... Kau tidak mencintaiku...?" Ucap Andri marah dan kecewa mendengar penolakan Anjani.
"Tidak..... Aku tidak mungkin mencintai pria licik sepertimu... Aku tidak akan pernah mau hidup bersamamu..." ucap Anjani yakin dengan airmata yang sudah mengalir penuh rasa sedih dan kecewa.
"Tidak... Aku yakin Kau mencintaiku.... Aku akan membuktikannya..... Dan Kau harus menjadi milikku...." Andri langsung mencengkram kedua lengan atas Anjani dan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Anjani berusaha mencium bibir Anjani. Anjani selalu menggerakkan wajahnya menolak dari ciuman Andri lalu menendang s**********n Andri dengan lututnya. Anjani berniat berlari keluar ruangan itu namun Andri langsung menahan pergelangan tangannya dan menarik paksa Anjani ke kamarnya dan melemparkan Anjani ke ranjangnya. Andri bergerak menindih Anjani dan mulai mengkoyak pakaian Anjani lalu kembali berusaha mencium paksa bibir Anjani.
"Tidaaak..... TIDAAAKK ..... HENTIKAN... KUMOHON... HIKZ.....TIDAAAĶKKK....."Teriak Anjani kemudian terbangun dari tidurnya dengan peluh keringat yang membanjiri wajahnya dan juga tatapan takut. Anjani melihat sekelilingnya dan merasa lega karena Ia berada di kamarnya.
"Tok.....tok....tok....tok....Anjani....Ani ... Anjani .... " panggil Radit sembari terus mengetuk pintu kamar Anjani yang terkunci. Anjani yang menyadari Radit memanggilnya segera mencoba menetralkan nafasnya yang memburu dan kembali dengan wajah angkuhnya.
"Anjani.... Kau baik-baik saja?..."tanya Radit yang sepertinya mendengar teriakan Anjani.
"Aku baik-baik saja...."jawab Anjani yakin dengan wajah angkuhnya. Radit tidak yakin dengan jawaban Anjani sehingga Ia masih diam dan meneliti kejujuran di mata Anjani. Anjani yang menyadari Radit tidak mempercayai jawabannya mencoba mengalihkan perhatian dan pikiran Radit.
"Kenapa?.....Kau merindukanku?..." tanya Anjani dengan gaya biasanya mengusap wajah Radit lalu merangkulkan kedua tangannya di pinggang Radit. Radit masih menatap Anjani intens dan melihat tangan Anjani yang sedikit gemetar. Anjani yang sadar tangannya gemetar segera memeluk erat pinggang Radit dan meletakkan kepalanya di d**a Radit.
"Temani Aku...."ujar Anjani pelan dan tanpa terasa setetes airmata mengalir melalui pelupuk mata Anjani. Untungnya Radit tidak menyadari itu dan tanpa banyak protes Ia membawa Anjani berbaring di ranjang. Tidak lama setelah berbaring bersama Radit, Anjani sudah kembali terlelap dengan nyenyak. Sedangkan Radit masih terjaga memikirkan sesuatu.
Flashback
"Kau mungkin hanya mengenal Mbak Jani sebagai wanita yang angkuh.... namun itu bukan dirinya.... perjalanan hidup Mbak Jani yang sulitlah yang terpaksa membuat Dia berubah..... banyak yang harus Ia hadapi untuk sampai di tahap ini.... Selama ini Mbak Jani adalah wanita yang kuat dan tegar..... tapi ada dua orang di dunia ini yang akan bisa membuat pertahanannya runtuh..... dua orang yang berperan penting dalam perubahan dirinya..... dua orang yang melakukan hal yang sama padanya dan membuatnya trauma.... dua orang yang akan sangat membahayakan hidupnya......." jelas Ayyash setelah cukup lama berfikir apakah Ia harus menceritakan masalah Anjani pada Radit.
"Siapa mereka?...." tanya Radit penasaran.
