"Eunghh..." lenguh Radit yang baru terbangun setelah banyak tidur seharian ini. Radit mengerjapkan matanya berulang kali lalu melihat ke sekeliling kamarnya mencari sosok yang selama seharian ini duduk di sofa kamarnya untuk menjaganya. Dia sontak terkejut saat melihat jam dinding menunjukkan pukul 9 malam dan sosok yang Ia cari tidak ada.
"Sial..." gerutu Radit karena lengah sehingga kini Anjani sudah pergi menemui pengusaha China itu. Radit pun bergegas beranjak dari ranjangnya sembari memegang kepalanya yang sedikit pusing karena terlalu lama tertidur. Ketika Radit baru keluar kamarnya Radit melihat Hengky sedang duduk gelisah di sofa ruang tamu.
"Kenapa kau di sini?...." tanya Radit.
"Aku menunggu kabar dari Ayyash yang menemani Anjani......." jawab Hengky seadanya terus menatap ponselnya.
"Kenapa kau tidak menemaninya juga?..." tanya Radit datar.
"Kau fikir Aku tidak mau?!.... Aku tidak bisa berada di dekat mereka..... Mereka bertemu di hotel milik mereka sehingga hanya orang tertentu yang boleh disana....."
"Kenapa dia sangat bertekad menambah kekayaannya?.... Apa kekayaannya selama ini belum cukup?"
"Belum..... 7 tahun yang lalu seharusnya kekayaannya lebih dari ini jika diikuti perkembangan zaman...."
"Lalu apa harus dengan mengikuti kemauan orang China itu?..."
"Itu cara cepatnya.... lebih cepat semua terkumpul maka Anjani bisa lebih tenang...."
Radit masih ingin melanjutkan pertanyaannya karena banyak hal yang membuatnya bingung namun harus terhenti saat mendengar suara bel pintu apartement Anjani. Dengan tergesa Hengky membuka pintu apartement itu berharap itu adalah Ayyash dan Anjani. Ketika Hengky membuka pintu Ia tidak menemukan siapa pun namun hanya menemukan sebuah kotak. Hengky pun membawa masuk kotak yang terbungkus rapi itu dan meletakkannya di meja tamu.
Radit melihat kotak itu dengan wajah datarnya namun tidak bertanya apa pun karena melihat tulisan di kotak itu yang ditujukan untuk Anjani. Tidak ada lagi perbincangan antara Hengky dan Radit karena kini mereka sama-sama menunggu kabar dari Ayyash walau dengan ekspresi berbeda, Hengky dengan wajah gelisah dan cemasnya sementara Radit hanya dengan wajah datarnya sembari memejamkan mata.
Cklekk
Terbukanya pintu apartement Anjani sontak membuat mata Radit juga terbuka dan bersamaan dengan Hengky melihat ke arah pintu yang memunculkan Ayyash dan juga Anjani. Ayyash menatap nanar Anjani yang berusaha menunjukkan wajah angkuhnya dibalik wajah pucatnya.
"Bagaimana? Apa yang terjadi? Siapa Dia? Kau tidak apa-apa Jani?..." cecar Hengky khawatir.
"Radit..... Kau sudah bangun?... " tanya Anjani dengan gayanya menghampiri Radit yang sedang menatapnya intens dan menempelkan punggung telapak tangannya di kening, pipi dan juga leher Radit. Hengky menatap geram Anjani yang mengabaikan pertanyaannya lalu menatap Ayyash penuh tanda tanya sementara Ayyash hanya mengelengkan kepala lemah dan mengendikkan bahu tanda Ia juga tidak tahu.
"Dia keluar kamar dengan lemah dan wajah pucatnya namun Ia tidak mau mengatakan apapun...." jawab Ayyash pelan.
"Kalian sudah makan?..." tanya Anjani menyenderkan kepalanya di pundak Radit dan menggenggam tangan Radit. Radit menatap datar Anjani penuh tanda tanya.
"Mbak sepertinya ini paket untukmu..."ucap Ayyash saat melihat sebuah kotak. Tanpa perintah dari Anjani, Ayyash dengan cepat membukanya.
"Astaga....apa-apaan ini...."teriak Ayyash saat melihat isi kotak itu.
"Tikus mati....." gumam Hengky jijik melihat ada seekor tikus hitam yang mati bersimbah darah karena lehernya yang disayat. Radit langsung menolehkan wajahnya ke arah Anjani setelah melihat sekilas isi kotak itu lalu merasakan tangannya yag digenggam kuat oleh Anjani. Anjani nampak takut dan jijik namun berusaha tenang.
