4. Pemeriksaan

1510 Words
"Kenapa kamu tega mau jual aku? Memangnya apa salahku?" Seharusnya, Vicha tidak perlu menanyakan itu. Lagipula, apa yang dia harapkan dari seorang teman yang tega menjualnya pada p****************g? Bahkan meski samar, Vicha masih bisa mendengar decakan dari pria di belakangnya. Yang mungkin frustasi dan menganggap Vicha bodoh karena menanyakan itu. "Memangnya apa lagi? Bukan cuma kamu yang butuh uang, kan? Aku juga sama! Aku yang dalam keadaan pas-pasan, berbaik hati buat menampung kamu, bukannya kamu seharusnya berterimakasih dan Pura-pura enggak tahu? Kamu cukup nutup mata aja pas orang itu nyentuh--" BUK! "AW! GILA YA?!" Seli berteriak saat Vicha dengan sengaja menendang tulang keringnya. "Kenapa bukan kamu aja yang jual diri kamu? Ah! Atau karena kamu sendiri enggak laku, makanya kamu berusaha jual aku? Iya, kan?" Seli melotot padanya. "Dasar cewek enggak tahu diri! Padahal kalau kamu enggak ladenin ego dan harga diri sia*an itu, kamu juga pasti udah dapat banyak uang!" Vicha menyeringai, "Aku enggak butuh! Jadi kamu mending minggir, karena aku kesini cuma mau ngambil barangku." Dirinya sempat menoleh ke belakang, ke arah lelaki itu yang menyilangkan tangannya di d**a. Kemudian langkahnya melewati Seli, bukan. Lebih tepatnya adalah mendorong tubuh wanita itu hingga jatuh ke tanah dengan sengaja. Tapi begitu dia sampai di dalam kamar sempit itu, amarahnya meluap saat melihat laptop peninggalan ibunya dalam kondisi rusak parah. Bukan karena jatuh secara tidak sengaja, tapi kerusakan itu pasti disebabkan karena Seli yang menghancurkannya. Tangan Vicha terkepal kuat. Dia buru-buru memasukan barangnya ke dalam tas dan kemudian berjalan cepat ke depan. Dengan kesetanan, dia menjambak rambut Seli hingga tubuh wanita itu hampir menyentuh tanah lagi. "Cewek sia*an! Berani-beraninya lo rusakin laptop gue, hah?!" "ARRGH! LEPASIN! LEPASIN! SAKIT! AKU MINTA MAAF! AMPUN!' Bahkan kalimat memohon itu tidak membuat amarah Vicha mereda. Dia semakin kuat menjambak rambut Seli. "Bahkan harga diri lo enggak akan cukup berarti dibandingkan sama barang ini! Bisa-bisanya--" "Cukup!" Mata Vicha beralih pada lelaki itu yang memegangi tangannya. Tatapannya tenang, seolah meyakinkan Vicha bahwa apa yang dilakukannya sudah cukup. Vicha mengambil napas kasar. Dia baru menyadari bahwa ada beberapa tetangga kos yang melongok penasaran dari pintu mereka. "Jangan pernah berani lo muncul di depan muka gue," desis Vicha pada Seli yang menangis sambil memegangi kepalanya. Kemudian langkahnya berbalik, berjalan keluar dari halaman kos itu. Saat dia sampai di mobil milik lelaki itu, dengan kesadaran penuh, Vicha melewatinya begitu saja. "Mau kemana kamu?" tanya lelaki itu keheranan. Vicha menoleh, "Mau pergi." "Kemana?" "Ya... Kemana aja." Lelaki itu berdecak. "Masuk!" Kening Vicha berkerut. "Kenapa harus masuk? Mas kan sudah antar saya ambil barang, kalau begitu ya sudah." Mendengar jawaban darinya, lelaki itu menghela napas berat, bahkan sampai memijat pelipisnya. "Memangnya dini hari begini, kamu mau kemana? Masuklah! Saya punya apartemen yang enggak ditinggalin, jadi kamu bisa tinggal di sana. Lagian setelah ini, masih banyak yang harus kita bahas. Terutama tentang kontrak dan tentang rencana pemeriksaan kesuburan. Saya enggak punya banyak waktu, jadi saya enggak bisa tunda-tunda." Vicha terdiam, kemudian dengan mengeluh karena tidak suka dengan sikap sok ngatur lelaki itu, dia berjalan kembali ke arah mobil dan