"Mbak Jani akan membunuhku jika Aku memberitahukannya..... dia tidak ingin Kau ikut campur... tapi Aku hanya bisa mengandalkanmu untuk menjaga dan melindunginya selama 24 jam..... hanya Kau yang diperbolehkannya untuk dekat dengannya...." jawab Ayyash.
"Kenapa hanya Aku yang boleh dekat dengannya?..." tanya Radit lagi.
"Karena Kau membencinya.... Ku harap Kau tetap membencinya.... karena jika sedikit saja Kau menyukainya..... dia akan membuatmu menjauh darinya...."
"Kenapa?..."
"Menurutmu kenapa?....itulah kenapa Kami orang-orang yang menyayanginya tidak bisa terlalu dekat dengannya.... Kuharap setelah Aku memberitahumu tentang semua ini.... Kau bisa menjaga dan melindunginya...." Radit hanya terdiam memikirkan semua ucapan Ayyash tentang Anjani yang ternyata memiliki perjalanan hidup yang sulit.
Flashback end
"Apa Aku bisa tetap membencinya?..." gumam Radit menatap Anjani yang tidur dengan wajah polosnya.
~oO0Oo~
Seminggu berlalu sejak kedatangan Andri ke apartement Anjani, dan sejak itu pula Anjani tidak bisa tidur nyenyak. Walau Ia sudah meminum obat tidur namun Ia akan tetap terbangun di malam hari karena mimpi buruk itu. Anjani pun meminta Radit menemaninya karena merasa bisa selalu merasa nyaman bersama Radit. Dengan gaya angkuhnya Anjani selalu meminta Radit menemaninya dengan alasan Radit adalah prianya yang harus selalu mengikutinya dan Radit tidak bisa membantah itu. Lagi pula hanya sebatas menemani tidur tanpa melakukan apapun.
Hari ini Anjani, Radit, Hengky, Ayyash dan Rani sedang mendiskusikan sebuah proyek dengan tender besar.
"Mereka berharap Kau yang akan langsung menemui mereka dan menyampaikan proposal yang kita buat....."ucap Rani menyampaikan keinginan klien mereka.
"Kenapa?...." tanya Hengky.
"Baiklah... katakan kapan dan dimana?..." ucap Anjani langsung.
"Mereka hanya ingin pembicaraan privasi... hanya berdua.,.." lanjut Rani.
"Apaa???... Mana bisa begitu..." kesal Ayyash.
"Katakan Aku menyetujuinya...." ucap Anjani lagi tidak peduli tatapan kesal Hengky dan Ayyash sementara Radit hanya diam dengan raut wajah tak terbaca.
"Mbakkk...." Ayyash ingin mencegah namun Anjani terlebih dahulu memotong ucapannya.
""Waktuku tidak banyak.....lagipula ini hanya pembicaraan bisnis...."ucap Anjani pelan karena merasa sangat lemas.
"Tapi Kau sedang sakit Jani...."geram Hengky sekaligus sedih melihat keadaan sahabatnya itu. Hengky juga yakin pasti ada rencana dibalik semua ini. Kenapa pemilik perusahaan dari China yang akan diajak bekerja sama itu hanya ingin bicara berdua dengan Anjani. Hengky juga khawatir, karena banyak pemilik perusahaan lain yang sedikit tidak suka dengam gaya Anjani yang angkuh.
"Aku hanya butuh istirahat....."jawab Anjani. Ayyash dan Hengky hanya bisa menghela nafas pasrah. Sedangkan Radit terus menatap Anjani dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Radit....temani Aku pulang..."ucap Anjani setelah meminum obatnya dan mulai kembali kuat melangkah.
Saat sudah tiba di apartemennya, Anjani langsung berbaring di ranjangnya dan Radit bergegas ke kamarnya sendiri. Mereka terus berada di kamar masing-masing hingga malam hari. Anjani sudah merasa lebih segar dan sudah selesai memasak makan malam namun Radit nampak belum kelihatan. Anjani pun mencoba ke kamar Radit.
Tok.....tok....tok....