"Dimana pun tikus got berada..... tetap saja namanya tikus got...... walau tikus got sudah didandani secantik mungkin... tikus got tetap saja menjijikan.... Sebaiknya tikus got tetap berada di got agar tidak mencemari lingkungan..... Kalau Kau tidak tahu jalan pulang, maka Aku yang akan membantumu kembali ke got karena itulah tempat yang pantas untuk tikus got.... bersiaplah Kau akan kembali ke tempat tinggal mu baik hidup....atau....MATI..." ucap Ayyash membaca isi surat yang berada di kotak itu.
"Sial...Dia sudah memulainya..."ucap Hengky emosi dan Ayyash menggenggam erat surat itu dengan tatapan sarat akan emosi. Radit hanya menatap ketiga orang itu dengan tatapan tak mengerti. Anjani masih diam menggenggam erat tangan Radit dan mulai mengeluarkan keringat dingin.
"Aku lapar..... bisakah kalian pesankan Aku makanan..."ucap Anjani yang sudah mulai tenang dan mengendurkan genggaman tangannya.
"Mbaak/Jani...." geram Hengky dan Ayyash bersamaan melihat Anjani yang tidak menanggapi apapun tentang ancaman itu.
"Aku juga lapar...." ucap Radit datar. Hengky dan Ayyash akhirnya mengerti memang untuk saat ini Anjani lebih baik istirahat setelah baru saja menemui pengusaha China yang sepertinya merupakan masalah baru bagi Anjani. Hengky pun memesan makanan untuk mereka semua dan memakannya bersama-sama. Setelah selesai makan Ayyash dan Hengky pergi dari apartement Anjani, sedangkan Radit masuk ke kamarnya disusul oleh Anjani yang juga ke kamarnya sendiri.
Radit dan Anjani sama-sama berbaring di ranjang masing-masing sembari menatap langit-langit kamarnya. Radit memandang datar langit kamarnya dengan berbagai pertanyaan di kepalanya sedangkan So Eun menerawang kejadian beberapa jam yang lalu yang terjadi saat Ia menemui pengusaha China itu yang ternyata Andri Sanjaya.
Flashback
"Akhirnya kita bertemu lagi Anjani....."ucap Andri santai saat Anjani baru saja memasuki kamar hotelnya.
"Ka....kau??" ucap Anjani terkejut.
"Hmmmm....... Akulah pemilik perusahaan dari China itu..... Semua berkatmu Anjani Kusumaningtyas...."ucap Andri dengan seringaiannya dan mendekati Anjani.
"Aku tidak melakukan apapun.....Kau yang mencurinya..." ucap Anjani tegas berusaha menutupi ketakutannya.
"Lalu kenapa Kau tidak melaporkanku ke polisi eoh?...." santai Andri sementara Anjani hanya diam mengepalkan tangannya geram.
"Apa Kau merasa de'javu berada di kamar ini berdua saja denganku?..." tanya Andri lagi.
"Tutup mulutmu.... Aku tidak mau mengingatnya...." teriak Anjani dengan mata yang sudah berkaca-kaca menahan tangis sedih, kesal dan juga marah akan kejadian 7 tahun lalu.
"Benarkah kau tidak mau mengingatnya? .... Bukankah kau justru tidak bisa melupakanny?...."
"Hentikan!.... apa maumu?"
"Aku ingin Kau.... Anjani...."
"Tidak..."
"Kau yakin?..."
"Iya..... Aku tidak akan mau hidup bersama manusia licik sepertimu...."
"Pikirkanlah.... sebelum Aku menghancurkan perusahaanmu...." ancam Andri.
Flashback end
"Mereka datang disaat yang bersamaan.... Apa yang harus kulakukan......bantu Aku....ku mohon...." gumam Anjani lirih kemudian memejamkan mata sehingga airmata yang sudah menumpuk di matanya pun segera mengalir melalui pelupuk matanya.
~oO0Oo~
"Pagi.... Kau memasak sarapan?..." sapa Anjani saat melihat Radit sudah sibuk memasak di dapur ketika Ia akan memasak sarapan.
"Hmm.... Aku sedang ingin memasak...." jawab Radit datar kemudian mematikan kompor karena sup ayamnya sudah matang.
"Begitukah.... baguslah..... Aku ingin mencobanya...." ucap Anjani berdiri di dekat meja makan melihat Radit yang sedang menata meja.
"Duduk dan makanlah...." Ucap Radit saat hidangan sudah siap.
"Boleh Aku meminta jatah pelukan dan ciuman pagi hariku..." ucap Anjani santai dengan gayanya.
"Kau tidak pernah meminta izin...." heran Radit.
"Tapi kali ini Aku ingin izinmu....Aku ingin kau yang memelukku...."
"Kalau Aku tidak mau?...."
"Aku tidak akan memeluk dan menciummu..." jawab Anjani tetap dengan gaya angkuhnya tambah membuat Radit mengernyit heran dengan perubahan sikap Anjani. Merasa Radit tidak akan memeluknya, Anjani pun mulai melangkah untuk duduk di kursinya.
Sreett... happ
Tanpa diduga Radit menarik tangan Anjani hingga Anjani menabrak tubuh Radit kemudian Radit mulai mengangkat tangannya menyentuh punggung Anjani. Walau nampak ragu namun akhirnya tangan Radit berhasil mendarat di punggung Anjani. Anjani terkejut namun kemudian tersenyum. Tanpa ragu Anjani mulai melingkarkan tangannya dipinggang Radit dan memeluk Radit erat.
"Aku ingin Kau tetap membenciku.... tapi Aku juga ingin Kau membalas perlakuanku... Aku ingin merasakan kehangatan orang yang Kucintai.... setidaknya disisa umurku.... dan sebelum Kau mengetahui kenyataan yang mungkin akan membuatmu semakin membenciku...." ucap Anjani dalam hati tersenyum senang namun juga sedih. Merasa nyaman dengan pelukan Anjani, Radit pun mulai mengeratkan pelukannya walau masih dengan keraguan.
Beberapa menit mereka nyaman dengan pelukan mereka, namun setelahnya Anjani mulai melepas pelukannya dan segera duduk di kursi makannya. Walau hanya pelukan dan tanpa kecupan bibir, namun Anjani sudah bahagia karena Radit yang memulainya. Mereka pun mulai makan dengan suasana hening sibuk dengan pikiran masing-masing. Tidak betah dengan suasana hening saat ini, Anjani mulai mencoba menyuapi Radit makan yang diterima oleh Radit.
~oO0Oo~
"Apaa?? ...Dia...... mengetahuinya.....sejak kapan?...." Gumam seorang pria paruh baya pada anak buahnya. Sedangkan anak buahnya hanya menatap bingung dengan maksud tuannya karena mereka hanya bertugas mencari data mengenai seseorang.
"Aku tidak peduli apa yang Kau ketahui dan apa yang akan Kau lakukan.....Aku akan tetap mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku...." ucap Pria paruh baya bernama Hendrawan itu dengan penuh emosi.
"Cari tahu semua tentang Anjani Kusumaningtyas dan Raditya Anjasmara .... cari tahu semua yang berhubungan dengan mereka.....terutama cari tahu kelemahan mereka...." perintah Hendrawan tegas, dan anak buahnya hanya mematuhi lalu bergegas pergi meninggalkan Hendrawan yang sedang mengingat masalalu nya yang membuatnya memiliki dendam besar.
"Tunggulah.... Aku akan membuat kau menyesal melawanku.... Aku akan membuatmu menderita secara perlahan..... melebihi penderitaanku saat di sel penjara selama 10 tahun ini...." seringaian Hendrawan nampak jelas dipenuhi emosinya yang sudah lama terpendam.
~oO0Oo~
Brakk
Pintu kantor Anjani tiba-tiba dibuka secara kasar oleh seorang wanita yang nampak sedang emosi. Dan hal itu tentu saja membuat Anjani, Radit, Hengky dan Ayyash terkejut karena mereka sedang serius membahas suatu masalah.
"Anjani..... jelaskan padaku..... apa maksud semua ini..." tanya Tria dengan mata berkaca-kaca penuh emosi.
"Tria..... Kau kenapa?..... Apa yang terjadi?...." tanya Hengky lembut dan juga khawatir dengan sikap kekasihnya itu.
"Dia.... Aku sangat membencinya... hikz.....Bisa-bisanya dia melakukan itu....hikz.... Aku membencimu Anjani..... sangat membencimu....hikz..." teriak Tria sembari terisak dalam pelukan Hengky. Radit, dan Ayyash menatap Tria heran dan terkejut dengan kata-kata Tria. Anjani juga terkejut, namun Ia berusaha tenang dengan gaya angkuhnya karena sepertinya Ia tahu apa yang menyebabkan Tria marah seperti itu. Itu semua tentunya karena sesuatu yang selama hampir setahun ini Anjani sembunyikan.
"Mbak Tri..... ada apa sebenarnya?..." tanya Ayyash yang mulai geram dan juga panik takut ada hal buruk yang terjadi.
"Trai.... apa yang terjadi?..." tanya Hengky lembut sembari mengusap punggung Tria menenangkan.
"Permisi..... saya ingin mengantarkan minuman...." ucap Rani ragu mengingat sekarang sedang dalam keadaan tegang. Secara perlahan Rani meletakkan teh hangat di meja dekat sofa untuk Radit, Hengky dan Ayyash. Dan kemudian terakhir Ia meletakkan secangkir teh di meja Anjani. Tria melihat dengan teliti saat-saat Rani meletakkan minuman-minuman itu hingga Rani ingin beranjak keluar ruangan.
"Rani.... tolong serahkan berkas-berkas ini ke pengacaraku.....sekarang....." perintah Anjani tegas. Mata Tria kini bertemu pandang dengan mata Anjani yang datar.
"Aku haus...." ucap Tria melepaskan pelukan Hengky.
"Ini minumlah...." sebelum Hengky selesai menawarkan Tria untuk meminum minumannya, Tria sudah terlebih dahulu berjalan ke arah Anjani berniat mengambil minuman Anjani.
Prang
Terdengar suara gelas pecah saat Tria ingin meminum teh di meja Anjani namun Anjani segera menampik tangan Tria kasar sehingga gelas teh itu terjatuh.
"APA YANG KAU LAKUKAN TRIA KARTIKA???..." teriak Anjani kesal bercampur takut.
"Apa?... Apa salahnya?... Kau bisa meminumnya lalu kenapa Aku tidak?..." balas Tria juga penuh emosi.
"Itu minumanku...." tegas Anjani.
"Kau...Apa Kau tidak pernah menganggapku? Apa kau tidak pernah menganggap kami?... hikz..... Sebenarnya Kau anggap apa kami sehingga kau melakukan semua ini?.... kenapa Anjani? ?....KENAPA????..."Teriak Tria lagi.
"Bawa dia..... Aku tidak ingin bicara dengannya...." ucap Anjani pelan namun masih terdengar oleh yang lain.
"Tidak... Aku masih ingin bicara.... Aku harus menghentikan kebodohan dan kegilaanmu Anjani..... kenapa Kau egois sekali eoh?..." Ucap Tria mash sedikit terisak.
"CUKUP..... hentikan Tria...." tegas Anjani.
"Tria hentikan... sebaiknya kita bicara dulu..." ajak Hengky menenangkan karena tidak tega melihat Anjani yang nampak gemetar dan oleng hampir terjatuh jika tidak segera ditahan oleh Radit.
"Jangan pernah lakukan hal seperti ini lagi Tria..... jika tidak.... Aku akan membuatmu menjauh...." ucap Anjani lagi saat Hengky dan Ayyash akan membawa Tria keluar.
"Radit, sebaiknya Kau juga pergi... Aku ingin sendiri...." Radit pun menurutinya karena berfikir Anjani memang butuh waktu sendiri.
~oO0Oo~
Radit nampak sedang berjalan-jalan di pinggir jalan di taman kota dengan sesekali menendang pelan batu kecil di jalan. Radit nampak benar-benar bingung dan tertekan dengan hal yang terjadi baru-baru ini terjadi dihidupnya.
"Aishh.... mengapa sekarang hidupku menjadi rumit.... semua ini sejak Aku bertemu dengan wanita angkuh itu..... Yuli... Aku merindukanmu.... merindukan keceriaanmu yang selalu membuatku melupakan masalahku....." ucap Radit menatap Taman tanpa sadar bahwa sejak tadi dirinya sedang diawasi seseorang.
"Raditya Anajsmara.... apa Aku harus menghabisimu dulu baru tikus got itu??....." seringai seseorang di dalam mobilnya setelah mengamati Radit selama beberapa jam. Pria itu nampak mulai menyalakan mobilnya dan mulai menginjak pedal gasnya untuk melajukan mobilnya. Tatapan mata tajam dan juga seringaian mengiringi laju mobilnya yang semakin lama semakin kencang melaju ke arah Radit yang berjalan membelakanginya sehingga tidak menyadari akan bahaya yang mengancamnya.
"Setelah ini maka tikus got itu tidak akan menyerahkan semua harta itu pada siapapun..... kecuali padaku..... hahaha...." ucapnya sembari terus melajukan mobilnya.
Brakkk
Suara mobil menabrak sesosok tubuh lalu membuatnya terlempar ke sisi lain jalan dengan darah segar yang mengalir dari kepala.
"ANJANI. ....."Teriak Radit tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, Anjani mendorongnya untuk menyelamatkannya dari mobil yang kini sudah melaju meninggalkan Radit dan Anjani yang kini sudah nampak tak sadarkan diri.
To Be Continue