membuka pintu bagian penumpang di depan. Dia duduk sambil memeluk tas miliknya. "Buat jaga-jaga, kamu juga harus cerita tentang alasan kamu sampai enggak punya tempat pulang kayak sekarang. Karena nantinya kita tetap akan menikah, jadi saya harus bisa jelasin tentang latarbelakang kamu ke keluarga saya." Telinga Vicha mendengarkan dengan baik, tapi mulutnya sulit untuk menjawab. Dia masih sedih karena laptop yang dia jaga selama ini karena merupakan peninggalan ibunya, kini sudah hancur. "Hey! Kamu denger omongan saya, kan?!" Vicha menoleh, menghela napas kemudian. "Harus saya ceritain sekarang?" Wajah lelaki itu tampak terkejut, mungkin karena ekspresi yang ditunjukkan oleh Vicha saat ini seperti orang yang siap mati kapan saja. Lelaki itu berdeham canggung, kemudian tidak menjawab hingga mereka sampai di sebuah apartemen yang ada di tengah kota. Anvicha bahkan tidak percaya, jika lelaki ini akan membiarkan dirinya tinggal di tempat mewah ini hanya karena Vicha akan menjalankan kontrak dengannya. Seberapa penting keturunan bagi lelaki ini? "Saya akan datang lagi besok, sekalian buat bawa kamu ke rumah sakit dan periksa kesuburan. Jadi, besok juga kita akan tanda tangan kontraknya, kalau kamu sudah dipastikan bisa melahirkan anak saya nanti. Ini..." Sebuah kartu nama yang baru saja dikeluarkan dari saku, diberikan pada Vicha yang sudah berdiri di sisi pintu. "Hubungi saya kalau ada apa-apa. Dan jangan buka pintu apartemen ini sembarangan sebelum kamu pastikan, yang datang saya atau orang lain." Karena tidak memiliki banyak tenaga yang tersisa, Vicha mengangguk saja. Dia menerima kartu nama berwarna hitam dan gold yang elegan. Sadam Gustama Zuardi, Vice Director Zentech. Corporation. Anvicha kini baru saja menyadari, bahwa dia terlibat dengan seseorang yang tidak bisa dia remehkan. * 'Jangan makan atau minum apapun selama delapan jam, karena kita harus melakukan pemeriksaan darah.' Adalah pesan yang didapatkan oleh Vicha sesaat setelah dia berpisah dengan Sadam. Saat itu, jam menunjukkan pukul empat pagi, sehingga setidaknya, Vicha tidak boleh makan hingga jam dua belas siang. "Aku lapar." Ia mengeluh, memegangi perutnya dengan dramatis. Sedangkan Sadam yang ada di sebelahnya, hanya bisa berdecak keras sambil mematikan tablet yang ada di tangannya. "Tahan sebentar lagi, bisa kan? Kita lagi perjalanan ke rumah sakit. Setelah pemeriksaan darah, kamu boleh makan apapun yang kamu mau., Anvicha merengut. Matanya melirik pada lelaki lain yang bertugas sebagai supir mereka hari ini. Sekitar jam sebelas tadi, Sadam menjemputnya di depan unit dan langsung meminta Vicha untuk bersiap. Padahal Vicha dalam keadaan lemas karena lapar. Dia tidak makan sejak semalam, ditambah dia juga harus berhadapan dengan banyak kejadian menegangkan dalam hidupnya. Termasuk menganiaya Seli. "Tolong bangunin saya kalau sudah sampai. Kayaknya saya enggak akan bisa bertahan kalau enggak tidur sekarang," pintanya pada Sadam. Walaupun lelaki itu terdengar menghela napas kesal, tapi tidak ada sanggahan yang Vicha dengar darinya. Vicha memutuskan untuk tidur dengan perasaan tidak nyaman di perutnya. Dia pikir, dirinya tidak akan bisa tidur, tapi ternyata lelapnya datang begitu saja. "Hei... Hei.. Bangun!" Sebuah goncangan dan juga suara yang menyebalkan, membuat Vicha langsung membuka matanya. Dia menatap sebal pada Sadam yang ternyata sudah turun dari mobil dan berada di sisi kirinya. "Bisa pelan enggak sih banguninnya?!" sewot Vicha. Padahal