Anjani mengetuk pintu berulang kali karena pintu kamar Radit terkunci dan belum juga dibuka setelah diketuk berulang kali.
"Radit..... Kau tidak makan?..." tanya Anjani dengan gayanya.
"Aku belum lapar..."jawab Radit pelan dengan suara serak seperti orang bangun tidur.
"Kau sakit??..." tanya Anjani dengan ekspresi khawatir yang tiba-tiba muncul di wajahnya saat melihat wajah sayu dan pucat Radit. Panas, itu yang Anjani rasakan saat menyentuh leher Radit dengan punggung telapak tangannya. Anjani menuntun Radit untuk kembali berbaring di ranjangnya. Radit hanya diam dan menerima saat Anjani dengan telaten merawatnya, mengkompres keningnya dan sesekali memijat kepala serta tubuh Radit yang lain seperti tangan dan kakinya. Radit kini nampak sudah terlelap setelah memakan bubur dan meminum obat demamnya. Anjani terus terjaga duduk di tepi ranjang Radit mengawasi Radit hingga suhu panas Radit benar-benar turun. Setelah merasa Radit lebih baik dan bisa tidur nyenyak, Anjani ikut berbaring bersama Radit karena Ia juga merasa lelah.
"Aku merasa 'de javu'..." ucap Anjani tersenyum saat ikut berbaring dan memeluk tubuh Radit yang hanya berbalut kaus dalam berwarna putih.
~oO0Oo~
"Kau sudah bangun?..."tanya Anjani mengerjapkan mata berulang kali ketika baru terbangun dan melihat Radit sudah duduk bersandarkan kepala ranjang.
"Hmm...."jawab Radit masih memejamkan mata. Rafit membuka matanya dikala merasakan sentuhan di kening, pipi dan lehernya. Ternyata Anjani tengah memeriksa suhu badan Radit.
"Sudah lebih baik.... tapi Kau harus banyak istirahat.... sepertinya Kau kelelahan... Aku akan memasakkan bubur...."Anjani bersiap beranjak namun tangannya ditahan oleh Radit.
"Kau benar-benar akan menemui pemilik perusahaan China itu ?.."tanya Radit dengan tatapan datarnya sementara Anjani mengernyit heran.
"Mungkin malam ini...."jawab Anjani santai kemudian mencium pipi Radit dan memeluk Radit dari samping.
"Kau sudah biasa melakukannya?... Apa Kau juga mendapatkan kekayaan berlimpah dengan cara seperti ini?..." Tanya Radit dengan sorot mata tajam. Radit berfikir jika ingin melakukan pembicaraan berdua maka tentunya bukan hanya membicarakan bisnis dan mungkin juga melakukan hal lain. Anjani merasa sakit mendengar perkataan Radit namun Ia berusaha menanggapi santai.
"Menurutmu?... Apa Kau percaya jika Aku bilang tidak?.... Atau Kau mau kita membuktikannya, apakah Aku seperti pikiranmu atau tidak? ...." ucap Anjani sembari menyentuh wajah dan d**a Radit seduktif namun dengan gaya angkuhnya.
"Cih..... pergilah..... lakukan semaumu... Aku tidak peduli...."ujar Radit dingin lalu kembali merebahkan tubuhnya memunggungi Anjani.
"Baguslah jika Kau tidak peduli....."ucap Anjani lalu pergi keluar kamar Radit. Anjani sejujurnya takut karena pemikirannya juga sama dengan Hengky, tidak mungkin jika nantinya hanya akan melakukan pembicaraan bisnis. Dulu Anjani juga sering menghadapi hal ini, banyak yang hanya ingin melakukan pembicaraan berdua. Namun biasanya Anjani sudah menyiapkan banyak informasi tentang lawannya itu jika lawannya melakukan sesuatu yang membahayakannya. Tapi untuk sekarang ini Ia tidak memiliki informasi apapun karena tidak banyak yang tahu mengenai pemilik perusahasn China itu. Anjani berusaha menghilangkan ketakutannya karena seperti katanya, waktunya tidak banyak. Anjani harus memenuhi target pencapaiannya sebelum Ia benar-benar pergi dan menyerahkan seluruh hartanya.
Selama seharian Radit hanya berbaring di ranjangnya karena merasa lemas. Anjani memilih mengerjakan pekerjaan kantornya di apartementnya saja karena tidak ingin meninggalkan Radit sendiri. Radit hanya diam dan melihat Anjani yang duduk di ranjangnya namun sibuk dengan pekerjaannya.
~oO0Oo~
"Kau yakin akan melakukannya?..."tanya Hengky memastikan.
"Sepertinya Aku tidak punya pilihan.,."jawab Anjani santai.
"Ada Jani..... semua selalu ada pilihan...." geram Hengky.
"Tapi tidak denganku yang hanya memiliki waktu sedikit...." ujar Anjani santai duduk di sofa ruang tamunya sembari membaca berkas-berkas nya.
"Selalu waktu yang Kau ucapkan.....lalu bagaimana jika waktumu berakhir saat bertemu dengan pengusaha China itu...?" kesal Hengky dan Anjani terdiam bingung harus menjawab apa.
"Ayolah Mbak.... biar kami melindungimu..... Kami tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk denganmu sehingga membuat waktu yang kau ucapkan semakin singkat...."nMohon Ayyash. Hengky dan Ayyash datang ke apartement Anjani sore hari sebelum Anjani benar-benar pergi menemui pengusaha China itu.
"Kalian berusaha melindungiku dari orang luar.... tanpa kalian sadari bahwa orang terdekat ku yang sebenarnya membuat waktuku semakin singkat..," ucap Anjani dalam hati sembari memejamkan mata. Anjani tidak tahu harus bagaimana disaat-saat seperti ini. Tidak dipungkiri bahwa Ia takut, sangat takut. Hal ini mengingatkannya akan peristiwa 2 tahun lalu yang membuat seorang sahabatnya meninggal. Tentu Anjani tidak ingin ada orang lagi yang harus kehilangan nyawanya hanya untuk melindunginya. Tapi Anjani juga takut jika terjadi hal buruk dengannya nanti namun Ia belum menyelesaikan janjinya.
"Radit...."ucap Hengky yakin membuat Anjani sontak membuka matanya lalu menatap Hengky tidak mengerti.
"Bukankah Kau tidak ingin Kami yang melindungimu karena takut Kami mengorbankan nyawa Kami untukmu.....tapi jika Radit yang bersamamu, Kau tidak perlu khawatir.... karena Dia tidak mungkin mengorbankan nyawanya untukmu....." Anjani hanya diam belum menanggapi.
"Lalu apa gunanya Ia disana jika bukan untuk melindungi Mbak Jani?..." kesal Ayyash.
"Hanya untuk membuat mereka sedikit berfikir sebelum melakukan hal buruk pada Jani disaat ada seseorang dengan tatapan tajam dan dingin berada di sebelah Anjani..... Atau Dia bisa langsung menghubungi kita jika keadaan mendesak......" jelas Hengky.
"Mbak....."panggil Ayyash saat Anjani tidak juga menanggapi.
"Sudah kubilang kan, Aku tidak ingin Dia ikut masalahku.... menurutmu kenapa Aku memaksanya berada di dekatku?..." gumam Anjani.
"Aku tahu Kau ingin melindunginya.... tapi selagi belum ada yang tahu siapa Radit, maka dia masih aman-aman saja kan?..." jawab Hengky.
"Radit sedang sakit...."gumam Anjani lagi.
"Baiklah..... kalau begitu Aku yang menemani.... Mbak tidak usah melarangku..... biarkan sekali ini Aku yang membantu Mbak..." tegas Ayyash dan Anjani hanya bisa menghela nafas pasrah.
Akhirnya Ayyash menemani Anjani menemui pengusaha China tersebut walau Ayyash terpaksa menunggu di luar kamar hotel itu berjaga-jaga jika terjadi hal buruk pada Anjani.