semalam, setelah dia tahu sehebat apa latarbelakang Sadam, dia berniat untuk menahan diri agar tidak menimbulkan masalah. Tapi sikap arogan lelaki ini benar-benar membuatnya tidak tahan. Sadam melangos, "Cepat turun! Berbeda sama kamu yang pengangguran, saya harus kembali ke kantor setelah pemeriksaan selesai." Vicha menggertakkan giginya. Ingin hati memukul bagian belakang kepala lelaki itu, tapi dia sadar bahwa dia akan mati jika melakukannya. Maka setelah mengatur napasnya agar tenang, Vicha akhirnya turun dan berjalan mengikuti langkah kaki Sadam. Kepalanya sempat menoleh pada lelaki muda yang menjadi supir mereka, lelaki itu tersenyum ramah padanya sambil mengangguk sopan. Vicha balas senyum, sebelum kemudian berlari mengikuti langkah lebar Sadam yang sudah jauh. "Saya sudah bikin janji sama Dokternya, jadi nanti kita akan langsung masuk setelah Dokter selesai praktek rawat jalan." Sesungguhnya, Vicha sudah mencari tahu lebih dulu tentang apa saja yang akan dilakukan selama pemeriksaan. Untuknya yang seorang wanita, dirinya akan menjalani pemeriksaan USG Transvaginal, Tes darah hormon, pemeriksaan panggul dan pap smear, serta HSG atau Hysterosalpingogram. Dari yang Vicha cari tahu, yang terakhir itu bersifat opsional karena hanya melskukan rontgen dengan kontras untuk memastikan bahwa saluran tuba tidak tersumbat. Tapi jika melihat kepribadian Sadam, sepertinya pemeriksaan itu juga akan dilakukan. "Sampai ketemu lagi setelah pemeriksaan," kata Sadam sebelum masuk ke dalam satu ruangan. Vicha berdiri diam. Dia kemudian dipandu oleh seorang perawat untuk melakukan berbagai macam pemeriksaan. Sebagai seorang gadis, dia merasa sedikit agak malu. Tapi dia beruntung karena yang memeriksanya adalah seorang Dokter wanita. Pukul 15.37 menit, Vicha baru bisa keluar dan duduk dengan lesu di depan sebuah ruangan tempat terakhir dirinya diperiksa. "Ternyata, lumayan lama juga," gumamnya. Di tangannya terdapat roti burger dan jus jeruk yang dia beli dadi kantin rumah sakit. Lalu tak lama kemudian, sosok Sadam berjalan menghampirinya. Sontak Vicha berdecak, "Bisa-bisanya dia masih oke walaupun udah jalanin pemeriksaan segitu banyak dan lamanya," gumamnya kemudian. Bahkan jas yang dipakai oleh Sadam masih nampak rapi dan tidak kusut, sedangkan Vicha sudah seperti orang yang baru pulang dari perang. "Hasilnya baru bisa diambil besok, jadi sekarang kita pulang saja." Vicha mengangguk. Dia bahkan berjalan mengikuti Sadam hingga ke mobilnya. Tapi saat dirinya akan masuk, tiba-tiba saja Sadam menghalangi tubuhnya. "Mau kemana kamu?" tanya lelaki itu dengan sebelah alis terangkat. Kening Vicha ikut berkerut, matanya menatap ke arah dalam mobil dan supir yang masih menunggu di dalam sana. "Mau pulang, kan?" Sadam mengangguk. "Benar, tapi kamu pulang sendiri. Karena saya mau langsung ke kantor, jadi jangan manja! Kalau cuma buat ongkos taksi, kamu pasti punya kan?" Vicha terperangah. Dia bahkan seperti orang bodoh yang masih bengong walaupun kemudian Sadam sudah masuk ke dalam mobil dan meninggalkannya. "Wah! Wah!" Segala jenis umpatan sudah ada di ujung lidah, tapi Vicha yang merupakan anak baik, berhasil menahannya dengan menarik dan menghembuskan napas pelan. "Enggak apa-apa. Semua perbuatan itu pasti ada ganjarannya. Aku cuma tinggal siap-siap ketawa aja kalau dia udah kena karma." Dia tersenyum, tapi rasa kesalnya tidak berkurang juga. "ARGH! SIALAN! DASAR COWOK JAHAT!" **
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD